Menunggu di Ruang Tamu Allah

Allah tidak pernah menolak doamu. Dia hanya meminta engkau menunggu

Bunga Lonceng kuning
Bunga Lonceng kuning

Saya punya banyak keinginan. Kalau saja keingin itu dibuat  rangkaian pita untuk  mengikat kado sebesar bola bumi, tak mustahil itu masih berlebih. Makanya “tahu diri” tidak menuntut sang Pemberi agar cepat mengabulkannya. Emang siapa yang Maha Kuasa? Dia atau saya?

Disamping itu yang lain pasti juga melakukan hal serupa. Minta ini itu. Mohon dikabulkan ini itu. Pasti banyak juga yang ngotot agar Allah segera mengabulkan. Entah dengan berdoa khusuk, tirakat, memvisualisasikan, menanam keyakinan di batin, pokoknya mereka minta dengan segala syarat urgensinya.Seperti take action, berusaha dan bekerja keras dengan kesungguhan hati. Jadi logis jika Allah memprioritas mereka terlebih dulu.

Bunga lonceng kuning
Bunga lonceng kuning

Kalau keinginan saya yang bejibun itu mungkin ibarat rengekan anak kecil yang lapar mata di supermarket. Semua yang terlihat bagus. Semua yang di depan mata mau. Pokoknya geje kata anak muda mah! Minta-minta mulu yang yang mungkin menurut Allah belum perlu dikabulkan.

Sekalipun begitu saya tetap percaya kepada  janji-Nya bahwa setiap doa pasti di kabulkan. Apa lagi jika dilantun dengan tak pernah putus. Hanya saya perlu bersabar dan memahami mengapa belum dikabulkan juga.

Sebetulnya banyak juga keinginan saya yang serius dan bukan bertujuan untuk kepentingan diri sendiri. Dan saya sungguh-sungguh dengan keinginan itu. Jadi jika terus berharap  dan berupaya semoga Allah sang pencipta alam semesta gerah mendengar rengekan ini dan akhirnya “kun fayakun “. Jadilah!

Bunga lonceng kuning
Bunga lonceng kuning

Tapi kalau direnungkan lebih dalam ada alasan penting mengapa keinginan saya belum juga terpenuhi. Mungkin jumlah yang terlalu banyak  itu semua dianggap penting. Jadinya kehabisan waktu dan tidak membuat prioritas.

Benarkah begitu? Sejujurnya saya tidak tahu. Atau kah segala halangan itu hanya alasan saya  enggan keluar dari comfort zone?

Ada aturan yang sudah saya tahu bahwa segala keinginan akan terwujud asal kita serius bekerja untuknya. Lantas apa yang menghalangi untuk mendapatkannya?  Apa yang jadi kendala yang membuat saya tak bertindak? Ah  rupanya jadi jelas. Saya terlalu malas bekerja untuknya! Saya seperti bunga lonceng yang cuma bergoyang saat tertiup angin. Itu yang membuat saya selalu duduk di ruang tunggu tamu Allah.

Punya kah keinginan yang engkau malas untuk mengeksekusinya kawan?

Salam,

Motivasi Berwarna untuk marsudiyanto.net

41 thoughts on “Menunggu di Ruang Tamu Allah

  1. Rata2 kita adalah peminta yang rajin, tapi belum bisa jadi penunggu yang baik…
    Dan bahwa di sekitar kita ini ada banyak sekali jeda…
    Antara pagi dan siang ada jedanya, antara muda dan tua ada jedanya, antara makan dan minum ada jedanya…
    Pada jeda itulah, kita harus rajin menunggu
    ————–
    Makasih partisipasinya Bu…
    Ditunggu ya 😀

    1. Suka sekali kutipan Pak Mars soal peminta yang rajin itu..Tadi aku pinjam untuk ngetweet hehehe..Sama2 Pak..Terima kasih kembali ..:)

  2. Kayanya banyak deh aku punya stock keinginan tapi yang masih malas mengeksekusinya> pengennya instant success he he.. mana ada ya?

    Mbak Evi, Selamat Hari Raya Idul Fitri ya Mbak. Mohon maaf lahir bathin..

  3. wah banyak banget kalau begitumah… apalagi saya yang suka menunda nunda waktu.. jadi maklum lah kalau kadang kadang doapun tidak terkabulkan hehehe pasrah saja salah sendiri kok…;)

  4. bner juga, berdoa sebenernya usaha keras kita dalam mencapai sesuatu. Tapi, tentu saja harus yg khusuk dan ikhlas…

    1. Menurut pengamatan saya, berdoa selalu soal perkara meminta Mas. Dan yg namanya meminta mesti diusahakan dng tindakan agar berhasil..

  5. Terkadang saya sadar karna selama ini hanya meminta terus ke padanya,tapi aku tetap bersyukur apa yang aku minta dikabulkan atau tidaknya.

  6. Saya mempunyai banyak keinginan dan cita-cita yang belum tercapai Mb. Saya akan selalu berdoa.
    Dengan harapan sampai Tuhan bosan mendengarnya, dan akhirnya meluluskan permintaan saya.
    BTW fotonya ok Uni…
    Salam untuk keluarga.

  7. berbicara dengan doa, banyak sekali doa yang saya panjatkan, meskipun konkritnya saya tidak/belum tahu apa yang bisa saya lakukan untuk menggapai keinginan saya itu 🙂

    tapi saya yakin Alloh Maha Tahu dan Maha Mengabulkan segala doa

  8. aha…

    saya juga kadang punya banyak keinginan. dan maunya langsung jadi. seperti memejamkan mata, dan setelah dibuka ta-da.. surprise jadi kenyataan. hoho

    mari giatkan “ora et labora.”

  9. Sangat jarang kita mengucapkan syukur….dalam doa keseringan meminta ini itu…mungkin Tuhan pusing heeee…saya ambil kata bijaknya mbak…

  10. Trimakasih mbak Evi…sudah mengajakku merenung dengan tulisan ini… Oya, selamat idul Fitri dan maaf lahir batin ya mbak…

  11. Saya kelihatannya terlalu menyia-nyiakan hari-hari saya selama ini, kelihatannya saya juga harus segera menata hidup.. semoga Berkah saja..

    1. Fariz hebat sudah sadar menyia2kan waktu. Gak mesti nunggu umur tua sprt Bundo. Kejar cita2 sekuat tenaga dan dengan seluruh kecerdasan yg Allah beri Fariz 🙂

  12. Menunggu dengan sabarnya ini Mbak Vi yang terkadang sulit…

    Adakala malas sekali mengeksekusi sesuatu, memulai untuk melangkah yang perlu kesungguhan diiringi do’a.

    1. Begitulah Mbak Lia, kita maunya kalau meminta maunya langsung di kabulkan. Padahal logika Allah bekerja dengan tidak cara seperti itu ya..Dan kemalasan untuk memulai sesuatu yg baru, merubah kebiasaan lama, kayak kambing di tarik ke air Mbak Lia, susah bukan main..

  13. sukaaaa………….. banget sama tulisan ini, Vi
    menjadikan aku tambah semangat untuk melakukan sesuatu untuk kankerku …
    gak hanya menunggu dan menunggu, harus terus ikhtiar dan berdoa .
    Terimakasih ya Evi, utk tulisan yg sangat inspiratif ini 🙂
    salam hangat utk keluarga
    salam

    1. Iya Bunda, aku percaya sangat kepada janji Allah bahwa ketika kita berdoa sambil ikhtiar tak ada alasan bagi-NYa menolak permintaan kita..Terima kasih kembali Bun 🙂

  14. saya yakin setiap doa didengar dan dikabulkan mbak evi, hanya kita yang perlu meningkatkan diri agar lebih siap meraihnya

    1. Iya saya juga percaaua begitu Mas..Karena Dia maha mendengar tak mungkin tak mendengar..Hanya saja pasti ada pertimbangan mengapa belum dikabulkan…:)

  15. Saya merasa ditampar membaca tulisan ini. Saya, punya cita-cita yang selalu tertunda dikerjakan. Ah wajar saja jika Alloh tak segera mengabulkan, karena saya juga tak bersegera melakukannya.
    ———–
    Hehehe..Saya punya teman ni Mbak Ety. Yah aku yakin salah satu alasan mengapa doa kita belum dikabulkan adalah kita tak segera mengerjakannya 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?