Sungai Batang Agam dalam Kenangan

Kampung saya di Kanagarian Magek, Bukittinggi di lalui  sungai yang terkenal berarus deras. Orang menyebutnya  Sungai Batang Agam (Batang dalam bahasa Minang artinya sungai). Saya tak tahu dari mana Batang Agam berawal dan dimana pula berakhirnya. Sudah berusaha googling hasilnya nihil.  Yang saya dapat sungai ini juga melewati Kabupaten 50 Kota dan Payakumbuh.

Jembatan Ibu yang melintas diatas Batang Agam Payakumbuh. Klik foto untuk linknya
Jembatan Ibu yang melintas diatas Batang Agam Payakumbuh. Klik foto untuk halaman aslinya

Batang Agam itu auranya sedikit mistis. Ditepinya banyak ditumbuhi pohon jawi-jawi ( sejenis beringin) besar dengan akar  yang menjura-jurai sampai ke tengah sungai. Batang paling bawahnya berbentuk aneh, dikerubuti lumut dan bersegi-segi tak beraturan, kadang tampak seperti makhluk dunia lain yang merindingkan bulu  tengkuk. Belum lagi daunnya yang rimbun menutupi cahaya matahari lewat membuat suasana agak gelap.  Tapi jurnal masa kecil saya bermula disini. Inilah tempat saya dan teman-teman berenang, mandi,  mencari ikan,  memetik buah arbei dan tumbuhan liar yang enak dijadikan sayur.

Kalau airnya sedang deras, baik karena hujan atau banjir di hulu, pintu air yang terletak tak jauh dari rumah kami akan dibuka. Membiarkan arus kencang jatuh serempak dari ketinggian tertentu menimbulkan suara menderam menakutkan. Rasanya seperti menenggelamkan.  Apa lagi kalau malam  deru air lebih keras lagi. Nah saat-saat begitu kami semua lebih suka tidur berdekatan dengan nenek. Dan nenek kami yang buta huruf tapi jago mendongeng akan menceritakan berbagai tambo (cerita rakyat minangkabau) sampai suara dari pintu air hilang timbul dan masuk jadi latar  film yang sedang bermain dalam kepala saya .

Air Batang Agam di Payakumbuh. Klik foto untuk halaman asli

Di sepanjang dinding batang agam yang lembab, tumbuh aneka pakis  atau disebut juga paku. Yang jenis Anisogonium esculentum (Retz.) disebut paku ular sebab dipercaya sebagai makanan ular. Untuk konsumsi manusia  jenis Diplazium esculentum (Retz.).

Yang dipilih adalah daun muda pakis yang  berkeluk-keluk seperti ular yang sedang bergelung. Ini yang paling enak dibuat sayur. Dan batangnya yang montok dengan warna hijau mengkilat juga getas dan mudah dipatahkan oleh tangan. Setelah dapat kurang lebih 2 gengam biasanya saya dan teman-teman mandi dulu sebelum menyerahkan kepada nenek untuk di buat gulai.

Pakis sayur, pinjam dari blognya Mb Dani. Klik foto untuk halaman asli

Sayur favorit lain yang tumbuh disana adalah talas yang pucuk daunnya dipakai sebagai campuran pangek. Batang talas ini tampaknya khusus, daunnya hijau keabuan dan kalau dimasak  tak gatal ditenggorokan. Tapi getah daun mentahnya tetap gatal kalau terkena kulit. Memetik pucuk talas harus dengan pisau.

Talas Sayur dari Blognya Aki Eman. Klik foto utk halaman aslinya

Batang agam airnya  jernih. Dasar sungai berupa pasir dan kerikil  tampak dengan jelas. Kita juga bisa melihat  ikan-ikan kecil berenang. Pengalaman saya melihat ular secara live disini. Berenang meliuk-liuk seperti cacing yang membuat kami semua lari pontang-panting.  Pada suatu ketika pernah hendak mengambil benda yang saya kira batang daun pisang hanyut tapi ternyata adalah ular daun. Sejak itu phobia saya terhadap ular tumbuh dengan subur.

Pintu air di Jorong Ambacang, Nagari Magek
Airnya yang keruh dan berbusa

Tapi Batang Agam sekarang telah bertransformasi. Transformasi sungai yang amat buruk. Pulang kampung kemarin sedih memandangi airnya yang coklat keruh dan ketika jatuh dari pintu air tampak berbusa. Pencemaran air batang agam rupanya jadi penyebab utama matinya industri pembibitan ikan yang pada suatu masa pernah membuat Nagari Magek amat terkenal.

“We generate our own environment. We get exactly what we deserve. How can we resent a life we’ve created ourselves? Who’s to blame, who’s to credit but us? Who can change it, anytime we wish, but us?” Richard Bach

Kutipan dari Richard Bach membuat tercenung. Manusia yang merusak Batang Agam dan manusia pulalah yang bertanggung jawab mengembalikannya ke kondisi semula. Tapi bagaimana caranya?

Bagaimana dengan dirimu temans, apakah juga pernah jadi saksi sejarah berubahnya sebuah lingkungan?

 

35 thoughts on “Sungai Batang Agam dalam Kenangan

  1. Saya pernah makan sayur yang berbahan daun pakis muda, emang enak kok. 🙂
    Kebetulan rumah saya dulu ga jauh dari sungai juga… sungai besar macam ini…
    Dulu waktu saya masih kecil bisa buat mancing ikan, berenang karena airnya masih jernih. Tapi terakhir saya pulang kampung, kecebong aja udah ga ada. Airnya coklat menghitam kena limbah pabrik. Sedih rasanya…

    1. Mungkin bangsa yang terjajah selama 350 tahun cara berpikirnya kurang berkembang ya Mas, cuma memandang satu sisi dalam melakukan sesuatu. Mau usaha ya usaha saja, mau bikin pabrik ya bikin pabrik saja..Gak mikirin dampak dari cari keuntungan tersebut pada lingkungan. Padahal taruhan kerusakan lingkungan tersebut berdampak besar pada anak cucu mereka kelak. Tapi ya begitu lah, gak kepikiran..anak cucu kan hidupnya masih jauh disuatu masa 🙂

  2. wah kalau di tempat saya ada sungai Tuntang… airnya keruh waktu musim penghujan karena bercampur dengan lumpur, tapi kalau musim kemarau ya kelihatan jernih…

    penasaran sama sayur pakis…

    1. Kalau musim hujan, mungkin endapan lumpur dibawah terangkat keatas kali ya Mas Huda, makanya keruh. Syukurlah kalau Tuntang masih berair jernih, semoga pemdanya dan masyarakat sekitar sana lebih sadar kebersihan lingkungan 🙂

  3. klo sayur batang talas dulu sering karena ibu menanam di kebun belakang sedangkan pakis dikampung kami tidak dikenal sebagai sayuran sehingga dibiarkan hidup liar

  4. seumur umur belom pernah makan sayur pakis. . .. klo yang sayur talas pernah aku mbak. . .

    bajunya ganti lagi apa ya ni blog. . .. ??

    1. Kesimpulang sementara ternyata sayur pakis kurang dikenal luas rupanya..
      Sebenarnya bukan ganti baju sih Mas, cuma Jurnal Transformasi emang ada dua. Bersebab kemarin-kemarin blog domain sendiri ini suka ngambek. Aku jadi malas nulis disini…Semoga kedepan blog ini gak ngaco lagi 🙂

  5. sayang ya sob, sungai yang tadinya jernih itu berubah menjadi buruk dan kotor, limbah pabrik dan limbah2 lainnya harusnya bisa di alihkan atau gimana gitu ya, berarti udah gak ada lagi dong yg mandi di sungai itu sob ??? 😀

    1. Gimana mo mandi sob, lah airnya lebih jelek dari kubangan kerbau begitu..belum lagi bahaya gatal-gatal di kulit..emang sayang banget..Batang Agam di kampung sekarang terlihat seperti got ketimbang sungai 🙁

  6. daun pakis itu enak dilalap, direbus sebentar terus dicolekin ke sambel maknyuusss
    kalau daun talas itu di rumahku sering dibikin sayur buntil bu evi, enak juga 😀

  7. Bagus sekali. saya saja asli orang Agam, tapi sangat sedikit sekali tau info tentang Batang Agam… tapi dengan ini saya jadi lebih tau…

    1. Ayuh sesekali eksplorasi Agam..Banyak banget tempat2 menarik yg bisa ditulis. Sayang saya gak tinggal disana…:)

  8. Talas sayur itu nama lainnya kemumu bukan? Aku dari Padang juga, terus kata orang tuaku itu kemumu (kita punya tanaman yang sama hehehe). Batangnya enakkkk banget untuk dibikin gulai. Yum! 🙂

  9. aku belum pernah mba ke Batang Agam & saya juga belum pernah makan sayur daun pakis,memang rasa sayur gimana mba ? pahit atau gimana ya
    penasaran soalnya

    1. Saya gak ahli dalam melukiskan rasa Mas Andy..tahunya cuma enak..Gak pahit kok. Tapi sayur pakis kalau dikunyah bunyi krinyis-krinyis halus dalam mulut 🙂

  10. lihat pakis yg begitu segar seolah baru dipetik,
    rasanya terbayang katupek gulai pakih di pasar atas , bukittinggi ,Vi 🙂

    manusia memang merusak alam ini dgn tangan2nya ya Vi … 🙁
    sedih, liat batang agam yg airnya berbusa seperti foto diatas 🙁
    salam

    1. Katupek gula paku itu kayaknya belum nemu di Serpong deh Bun. Yang dipasar atas itu emang enak, hanya kurang manis saja sedikit. Maklum lah Bun, lidah anak rantau, sdh tercermar hehehe..

  11. Ping-balik: Setentang Sungai Pingai « LJ.returns
  12. Bagusnya batang agam yang abang gambarkan, membuat saya jadi terbayang ingin mandi-mandi disana, tapi tidak dengan ularnyaaa…dan katupek paku is the best laaaah..

    Oh iya uda, saya ingin tahu ttng batang agam, pada tangal 1 mei 2013 batang agam dimuat dalam harian padang ekspres, disana dituliskan berdasarkan penelitian BAPEDADAL sumbar dikatakan batang lembang, Agam, Sumani, dan Batang hari merupakan sungai yang memiliki pencemaran yang cukup parah,, kebetulan saya ada tugas dari dosen untuk membuat artikel ttng nilai kerusakan dan jumlah penghasilan yang hilang, maka saya memilih untuk membuat artikel mengenai nilai kerusakan dan jumlah pengahasilan yang hilang di Daerah Aliran Sungai Batang Agam..

    uda saya butuh bantuannya, ngomong-ngomong di DAS Bt. Agam itu industri apa aja ya yang ada disana??
    —————-
    Wah maaf Dik Isnanda..Saya tidak tinggal di kampung. Tulisan ini saya buat waktu pulang kampung setahun lalu. Jadi saya tak punya data-data industri apa saya yang dilakuan sepanjang daerah aliran sungai batang agam. yang saya tahu cuma satu itu bahwa industri pemijahan ikan mas Magek mati karena pencemaran sungai batang agam. Maad ya…

    Ohya boleh panggil saya bu. Foto thumbnail di Google, yang membuat Isnanda mendarat disini, itu anak saya 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?