Indonesia Menanam

wpid-wp-1417909443212.jpeg

Indonesia Menanam

Iklim Indonesia yang hangat sepanjang tahun menjadikannya tempat ideal bagi tumbuhnya keragaman hayati. Apa saja bisa ditanam di sini. Dari tumbuhan obat, makanan sampai kayu keras untuk memenuhi kebutuhan industri . Apakah itu lewat pot di beranda rumah kita, halaman, sawah, kebun, sampai ke hutan dan rimba. Sayangnya berbagai kebijakan pertanian di masa lalu kurang mendukung keramahan alam ini. Alih-alih menjadikannya sebagai sumber kemakmuran bersama kita lebih suka mengimpor berbagai hal. Dari garam sampai beras kita beli ke negara lain.

Tapi tak guna juga meratapi pemerintah  dengan kepala kosongnya itu. Kita sebagai rakyat yang seharusnya membantu mengangkat harkat negeri tercinta ini, misalnya swasembada pangan, dengan memulai gerakan Indonesia Menanam.  Bila Indonesia Berkebun memanfaatkan tiap jengkal tanah kosong, Indonesia Menanam yang saya maksud memanfaatkan tiap wadah yang bisa dijadikan pot dan diletakan di beranda rumah. Seperti yang saya lihat di sebuah beranda penduduk di Bandung beberapa waktu lalu. Beranda rumahnya yang tak sebarapa luas namun penuh bakul bambu. Tak berisi nasi namun tanah dan aneka sayur hijau di atasnya. Selain tomat, bayam, daun bawang, dan cabe, saya lihat juga jahe, kunyit dan kencur.

Di era ekonomi yang sudah saling terkait seperti sekarang memang tidak efisien jika segala kebutuhan kita penuhi sendiri. Butuh bumbu dapur harus di tanam sendiri. Butuh sayur harus punya kebun sendiri. Jika hanya berkutat dipemenuhan kebutuhan dasar kapan waktunya berkembang? Namun tidak juga bijak jika semua kebutuhan itu diserahkan ke pasar. Hanya butuh selembar daun pandan alangkah ribetnya bila harus ke pasar dulu. Padahal ada ruang sedikit untuk menancapkan akar pandan di belakang dapur kita atau menanamnya dalam pot.

Dasar pemikiran ini membuat halaman rumah saya yang “seiprit” itu jadi penuh oleh tanaman. Baik yang ditanaman langsung di tanah seperti jambu bangkok, jeruk kalamansi dan buah sawo atau yang berada dalam pot seperti tomat, jahe dan ciplukan. Mereka berdesak-desakan seperti anak kelinci tak terurus. Dari sisi keindahan halaman memang tidak rapi. Namun saya sekarang tak perlu kuatir mau bikin kolak tak punya pandan. Atau di musim hujan ini mudah benar membuat minuman berkhasiat yang terbuat dari daun pandan dan gula aren karena stok jahe segar selalu tersedia.

Bagaimana menurutmu teman. Apakah perlu kita galakan Indonesia menanam?

@eviindrawanto

 

34 thoughts on “Indonesia Menanam

  1. Selamat semakin rajin menanam Uni Evi, memaksimalkan pemanfaatan lahan yang terbatas. gelar tampilan ala ‘kebun’ Uni pasti model peran kami semua.
    Salam hijau

    1. Iya Mbak Prih. Dari tanaman pot saja rupanya lumayan buat nambah gizi keluarga. Yang jelas tak menggunakan pupuk kimia dan pestisida 🙂

  2. Setujuuu…. salah satunya dengan menggiatkan kembali KRPL (Kawasan Rumah Pangan lestari) ya mbak.. Dengan polibag atau kaleng2 bekas di halaman / teras sempit pun jadi.. asaaal..benar2 berniat & ditekuni tentunya.. 🙂

  3. Itu tomat yang di foto terlalu rapet mba. Ntar buahnya kecil-kecil. Hehe. Di daerah sini malah di lorong-lorongnya banyak tanaman salah satunya pandan. Yang ngegerakin dari kelurahanya.

    1. Masih persemaian Mas Ade.
      Iya kalau gerakan itu datangnya dari atas, kemungkinan besar akan diikuti oleh rakyat. Bagus itu program kelurahannya, Mas Ade 🙂

  4. Di halaman belakang ku cuma ada jeruk kunci, kunyit, dan pandan mbak….dulunya ada kemangi, tapi ntah kenapa semua kemangi yang ku tanam jadi enggan hidup di belakang rumah itu..hikks…

  5. Menanam di Bakul Bambu ?
    aaahhh bener juga ini …
    terlihat lebih natural ya Bu …

    as ussual … fotonya keren … (walaupun obyeknya sederhana … tapi sudut pengambilannya ok banget)

    salam saya Bu Evi
    (8/12 : 20)

    1. Iya. Walau cuma berbuah satu dua biji, pedasnya juga sama, ada perasaan spesial memetik cabe yg ditanam sendiri, Mas Mandor 🙂

  6. Perlu banget, mbak Evi…kalo bukan kita, siapa lagi yang akan memperhatikan kelestarian alam Indonesia?
    Yang lebih penting lagi setelah kita menanam, adalah merawat tanaman-tanaman tersebut. Biasanya ini yang agak susah. Kita suka ikutan menanam, tapi lupa untuk memelihara dan merawatnya sampai tanaman itu tumbuh besar.
    Iya nggak, mbak?
    🙂

    1. Setuju banget Mbak Irma, menanam lebih mudah dari pada merawat. Dan itu pula yang terjadi padaku. Aku rajinnya di awal-awal saja, untuk perawatan lebih banyak dilakukan kawan di sebelah hehehe…

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?