
Makan seafood di Pelabuhan Paotere Makassar bukan sekadar urusan mengisi perut yang keroncongan. Halo Sobat JEI! Kalau mendengar kata “tua, lama, atau peninggalan sejarah”, apa yang terlintas di benak kalian?
Bagi saya, kata-kata itu memicu antusiasme luar biasa. Ada romantisme magis yang selalu menyelimuti tempat-tempat bersejarah. Karena itu, saat seorang sahabat di Makassar mengajak wisata kuliner ke Pelabuhan Paotere, hati saya langsung bersorak. Ahai mari kita makan!
Sejarah Panjang Mengiringi Makan Seafood di Pelabuhan Paotere Makassar
Teman-teman, Pelabuhan Paotere adalah mahakarya peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Sejarah mencatat pelabuhan ini mulai beroperasi sejak abad ke-14. Keren ya, sudah sejak ratusan tahun berlalu, tempat ini tetap tegak berdiri. Ia menjadi saksi bisu ribuan perahu pinisi yang gagah menantang samudera keluar masuk membawa aneka barang.
Ngomong-ngomong sebelum kita bahas serunya makan seafood di Pelabuhan Paotere Makassar, kita wajib mengapresiasi nilai historisnya. Karena Pesona masa lalu pelabuhan ini ternyata sukses mengundang banyak tokoh penting. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga pakar kuliner Bondan Winarno pernah singgah mengukir jejak kuliner di sini.
Jadi, pejalan mana yang hatinya tidak tergelitik untuk mampir? Kita patut menuliskannya di blog kesayangan ini.
Atraksi Panggangan Menarik Jelang Makan Seafood di Pelabuhan Paotere Makassar
Kami tiba menjelang makan siang. Pelabuhan sedang panas membara. Saya sampai memicingkan mata untuk melihat pemandangan ke arah pelabuhan dan laut di belakangnya.
Rumah Makan Paotere menyambut kami dengan gaya sederhana. Bangunannya beratap seng dan berdinding tembok biasa. Namun, kejutan sebenarnya menanti di area depan. Kalian akan takjub melihat tungku pembakaran ikan yang sangat lebar.
Sang penjaga warung dengan tangan telanjang sangat cekatan membolak-balik aneka ikan laut, cumi, hingga otak-otak berbungkus daun. Sudah biasa dan kebal panas sepertinya.
Ini bagian menariknya. Mereka menggunakan paduan sabut kelapa dan arang kayu untuk mematangkan lauk pauk tersebut. Asapnya mengepul wangi menciptakan aroma smokey khas pesisir yang menerbitkan air liur. Cara tradisional ini sangat efisien melayani pengunjung sekaligus mengunci rasa manis alami daging ikan lho, teman-teman.
Ragam Menu Makan Seafood di Pelabuhan Paotere Makassar ala Bugis
Gak pakai lama. Sambil mengobrol dengan sahabat yang sudah tidak lama bertemu, hidangan pun sudah siap mendarat di depan kami,
Menyantap hidangan laut di sini menghadirkan pengalaman otentik ala suku Bugis-Makassar. Lihat saja pesanan yang memenuhi meja kami. Dua ekor kakap putih bakar berukuran jumbo tampil memesona.
Seperti kita tahu, hidangan utama ini tidak berjuang sendirian. Pasukan pelengkapnya sungguh meriah! Kami menyantap ikan bakar bersama semangkuk sayur lodeh berisi irisan kol berkuah santan gurih. Tersedia pula serutan mangga muda, saus kacang kental, irisan tomat hijau, cabe merah, dan jeruk nipis. Tak lupa sepiring pete pedas yang menantang nyali.
Sobat JEI bebas meracik persambalan sendiri. Saya mencampur saus kacang, tomat, dan perasan jeruk nipis ke dalam mangkuk kecil. Ini benaran saya banget. Karena itu membuat lidah saya langsung tersengat.
Potret Kehidupan Setelah Makan Seafood di Pelabuhan Paotere Makassar
Kenyang menyantap hidangan laut, jangan buru-buru beranjak pergi. Yuk kita keliling pelabuhan. Aktivitas saya setelah makan seafood di Pelabuhan Paotere Makassar adalah merekam kehidupan sekitar. Kamera saku andalan siap menangkap berbagai sudut estetik pelabuhan yang sibuk.
Saya berdiri dari sebuah tempat yang teduh, melanjutkan siang itu dengan mengamati apa saja yang bisa diamati.
Lihat ke perahu kayu berwarna putih dan hijau terang bertuliskan “MAKASSAR” yang bersandar di dermaga. Perahu ini tak sekadar diam, melainkan bersiap menyeberangkan penumpang dan logistik. Ada setandan pisang segar dan karung-karung barang bawaan menumpuk di geladaknya. Penumpang tampak duduk santai berteduh di bawah atap perahu. Entah kemana tujuan mereka, saya tak bertanya.
Hal yang paling mencuri perhatian saya adalah seorang pria yang dengan tenang meniti selembar papan kayu sempit, keluar dari perahu tadi. Papan itu menjadi jembatan penghubung darurat antara tepian berbatu dan haluan perahu. Sungguh atraksi keseimbangan yang memukau! Di sebelahnya, bersandar pula sampan kecil meruncing yang tak kalah cantik, siap membelah riaknya air. Langit biru cerah siang itu membingkai jajaran kapal-kapal kayu yang merapat meriah di kejauhan.
Kehidupan pelabuhan yang tampak keras ternyata selalu menyimpan puisi visual yang indah bagi mereka yang mau mengamati. Ayo Sobat JEI, jadikan wisata kuliner dan budaya ini sebagai destinasi wajib kalian di Sulawesi Selatan!
IG @eviindrawnto2026


