Piknik di Sekitar Rumah

Piknik di Sekitar Rumah – Travelog Indonesia | Piknik itu tak harus ke tempat jauh atau pun pergi ke tempat-tempat eksotis yang membutuhkan biaya besar. Piknik itu hanya soal perasaan dan kemampuan melihat sesuatu dengan kacamata baru. Maka dengan asumsi sederhana ini saya dan kakak memutuskan piknik di sekitar rumah  dengan itinerary  napak tilas ke Surau Macang tempat kami belajar mengaji dulu.

Ceritanya begitu Bapak menyatakan bersedia ikut balik ke Depok, dua anak perempuannya yang baik ini langsung merasa lega. Bagaimana tidak? Kepulangan kami awalnya cuma mau menengok beliau. Sekalipun sudah berkali-kali menyatakan kekuatiran kami, setelah ibu wafat, ia memutuskan menetap di kampung di mana pusara ibu terletak. Pernyataan bahwa beliau bersedia ikut pulang ke rumah kami di rantau serasa dapat durian runtuh. Rasa senang itu kami rayakan dengan keluar rumah tiap hari. Piknik ke berbagai tempat sepanjang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik ojek atau angkot. Karena tidak tahu kapan lagi bisa pulang ditambah Bapak pun mendukung, jadi lah pada hari ke-3 di kampung kami putuskan piknik di sekitar rumah.

piknik di sekitar rumah
Belok kanan dari Pinang Balirik bersua Jalan raya Pekan Kamis-Kamang ini…

Piknik di sekitar rumah di awali dari  Pinang Balirik, jalan di depan rumah yang jadi pintu masuk ke beberapa kampung di Kanagarian Magek.  Pinang Balirik artinya pohon pinang berbaris. Jadi nama jalan itu itu berasal dari barisan pohon pinang yang ditanam di sepanjang tepinya. Setelah beberapa langkah dari Pinang Balirik kami belok kanan, di depan gapura, masuk ke  Jalan Raya Pekan Kamis-Kamang Magek. Jika sobat dari Bukittinggi dan akan menuju Tarusan Kamang, ini salah satu alternatif jalan yang akan sobat lintasi.

image

Piknik di sekitar rumah ini membuat saya menyadari bahwa tak banyak yang berubah di sini.  Kanan-kiri jalan masih sawah yang akan berganti warna sesuai musim. Kelabu saat awal tanam (melunyah), hijau saat padi muda, dan kuning bila musim petik tiba. Bahkan rumah teman sekolah saya masih berdiri di sana, dikelilingi kebun jagung yang subur. Pulang sekolah saya acap bermain di sana, meyeberang lewat pematang, keluar masuk kebun yang menerapkan tanam bergilir. Paling suka bila giliran tomat atau cabe. Terutama bila buah sedang ranum, kebun penuh warna hijau atau merah ngejreng. Kalau pun terdapat sedikit perubahan pohon beringin tua rimbun di sebelah kiri rumah kawan saya itu sudah tak ada. Sekarang berganti dengan deretan pohon kelapa.

Lapau tua

Kemudian kami melewati Kedai Kopi Mak Endah. Lepau usang yang ditinggalkan. Pada masanya ini lah kedai paling ramai di kampung kami. Buka dari pagi sampai malam. Ketan dan pisang goreng enak refrensinya pasti datang dari sini. Cahaya lampu petromaks yang digantung di jendelanya jadi panduan kalau pulang mengaji di malam hari.Cahaya dari kedai ini juga terlihat sampai jauh, berkedip-kedip seperti kunang-kunang. Kadang angin membawa aroma enak dari dalam membuat naga di perut kami jadi menggila.  Gelak tawa bapak-bapak di dalam tak jarang menerbitkan rindu pada Bapak yang jauh di Jakarta. Gelak yang saya sukai sebab juga mampu menghilangkan rasa takut dari sergapan suara-suara hewan malam.

image

Beberapa langkah dari Kedai Mak Endah berdiri pintu air yang kami sebut Pako’an Macang. Dibangun sejak jaman Belanda, mengatur sirkulasi air Batang Agam agar masuk ke anak sungai yang memanjang dari Macang, Pulai, sampai Kamang. Bila hujan lebat, pintu air dibuka, suaranya mengaum  seperti hewan lapar. Yang paling menyeramkan kalau malam hari. Suara itu seperti menenggelamkan dan terdengar jelas dari dalam kamar kami. Mereka memancing berbagai imajinasi yang membangkitkan perasaan tak berdaya.

image

Di belakang pohon kelapa itu berdiri rumah teman sekolah saya, Des sebut saja begitu. Sejak berpisah di kelas 3 SD kami tak pernah berjumpa lagi. Sepertinya kami memang tidak berjodoh meneruskan persahabatab karena selalu berselisih jalan. Waktu balik kuliah di Padang, Des kuliah di Bandung. Liburan panjang Des pulang, saya balik kampung kedua di Jakarta. Ohya rumah itu sekarang tak berpenghuni dan mulai runtuh. Keluarga Des sudah lama pindah dari sana.

image

Selewat Pako’an dan pohon kelapa yang menyembunyikan rumah Des, di sebelah kiri sudah terlihat Surau Ruhama berlatar belakang  Bukit Barisan. Bangunannya sudah berubah total. Dulu adalah surau kecil bertembok yang hanya diplester bagian dalam. Sekarang surau kokoh berlantai dua dengan menara yang selalu berkilau di bawah sinar mentari dan terlihat di kejauhan. Bangunan fisik pergi, orang-orang berubah, namun kepastian bahwa  kenangan indah saya di sini menetap, membuat piknik di sekitar rumah siang itu mengharu biru.

image

Rumah ini yang sekarang terlihat tak ditempati , terdapat kuburan di halaman muka, di sebelah kiri Surau Ruhama, adalah area bermain kami sebelum beduk magrib berkumandang. Di halaman yang sekarang ditanami bawang dulu penuh bunga matahari, rose, dahlia, dan lidah buaya. Saya dan teman-teman main merdeka di halaman depan, di bawah pohon jeruk (limau sundai) yang sekarang sudah tak terlihat. Pelataran kuburan yang dulu ada tempat duduk dari tembok adalah area main rimbang (mirip permainan bola bekel tapi dengan batu), permainan tradisional anak-anak yang sudah tak terlihat lagi. Saya pikir tempat ini lah yang membuat saya tidak takut kuburan sampai sekarang.

image

Ini lah Simpang Macang. Di sebelah kiri jalan terus ke Kamang dan sebelah kanan jalan terus ke Macang Baruah (bawah), lokasi sekolah SD saya. Simpang ini tempat nongkrong kaum kaum bujang sepanjang hari. Maka gadis baik-baik tak disarankan terlalu sering bolak-balik di sini kalau tak mau di bully orang tua, mamak atau kerabat di rumah. Di tengah-tengahnya patung ikan mas, simbol kejayaan masa lalu Nagari Magek sebagai sentra industri anakan ikan.

image

Simpang Macang dari depan pusara ibu. Ada semacam kelegaan bahwa tempat peristirahatan terakhir berada di sini. Walau pada akhirnya pusara itu nanti akan rata tanah —di kompleks makam keluarga ini pusara tak boleh ditembok— setidak saya tahu persis di mana akhir perjalanan ibu. Begitu pun saya selalu punya alasan untuk pulang.

Bagaimana temans? Ayuk kita piknik di sekitar rumah.

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

29 thoughts on “Piknik di Sekitar Rumah

  1. Home is where the heart is ya, Mbak :))
    Asri dan lengkap sekali lingkungan sekitar rumahnya! Saya setuju, tidak perlu jauh-jauh kalau mau berpetualang, cerita di halaman belakang rumah saja tidak habis-habis!
    Btw, rumah yang ada kuburan di mukanya, yang sekarang sudah tidak ditempati itu, rumah siapa, Mbak? Dan kuburan yang ada di mukanya itu kuburan siapa? Saya penasaran :hehe.

    1. Saya panggil Maktu Dasi ibu pemiliknya dan Kak Cian anaknya. Saya yakin Maktuo Dasi sudah wafat sementara Kak Cian entah merantau di mana. Dan saya kurang tahu persis milik siapa pusara itu, Gara.

  2. Duh, kapan ya bisa ke Sumatera Barat, selama ini cuma numpang lewat saja 🙂
    Mupeng baca cerita-cerita uni Evi tentang Padang.

  3. Bener-bener terbawa dengan cerita mbak Evi…

    Asik ya mbak masih belum banyak yang berubah, jadi masih memungkinkan sekali untuk menyusuri kembali kenangan masa kecil……..

  4. Membaca ini aku jd membayangkan Mbak Evi yg dulu pergi mengaji.
    Jalan yg lengang itu emang bikin kangen ya mbak..
    Aku jg pengen napak tilas deh…hehe

    1. Kebayang gak sih Mel, dengan sarung dan selendang yang selalu kedodoran di pinggang dan leher…Nanti pulang ke Lampung ayo napak tilas ditempat2 dirimu menghabiskan masa kecil, Mel 🙂

  5. Hanya Uni Evi yang piawai meracik kata perjalanan sekitar rumah dengan mengait aneka emosi. Betul Uni, piknik adalah membangun suasana dan menata kaca mata pandang.
    Merasakan syukur atas kesediaan Bapak ‘pulang kembali’ ke Jakarta.
    Salam hangat

  6. Salah satu keprihatinan kita adalah semakin banyaknya anak muda Minang yang tidak mau menetap di kampung, lebih suka merantau walau kadang kehidupan merantau itu juga tidak selalu sukses. Akhirnya banyak rumah dibiarkan lapuk dimakan usia tanpa ditempati.

    1. Kebisaan merantau yang memang diwariskan dari nenek moyang kita, Pak Alris. Ketika kaum lelaki tak mendapat warisan pusaka tinggi, mereka berkiprah mencarinya ke luar kampung yang melahirkan rantau..Dan bagi sebagian kita, lelaki yang tak pernah keluar dari kampungnya dianggap kurang “berani”. Jadinya ya gitu deh, kebiasaan merantau jadi mengkristal…

    1. Menghirup aroma lumpur, jerami, rumput kering, dan walang sangit, semacam terapi untukku, Mas Fahmi 🙂

  7. Beruntung uni masih bisa napak tilas ttg kenangan masa kecil.
    Sementara kenangan masa kecil saya sudah sirna tergilas mordenisasi, sawah dan kebun menjadi perumahan, sekolah dan mesjid serta jalan 🙂

    1. Karena kenangan saya adanya di tanah pusaka, Pakded..Jadi agak sulit kalau harus digilas modernisasi. Bakal panjang ceritanya 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?