Menyambut Pagi di Kampung Halaman

image

eviindrawanto.com – Kampung Halaman | Yang paling saya sukai saat berada di kampung halaman adalah suasana pagi. Dimulai dari subuh ketika adzan berkumandang dari kampung sekeliling. Gemanya seperti bersahutan dan menelusup bersama udara dingin sampai ke tempat tidur. Alih-alih bangun saya berkelumun di bawah selimut, menikmati kehangatannya dan menunggu sampai panggilan suci itu lenyap. Suasana kembali senyap.

Tak lama tanda-tanda kehidupan pertama  mulai terdengar. Pintu kamar Bapak berderik dan langkah perlahan menuju rumah bagian belakang. Beliau  hendak mengambil air wudhu. Senyap lagi. Kemudian jalan di depan rumah pun mulai berbunyi. Derit jari-jari sepeda yang dikayuh, dengung sepeda motor, atau ban mobil yang berderak menginjak kerikil. Kondisi itu membuat kehangatan bawah selimut jadi tak asyik. Saya pun lantas turun dari tempat tidur.

kampung halaman
Jalan Pinang Balirik

Rumah almarhum ibu berada di di tepi Jalan Pinang Balirik. Jaraknya sekitar 2-3 kilometer dari Kota Bukitinggi. Kami sebut demikian karena di tepinya ditanami oleh barisan pohon pinang (A. catechu). Walau kampung halaman ini lebih dekat ke Kubang dan tak jauh dari Sawah Ladang (Saladang),  secara administrasi ia masuk Desa Ambacang. Jadi secara adat, politis, dan psikologi kami ini orang Ambacang bukan orang Kubang, apa lagi orang Saladang atau Kasiak.

Begitu lah. Sekalipun berada dalam satu Kanagarian yakni Magek dan dibawah  satu Kecamatan yakni Kamang-Magek, penting bagi kami mempertegas area geografis. Bahwa adat Minang itu cuma Salingka Nagari ( tata adat yang dipraktekan di selingkar negeri).  Itu berarti ada stigma antara -contohnya- orang Magek dengan Orang Tilatang, nagari sebelah. Ini sama persis saat kita berada di luar negeri. Sesama orang Indonesia menganggap diri bersaudara. Sementara di dalam negeri relasi mengecil menjadi propinsi, suku, kelompok, asal tempat tinggal, famili, sampai keluarga inti sebagai unit terkecil.

Kesegaran Pagi di Kampung Halaman

Kembali pada suasana pagi di kampung halaman. Sekarang hari sudah mulai terang. Hujan semalam rupanya menggumpalkan berbagai aroma alam. Mereka bergulung-gulung masuk rumah saat pintu terbuka. Sekalipun ibu sudah pergi hampir dua tahun lalu, bunga-bunga yang ditanamnya masih di sana. Mereka seolah mengucap selamat bertemu lagi kepada saya.  Kelopak Mahkota Duri, Mawar, dan Soka terlihat berat menampung sisa taburan hujan yang bercampur embun.

Saya berjongkok di bawah pohon pagar sambil memotret dengan camera hp. Saya pun tak lupa memasang telinga, “nguping” obrolan mereka yang lewat. Tak lama lewat dua orang bapak yang sama sepuhnya. Yang satu menuntun sepeda dan yang satu lagi berjalan pelan dengan menyelempangkan sarung di leher. Pokok pembicaraan mereka seputar seorang anak yang tak jadi menengok kampung halaman karena sakit. Telinga saya terus mengikuti  sampai mereka menghilang di ujung jalan. Ada kegalauan dan kerinduan di sana. Membuat saya sedih karena ingat Bapak sendiri. Beberapa bulan lalu beliau kembali ke rumah ini, hidup sendirian dengan merawat bunga-bunga peninggalan ibu.

kampung halaman pinang balirik magek

image

imageimage

Saya masih memperhatikan bunga Mahkota Duri yang ditanam ibu sampai mentari perlahan memupus air dari kelopaknya. Di tepi jalan, cahaya keemasan menerabas untaian daun pinang. Angkot lewat semakin sering. Dan saya pun bergegas membersihkan diri. Hari ini kami akan jalan-jalan ke Bukittinggi.

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

34 thoughts on “Menyambut Pagi di Kampung Halaman

  1. Jadi Bapak sekarang di rumah ya Mbak? Siapa yang menemani? Semoga beliau selalu sehat dan bahagia mengisi hari tuanya dengan merawat rumah peninggalan ibu dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya..

    1. Iya Mbak Dani, gak ada yg menemani. Untungnya beliau sekarang mau dibawa balik. Terima kasih ya Mbak 🙂

  2. pulang kampung selalu mendamaikan ya uni, pasti bapak senang
    kl begitu uni masih akan sering pulang kampung lagi ya nengok bapak

    di rumah banyak Euphorbia uni?

    1. Besok beliau kita mau bawa ke Jakarta lagi, MM..Insya Allah beliau sehat2 saja, jadi kalau nanti kangen kampung lagi, beliau masih bisa pulang. Dan saya juga punya alasan mudik. Ya Euphorbia yg ditanam ibu masih tumbuh dengan baik walau sempat setahun lebih tak diurus 🙂

  3. Pinang balirik…ah, cantiknya jalan desa dg pinang di kanan kiri bgt ya mbak… Klo bunga di foto terakhir itu yg kutahu namanya euphorbia 🙂

    1. Terima kasih Mbak Mechta…Kemarin saat menulis sempat lupa namanya. Disebut bunga Mahkota Duri juga sih 🙂

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mba Evi… pemandangan kampung yang asri. Saya tidak pernah melihat kampung seperti ini lagi di tempat saya. Kalau pokok pinang itu namanya Pinang Laka di sini, mbak. Malah Mahkota Duri itu pula namanya Delapan Dewa. Saya memiliki bunga Delapan Dewa berwarna merah jambu dan merah (bunga kecil) dan warna kuning juga pink (besar besar). Salam manis selalu dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    1. Waalaikumsalam Mbak Fatimah,
      Iya ingat sekarang, nama bunga itu Mahkota Duri. Jadi di Malaysia disebut Delapan Dewa. Sesuai bentuknya, nama itu indah, Mbak.

      Salam manis dari kampung saya, Magek 🙂

  5. Wooow indah sekali….!!!!

    Tilatang Kamang mengingatkan saya dg keluarga Pak Kaman (Om2 jauh saya), Noviyan Kaman, Safarman Kaman dll.

  6. Sapaan maya dari Pinang Balirik sungguh menghangatkan hati. Selamat menikmati kebersamaan dengan Bapak dan kerabat di kanagarian Ambacang yo Uni Evi.
    Salam

  7. Kehidupan pagi di kampung di nagari awak samo uni Evi. Pemulai kegiatan itu adalah azan subuh dari surau atau masjid. Saya rindu suasana pagi nan dingin itu.

    Saya pernah sekali ke Tilatang Kamang. Sawahnya luas, kayak di kampung saya.

    1. Betul Pak Alris banyak ruang terbuka dengan sawah-sawahnya di sini. Bikin tidur dan makan jadi enak lihatnya hehehe

    1. Jadi Mahkota duri disebut bunga pancawarna juga ya, Mbak Nanik? Thank you atas tambahan informasinya 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?