Pantai Tanjung Kait – Menikmati Seafood dan Mengamati Kehidupan Nelayan

Pantai tanjung kait
Dermaga

Pantai Tanjung Kait – Tangerang – Sebagai warga  Tangerang kami jarang mempertimbangakn pantai sebagai tempat tujuan wisata. Bila hendak melihat ombak atau pasir putih piliahannya cuma dua, kalau bukan ke Ancol ya pasti ke Anyer. Tangerang bagi kami hanya sebagai tempat tinggal, tempat berusaha, dan menyekolahkan anak. Kalau pun dijadikan destinasi  wisata pilihannya agak terbatas sebab yang ada hanya mall, budaya, dan kuliner. Kemudian Pantai Tanjung kait masuk ke dalam gudang informai  sesaat sebelum  Jakarta Corners membuat even peluncuran dan tour bersama blogger beberapa waktu lalu. Ceritanya sebelum membawa jalan-jalan para pemenang blog kompetisi Launching Jakarta Corners yang diadakan bersama Hotel Grand Zuri BSD,  kami melakukan survey terlebih dulu. Tanjung Kait salah satu destinasi yang direncanakan untuk dikunjungi.

perjalanan menuju pantai tanjung kait
Sesaat sebelum sampai di Tanjung Kait

Saya sering mentertawakan diri sendiri dalam banyak hal. Salah satunya seputar kenaifan dalam membaca peta. Dalam Google Maps  jarak Serpong-Mauk di mana Pantai Tanjung Kait terletak tampak begitu singkat. Saya pikir paling butuh 30 menit sudah sampai di sana. Tak tahunya kami harus mengikuti jalan berliku yang disertai macet di sana-sini. Masuk tol, keluar ke jalan bisa, dan bahkan memintas di perkampungan.  Untungnya semua jalan relatif baik. Kalau tak salah setidaknya  butuh sekitar 2 jam lebih baru lah kami tiba di jalan  masuk Tanjung Kait yang terletak pesis di depan Klenteng Tjo Soe Kong. Klenteng bersejarah yang dibangun tahun 1860,  sudah mengalami pemugaran, berdiri kokoh dan bisa dijadikan penunjuk arah. Dari sini perjalanan diteruskan sekitar 500 meter lagi baru lah sampai di pelataran pantai berpasir abu-abu. Flamboyant merah sedang berbunga. Pohon kelapa membuat suasana lebih teduh di siang yang sedang menyengat. Anak-anak berlari diantara pohon tumpukan batang bambu.

Lewat di muka Klenteng Tjo Soe Kong
Lewat di muka Klenteng Tjo Soe Kong
Flamboyant yang sedang berbunga
Flamboyant yang sedang berbunga

Melihat apa di Pantai Tanjung Kait?

Jika kawan JEI masih  mengidentikan bahwa  jalan-jalan ke pantai harus sama dengan melihat  pemandangan indah, Tanjung Kait bukan untuk kalian. Maksud saya berwisata ke Tanjung Kait tidak perlu berharap menemukan air yang membiru atau hijau tosca, jernih dengan ikan-ikan kecil berenangnya di bawahnya. Atau berharap pantai berpasir putih dimana kalian bisa menggelar handuk, tidur di atasnya sambil menikmati angin laut, kehangatan matahari, dan sebutir kelapa muda di samping. Tambahkan setangkai bunga kemboja di telinga…Aaaa… Itu mah di Bali, Kakak!

Air laut di Tanjung Kait berwarna kecoklatan. Seperti ada lumpur yang bangkit dari dasarnya. Mulut pantai pun curam dan berbatu guna  mencegah tepian  darat tidak tergerus ombak. Jika kalian datang ke sini baik untuk piknik maupun akan menyeberang ke Pulau Untung Jawa pastikan tidak menambah beban pantai dengan membuang sampah sembarangan. Simpan bungkus makanan kalian atau buang ke  tempat sampah terdekat. Sebab pantai ini masih digunakan berenang oleh  adik-adik yang tinggal di sekitar sini.

Bambu, pondok apung, dan perahu
Bambu, pondok apung, dan perahu

Berdiri di mulut Pantai Tanjung kait saya menyadari bahwa saya kurang piknik. Sependek pengalaman piknik ke pantai atau pelabuhan nelayan baru kali ini melihat dermaga terbuat dari bambu. Biasanya kan bertembok dengan tiang-tiang beton ya? Di sini tidak. Dermaganya  terbuat dari susunan batang bambu utuh yang ditancapkan ke dalam laut. Lebih mirip jembatan ketimbang panambak kapal, menurut saya.

Menikmati Seafood

Demikian lah. Tanjung Kait tidak memiliki keindahan fisik seperti yang dipunyai Anyer dan Marina Ancol. Tapi bukan berarti tempat ini bisa diabaikan sebagai destinasi wisata. Tiap akhir pekan atau hari besar nasional tempat ini banyak pengunjung yang datang dari Tangerang, Jakarta dan sekitarnya. Bahkan menurut cerita seorang Bapak yang saya temui di salah satu rumah panggung, orang-orang yang  bersembahyang di Klenteng Tjo Soe Kong biasanya  usai ibadah akan mampir, bersama keluarga menikmati es kelapa muda atau makan sea food sambil memandang ke laut lepas.

Sawung apung untuk menikmati seafoods
Sawung apung untuk menikmati seafoods

Saya mengedar pandang deretan rumah panggung yang ditopang ratusan bilah bambu. Menghirup udara dalam-dalam dari alir angin laut utara. Melempar pandang ke laut lepas yang Nampak keabuan. Lalu ke kapal-kapal nelayan yang  berbaris di sisi dermaga atau bersandar hening di depan saung-saung yang menjorok ke laut. Saung itu yang digunakan melayani wisatawan untuk menikmati hidangan laut, berdiri di atas ratusan bambu, berdinding anyaman, dan beratap rumbia. Kedatangan saya hari itu memang bukan hari libur yang mungkin bisa menjelaskan mengapa saung-saung hari itu seperti ditinggalkan. Kosong melompong.

Berkeliling Dengan Perahu

Diantara puluhan perahu yang tengah bersandar itu tersedia untuk disewakan kepada pelanggan. Sekedar berkeliling mengamati kehidupan laut dari dekat, memandang daratan dari jauh, atau sampai menyeberang ke Pulau Untung Jawa. Perahu itu juga biasa disewakan untuk memancing. Ongkosnya tergantung negosiasi dengan sang pemilik.

Tersedia perahu jika wisatawan hendak berkeliling
Tersedia perahu jika wisatawan hendak berkeliling

Mengamati Aktivitas Nelayan

 sejatinya Tanjung Kait adalah kampung nelayan. Dan ini merupakan kabar baik bagi Sobat JEI  sudah di level “Pejalan”. Mereka yang berwisata tak melulu mencari pemandagan alam yang indah. Mereka  yang berjalan dengan menyerap intisari dari berbagai pertemuan, memaknai, lalu menjadikan sebagai pelajaran hidup. Fresh from the field. Untuk pejalan seperti itu banyak  yang bisa dilihat, dirasakan, dan dipahami  di Tanjung Kait. Karena tiap jengkal tempat tinggal umat manusia merupakan lembar cerita. Di sini ada cerita tentang bagaimana penentu kebijakan abai dengan potensi daerahnya sendiri.  Ya melihat dari kacamata wisatawan dan destinasi wisata betapa area ini begitu amburadul. Sepertinya dibiarkan mengelola dirinya sendiri. Setidaknya begitu lah kesan saya kala memandang ke dermaga dan cerita kawan tentang terlalu banyak pungutan yang terjadi. Siang itu hanya kami pengunjungnya jadi tak terjadi seperti yang diceritakan kawan tersebut. Kalaupun ada  pungutan hanya sekali sesaat di depan Klenteng tadi.

Aktivitas Nelayan
Aktivitas Nelayan

Sebenarnya kawasan di Desa Tanjung Anom ini lumayan indah. Sekalipun pantainya tak berbibir landai jika di tata lebih rapi daya Tarik  tepi laut akan muncul dengan sendirinya. Belum lagi jika nelayan diberdayakan, misalnya diberi pelatihan menghadapi wisatawan, bukan tak mungkin tempat ini jadi sumber pendapatan lumayan. Kalau sudah begitu penduduk meningkat kesejahteraannya dan Pemda dapat pendapatan dari tiket masuk dan parkir.

Kerja keras membuatmu sehat :)
Kerja keras membuatmu sehat 🙂

Hari menjelang sore. Tak ada yang bisa dikerjakan lagi. Saya berjalan melintasi jembatan dan mendekati seorang Bapak yang tengah sibuk dengan perahunya di bawah. Sepertinya ia sedang menimba keluar air dari dasar perahu yang kemungkinan bocor. Derak bunyi Sepatu Kets saya membuat ia menengok ke atas. Untuk memastikan saya bertanya tentang apa yang dikerjakannya. Namun karena saya berada di atas dermaga dan dia di bawah jawabannya tidak begitu jelas. Yang jelas hanyalah sebentar lagi ia akan pergi melaut. Tapi jika saya bermaksud berkeliling, menuju Pantai Tanjung Pasir atau bahkan  menyeberang sampai ke Pulau Untung Jawa, ia bisa mengantarkan.

Tawaran yang menarik. Tapi…“Sudah terlalu sore, Pak” Tolak saya halus.

Ia mengangguk dan meneruskan pekerjaannya kembali.

Nelayan dan pekerjaannya
Nelayan dan pekerjaannya

36 thoughts on “Pantai Tanjung Kait – Menikmati Seafood dan Mengamati Kehidupan Nelayan

  1. selalu menyenangkan jika berkunjung ke tanjung kait, perkampungan mauk dan sekitarnya membuat saya selalu ingin kembali ke sana.. thanks for the nice share mbak evi, salam kenal..

  2. Suka banget sama sawung apungnya! Bisa makan seafood puas-puas sambil memandang-mandang ya, mba Evi. Tempat seperti ini bisa jadi menarik, ngga harus slalu tempat-tempat yang modern. Asiknya kalo bisa sekalian keliling pake perahu nelayannya.

    1. Sebenarnya agak jauh juga sih dari tempat tinggal saya. Tapi kalau lagi kangen laut dan ke Ancol atau ke Anyar relatif lebih jauh, Tanjung Kait bisa jadi alternatif, Mbak Nana

  3. Wah, nak (??) Evi, dalam usia saya 63 tahun ini baru saya ketemu istilah “pejalan” (mungkin Inggrisnya traveller” ya?). Dg istilah anak muda, itu “gue banget”. Mungkin agak melawan “main stream” ya. Dari dulu sampai sekarang, ke mana pun saya pergi (sengaja travelling, karena dinas, atau terpaksa pergi terpaksa pergi ke seuatu tempat krn undangan), lain kota), saya selalu berusaha menikmati apa saja yang saya lihat. Kata teman “tidak nikmat”, saya bisa ada yang nikmat di balik ketidak nikmatan itu. Saya melihat keindahan yang orang lain mengatakan tidak indah. Teman-teman lain (misal ketika bepergian, mobil mogok di suatu tempat) teman mengatakan sengsara, tapi saya koq bisa tiduran di bawah pohon, atau bale-bale di gubuk pingir jalan. Saya bisa menikmati keindahan dari sibuknya orang yang mengganti ban, memperbaiki mesin, atau berkomunikasi dengan penderas getah karet di kebun (di mana mobil bus mogok). Say afahami sikapnya, curhatannya, pandangan hidupnya. Saya fikir, tadinya, diri saya ini agak aneh. Ternyata, menurut tulisan nak (?) iyoskusuma, saya tidak sendiri. Saya bersyukur bahwa saya termasuk orang yang “tidak terlalu hirau dengan keindahan atau ketidak-indahan, tapi bisa menikmati nilai dengan apa yang saya lihat di mana saya berada. (Trims iyoskusuma, I do agree with you!)

    1. Welcome aboard Pak Syahrul. Kata orang, hidup, kebahagian, dan sekarang apapun yg kita lihat, memaknainya adalah pilihan. Kalau mobil mogok mau dibawa ke marah-marah gak ada yg larang sih. Tapi siapa yang rugi? Tensi siapa yang naik? Emang kalau kita marah mobilnya gak jadi mogok? Jadi mari kita nikmati indahnya menunggu di tepi jalan ya Pak.

      Terima kasih sudah mampir 🙂

  4. Ke pantai terus sambil plus wisata kuliner… ccucok banget hihi
    di kota saya cilacap juga sering liburan ke pantai sama keluarga 🙂

  5. Pantai Tanjung Kait, sketsa kampung nelayan yang menarik ya Uni Evi. selalu menemukan pembelajaran hidup dari perjalanan tak tergantung jarak dan waktu. Foto2nya duuh semakin kereeen banget Uni Evi. Salam

  6. Berarti ke Tanjung Pasir atau Untung Jawa-nya ditunda dulu ya? Hehe.

    Suka banget sama pemikiran kalo seorang pejalan ga akan terlalu hirau sama keindahan atau ketidakindahan pemandangan suatu tempat. Selalu ada nilai yang bisa disesap seorang pejalan. Terima kasih inspirasinya, Kakak! 🙂

    1. Hahaha..Iya Yos, kita lihat Grebeg Sudiro dulu ya..
      Karena keindahan nilainya relatif Yos..Tergantung pada apa yang kita sebut sebagai keindahan…:)

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?