Kerak telor bulan Juni bukan sekadar identitas kuliner Betawi, tapi barisan kata dalam rasa yang sukses melewati zaman. Ia adalah kepingan kegembiraan kecil yang meletup di balik kipas bambu para penjualnya.
Hadir di Jakarta setiap Juni yang panas bukan semata soal rasa yang tak tergantikan. Makanan berbahan beras ketan putih ini menjadi agenda wajib karena dianggap pantas menunjang hari jadi Ibu Kota. Lebih dari itu, ia hadir sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Betawi, suku etnis pesisir dan pedalaman Sunda Kelapa yang kini perlahan bergeser ke pinggiran.
Mengapa Kerak Telor Bulan Juni Selalu Menjadi Primadona?
Sobat JEI, setiap kali seremoni ulang tahun Jakarta tiba, kerak telor pasti hadir sebagai penggembira utama. Di Pekan Raya Jakarta (PRJ), para penjual memainkan kipas bambu yang khas itu dengan lincah di setiap sudut. Berdasarkan catatan sejarah, kuliner ini sebenarnya lahir dari eksperimen warga asli Betawi di kawasan Menteng pada era 1970-an. Mereka memanfaatkan melimpahnya buah kelapa untuk menciptakan camilan yang gurih dan mengenyangkan.
Tahun ini, kabarnya ada sekitar 240 pedagang yang terbagi dalam tiga shift untuk melayani pemburu kuliner. Tak hanya di PRJ, pada pameran Flona (Flora-Fauna) di Lapangan Banteng pun, aroma gurih kompor arang menyeruak ke udara. Kerak telor memang memiliki daya tarik magis. Perpaduan panas arang dan bumbu rahasia menciptakan harmoni aroma yang sulit siapa pun tolak, bahkan di tengah cuaca Jakarta yang garang.
Menelisik Kuliner Identitas Betawi yang Kian Terpinggirkan
Mengenai pameran di Lapangan Banteng itu, saya sempat heran. Mengapa hanya ada satu jenis makanan ini di arena pameran sebesar Flona? Padahal, kuliner identitas Betawi itu sangat kaya dan beragam. Saat gula darah mulai turun karena panas yang menyengat, lidah saya sebenarnya merindukan kehadiran Gabus Pucung yang hitam eksotis. Saya juga mencari Asinan Betawi yang segar, Soto Betawi yang gurih susu, hingga kue rangi yang manis.
Sayangnya, panitia seolah lupa membuka kamus besar makanan Betawi. Kerak telor memang ikonik, namun Betawi punya segudang rasa lain yang patut mendampinginya.
Secara antropologis, masakan Betawi merupakan hasil akulturasi budaya Arab, Tionghoa, dan Eropa. Inilah yang membuat cita rasanya begitu kompleks dan unik. Keberadaannya di tengah modernitas Jakarta adalah simbol ketahanan budaya yang harus terus kita jaga agar tidak hilang tertelan zaman.
Rahasia Rasa dalam Sepiring Kerak Telor Bulan Juni
Saya punya pengakuan sedikit personal, Sobat JEI. Sebenarnya, sistem saraf di lidah saya terkadang kurang sinkron merespon perpaduan telur, beras ketan, serundeng dan bawang goreng. Ada rasa hangus yang bersinggungan dengan manisnya gula dan pedasnya cabai rawit.
Namun ada kekecualian juga. Siapa yang bisa melawan godaan saat perut sedang keroncongan? Orang lapar bisa jadi pemarah, tapi bisa juga jadi sangat rakus jika bertemu makanan hangat.
Pasalnya, suami saya enggan membelikan karena dia pikir saya tidak suka. Makanya saya sewot waktu dia datang hanya dengan satu kerak telor, bukan dua. Jadi dia balik lagi ke bapak penjual dan mempersilahkan saya menikmati terlebih dahulu, duduk di atas trotoar, di bawah pohon dengan langit Jakarta yang tumben-tumbennya berwarna biru.
Setelah itu, suami saya hanya tertawa saat menyadari saya akhirnya sukses “mengganyang” dua porsi sekaligus. “Lapar atau doyan?” tambahnya menggoda.
Memang sih ya, tekstur ketan yang kenyal di dalam namun garing di luar memberikan sensasi unik. Apalagi saya khusus memesan dengan telur bebek yang membuat rasanya lebih creamy dan gurih dibanding telur ayam.
Itulah kekuatan kerak telor bulan Juni. Meski lidah padang ini sempat menolak, aroma serundeng dan bawang gorengnya berhasil memenangkan perut dan hati.
Menjaga Warisan Lewat Kuliner Identitas Betawi
Menikmati kerak telor bulan Juni adalah cara sederhana kita merayakan Jakarta. Kuliner ini bukan hanya soal urusan perut, melainkan soal identitas dan memori kolektif warga kota. Kita perlu mendorong agar acara-acara besar Jakarta lebih berani menampilkan ragam makanan tradisional lainnya. Jangan biarkan Gabus Pucung atau Bir Pletok hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah kuliner kita.
Sobat JEI, apakah Anda juga penggemar setia kuliner ini? Meski sederhana, proses memasaknya yang menggunakan anglo arang menjaga kualitas rasa tetap otentik sejak ratusan tahun lalu. Menurut saya, iItulah mengapa kerak telor tetap eksis di tengah gempuran makanan kekinian.
Saat ditawarkan porsi ketiga oleh suami, saya hanya bisa menjawab sambil tertawa, “Nope! Enough is enough. Thank you!“
IG @eviindrawanto2026
Baca juga:
