Biralle Punu’, jagung pulut camilan khas Makassar ini adalah godaan yang perlu dicoba bila teman-teman sedang di Makassar.
Sobat JEI, selamat datang di kota para Daeng! Saya akan menceritakan pesona biralle punu’ yang berhasil memikat saya dan menganggapnya sebagai camilan sehat.
Untuk mengabadikan rasanya, ini perlu saya rekam dalam blog perjalanan ini. Mulai dari tekstur legit jagung pulut yang lengket, segarnya bumbu cocolan jeruk nipis, hingga deretan warung malamn di sekita jalan Sultan Alauddin.
Sahabat saya yang orang Makassar asli sekaligus memandu, pernah memberi peringatan unik. Jika sedang diet, sebaiknya tunda dulu niat jalan-jalan Makassar. Karenaa kota pesisir ini menyimpan jutaan rasa peruntuh pertahanan perut.
Sambil terkekeh, ia mengulang peringatan itu saat mobil kami menepi di sebuah warung malam. Makan malam baru saja usai. Namun, rasa penasaran ini tak boleh menguap begitu saja.
Tapi tentu saja peringatan itu tak begitu penting. Mengetahui terbentuknya Biralle Punu’ saja sudah bikin penasaran. Ceritanya, secara ilmiah, mutasi genetik alami Zea mays ceratina membuat jagung mengandung hampir 100% amilopektin. Nah itu lah yang membuat teksturnya sangat legit mirip uli ketan putih!
Menikmati Jagung Pulut, Camilan Khas Makassar
Menikmati jagung pulut sebagai camilan khas Makassar menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda. Ibarat merasakan makanan warga asli. Jadi saya yang pendatang baru, pantang mati gaya dong? Yah biar pun perut sudah kenyang saya dan suami tidak menolak tawaran ini.
Apalagi warga lokal punya cara makan yang unik. Begitu jagung rebus itu tersaji berikut perlengkapannya saya terpana sejenak. Teman yang jadi guide itu menjelaskan bahwa jagung ini wajib tersaji bersama bumbu pedas. Rasa asam pedas tentu membuat mata mengantuk kembali benderang. Dengan berkelakar dia juga berujar, jangan terburu-buru cemas soal berat badan, katanya sambil melahap jagung ke-dua.
Kalau dipikir-pikir benar juga. Riset nutrisi menunjukkan jagung ketan rebus hanya memiliki sekitar 96 hingga 110 kkal per 100 gram. Indeks glikemiknya juga bersahabat sehingga aman bagi penderita diabetes. Tubuh akan mengolah karbohidrat kompleksnya menjadi energi yang bertahan lama.
Tapi itu kan kalau belum makan sebelumnya? Tapi ya sudah lah, namanya juga sedang traveling, sedang senang-senang. Lupakan sejenak masalah berat badan. Jadi malam itu, saya pun mantap menghabiskan dua tongkol jagung tanpa secuil rasa bersalah.
Sensasi Bumbu Rujak untuk Biralle Punu’
Sensasi bumbu rujak untuk biralle punu’ sungguh memberi kejutan pada gigitan pertama. Sebenarnya sebutan bumbu rujak ini hanya karangan saya saja. Warga lokal Makassar sering menyebut racikan ini sebagai cobek-cobek atau garam rica.
Komposisinya sangat sederhana. Penjual menggiling garam kasar dan cabai rawit, lalu mengguyurnya dengan perasan jeruk nipis. Cara menyantapnya pun sangat bersahaja. Sobat JEI cukup mengeratkan gigi pada tongkol, mencocolkannya ke piring bumbu, dan mengunyahnya pelan-pelan.
Awalnya lidah saya agak terkejut menyambut rasa tajam tersebut. Namun, indera pengecap saya beradaptasi dengan cepat. Rasa manis alami beradu mesra dengan pedas asam yang menusuk syahdu.
Manfaatnya juga nyata. Secara medis, asupan vitamin C dari jeruk nipis membantu tubuh memaksimalkan penyerapan antioksidan pada jagung. Cara makan ini jelas jauh lebih menyehatkan ketimbang olesan margarin tebal ala di Puncak Cisarua.
Baca juga:
Warung Biralle Punu’ di Jalan Sultan Alauddin
Warung biralle punu’ dan jagung pulut berderet rapi di sepanjang poros Sultan Alauddin menuju Takalar. Kedai-kedai ini berkonsep warung khusus yang berfokus menjual jagung rebus dan minuman ringan.
Awalnya saya mengira tempat ini sekadar lokasi nongkrong anak muda. Suasananya temaram namun mengundang kehangatan obrolan malam. Rupanya prediksi saya meleset jauh. Selama duduk santai, saya melihat banyak pasangan suami istri datang membawa anak-anak balita mereka.
Secara tata kota, rute Sultan Alauddin adalah urat nadi penting yang menghubungkan wilayah Makassar dan Gowa. Jalanan ini tak pernah tidur dan selalu ramai pencari penganan hangat. Harga camilan khas Makassar ini juga sangat bersahabat. Teman-teman cukup membayar Rp 10.000 untuk mendapatkan tujuh buah jagung manis. Ukurannya mungil dan sangat pas menjadi teman icip-icip pengantar tidur.
eviindrawanto.com
