Ustano Rajo Alam Pagaruyung bukan sekadar komplek pemakaman biasa di Sumatera Barat. Situs cagar budaya ini menyimpan jejak sunyi dari makam raja-raja Pagaruyung yang memadukan napas Islam dengan tradisi Megalitikum purba. Dalam artikel ini, Sobat JEI akan saya ajak menelusuri sejarah dinasti Rajo Tigo Selo, keunikan nisan berbentuk menhir, filosofi politik di Medan Nan Bapaneh, hingga panduan lengkap menuju lokasi bersejarah di Tanah Datar ini.
Sebagian besar makam rakyat di Sumatera Barat memang seringkali rata dengan tanah seiring waktu. Namun, perlakuan berbeda berlaku bagi para tokoh penting. Berangkat dari pengalaman pribadi, tidak banyak makam yang menjadi destinasi wisata religi di ranah Minang, kecuali makam Syekh Burhanuddin di Ulakan.
Namun, Batusangkar menawarkan narasi berbeda. Setelah Sobat JEI puas mengagumi kemegahan Istano Basa Pagaruyung sebagai tempat tinggal raja, luangkan waktu menengok tempat peristirahatan abadi mereka. Yang membuat saya sampai ke sini adalah saran seorang tukang ojek. Kebetulan juga saya banyak menulis tentang kuburan-kuburan keramat di Jurnal Evi Indrawanto ini. Jadi sarannya langsung saya sambut. Dan benar saja, keputusan itu tepat sekali. Makam raja-raja Pagaruyung ini membuka mata saya akan sisi lain dari sejarah Minangkabau.
Sejarah Kompleks Ustano Rajo Alam Pagaruyung
Kompleks ini terletak di Jorong Gudam, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Suasana teduh menyambut saat saya mendorong pintu besi rendah sebagai pagarnya. Keteduhan itu berkat naungan pohon beringin raksasa yang tumbuh di ujung utara dan barat komplek pemakaman. Pohon berakar gantung dan berdaun rimbun ini telah menciptakan mikroklimat lembab di kawasan ini. Lumut tumbuh subur melapisi permukaan tanah, tembok, hingga batu nisan.
Jadi di sinilah bersemayam jasad para bangsawan yang pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Minangkabau, pikir saya. Mereka adalah sosok di balik gelar Rajo Alam, Rajo Adat, dan Rajo Ibadat yang melahirkan institusi kekuasaan Rajo Tigo Selo.
Total terdapat 13 makam yang berjejer rapi. Sobat JEI akan melihat ukuran makam bervariasi. Panjangnya antara 210 cm hingga 400 cm. Lebarnya berkisar 115 cm sampai 280 cm. Ini menunjukkan strata sosial penghuninya semasa hidup.
Berdasarkan data sejarah, Ustano Rajo Alam Pagaruyung mengalami pemugaran oleh Dinas Suaka Alam pada tahun 1975. Pengelolaan sempat berpindah ke pemerintah setempat sebelum akhirnya kembali ke tangan pewaris asli, Keluarga Malin Malelo, pada tahun 1991.
Misteri Makam Berkelambu Dang Tuanku
Satu pemandangan menarik perhatian saya di sisi kiri pintu masuk. Sebuah makam terjepit di antara dua batang beringin, tertutup kelambu satin kuning. Berbeda dengan makam lain, keberadaan kelambu ini menyiratkan penghormatan khusus.
Banyak yang meyakini ini adalah makam Dang Tuanku. Dalam legenda Minangkabau, Dang Tuanku merupakan sosok raja pertama yang sakti. Gelar Rajo Alam melekat padanya karena kemampuannya menguasai alam.
Penggunaan kain kuning dalam tradisi Melayu dan Minangkabau seringkali menandakan keberadaan raja atau orang suci (keramat). Jadi kalau ada makam keramat di Minangkabau, makam Dan Tuangku bisa dijadikan referensi.
Keunikan Arsitektur Makam Raja-Raja Pagaruyung
Hal paling mencolok dari makam raja-raja Pagaruyung ini adalah bentuk fisiknya. Sobat JEI tidak akan menemukan kijing keramik modern di sini. Gundukan tanah makam tersusun dari batu kali yang direkat semen, membentuk struktur punden berundak.
Jejak Megalitikum pada Nisan Menhir
Keanehan berlanjut pada bentuk nisannya. Mayoritas makam Islam menggunakan nisan pipih atau patok. Namun, nisan-nisan di Ustano Rajo Alam Pagaruyung justru berbentuk menhir (batu tegak).
Menurut para ahli arkeologi dan sejarawan, fenomena ini menunjukkan proses akulturasi budaya yang kental. Islam masuk ke Minangkabau tidak serta merta menghapus budaya lama. Masyarakat saat itu tetap mempertahankan tradisi Megalitikum (zaman batu besar) sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Setidaknya itu yang terjadi di komplek pemakanan raja-raja pagaruyung ini.
Bentuk punden berundak dan menhir adalah ciri khas pemujaan roh nenek moyang sebelum masuknya agama Hindu, Buddha, maupun Islam. Motif hiasan pada nisan pun menceritakan kisah serupa. Sobat JEI bisa melihat motif geometris dan sulur-suluran (kaluak paku). Seorang peneliti seni menyebut kaluak paku sebagai evolusi ukiran modern Minangkabau, yang berakar dari simbolisme alam pra-sejarah.
Ini membuktikan bahwa kebudayaan Minangkabau sangat terbuka dan adaptif. Mereka memadukan elemen purba dengan nilai-nilai baru tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Misteri Makam Noni Belanda
Di antara nisan-nisan purba tersebut, terdapat dua makam dengan nisan polos. Salah satunya diduga milik “Noni”, putri pejabat Belanda yang wafat di Tanah Datar. Keberadaan makam Belanda di dalam kompleks Ustano Rajo Alam Pagaruyung ini sangat unik. Ini menandakan adanya hubungan sosial atau politik yang kompleks antara penguasa kolonial dan keluarga kerajaan pada masa itu.
Filosofi Medan Nan Bapaneh dan Batu Kasur
Selain makam, kompleks ini juga menghadirkan tata ruang sosial kuno. Di sebelah kiri pintu masuk, Sobat JEI akan menemukan area terbuka bernama Medan Nan Bapaneh.
Simbol Demokrasi Minangkabau
Medan Nan Bapaneh atau Balai Nan Saruang adalah tempat bersidang para pemimpin di alam terbuka. Konsepnya sangat filosofis: berlantaikan tanah, beratap langit, dan berdinding embun. Ini menyimbolkan keterbukaan dan transparansi dalam pengambilan keputusan.
Di tengah area ini terdapat Batu Cadangan, susunan batu tempat duduk yang melingkar. Di sinilah raja dan penghulu bermusyawarah mengurus negeri. Tradisi ini menegaskan bahwa kekuasaan di Minangkabau tidaklah absolut, melainkan berbasis mufakat.
Uji Kelayakan Raja di Batu Kasur
Tepat di muka Medan Nan Bapaneh, terdapat Batu Kasur atau Batu Uji. Ini adalah lempengan batu dengan lubang-lubang dakon. Konon, calon raja dari keturunan Rajo Tigo Selo harus menjalani laku prihatin atau “Batarak” di sini.
Mereka harus bersemedi di atas batu ini, beralaskan daun jelatang yang gatal. Uji fisik dan mental ini bertujuan memastikan seorang pemimpin memiliki ketahanan yang prima sebelum memimpin rakyatnya.
Cara Menuju Lokasi
Untuk mencapai Ustano Rajo Alam Pagaruyung, Sobat JEI bisa mengikuti panduan berikut:
- Dari Kota Padang: Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam berkendara menuju Batusangkar.
- Dari Istano Basa Pagaruyung: Lokasi makam hanya berjarak sekitar 2,5 km dari Istana Pagaruyung. Sobat JEI bisa menggunakan ojek pangkalan atau sewa kendaraan dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit. Arahkan kendaraan menuju Jorong Gudam.
Harga Tiket Masuk
- Tiket Masuk: Gratis / Sukarela (Donasi untuk kebersihan sangat disarankan).
- Jam Buka: 08.00 – 17.00 WIB (Setiap hari).
Berkunjung ke Ustano Rajo Alam Pagaruyung memberikan kita perspektif baru. Kita bisa melihat bagaimana leluhur Minangkabau menjunjung tinggi kearifan lokal di tengah perubahan zaman. Modernitas boleh masuk, namun akar budaya tetap kokoh tertanam. Selamat menjelajah sejarah, Sobat JEI!
Baca juga Pulau Manimbora Misteri Tulang Belulang Manusia
Baca juga Istana Basa Pagaruyung Dalam Lorong Sejarah
Baca juga Situs Prasasti Pagaruyung Batusangkar
Baca juga Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat
Baca juga Komplek Pemakaman Kesultanan Bima Dana Traha
Baca juga Festival Kuliner Serpong : Minang nan Rancak
Baca juga Lembah Bada Pernah Didatangi Astronot Purba?

