Bogyoke Aung San Market Yangon – Yuk Belanja

Bogyoke Aung San Market
Bogyoke Aung San Market

Pernah kah membaca bahwa  Yangon  belum lah semodern Jakarta?  Lupa di mana tapi saya pernah baca pernyataan tersebut. Hanya kurang tahu parameter yang digunakan penulisnya. Kalau dibanding Indonesia yang sudah lama merdeka, memang sih negara ini baru saja tampil di kancah pariwisata internasional. Maklum, mereka kan baru membuka diri ke dunia setelah usai konflik politik berkepanjangan semasa junta militer. Jika hal itu disebut sebagai belum moderen, sepanjang cuma opini, ya tentu sah saja. Atau karena tanahnya tidak terlalu banyak ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit?  Lagi-lagi, mungkin saja!

Di sisi lain, sebagai turis yang  singgah beberapa hari, artinya kenal kulit luarnya doang saya berpendapat lain tentang  kota yang dulu bernama Rangoon ini. Betul  ia tidak dikepit mal ditiap jengkal tapi kehidupan di sana mewakili ciri-ciri kota moderen. Parameter saya adalah jalan raya yang lebar, tidak terlalu macet, mobil-mobil melaju di jalurnya dengan tertib, dan tak terlihat kehadiran sepeda motor yang kalau di Jakarta saling menyodok seolah cuma dia yang ingin cepat sampai. Trotoar lebar tapi tak seorang pun menumpangkan gerobak kaki lima atau mengalihkan fungsikan sebagai tempat parkir kendaraan. Yangon bak gadis yang suka berdandan tapi tak berlebihan karena dasarnya dia sudah cantik.

Di depan balai kota sebelum ke pasar

Belanja Oleh-Oleh atau Sovenir di Yangon

Tak dikepung mal bukan berarti Yangon bukan tempat seru untuk belanja. Tempat tinggalnya Aung San  Suu Kyi  ini punya Bogyoke Aung San Market wahai shop-pers maniac! Bentuk bangunan tak perlu keren, mirip ITC Mangga Dua, tapi di sini lah kalian, bahkan turis yang mengaku tak suka belanja akan mati-matian melawan diri sendiri.  Kekepin dompet? Tidak akan berhasil! Godaan sekitar  2000 toko  yang menawarkan apapun pernik khas  Myanmar terlalu menggoda untuk dilewati.  Kecuali memutuskan tak berkunjung sama sekali, menyusur Bogyoke Aung San Market atau Scott Market dulunya, “hati perempuan  normal” dijamin kebat-kebit. Jalan sedikit, konter  perhiasan yang terbuat dari berbagai bebatuan dan logam mulia,  kerlipnya mengalahkan  Jang Keun Suk aktor drama Korea itu. Melangkah lagi ada toko tekstil, warna-warni dan desainnya minta-minta untuk dijamah. Terus berbagai barang antik dan galery lukisan. Kalau cuma mau lihat-lihat saja memang harus banyak berdoa agar diteguhkan hati. Pesona buah khuldi (apel) terlalu kuat tergantung di atas Bogyoke Aung San Market . #Eh

Gedung Kantor BNI Yangon dan awan altokumulus
Gedung Kantor BNI Yangon dan awan altokumulus

Ngomong-ngomong bagaimana cara menuju ke Bogyoke Aung San Market? Kebetulan sekali selama di Yangon saya menginap di hotel yang lokasinya tak jauh dari City Hall,  beberapa langkah dari Sule Pagoda. Mau belanja ke Bogyoke Aung San Market tinggal jalan kaki. Jadi lah suatu pagi menjelang matahari tinggi, menyisir trotoar, berlindung dari panas Yangon yang menggigit di bawah bayang-bayang kanopi gedung atau sejumput pohon, saya sampai di tempat itu dengan semangat 45. Selama perjalanan mata disapa oleh gedung-gedung tua berarsitektur kolonial. Ditambah lagi melihat sebuah logo bank milik Indonesia, BNI di dinding sebuah gedung, hati jadi penuh kehangatan. Mengangguk atau melempar senyum kala bersirobok mata dengan penduduk  kota, lelaki-perempuan menggunakan longyi, tahu-tahu sudah sampai di gerbang pasar yang beralamat di jalan Bogyoke Aung San Road itu.

Di dalam pasar
Di dalam pasar

Pilih-Pilih Longyi-mu, Mbak!

Mumpung di Myanmar kamu harus kenal Longyi! Selembar kain dengan panjang sekitar 2 meter,  lebar 80 cm, di pakai dengan cara dililitkan pada tubuh bagian bawah. Singkatnya longyi itu adalah kain sarung yang dipakai setiap hari oleh lelaki maupun perempuan. Menilik ke dalam  kitab suci para pejalan bahwa makna traveling-mu  meningkat bila belajar hidup seperti penduduk lokal, kami para perempuan dalam trip ini bangkit rasa “kemiyanmarnya” dengan beli longyi untuk foto-foto!  Iya sesederhana itu niat kami, beli kain untuk foto-foto. Apa lagi merasa bahwa kulit dan bentuk wajah tak beda jauh dengan wanita-wanita Yangon. Cocok lah jalan-jalan menyisir pagoda dengan longyi sebagai pelengkap busana. Yeay!

Dan memilih longyi tidak sederhana mengagumi kecantikannya. Tak menyangka terlalu banyak pilihan! Baik dari sisi harga maupun warna, dan corak.  Kami sempat menyinggahi beberapa toko sampai akhirnya mentok pada satu toko yang punya koleksi beragam dan harga tidak terlalu mahal. Di sini pun  Paradox of choice kembali terjadi. Benaran deh more is less itu membuat gelisah! Bagaimana tidak? Sekalipun bentuknya tetap longyi, variasi warna dan motif, saking menariknya membuat saya kehilangan akal sehat. Kalau saja tak ingat hari itu hari pertama perjalanan, saya ingin beli beberapa lembar. Setelah meninggalkan Yangon pun, di pasar Mingalar Market – Nyaung Shwe deman longyi masih berlanjut. Ibu-ibu ini sampai rela nongkrongin penjahit Longyi sampai malam. Untungnya kegilaan saya dihentikan oleh budget.

Ohya penduduk Myanmar menggunakan longyi untuk kegiatan apapun. Bahkan olah raga. Tapi jangan kira bagi pemula semudah itu. Perlu latihan atau keterbiasaan agar longyi tetap ditempat sekalipun digunakan untuk melompati parit. Untungnya bagi turis tak perlu belibet  karena toko-toko menyediakan yang sudah dijahit. Seperti rok tinggal dililitkan saja dipinggang.

Pilih-pilih longyi
Pilih-pilih longyi
Lonyi beragam corak dan warna
Lonyi beragam corak dan warna
Rela menunggu penjahitnya sampai malam
Rela menunggu penjahitnya sampai malam. Foto : Ratnasari Apong
Pamer longyi. Foto : Ditto Birawa
Pamer longyi. Foto : Ditto Birawa
Mission accomplished
Mission accomplished. Foto : Dammer Saragih

Kerlap-Kerlip Bebatuan

Myanmar terkenal sebagai produsen batu mulia seperti ruby, giok, dan safir. Harganya pun sudah terkenal mahal di pasar lelang internasional.  Terutama batu-batu yang berasal dari wilayah Mogok atau yang dikenal juga sebagai  Lembah  Rubi. Kilauan, kemurnian dan warnanya yang cemerlang sampai-sampai dapat julukan sebagai Batu Darah Merpati. Dan tentu saja kedigdayaan batuan berharga Myanmar disokong oleh sejarah mereka yang panjang.  Karena penambangan batu berharga di daerah ini sudah berlangsung sejak  akhir 1500-an ketika para Raja Burma menguasai seluruh kekayaan negara termasuk kandungan  mineral  di dalam tanah.

Tapi bukan jenis batu mulia tersebut yang saya cari di Bogyoke Market. Cukup batu akik yang pasarnya pernah mencuat di Indonesia.   Di sini lah ribuan butir batu alam dirangkai menjadi ragam perhiasan untuk lelaki dan perempuan. Mulai dari  anting, kalung, gelang, dan cincin. Sekaya  jenis batu yang ditawarkan  begitu pun ragam desain, warna, dan media pengikat mereka. Dari yang melibatkan logam mulia seperti emas dan perak sampai kepada benang biasa . Tentu saja mutu, polesan, model, dan kecemerlangan batu jadi penentu harga. Mutu bebatuan ini pun beragam. Ada yang asli ada pula yang palsu. Jadi kalau kamu belanja di sini perlu juga berhati-hati karena tak semua pedagang mengatakan hal sebenarnya mengenai mutu barang yang dijual.

Cari bebatuan asli sampai palsu ada di sini
Cari bebatuan asli sampai palsu ada di sini
Here you are...
Here you are…

Barang Antik

Pecinta barang-barang vitage, punya nostalgi dengan benda-benda dari masala lalu, tertarik mengoleksi barang antik, Bogyoke Market menyediakan tempat untuk kalian. Lokasi mudah dicari karena terletak di tepi jalan, beberapa meter saja sebelum masuk pasar. Banyak juga ragamnya. Mulai dari lonceng dan hiasan meja terbuat dari loga berjejer rapi di seling oleh batu-batu dan perhiasan lain.

Meja pajangan yang penuh benda-benda seni dengan bentuk mewakili waktu mereka dibuat tak pelak membuat saya agak lama tercenung. Kebisaan diam-diam menyelam ke bawah permukaan, tak pelak membawa angan melayang ke masa lalu. “Suatu masa benda-benda itu pernah jadi milik seseorang, lalu kisah apa yang membawa mereka sampai ke sini? “ Pikir saya. Sekalipun kurang percaya kepada tahyul, pikiran seperti itu membuat saya agak lama berpikir sebelum memutuskan  membeli sebuah gelang batu giok cantik namun harga murah. Soalnya ingat saat menelisik tentang Tian-Zhu, Batu Akik Tibet, ada yang bercerita sebaiknya jangan pernah membeli batu bekas. Kita tidak tahu mungkin saja nasib buruk sang pemilik terdahulu tersimpan di dalamnya. Ngeri kan?

Berikut beberapa benda yang berhasil saya foto :

Hiasan dari logam
Hiasan dari logam
Berbagai batuan yang "mungkin" berasal dari seseorang yang sudah wafat?
Berbagai batuan yang “mungkin” berasal dari seseorang yang sudah wafat?
Ini cantik, bukan?
Lapak pedagang barang antik
Lapak pedagang barang antik

Pariwisata merupakan salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat di dunia serta sumber utama devisa dan lapangan kerja bagi banyak negara berkembang. Memasuki  abad ke-20 , bahkan, industri ini diakui sebagai fenomena ekonomi dan sosial yang penting. Terkait hal itu, mengembangkan destinasi belanja seperti yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Bogyoke Aung San Market tentu seperti bunyi peribahasa “sekali mendayung dua-tiga pulau terlampui”:  Memperkenal  budaya dan seni  negara Myanmar ke turis mancanegara juga membantu menaikan taraf  ekonomi  masyarakat.

Yuk ke Myanmar…

75 thoughts on “Bogyoke Aung San Market Yangon – Yuk Belanja

    1. Hai Mbak Ru, Emang kemana saja dirimu? Terima kasih ya sudah di sempatkan mampir.

      Iya pasarnya bersih dan counter-counter nya teratur. Asyik lah kalau jalan-jalan di sini 🙂

  1. Mba Evi. fotonya makin cakep2 nih. Langitnya syahdu gitu.
    Wah, aku kepikiran malah, kalau misal ke Myanmar atau negara lainnya. aku bakal menghindari pasar2 kaya gini. takut duit habis buat belanja. haha. Maklum, belum pernah jalan ke LN.
    Tapi, pasar2 di Myanmar g jauh beda sama tempat kita ya. yang dijual pun hampir batu mulia. haha.

    1. Terima kasih atas pujiannya masuk Hanif. Kebetulan aja objeknya memang bagus…

      Jalan-jalan ke tempat belanja memang mesti hatinya di Kuat kuatkan. Kalau nggak Uang belanja langsung habis hahaha

    1. Iya baik motif maupun warnanya mirip dengan tenun dari Indonesia Timur, Mbak Ulu. Mungkin karena akar tradisi kali ya, dulunya Serumpun dari yang disebut Asia belakang 🙂

  2. Tercekat di salah satu foto, kirain itu mbak Donna 😀

    Myanmar udah aku tandai sejak lama nih mbak Evi, ntah kapan bisa ke sana. Banyak teman yang betah dan berkunjung lagi lagi dan lagi ke sana. Penduduknya pun (nampak) ramah ya. Jadi penasaran dan mau blusukan ke pasar-pasar itu juga hehehe.

        1. Aku rasa ada hubungannya dengan cara hidup kekeluargaan yang secara umum dianut di Asia, Yan. Beberapa keluarga batih mengikat diri jadi keluarga besar. Dalam iklan tersebut kan harus banyak-banyak bertoleransi dan memahami orang lain. Kayaknya dari situ lahir sifat ramah tamah, tidak curigaan, dan terbiasa menarik garis senyum di bibir 🙂

  3. aaaaiiiiiihhh….. cantiknya Mamak Kameha Meha Kesayangan aku ini…..selalu memukau tulisannya. bikin aku pinter – secara kemampuan menulis aku belum pinter. — ayoookklaaahh ajak aku ngeTrip bareng sih …

    1. Aiih Si Abang selalu merendah. Terima kasih atas pujiannya, walau belum semua betul, Insya Allah yakin menuju kesana hehehe..

      Jadi mau kemana kita, Bang?

    1. Iya Jrin di sini banyak banget bangunan-bangunan tua berdiri berjejeran dengan pagoda yang tentu lebih tua lagi. Semoga tak lama lagi Fajrin juga sampai di Yangon ya. Amin

  4. Bebatuan yang dijual di sana mengingatkan pada Martapura di Kalimantan Selatan. 😀
    Omong-omong bangunan kolonial di Myanmar cantik-cantik gitu ya, marketnya aja sudah bikin klepek-klepek. Rikues ulas cerita bangunan-bangunan kolonial di sana donk. 🙂

    1. Memang sih aku memotret beberapa bangunan gaya kolonial, Lim. Mudah-mudahan Aku punya energi untuk menulisnya. Musti reset internet agak dalam Soalnya selama di sana Aku tak bertanya apa pun kecuali hanya mengambil gambar. Blogger males jalan-jalan ya gitu deh hehehe

    1. Hahaha iya itu Ratna…

      Myanmar selama aku berkunjung ke sana tidak berdebu malahan bersih. Dan alhamdulillah aku juga tidak mengalami sakit perut he-he-he

  5. Wah kotanya cantik banget, Mbak.
    Dan betul kata Mbak Evi, dilihat dari foto-foto yang Mbak Evi sertakan, kalau masuk pasarnya rasanya aku juga bakal kelupaan motret karena ikut berburu longyi maupun souvenir lainnya 🙂

  6. Nah, untuk itu kita perlu samakan persepsi mengenai apa itu “modern”. Setahu saya sih parameternya bukan dari lebarnya jalan atau tertibnya pejalan kaki. Jalan yang lebar kemungkinan merupakan warisan dari zaman kolonial.
    Kalau soal motor, pemerintah Myanmar memang melarang sepeda motor berkeliaran di jalan.

    Mungkin lebih pas kalau mengukur tingkat modernitas dari infrastruktur & gaya hidup warganya ya. Bersama dengan Phnom Penh dan Vientiane, Yangon memang sedang bergerak menuju kota modern.
    Btw, ibukota Myanmar sudah bukan Yangon hehe.

    Ulasan pasarnya lengkap banget, mbak. Informatif!

    1. Iya Mas Nugie. Modern atau tidaknya suatu kota diukur oleh berbagai parameter, kadang oleh sudut pandang keilmuan pula..

      Hehehe Terima kasih atas koreksinya nanti saya betulkan

  7. Nah aku beberapa tahun lalu ke Yangoon dan menulis kalau di Yangoon kita kembali seperti ke masa 70an. Bus dan mobil-mobil terkesan vintage dan usang. Btw Mak Evi, Yangoon bukan lagi ibukota Myanmar loh. Sejak 2005 ibu kota Myanmar dipindah ke Naypyidaw.

    1. Begitu pula dengan bangunannya yang bertingkat-tingkat itu vintage dan usang, kesannya Mas Alid. Kadang terlihat berlumut. Tapi malah kesannya jadi Exotis menurutku.

      Yeyeye…Ternyata saya salah mengenai ibukota Myanmar. sudah tak hapus kalimatny.. terima kasih ya Mas

    1. Tepat dugaanya Mas Zul. Saya ingin jalan ke banyak tempat di Indonesia tapi terlalu takut untuk jalan sendiri. Jadi senang banget menemukan ada seseorang yang bisa saya ikuti hehehe

    1. Keinginan yang harus dilayani. Yangon dan sekitarnya menyimpan Pesona dan banyak cerita, menunggu para pejalan untuk membedah nya. Ayo Kang usaha untuk ke Myanmar bisa Dari mana saja, tak harus ikut kompetisi

  8. Menarik.. soal makanan, kan berbatasan dgn bangladesh apakah ada persamaan mba? Atau sama kayak indochina kalau soal selera kuliner?

  9. lihat gramaphone itu … iih keren banget..
    pasar antiknya itu cakep banget barang2nya..
    dan toko long yi itu mungkin juga bakal bikin aku nggak mau beranjak ha.. ha…
    cantik2 kainnya

    1. Aku bisa memastikan bahwa Aura Yangon dan sekitarnya adalah Aura yang terhubung dengan seorang bernama Monda Siregar yang menyukai hal-hal vintage dan berbau tua 🙂

    1. Benar Mbak Dyah. Pagoda di sini tidak mirip dengan candi-candi di Jawa. Mestinya asal-usul yang membuat sedikit berbeda dalam hal latar belakang dan kebudayaan yang mereka lakoni. Disini banyak banget pagoda yang arsitekturnya mirip Puri Puri di Eropa

  10. 2000 toko Mbak? Wkwkwk..Itu bisa berapa lama keliling di situ yak. Jadi inget kemarin ke Chatucak Market, baru juga 3 kios di depan, udah kehabisan budget gara-gara kalap belanja. Hahaha…ibu-ibu banget.

    1. Benar Mbak Mira, jarak antar toko atau pedagang tidak terlalu mepet. Lagi pulang tidak seperti pasar di sini barang-barang boleh dipajang meluber keluar toko. Di sini rapi pengaturannya

  11. Aku beberapa kali ke Myanmar dan selalu kalap beli Longyi hehehe…suka dengan warna dan motifnya ya mba. Plus, jangan lupa oleh-oleh gelang jade :)..pernah dapet mata kalung akik hitan bentuk naga cakeeeep banget di sini 🙂

    1. Iya aku ada beli sebuah kalung batu giok,bak Indah. Nah kemarin itu aku tidaklah Apakah ada batu akik hitam. Kalaupun ada pasti harganya mahal dan tak terjangkau oleh kantongku hehehe

  12. Tarian keyboard Uni Evi yg selalu bikin pengin ikut nyicip wisatanya. Semoga wisatawan manca juga rela ngantri jahitin kain batik kita yo Uni. Ngayal bisa jalan bareng Uni Evi hehe…

    1. Iya mbak Prih. Tapi sudah banyak juga kok wisatawan mancanegara jatuh cinta dengan batik dan kebaya kita. Kapan ya Mbak kita bisa jalan-jalan bareng?

  13. Liat Yangon seperti throwback Jakarta tempo dulu ya mba. Yangon ini ibukota Myanmar bukan? Sebelum baca tulisan ini saya kira kotanya ada gedung-gedung bertingkat layaknya kota besar sebuah negara. Kalo mau kesana sepertinya harus sekarang ya supaya bisa melihat bagaimana kota modern itu terbentuk hehe
    Btw, pasarnya lebih cocok buat kaum wanita ya…dari kain sampai perhiasan ada hehe

    1. Iya kalau mau melihat Jakarta sekitar tahun 70/80 and bisa dilihat di Yangon, Mas Jonathan. Tidak terlalu banyak gedung-gedung tinggi dan kalaupun ada gedung tinggi adalah bangunan kolonial, Jadi kesannya standing out banget.

      Iya aku pikir pasar ini lebih cocok untuk wisatawan perempuan ketimbang laki-laki. Tapi kalau di potret dari sisi bisnisnya tentu saja laki-laki lebih banyak terlibat di sini 🙂

    1. Perempuan itu satu gelombang kalau sudah menyangkut fashion dan pernak perniknya ya Mbak Zy. Habis bagaimana lagi otak kita diciptakan jatuh cinta untuk barang-barang cantik 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?