Menjala Ikan di Situ Lengkong Panjalu

situ lengkong panjalu

Kawasan Situ Lengkong Panjalu dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu Ciamis. Di tengahnya terdapat  pulau kecil bernama Nusa Larangan. Di tempat ini lah dimakamkan raja Islam Pajajaran bernama Prabu Harian Kancana, yang tiap tahun ramai didatangi para peziarah dari seluruh nusantara.

Potensi alamnya membuat pemerintahan Hindia Belanda terpanggil menetapkan Situ Lengkong Panjalu sebagai cagar alam (Natuurmonument). Dilegasasi oleh Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch Indie), nomor 6 pada tanggal 21 Februari 1919. Saat ini karena pentingnya kawasan Panjalu sebagai cikal bakal kerajaan Sunda Kawali, Pemerintah Propinsi Jawa Barat, pada tanggal 17 Maret tahun 2004 mengukuhkan panjalu sebagai desa wisata.

Suatu siang saya duduk di tepi Situ Lengkong Panjalu. Ditemani sepiring gado-gado yang nikmat. Panas terik ditingkahi angin sepoi. Dengan latar belakang sawah dan ladang, air situ lengkong panjalu hijau  seperti zambrud. Membuat siluet dua orang Bapak yang sedang menjala ikan seperti bayangan yang bergerak. Satu memegang jala dan yang satu lagi mendayung perahu. Tampak begitu harmonis.

Mengais Rejeki di Situ Lengkong Panjalu

Menggantung rejeki sepenuhnya kepada alam tampaknya riskan. Setidaknya dalam mencari ikan di Situ Lengkong Panjalu. Entah berapa banyak orang sudah mengambil ikan dari situ ini tanpa ada tindakan melepas kembali.  Jadi walau si Bapak melempar jaringnya berulang kali, tak terlihat satu pun ikan tersangkut pada jaringnya. Ikannya sudah habis saya kira.

Menurut Bapak penjaga warung, Situ Lengkong banyak menyimpan ikan mujair varitas lokal. Dagingnya empuk dan manis. Selain itu juga banyak ikan kecil warna-warni yang biasanya dijual sebagai ikan hias. Tapi melihat dua nelayan tersebut saya berpikir, dulunya Situ  Lengkong mungkin banyak ikan. Tapi tanpa memperhatikan kelangsungan hidup mereka, seperti ikan-ikan kecil turut pula diambil, Situ Lengkong kurang berpengharapan lagi sebagai sumber ekonomi perikanan.

Inilah mereka :

Mengambil ancang-ancang
Ayunan penuh tenaga

Dan jalapun mekar seperti cendawan

Ujung jala menyentuh air
Melempar jala lagi, berharap lagi
Mencoba lagi

Begitulah walau  berkali-kali mencoba, saya tak melihat si Bapak dapat tangkapan. Yang beginian selalu membuat terharu…Pendapatmu temans?

Salam,

 

50 thoughts on “Menjala Ikan di Situ Lengkong Panjalu

  1. Mbak Evi…fotonya bagus-bagus banget!
    Keindahan Tanah Pasundan memang sangat memanjakan mata.
    Menebar jala dan menariknya kembali adalah cara mereka mengais rezeki, entahlah, saya juga kok ikutan miris ya karena jala yang ditebar berulangkali itu tak juga menghasilkan tangkapan ikan…

    1. Tanah Pasundan punya pesona magis Mbak Irma. Selama ini aku pikir Sunda itu cuma Bandung dan lembur kuring hehehe..Eh begitu masuk ke pedalaman mereka, gileee, banyak budaya asli yg saya gak kenal sebelumnya. Sejarah dan situs2 peninggalan nenek moyang mereka, wah keren deh Mbak ..
      Dan yah..dalam alam dan budaya yang cantik itu, tak berarti seluruh penduduknya sejahtera..:(

  2. Hiks..Terharu juga..
    Tapi si Bapak itu tak lelah berusaha untuk mendapatkan hasil tangkapannya..
    Hmm rasanya enak langsung makan ikan hasil tangkapan si bapak itu, di bakaar ikan mujairnya..

    Semoga bapak itu selalu di beri kesabaran untuk mendpatkan ikannya..

    1. Nah, itu yg bikin aku juga kagum Cik, walau gak pernah dapat dia terus menginstruksikan pendayungnya maju atau berbelok. Setelah menambatkan bambu agar perahu gak jalan, dia mengulang melemparkan jala. Hasilnya nihil lagi. Walau yg beginian biasa beliau alami, dalam hati aku sih berdoa, semoga Allah lebih ramah kepadanya hari itu hehehe..

  3. komen foto dulu, Woww banget, uni..!
    pemandangan sawah dibelakang sungai itu cukup membius.

    ttg ikan2 yg habis.. kisah yang sama juga di danau singkarak dan danau2 kita lainnya.
    semoga pihak yang berkompeten dan mempunyai ilmu cukup ttg ini segera bertindak.

    #kami di bukik puasanya sabtu, uni.. #pengumuman 😀

    1. Selama ini danau-danau cuma diambil hasilnya May, lupa dijaga keberlangsungan komunitas yang ada di dalamnya. Mungkin ada aturan juga kali ya, menanam kembali setelah mengambil, misalnya dengan melepaskan ikan-ikan kecil. Terus bikin peraturan bahwa ikan dengan ukuran tertentu tak boleh diambil..Tapi siapa yg mau modalin yah..

      Jadi puasa Sabtu ya May, ngikutin pemerintah. Kirain di Padang ngikutin yg puasa Jumat 🙂

    1. Terima kasih Pak Haryanto. Kalau dlm bahasa google, saya sedang beruntung. Mungkin karena kerajinan bapak itu menebar jala kali ya, memberi kesempatan pada saya ngejepret dng leluasa 🙂

  4. wow photo photo yang menakjubkan…
    ikan mujair enaknya kata orang sunda di goreng garing…
    nah soal menebar jala saya gak bisa bisa, walau sudah berusahpun tetap aja jatuhnya angka 8 hehe
    soal ikan yang semakin jarang baiknya menurut saya pemerintah mencoba menebar lagi benih ikan….

    1. Kayaknya menebar jala ini butuh latihan banyak Kang Yayan sampsi bisa mengembang sempurna begitu. Iya, kalau mau danau lengkong ini tetap banyak ikan, secara berkala harus ditanam bibit. Tapi kalau ikan kecil saja jg ditangkapi gak akan membantu. Atau ditanam induk petelur jg membantu tuh Kang 🙂

  5. Walaupun bapak itu berkali kali menebar jala dan tetap belum dapat ikan…tapi pemandangan Situ Lengkong ini indah sekali rupanya ya..
    Saya suka sekali pada danau Mbak..

  6. melihat foto orang menebar jaring/jala gitu rasanya gimana gitu, ada chemistry or something like, dan kesan vintage seperti lihat lagu apa gitu di jaman tvri dulu 🙂

    1. Mas Jar, tiap akhir siaran, biasanya TVRI memutar lagu Nyiur Melambai. Nah gambar2 yg mereka tampilkan memang tentang tanah air kita yg cantik ini. Jadi foto2 situs panjalu jadi membangkitkan kenangan gitu Mas hehehe…

  7. Bapak itu tidak menyerah meski tak seekorpun dia dapat, gambar ini mengingatkan saya sama seseorang teman yang hobi membuat jala dan menggunakan jala tersebut untuk menangkap ikan 🙂

    Gambarmya apik Bun 🙂

    1. Terima kasih kang Sofyan. Sikap yang diperlihatkan Bapak diatas danau ini perlu kita teladani dalam kehidupan. Bahwa kita tak boleh mudah menyerah..:)

  8. Pemandangannya indah sekali mbak, ngingetin kalo tanah air kita masih subur ya…

    Bener mbak, ngeliat usaha mereka, di satu sisi ada rasa kagum, di sisi lain ada rasa sedih juga ya..ngebayangin istri dan anak mereka nungguin di rumah, berharap kepala keluarga pulang membawa hasil. Semoga memang ada hasil yang akhirnya bisa dibawa pulang ya mbak..

    1. Iya setu lengkong ini cantik banget Jeng Lis..
      Mengenai Bapak pencari ikan, saking gak tahu mesti ngomong apa melihat ketekunannya melempar jalan, saya bilang pada kakak yg disamping, jangan-jangan bapak itu cuma sedang latihan…Mudah2an dia cuma latihan di danau siang itu 🙂

  9. Uaha yg tak kenal kata menyerah karena keyakinan bahwa pasti ada rejeki/tangkapan yang akan didapat. Spt halnya petani yg tak jera menanam meski gagal panen..

    1. Kayakinan seperti ini biasanya yang menundukan nasib ya Mbak Ririe..Asal konsisten juga bisa memindahkan gunung 🙂

  10. Yang menebar jala itu sepintas persis kayak orang bikin martabak…
    Fotonya bagus, momennya pas, mulai dari saat jala kuncup sampai mengembang dan akhirnya mekar.
    Kalo saya yg motret butuh puluhan kali njepret untuk mendapatkan momen seperti itu

    1. Hahaha..seperti orang bikin martabak? Jadi saya lihatin lagi fotonya Pak Mars, yang mana yg kira-kira yg seperti orang membuat martabak. Malah kalau saya lihat seperti orang bikin mie basah…
      Terima kasih Pak Mars, ini berkat bantuan camera dan lensa juga, gak murni yg motret yang jago hehehe..

  11. waa pemandangan nya indah banget yaa.. 🙂 makan ikan mujair bakar di tambah pemandangan nya yang waah akan memperbaharui fikiran hahahah 😀

  12. waaa pemanadangan nya indah banget yaa.. 🙂 makan ikan mujair bakar di tambah pemandangan yang indah gtu akan mmperbaharui fikiran tuh xixixix 😀

  13. waduh, jujur aku lihat poto nya agak agak horor bercampur kagum yah mbaaa…

    Melihat rakit/perahu nya ituh horor banget…
    Tapi lihat usaha nya kagum banget deh mbaaaa…

    dan gak dapet ikan pulak?
    duh, kenapa gak hepi ending ajah sih mba ;p
    *maksa*

    1. Iya yah Bi, tempatnya sempit dan perahunya hampir tenggelam. Tapi dua orang Bapak itu pasti jago berenang, buktinya mereka nyantai aja tuh mengapung diatas danau…
      Iya, pakemnya gak Korea banget deh, gak happy ending..Aku tuh ampe baca alfatihah dalam hati beberapa kali agar bapak itu dikasih ikan..Tapi ending sebenarnya tak aku ikuti, mudah2an alfatihah ku manjur, dan akhirnya happy ending, Bi 🙂

  14. Uni Evi, gambarnya kereeen sekali. Kerja keras, kelenturan, pengharapan tergambar dalam foto Uni. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi keluarga Uni Evi.

    1. Mbak Prih terima kasih..Apa yang Mbak sebutkan pas banget, lentur tapi tak mudah menyerah…
      Terima kasih atas ucapannya, semoga Mbak Prih dan keluarga selalu dalam kemulian Allah 🙂

  15. wow .. foto fotonya mbak … keren … jalany aitu lho mbak cantik ya, apa krn yg motret pinter jadi terlihat cantik jala ikannya 🙂

    met puasa ya mbak 🙂

    1. Yang motret mah biasa-biasa aja Mbak El, lah pake auto focus hehehe..Momen dan background yang mendukung foto ini tampak lumayan 🙂
      Terima kasih. Selamat puasa juga untuk Mbak El..Mudah2an tak terlalu berat ya, karena tak seperti di Indonesia yang lebih banyak orang puasanya 🙂

  16. wah, terharu gan ngeliatnya. tp, gk patah semangat…
    hiks hiks, smoga rejekinya dilancarkan oleh yg maha kuasa…

  17. cisadane juga bisa dapat moment foto seperti itu ya…. ayo dong kapan kapan hunting bareng …. fotonya bagus bagus… sudah lama tidak foto juga nih…

    1. Saya kalau hunting foto gak punya waktu kusus sih Bro..Biasanya sambil jalan atau kerja gak lupa nenteng camera..Jadi kalau ada momen menarik langsung jepret 🙂

  18. Fotonya bagus-bagus Uni, sangat mempesona. Saya tidak menyangka bahwa yang biasa-biasa dapat menjadi luar biasa kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti foto-foto di atas, orang menebar jala bisa diabadikan dengan sangat artistik.
    Waktu liburan yang lalu, saya pernah bilang ke anak2 ketika mengajaknya memancing, tetapi selama dua jam tidak mendapatkan apa2. Saya bilang bayangkan kalau ini dilakukan oleh nelayan, sementara anak-anaknya menunggu di rumah dengan penuh harapan… 🙂

    1. Terima kasih Pak Ded..
      Iya, memancing dan menjala yang cuma mengandalkan kebaikan alam itu agak sulit bagi para nelayan secara ekonomi. Alam bekerja dengan siklus sementara kebutuhan kita terus menerus. Sudah begitu tiap saat kebutuhan itu juga meningkat. Sebaiknya kita membudidayakan segala yg dibutuhkan, seperti ikan di telaga ini sebaiknya ditanam kembali setelah diambil. Tapi yah..siapa yg kerajinan nanam kembali ya Pak Ded, ini kan tempat umum…

  19. usaha tak kenal lelah ya mbak… ya si bapak2 itu ya mbak Evi yg mencari angel yg pas buat motret. salut deh! oya, saya paling suka foto ke-2 dari bawah tuh…

    1. Terima kasih Mbak Mechta. Betul, usaha yg gak kenal lelah..Mungkin dulu dia sering dapat ikan disini Mbak, makanya gak kapok, terus menebar jala 🙂

    1. Situ Lengkong Panjalu memang indah Kang Deni. Saya merasa beruntung sudah menjejakkan kaki ke sana. Sukses juga untuk Panjalu dan Kang Deni ya. Amin

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?