Menanam Tomat Cherry

Rasa iri tak selalu buruk. Saya membuktikan itu pada beberapa batang mawar dan tomat cherry yang tumbuh di halaman rumah. Mereka yang sekarang menyemarakan sejumput tanah yang selalu berantakan itu berawal dari rasa iri. Kalau bukan karena iri membaca atau melihat hasil bercocok tanam teman-teman saya pasti belum punya tanaman warna-warni dalam pot. Mengenai tomat cherry, iri melihat aneka sayuran di halaman rumah teman yang diantaranya adalah tomat cherry berbuah lebat.

image

Dalam suatu pameran makanan organik sayapun kembali bertemu dengan tomat cherry. Bahkan kelebatan buahnya lebih dahsyat lagi dibanding milik teman saya tadi. Dan rasa tomat ini membawa saya pada rasa tomat jaman dulu, asam dan manisnya original, mengingatkan pada tomat kampung. Tak seperti tomat tw atau tomat sayur yang hambar itu.

Selesai pameran saya dihadiahi beberapa butir tomat cherry ranum untuk bibit. Berhubung tak rajin berkebun calon bibit itu mengendap saja dalam kulkas sekian lama sampai kulit arinya mengkerut. Nah dalam keprihatinan yang dalam, jangan sampai tersia-sia, suatu pagi saya pencet saja dua butir dan bijinya disemai sembarangan dalam bak bekas kamar mandi. Awalnya gak yakin biji-biji itu bakal tumbuh. Masa sekian lama dalam lemari es strukturnya rusak, pikir saya.

image

Eh kurang lebih seminggu kemudian tunas-tunas halus bermunculan dari bawah tanah. Saya pikir saat-saat seperti lah yang membuat mengapa orang hobby berkebun. Jadi penyebab suatu kehidupan baru yang berdenyut karena tangan kita, rasanya sungguh luar biasa.

Eh dari dua butir buah ternyata banyak sekali tunas baru yang tumbuh, berdesakan di tempat persemaian yang sempit itu. Maka kurang lebih tinggi sejengkal beberapa batang dipindah ke pot lain. Sementara yang lain terpaksa dibuang. Sayang banget sebetulnya, tapi mau apa lagi, tumbuh berdesakan takan bagus juga untuk mereka dan saya sang penanam.

Nah sekarang tomat-tomat cherry saya sudah berbuah. Tidak lebat seperti pendahulunya sih. Mungkin kurang pupuk atau sinar matahari. Namun tetap saja senang melihat bunga mereka yang kuning berubah jadi putik, membesar, kemudian meranum dengan mengeluarkan pigmen merah segar. Enak banget begitu dipetik, cuci, langusung dimakan.

Yuk kita nikmati tomat cherry untuk sarapan pagi.

@eviindrawanto
Yang bekerja lebih baik akan jadi yang terbaik

17 thoughts on “Menanam Tomat Cherry

  1. Berkebun memang mengasyikkan apalagi klo sudah bisa panen :D, tapi tanaman d rumah banyak yang dikencingi sama si Lunar jadi sering tewas deh T_T

    1. Belum pas aja tuh teh antara tanah, iklim sekitar dan pohon yang ditanam. Kalau sdh pas mah semua orang bisa bercocok tanam 🙂

  2. Kalo ngelihat yang udah berhasi berbuah gitu, jadi ngebet pengen juga punya tanaman kek gitu. Eh, tapi ternyata malesnya itu ngadepin prosesnya mulai dari nanam bijinya 😀

    1. Hehehe.Iya sih..Kalau membayangkan dari biji sampai berbuah gitu prosesnya agak lama juga. Tapi gak berasa kok Mbak Akin. Lah kita dan tumbuhan sama-sama tumbuh sendiri..:)

    1. Iya rasanya lebih ke arah tomat seharusnya, tidak seperti tomat-tomat gede itu, yang tak berasa tomat sama sekali, Mbak Eda 🙂

  3. saya menanam tomat belum pernah uni,
    sukanya nanam tanaman keras, tapi di pot,
    ga perlu perawatan khusus *ketauan juga malesnya 🙂
    tapi di rumah orang Minang (kampung) yg wajib ada, serai, pandan, jeruk purut,daun jarak, adalah. kunyit, daun ruku2, mati *blm berhasil tumbuh lagi, kayaknya ada yang memakan.

    1. Iya Buk, dirumah nenek ambo, di belakang dapur tumbuh aneka bumbu dapur itu. Terus daun ruku-ruku itu yang mirip kemangi ya, untuk kinco pangek..

  4. Saya juga suka menaburkan biji pepaya si blkg rumah Uni. Sehingga klo saya mau sayur pepaya tinggal petik dan rebus, kapan saja ….. 🙂

    1. Tanah yang subur ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin ya Pakded. Jadi tak percuma lagu Kolam Susu dimana tongkat kayu akan tumbuh 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?