Colenak gula aren asli sukses menghentikan langkah saya di tengah sejuknya udara Lembang. “Mampir Bu, cobain colenaknya. Pakai gula aren tulen!” seru si Teteh penjual dari pinggir jalan. Telinga saya langsung berdenging mendengarnya. Maklum, radar saya selalu menyala terang jika bersinggungan dengan pemanis kebanggaan Nusantara ini. Kuliner wajib kalau ke Lembang ini memang punya magnet tersendiri bagi wisatawan di Lembang.
Bayangkan saja kehangatan tape singkong bakar yang berpadu tarian kinca kelapa legit. Rasa manisnya sungguh mengalun seperti musik melankolis di atas piring. Yuk Sobat JEI, kita selami pesona colenak. Kita intip juga sejarah singkatnya, rahasia perpaduan rasanya, hingga alasan rasional mengapa camilan ini merajai pasar Lembang.
Pesona Colenak Gula Aren Asli di Balik Udara Dingin Lembang
Mendengar sapaan si Teteh di atas, gak pakai ngomong dua kali, saya langsung menepi. Saya tentu kaget mendengar sapaan spesifik si Teteh. Dia menatap sambil tersenyum, seperti tahu persis siapa yang sedang melintas di depan kiosnya. Padahal jelas-jelas tak ada plang bertuliskan “produsen gula aren asli” menempel di jidat saya. Benaran, saya merasa GR tingkat dewa hari itu.
Tapi sudahlah. Si Teteh sudah berhasil merantai langkah saya. Sebelumnya saya hanya bolak-balik gak jelas mengitari Pasar Lembang selama liburan. Mungkin karena otak saya setiap hari memikirkan nasib yang terkait dengan nektar pohon enau ini, telinga saya berevolusi menjadi sangat sensitif terhadap apapun berbagu gula aren 🙂
Udara Lembang yang sejuk, apa lagi kalau hujan jadinya cenderung dingin, memang akan sukses membuat tubuh merindukan asupan kalori hangat. Secara ilmiah, suhu dingin memicu tubuh mencari makanan manis untuk menaikkan suhu inti. Jadi, wajar saja kalau tawaran hangat si Teteh langsung meruntuhkan benteng pertahanan diet saya.
Jejak Sejarah Kuliner Wajib Kalau ke Lembang
Sobat JEI pasti sudah familier dengan nama colenak. Kata lezat ini merupakan singkatan jenaka dari “dicocol enak”. Maestro kuliner Sunda, Aki Murdi, konon yang mulai menancapkan bendera popularitas kudapan ini di Bandung. Sudah lama, sudah dari tahun 1930-an. Hebat ya? Sejak saat itu, pamornya terus meroket melintasi berbagai zaman.
Bahan utamanya sangat membumi. Para pedagang menggunakan peuyeum atau tape singkong yang mereka bakar perlahan di atas bara api. Setelah itu, mereka menyajikannya bersama siraman kinca. Kinca ini merupakan perpaduan harmonis antara gula aren cair berkualitas dan parutan kelapa muda.
Bagi saya yang sering mendengar dan membaca literatur kisahnya, pertemuan hari itu adalah sebuah kencan buta yang akhirnya terwujud. Sapaan ramah penjualnya menjadi anak kunci pembuka pintu bagi lidah saya untuk turut merayakan kemeriahan rasa si colenak gula aren asli ini.
Benturan Lidah Minang dan Manisnya Colenak Gula Aren Asli
Orang Sunda memang memiliki ikatan romantis yang kuat dengan makanan manis. Karakteristik ini tentu berkebalikan 180 derajat dengan lidah saya. Masa kecil saya tumbuh subur lewat pelukan masakan Minang yang dominan asin dan pedas. Bagi saya, peuyeum itu sendiri sebenarnya sudah menyimpan jejak rasa manis alami dari proses fermentasinya.
Mestinya colenak tak perlu mandi cairan kinca lagi. Cukup taburan parutan kelapa plus jumputan garam sudah terasa sedap.
Namun, beda lagi ceritanya ketika lelehan kinca menyentuh lidah saya. Ada simfoni rasa yang meledak riang saaat mengunyahnya. Mungkin karena gula aren memberikan kedalaman rasa karamel yang kompleks, tidak sekadar manis datar yang membosankan. Ia juga bertugas mulia menetralkan sedikit sengatan asam dari fermentasi singkong. Pantas saja barisan penggemarnya sangat militan dan setia.
Menikmati Kuliner Wajib Kalau ke Lembang di Pinggir Jalan
Kelezatan camilan primadona ini jelas bukan isapan jempol belaka. Setidaknya begitulah kesimpulan yang saya tarik dari derap omset penjualan si Teteh. Bayangkan, pada hari libur puncak, ia sanggup menjual sampai 200 keping colenak sehari! Padahal di sepanjang jalan raya itu berjejer puluhan penjual serupa. Mustahil kan para pelancong cuma memborong dari satu kios saja? Ini bukti nyata perputaran ekonomi yang luar biasa.
Jika Sobat JEI sedang blusukan wisata ke daerah ini, kalian bisa dengan sangat mudah menemukan para penjualnya. Biasanya mereka mangkal cantik di kios-kios yang juga menawarkan uli bakar dan pisang bakar keju. Penjual selalu memanaskan colenak di atas bara tempurung kelapa sebelum menyodorkannya ke pembeli. Prosesnya cuma sebentar, karena tapainya sendiri sudah matang paripurna. Asap tipis yang mengepul genit dari panggangan itu sungguh meruntuhkan iman. Setelah hangat, mereka memotongnya kecil-kecil dan menyiramnya dengan kinca legit yang tumpah ruah.
