Keliling Dunia Bersama The Passport Cafe

Your Favorite Hangout in Serpong - Tangerang
Your Favorite Hangout in Serpong – Tangerang

Serpong sebuah kota yang sedang bertumbuh. Perumahan, pertokoan, sekolah, kampus, rumah sakit, dan mall  muncul seperti rumput di musim hujan. Yang menjadi alasan tentu saja ia dekat dari Jakarta sementara  Tangerang sebagai induknya sudah lama jadi penyangga. Bak gula-gula dirubungi semut orang datang berduyun-duyun dan membuat kota  berkembang seperti sekarang. Entah sebagai penghuni baru,  pekerja dan pelaku bisnis yang melihat potensi, yang jelas untuk  memenuhi kebutuhan mereka terhadap rekreasi “makan di luar”  berbagai jenis resto dan cafe pun bermunculan. Yang terbaru adalah The Passport Cafe,  terletak di jalan Ki Hajar Dewantara,  dalam kawasan Ruko Beryl –  Gading Serpong.

the passport cafe
Untuk kaum muda maupun yang berjiwa muda

Ide Pemberian Nama The Passport

Bisnis cafe menuntut sesuatu yang unik. Di Serpong  jenis usaha ini tinggi tingkat kompetisinya. Maka untuk survive harus keluar dari kerumunan. Alasan lain harus berbeda dari  yang lain adalah dipaksa  keadaan. Seperti kita tahu karakter  segmen pelanggan cafe sebagian besar urban terpelajar, terpapar informasi, sudah melihat banyak hal, dan pergi berwisata salah satu gaya hidup mereka.

Fakta di atas kemudian yang diterjemahkan dengan cerdas oleh Evi Arianto –pemilik — menjadi The Passport.  Perempuan Gesit,  juga pemilik Resto Bumbu Pekalongan,  dan penyuka jalan-jalan ini kemudian mematangkan idenya dengan melongok cafe  ramai di berbagai negara. Perhatian khususnya tertumbuk pada  sebuah tempat hangout  di Amerika Serikat. “Lokasi ramai seperti itu tentu punya sesuatu sehingga bisa menarik banyak orang. Apa?” Kira-kira begitu lah pikiran Evi. Setelah  memasukan aspek lain,  Evi berkesimpulan bahwa makanan harus bersifat “kekinian”,  harga reasonable, target pasar anak muda atau yang berjiwa muda, suasana kafe  dibuat senyaman mungkin. Saat Evi bicara saya memandang berkeliling dan mengamati berbagai asesoris dinding. Doodle yang membuat berbagai kutipan mengenai kopi dan makanan membangun aura ruang  terasa cerdas, elegan dan segar. Sebagian semangat  jiwa muda itu terpahat di sana.

Evi Arianto meminjam ide dari Amerika
Evi Arianto meminjam ide dari Amerika

Saya pikir ada fakta lain yang akan membuat The Passport banyak di lirik. Lokasi. Gading Serpong adalah kawasan kota mandiri. Kawasan bisnisnya seimbang dengan kawasan perumahan. Begitu pun sekolah dan tempat ibadah. Rumah sakit dengan mal. Pemilihan letak kedai  ini sudah tepat. Dan ia pun resmi dibuka tanggal 18 Februari 2017 kemarin.

Keliling Dunia Bersama  Daftar  Menu The Passport

Tiap orang tua memilihkan nama yang baik bagi anak-anak mereka. Didalamnya terkandung doa. Nama adalah harapan yang  memayungi seseorang sampai akhir hayatnya. Itu lah mengapa kita secara tak sadar sering mengkorelasikan nama seseorang dengan karakternya. Sebab nama adalah citra.

Begitu pun paspor, kunci utama untuk memasuki  negara-negara di dunia. Citranya begitu kuat yang dengan sendirinya orang paham kalau hendak ke luar negeri  harus membuat dokumen resmi dahulu. Sementara The Passport  mengkirstalkan citra lewat  makanan yang disajikan. Saya meneliti susunan menu satu persatu. Langsung paham baik karakter maupun nama adalah hamburan rasa yang ditarik Evi  dari benua Asia, Amerika, Australia, dan Eropa.

Roti Panggang The Passport
Roti Panggang The Passport

Tidak kah membayangkan saja sudah menarik?  Barat dan Timur bertemu dalam satu cafe?  Kamu tidak perlu datang ke negara Big Apple  untuk mencoba Texas Rodeo Mix Grill . Ke Jepang untuk Rump Wagyu Steak. Cicipi rasa Holland lewat Bratwurst. Atau sebelum ke Jerman test dulu lidah dengan  Wiener Schnitzel. Ingin tahu mengapa orang  Italia tergila-gila pada pasta, cari tahu apa yang memikat mereka lewat 7 ramuan pasta yang asyik. Dan Benua Asia, akar dari  lidah ibu kita,  coba Japanese Fried Rice, Vietname Grilled Chicken, atau Pataya Fried Rice. Eh selera asli  yang diberi panggilan manis  Nasi Goreng Kampung akan mengingatkan mu kepada nenek yang telah tiada (((nenek lagi hahahaha))).

Berbagai Cha rakyat Thailand hadir lewat Green Thai, Thai Tea, Thai Green Tea. Dari Thailand gunakan pesawat jet, menyeberang lah  ke kutub, di sini  akan dipersuakan dengan  Antartica Latte.

Pokoknya The Passport akan membawamu keliling dunia dalam sekejab. Mudah-mudahan suatu saat The Passport  menyediakan juga  passport sungguhan untuk pelanggan setia. Setiap usai menyantap hidangan tertentu, passpor mu akan dicap sesuai stempel negara yang telah membuat lidahmu bahagia.

Makan Baso di cafe
Makan Baso di cafe
Bratwurst
Bratwurst
Pasta
Pasta

Yang Terindah Bersama Kopi Indonesia

Meski asal tanaman kopi tidak Indonesia namun nenek moyang kita adalah penikmat genus Coffea dari keluarga Rubiaceae ini sejak tanaman ini masuk Nusantara. Mereka yang sebagian besar petani, pedagang dan buruh  mengadobsi cairan hitam kental  jadi bagian kebutuhan pokok. Coba saja, sebelum berangkat ke tempat kerja  istri akan menyeduhkan kopi. Begitu pun saat makan siang segelas kopi tak ketinggalan menemani hidangan. Kopi  hitam pekat jadi seduhan wajib kala menyambut tamu. Lalu warung-warung kopi kampung berdiri dan  jadi tempat berosialisasi.

Demikian lah selama berabad-abad kopi hidup tentram, bahagia, melayani tanpa polah, mengelinding mendampingi kehidupan sosial kakek-nenek kita. Lalu dengan kecerdasan supernova,  bisnis jaringan kopi internasional meletakan tangan ke dalamnya. Jagat perkopian guncang seketika. Melesat ke cakrawala dan bintang-bintang. Berbagai cerita sexy-pun ikutan lahir.

Kopi Papua dan Aceh Gayo
Kopi Papua dan Aceh Gayo

Kini penduduk kota, pria-wanita, remaja dan dewasa merasa kurang lancar urusannya tanpa sentuhan caffeine ((gue kali)). Padahal di masa kecil kopi tak tersentuh karena muatan tahyul. Seperti kopi tidak diberikan kepada anak-anak karena bisa membuat otak mereka bodoh. Sekarang sih berbeda. Anak SMP pulang sekolah pun bisa pergi ke cafe dan memesan Hazelnut Milk atau Affogato Coffee Oreo tanpa takut dipetoti mama-papa mereka. Saking akrabnya bahkan kopi pun digunakan  mengungkapkan cinta serta rindu terpendam. Kopi berubah dari sekedar kemanfataan caffeine menjadi gaya hidup.

Dan tentu saja sebagai penggenap unsur karena menyandang nama Cafe, The Passport menjadi kan kopi sebagai daya tarik utama. Jika kamu baru sampai, di lantai bawah langsung bersua dengan bar yang dilengkapi peralatan peracik. Boleh memilih tempat duduk di sana sambil  sekalian jadi saksi bagaimana  kakak-kakak keren The Passport memproses pesananmu. Siapkan  hidung yang baik karena aroma enak akan segera berhemburan ke udara.

Mencintai Indonesia bisa dilakukan lewat banyak cara. Menjadi bangga pada unsur alamnya salah satunya. Artinya lewat  kopi pun kamu bisa bersyukur telah terlahir dalam  negara tercinta ini. Dari tiap propinsi bahkan kabupaten dan kecamatannya tumbuh Coffea arabica, Coffea canephora (robusta), dan Coffea liberica  berkarakter khusus. Jenis tanaman, musim dan unsur tanah bermain di dalamnya. Tak heran kan jika  Evi Arianto hanya memilih kopi Nusantara untuk racikan kedainya?

Fokus pada kopi mu
Fokus pada kopi mu
Latte
Latte

Tempat Mini Gathering atau Arisan

Berencana membuat mini gathering, arisan, atau sekedar kongkow dengan beberapa orang teman? Jika lokasi tempat tinggal atau kantor  di kawasan Serpong, The Passport tak bakal salah pilih.  Pun untuk melayakan ulang tahun bersama teman-teman dekat, janjian dengan matan eh teman bisnis, membuat pembicaraan tak terdengar orang lain, ambil deh ruang atas di sebelah kiri. Walau seluruh space The Passport terasa akrab dan personal, menempatkan satu meja yang sedikit terpisah dari meja lain membawa kesan lebih intim. Siapa tahu ada pembicaraan yang tak ingin terdengar oleh telinga lain, ya kan?

Tempat Hangout Favorite
Tempat Hangout Favorite

Penyusunan Menu The Passport Cafe

Menu The Passport disusun oleh cheft  berpengalaman. Di pilih hati-hati dan di kelompokan menjadi 13 kategori. Jika satu kategori saja berisi minimal tujuh (7) item, bisa dihitung jenis makanan dan minuman yang akan menghibur lidah dan perut selama kita di sini? Untuk menjamin kepuasan pelanggan menu-menu tersebut akan direview setiap bulan dan diganti setiap tiga bulan. Saya membayangkan jika pun kamu datang berkali-kali dan menyukai petualangan dunia lewat lidah, The Passport takan membosankan deh.

Apa saja kategori menu The Passport?

Dimulai dari Appetizer, Soup, dan Lite Meal.

Maincourse yang terdiri yang tak kurang dari sepuluh item. Sekalipun nuansa daging-dagingan amat kental di sini. Sekalipun harga daging sapi sedang mahal di Indonesia keseluruhan  harga maincourse cukup terjangkau. Yang paling mahal Wagyu Rump  Steak yang berasal dari Jepang, Wagyu Beef ini secara luas dikenal sebagai daging sapi yang terbaik dapat dibeli oleh uang. Itu  berkat marbling yang unik, tekstur, rasa gemuk juicy yang lezat. Harganya Rp. 81.000. Sementara yang paling murah di kategori ini adalah Bavarian Omelete seharga Rp. 27.500.

 

Intip videonya…

Yang khusus adalah menu-menu Asiaan Favorite. Mereka disusun dalam satu kategori khusus. Melihat ke dalamnya

Di susul kategori pasta, menyajikan 7 menu yang menerbitkan selera. Entah bagi yang lain tapi untuk saya pasta adalah jenis makanan ringan. Sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan sahabat diselingi menikmati Gambaretti tentunya tak terlalu membebani perut.

Penyuka hidangan sehat atau selalu saja ileren melihat sayuran di kebun, lirik 7 salad yang diolah Chef’s The Passport. Salad berbahan dasar buah juga dapat dijadikan pilihan. Pokoknya salad dengan dressing beragam membantu pasokan seratmu selagi hangout di The Passport.

Yang istimewa adalah kategori Asian Favorite. Sebetulnya ini penuh  hidangan yang  akrab dengan lidah Indonesia. Siapa sih yang belum kenal dengan Mie Bakso Pangsit? Atau Fried Oxtail Soup alias sop Buntut Goreng. Terus ada Sweet and Sour Fish alias ikan asam manis. Nama-nama mereka yang manis dalam bahasa Inggris tak meninggalkan kenyataan bahwa kelompok ini akan selalu dicari.

Tertarik untuk mencoba? Yuuk datang lah ke The Passport

The Passport

Jl. Ki Hajar Dewantara No.39, Pakulonan Baru, 

Kelapa Dua, Tangerang, Banten 15810

 

 

 

60 thoughts on “Keliling Dunia Bersama The Passport Cafe

  1. Interior cafenya terkesan teduh ya, cocok buat menyendiri sambil menulis. Interior cafe sekarang lagi hits gitu ya? Langit-langitnya dibiarkan polos tanpa plafon. Bole nih masuk list acara weekend ke sini, siapa tau tersugesti untuk keliling dunia betulan. Hehehehe… *siapin passport*

    1. Sambil menikmati secangkir kopi berikut makanan kecilnya terus mencari inspirasi di sini, Emang terasa cocok Kening Lebar. Mungkin asal jangan akhir pekan Sebab di hari menjelang libur kafe mestinya penuh. Inspirasinya bisa kabur 😉

  2. Seorang Evi yang bercerita tentang Evi yang lain (ini kurang nyambung memang tapi kesan pertama saya demikian Mbak, haha). Keren banget ya kalau menunya bisa menjangkau seantero dunia dalam sebuah buku menu, berarti tak perlu jauh-jauh kalau penasaran dengan santapan eksotis negara-negara dunia, hehe. Suka dengan tampilan foto-fotonya, keren Mbak pengambilan gambar dan pencahayaannya, kelihatan sekali legit masakannya. Bolehlah datang kemari kalau sedang jalan-jalan di Serpong, tapi traktir ya #eh.

    1. Gara sepertinya Marga Evi itu adalah perempuan perempuan menarik, makanya mau menarik untuk diceritakan. #gubrak dari atas Monas.

      Betul membawa berbagai masakan luar ke dalam suatu Cafe merupakan ide yang sangat menarik. Walaupun akan ada penyesuaian agar cocok dengan lidah Indonesia.

      Terima kasih atas pujiannya untuk foto ya, Gara 🙂

      1. Pastinya dong menarik Mbak, hehe.
        Sependapat Mbak. Masakan luar negeri memang harus disesuaikan dengan selera lokal supaya lebih mudah diterima konsumen Indonesia, hehe.

  3. Tempat nya asyik banget Tante. Apa lg dengan harga makanan yg tidal begiti mahal dan pas dikantong. Apa lg kalau nongkrong disana bareng dengan pacar. Duh, jd lebih Romantis..

    1. Ha-ha-ha kalau jomblo Lampung yang keren ini lihat tempat-tempat Bagus Pasti ingat nya pacar terus ya?

      Ya tentu saja kalau datang bersama Belahan Jiwa tempat ini akan jauh lebih menarik 🙂

  4. Menu yang disajikan disini sudah mewakili citarasa antar benua. Pantas sich namanya the passport. Namanya sdh mewakilkan isi menu. Foto2 ciamik semua mbak. Dan bahasa yang dipakai juga enak bangat buat dibaca.

    Jadi tergoda pengen kesini.

    1. Tidak pakai jauh. Di dalam The Passport kita bisa menyeberang benua, Mbak Adelina. Minumannya dari Thailand, makanan utamanya dari Amerika. Seru nggak sih?

      Terima kasih atas pujiannya untuk foto dan tulisan…:)

    1. Iya makan dan minum terus pulang mungkin cocoknya cuma di warung. Kalau Cafe orang menikmati gaya hidup yang berarti harus banyak yang bagus di tempat ini, Mbak Muna 😀

  5. Aku juga suka kopi, mbak. Kalo nggak ngopi tiap pagi, rasanya ada yang kurang hehe. Favoritku sejauh ini Kopi Vietnam, tanpa sianida ya 😀

    Suka sama dinding batu bata eksposnya. Kesannya jadi hangat, nyaman, tapi tetep maskulin.

  6. Assalaamu;alaikum wr.wb, mbak Evi…..

    The Passport Cafe memang nampak ciri-ciri barat pada dekorasi dalaman dan menu makanannya. Saya menjadi asyik membaca setiap bait tulisan mbak Evi yang detail tentang The Passport Cafe ini. Ternyata memberi rasa nyaman dan ingin berlama-lama di sana. Jika tahu mengenal pasaran pasti pemiliknya, Ibu Evi meraih ramai pelanggan mengunjungi cafenya. Betul mbak Evi, lagi menarik kalau ada passport yang betul sebagai ciri khas pengunjung cafe ini setiap kali memesan menu asal negaranya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikum salam Mbak Fatimah. Apa kabar? Sudah lama juga tak mampir ke sini.

      Iya konsep The passport Cafe ini memang seru. Akan membuat betah pelanggannya yang singgah.

      Terima kasih ya Mbak 🙂

  7. Di Lampung juga ada kafe yang berkonsep seperti ini. Jadi menunya berasal dari banyak negara. Tapi The Passport Cafe ini jauh lebih keren. Aku suka design interiornya yang hangat.

    1. Iya daya tarik sebuah tempat hangout ada di sini mas Fahmi. Orang-orang yang ke Serpong serta anak muda yang ada di sekitar tempat itu punya tempat hangout yang asik 🙂

  8. woh makanannya nakenak semua ya mbak evi, sayang jauh dari sini jadi belum bisa icip-icip di passport cafe. suasananya cozy, koleksi kopi nusantara banyak, cocok lah buat nongkrong sambil ngedraft cari inspirasi disana

  9. Bakso pun masuk cafe, bersanding dengan kopi dan makanan dengan rasa berbagai negara, benar2 membuat lidah keliling dunia. Dan sembari makan dalam suasana yg nyaman sembari berharap agar bisa nyampai ke tempat negara kuliner itu berasal. Konsep yg sangat kekinian ya Un.

  10. Duo Evi dg talenta luar biasa. Evi The Passport mengemas konsep dg brilian dan Uni Evi menyuguhkan dalam racikan postingan elok. Ah ternyata makan tak sekedar dari mulut ke perut yo Uni. Trims Uni Evi tuk sajian nyiamik ini.

    1. Kebutuhan panggilan kami sama mbak Prih. Dan Kalau Tulang yang lain lagi Evi yang satu lagi konsep dan semangatnya untuk mewujudkan lebih kuat dari Evi yang jadi blogger

  11. ulasannya lengkap, foto-fotonya bagus banget…cafe-cafe ala barat gini udah menjamur banget termasuk di serpong ya…tinggal nunggu giliran greenlake city nih

  12. Ya ampun mba Ev, itu roti panggangnya kejunya sampe tumpeh-tumpeh bikin pengen nyisilin hahaha.
    Brawust aku belum pernah mencobanya. Aku pengen deh makan di situ di bawah l ampu-lampunya. Suasana hangat.

    1. Makanan di sini penampilannya memang fotogenik semua. Melihatnya saja sudah bikin lapar. Terus menikmatinya bersama teman-teman di dalam beruang yang ditata dengan baik jadi nilai tambah lagi 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?