Jambore On the Blog 2012 :Tetaplah Mengetuk Maka Pintu Akan Terbuka

Saat remaja saya penggemar berat buku cerita silat. Tak terbatas karya Kho Ping Hoo, cerita silat bergambar seperti karya Gan KL dan Kosasih juga disikat. Apa saja yang ditawarkan kios penyewaan buku yang letaknya tak jauh dari rumah kami, kalau keuangan mengijinkan pasti disewa. Kalaupun uangnya tak mencukupi berbagai upaya saya lakukan agar  ransum bacaan lancar tiap hari. Kalau perlu pinjam uang SPP!

Nah saat SMP dua kali saya melakukankan kejahatan itu, “pinjam” duit SPP. Kecanduan terhadap komik ternyata membunuh. Jadi dua bulan berturut-turut uang pinjaman tersebut saya berikan pada kios sewa komik (hebat yak!).

Pada batas akhir pembayaran bulan ke-2, sekolah tentu gatal karena belum dapat penghasilan dari saya. Maka dipanggillah diri ini ke ruang guru BP, ditanyai mengapa belum membayar uang sekolah? Dan saudara-saudara pasti  tahu dong bahwa kejahatan harus ditutupi dengan kebohongan?  Maka saya katakan pada Bu Guru bahwa Bapak sedang sakit dan ibu cuma ibu rumah tangga, pasti tak punya uang. Ibu itu manggut-manggut, entah percaya entah tidak. Yang jelas saya tak berani menatap matanya.

Sewajarnya dunk bila sang piutang akhirnya menitipkan selembar surat sakti kepada orang tua agar melunasi kewajiban mereka?

Ibu saya macan! Mana berani awak melapor bahwa uang SPP-nya terpakai untuk sewa komik. Perjuangan menghadapi omelan gara-gara siang-malam terus membaca dan ogah membantu pekerjaan rumah saja sudah berat. Masa ditambah pengakuan bahwa saya nunggak uang SPP? Bisa dikuliti ibu tubuh saya nanti.

Jika rajin mengetuk suatu saat jendela akan terbuka

Dalam ketakutan dan situasi terjepit itu dunia gelap sekali. Saya takut banget pada ibu. Ketimbang disuruh mengaku kayaknya lebih suka bunuh diri.Tapi gimana dong, bolos sekolah juga paling bisa sehari-dua hari. Setelah itu sekolah akan mengirim surat lagi.

Untungnya saya punya teman akrab. Namanya Risna. Kepada Risna lah segala tangis dan ketakutan saya tumpahkan. Kami berdua punya ide minjam dari tetangganya Risna yang kami panggil Om Teguh. Bapak ini baik sekali pada kami berdua, jadi dia pasti mengabulkan. Eh tapi tidak tuh, malah dia menawarkan diri membantu saya mengaku pada ibu. Pintu pertama tertutup!

Kramat Sentiong itu pemukiman padat. Tapi penduduknya tampak jarang masak, mereka lebih suka beli sayur matang. Risna menyarankan agar saya jualan nasi uduk. Kalau pinjam modal pada ibu pasti dikasih. Tapi kapan masak dan jualannya, pagi-pagi kan mesti sekolah?. Ide jualan nasi uduk, lontong dan sayur masak langsung menguap.Pintu ke-2 tertutup tanpa sempat terbuka.

Pintu ke-3 tampak sedikit berpengharapan. Saya menawarkan diri pada Tante Misna yang berprofesi sebagai tukang cuci untuk jadi asistennya. Pagi-pagi sebelum sekolah mengambil cucian dan sore mengantar cucian yang sudah bersih kepada pemiliknya. Tapi waktu terus berjalan, belum sempat mengumpulkan sejumlah uang untuk SPP dua bulan, bulan ke-3 sudah datang.

Sebelum bulan ke-3 pembayaran benar-benar jatuh tempo, tiap hari saya meninggalkan rumah. Tempat penyewaan komik jadi tempat asing. Sekarang rajin berkunjung ke rumah saudara. Kebiasaan bagus orang padang adalah jika saudara berkunjung, pulangnya di kasih ongkos hehehe..Dapat tambahan pula dari uang saku sendiri. Alih-alih naik becak, saya jalan kaki ke sekolah. Selera juga harus di tahan. Walau ngiler banget melihat teman jajan bakso dan menatap dari jauh saja penuh kepedihan, di lakoni demi uang SPP.

Terus saya mempelajari sifat kucing yang amat disayang ibu. Kucing ber warna kuning dan belang putih itu sangat penurut. Maka saya melunakan apa saja yang ada di dalam  di hadapan ibu. Minta dikasihani seperti kucing.Sesekali jadi dapat bonus.

Tahu sobat, di detik-detik terakhir sebelum dipanggil ke kantor kepala sekolah, uang yang saya kumpulkan dengan darah dan air mata itu hilang. Iya hilang dari dalam dompet kecil yang saya taruh di bawah kasur. Dompetnya ada tapi uangnya tidak!

Hari itu rasanya benaran ingin bunuh diri. Tapi pakai apa? Baygon? Ih pasti gak enak, pahit lagi. Silet nadi seperti orang patah hati dalam film? Lah melihat mata siletnya saja sudah bergidik? Nabrakin diri ke kereta api yang melintas di pasar Gaplok? Idih gak elite banget sih!

Jadi saudara-saudara, saya meraung saja sekencang-kencangnya, diatas paru-paru untuk meratapi betapa sialnya hobi membaca komik itu. Saya menyumpahi pencurinya agar tak selamat dunia akhirat. Kalau dia adalah saudara akan saya putuskan tali persaudaraan seumur hidup.

Hari itu saya sampai di batas pertahanan. Gak takut lagi ibu mau marah atau tidak. Bayangangan merendahkan diri saat mengumpulkan uang sial itu membuat dunia ini tak berarti apa-apa lagi. Apa lagi kalau cuma omelan ibu. Kecil!

Pintu itu akhirnya Terbuka

Tentu ibu terkejut melihat saya meraung histeris seperti harimau luka. Siapa yang tidak, saya sendiri heran kok pada diri sendiri. And then, she is my mom, the best mom in the world. Setelah tahu duduk masalahnya dia memelukku kencang. Lamaaaa…sekali…Sampai saya sendiri keheranan kok dia bisa memeluk seperti dalam pelem-pelem yah? Lah kemana saja selama ini.

Besoknya uang SPP saya lunas. Sepertinya ibu membobok celengan karena lembaran-lembaran yang saya serahkan pada petugas administrasi banyak yang kusut. Sekalipun terlihat mata ibu juga berisi kepedihan saat memberikan uang tersebut, tapi dia tak pernah mengungkit-ungkit kesalahan saya. Mungkin dia tak ingin menambah penderitaan saya yang sekarang trauma berat terhadap penyewaan buku dan komik hehehe..

Salam,

Jambore on the Blog 2012:Sehari Bersama BlogCamp

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul 
Ketika Gerbang Sulit Dibuka Tanggal 28 Juni 2012

 

 

44 thoughts on “Jambore On the Blog 2012 :Tetaplah Mengetuk Maka Pintu Akan Terbuka

  1. Selesai baca sampai kalimat terakhir…tak ulang lagi dari atas…ini benar2 tulisan Mbak Evi ya, kok rada lain? hehe…maaf mbak,sok tahu ku lagi kumat… tapi aku salut dengan perjuangan membayar hutang itu dan terutama dengan endingnya : hm, kasih ibu memang seluas samudra ya…dan setuju sekali bahwa dimana ada kemauan pasti akan terbuka jalan!

    1. Hahahaha..habis nulisnya keburu-buru Mbak Mechta…Sudah mau sampai dead line..Siang tadi sibuk dan stress soalnya, jadi gak bisa nulis..Setelah saya baca..iya yah rada beda..Itu mungkin diri saya yg sedang stress Mbak..Soalnya sudah janji pada Pakde ikut jambore. Yang kemarin gagal administrasi soalnya. Sementara besok sampai senen saya mau keluar kota. Malam ini terakhir bisa ikut jambore..

  2. Sahabat tercinta,
    Saya telah membaca artikel anda dengan cermat.
    Artikel anda segera didaftar.
    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya.

  3. wow …. begitu berliku liku ya mbak perjuangannya mengumpulkan uang, walau uangnya yg disimpan di bawha kasur akhirnya hilang

    semoga sukses ya kontesnya mbak

  4. Saya juag hobbi uni, baca komik terutama kho ping ho saya bisa tidur sampai jam 2 atau jam tiga pagi karena membacanya. Setelah itu bangunpagi yang dibuka komik duluan…..hee3
    Kenangan masa kecil, kalau saya dulu bacanya di Pasar Padang Theater.
    Salut melihat kegigihan uni, saya rasa itu adalah salah satu sikap yang mebawa uni keberhasilan uni saat ini………….. 🙂

    1. Komik itu kalau dijabani sangat membius ya Pakded. Kalau sekarang persamaannya mungkin pada penggemar drama Korea..
      Dan waktu itu gak kepikiran soal keuletan, tahunya cuma ketakutan pd amarah ibu 🙂

  5. Yang saya tangkap dari tulisan ini, menggambarkan semangat yang menggebu. Saya juga rada-rada nyengir, penggemar komik juga soalnya. Hehe.

    Hati-hati di perjalanan menuju luar kota. Oleh-oleh reportasenya yaa Mbak Vi… 🙂

  6. onde mandeh.. uniiii.. 😛

    setuju dengan pendapat teman2..
    bahwa kegigihan uni tercermin sampai sekarang
    keren pokoknya.. meskipun bikin ibu sedih juga..
    tapi beliau pasti bangga dgn usahamu itu, Un.

    1. Dulu mah gak ada kerennya May, yg ada horor tiap hari. Suka terbangun tengah malam. Enggan menyambut pagi. Wah nereka dah pokoknya

  7. Hehee..
    Mba Evi mau bunuh diri?
    ter..la..lu..

    Yah kasih sayang Ibu begitu dalem hiks..

    Sukses di Kontesnya Pakde ya Mba Evi..

  8. wah lain nih…. wah ternyata dulunya bandel …. ahahahaha. Kho ping ho.. memang mantap lah.. sama dulu juga kecanduan.. tapi lebih sering pinjem temen…

  9. Selamat pagi Uni, selamat ngontes (toss sesama penggemar cersil). Selamat melakukan perjalanan, … keluar pintu rumah,… keluar masuk pintu kendaraan dan pintu tujuan dengan semangat, ….. dan kembali lagi ke pintu rumah keluarga dengan sukacitaNya. salam

    1. Selamat pagi Mb Prih, tos dulu ah dr bawah kaki gunung yg belum kutahu namabya hehe. Baru keluar dr pintu mobil dan menikmati semangkuk soto ayan.salam

  10. Wah, ternyata mbak Evi punya cerita seru tentang komik silat dan uang SPP…iya mbak, kalo dibaca lagi sekarang pasti seru ya, padahal kalo dulu, huhuhu…bener-bener luar biasa perihnya…
    Ngomong-ngomong, uang yang dibawah kasur itu diambil siapa ya?
    Kok bisa dompetnya ditinggalin tapi uangnya diambil…
    🙁

    1. Betul Mb Irma, ada anak kecil kepikiran bunuh diri, itu pasti luar biasa pahitnya.
      Sampe skrg gak tahu tuh sapa yg ngambil Mbak. Secara di rumah emang banyak saudara, disamping teman2ku senduri dan saudara2 jg sering main di rumah 🙂

  11. Eh iyaaa, selamat melakukan perjalanan ke luar kota mbak, smoga selamat, lancar dan menyenangkan.
    Amiiin…

  12. Uni, jadi siapa yg ngambil uang di dalam dompet? siapa??? *gemes* he he
    Tapi memang ya Uni, seorang ibu selalu bisa memaafkan..

  13. Wach kisah seru ini kami dapat saat Uni ikut Jambore 😉

    Ternyata Uni pernah punya cerita rumit seputar komik ya, terima kasih sudah dibagi disini, jadi makin kenal Uni 🙂

    1. Hehw..sebetulnya agak malu menuliskan kisah nyata seperti ini Mbak Keke. Tp sesekali dicoba gak ada ruginya aku pikir 🙂

  14. wah… keranjingan komik sampe segitunya yah mbak. Hemm untung ibu nya sangat pengertian (tapi memang kebanyakan ibu kan begitu, tapi bukan ibu tiri he he).

    Tapi salut dengan usaha mbak evi yang rela dengan berbagai cara untuk melunasi SPP yang dicuri untuk buku komik :). Mungkin klo aku dah main minta aja sama ibu.

    1. Habis ibuku, dalam pandanganku saat itu galak banget sih Mas Fifin, mana berani saya ngaku selain berjuang sendiri 🙂

  15. terharu sy dg sikapnya ibunya mbak Evie.. Kalo sy mungkin udah ngomel2 duluan tuh mbak… Duh pengen deh bisa sabar bgt kyk gitu.. 😀

  16. Ibu…Ibu..dan Ibu…itulah keistimewaan seorang ibu.

    Semalem barusan denger celoteh seorang Kyai. Intinya..kasih sayang orang tua itu setinggi pohon kelapa, sedangan kasih sayang anak kepada orang tua hanya setinggi pohon toge..wekekkee.

    Orang tua merawat anak dari kecil hingga besar..tanpa pamrih, Sedangkan anak merawat orang tua hanya kala sakit dan terkadang hanya setahun sekali berkunjung di saat lebaran saja.

  17. Bagus ceritanya mbak, isi ceritanya sedikit konyol bercampur dengan gambaran kecintaan seorang ibu, ditambah lagi gaya bahsa yg digunakan kayak orang pidato. sekali lagi bener2 bagus mbak, semoga sukses di jamborenya …

  18. Hahahaha, saya enggak berani menyelewengkan uang SPP seperti itu, takut dipotong uang jajannya. 🙂
    Tapi seru juga pengalamannya, Mbak, jangan diulangin ya.. 🙂

  19. saya dulu pernah bandel pakai Uang SPP juga mba,tp untung’a bisa diatasi dengan cepat & cermat jadi kagak ketahuan deh,yah walaupun pada dasarnya kagak boleh seperti itu sih

  20. Oh may goat…
    sisi gelap mba Evi bener bener terbongkar disinih..hihihi…
    kecanduan ituh emang parah banget yah mbaaa…

    aku ajah hampir hampir mau gadai in cincin pernikahan buat beli dvd drama korea…hihihi…*lebay*

  21. Aku sering dipanggil guru BP, bukan karena bayaran SPP. tapi nonjokin anak orang mbak, hhehehe… 🙂

    bagian pelukan ibu, sukses bikin pagiku sendu mbak.. nangisss… 🙁

    1. Haha..bikin anak orang jdi sandsack yaMas..Untung gak dikeluarin dr sekolah ya. Yah pelukan ibu itu mendamaikan, menghilangkan berbagai tekanan dan kegelisahan. Tks ya Mas

  22. Mbak Evi .. selamat sudah memenangkan kategori Tulisan Terdramatis!
    Betul2 dramatis. Perasaan saya campur aduk bacanya. Saya membayangkan jadi ibunya mbak Evi dan jadi mbak Evi … (bayangin perasaan saya, betapa campur aduknya kan???)

    Semua ibu yang berhati lembut pasti akan memeluk anaknya sekencang itu setelah mengetahui betapa anaknya:
    – Menyadari kesalahannya.
    – Berusaha memperbaiki kesalahannya.
    – Betul2 membanting tulang untuk membayar kesalahannya.

    WOW .. mbak Evi pasti belajar amat banyak dari kisah masa lalu itu ….

    Cerita yang keren mbak Evi. Saya pun dibuat jadi banyak merenung …. ^^

    1. Hehe..makasih Mb Niar. Sekarang kesannya aku rada pahlawan ya. Padahal dulu mah cuma terdorong takut sama ibu, disamping ada sedikit rasa gak tega melihat ibu menangis. Dia sering banget nangis karena kelakuan kami Mbak. Terima kasih atas pujian Mb Niar 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?