Tertipu Dalam Bisnis

tertipu dalam bisnis
taken from http://fuza.ru

Tertipu Dalam Bisnis : Sebuah Resiko

Ada yang bertanya apakah kami pernah tertipu dalam bisnis? Jawabnya pernah.

Pernah tak dibayar? Sering!

Bagaimana caranya kalau berbisnis  terus dibayar dan tak pernah tertipu? Tak usah berbisnis.

Jawaban tak sopan sebetulnya. Habis gimana lagi saya memang tak punya jawaban gimana caranya agar tak tertipu dalam bisnis.

Yang jelas saat masuk ke bisnis kita harus menyadari bahwa dunia ini bergelimang resiko. Mengalami gagal bayar dan penipuan bagian dari resiko itu. Perusahaan saya sudah mengalami beberapa kali. Dua contoh di bawah kasus yang tak terlalu menyakitkan untuk dituliskan 🙂

1. Berbisnis dengan Brand Besar Bukan Jaminan

Tak pernah menyangka sebuah brand yang begitu eksis di supermarket, bosnya datang berombongan ke rumah, bicara baik-baik berakhir  jadi kenangan pahit bagi saya. Kami mengawali kerjasama sebagai supplier palm sugar (gula semut) pada perusahaan mereka. Seiring waktu bapak-bapak terhormat itu berakhir dengan menelan sekian juta rupiah modal kami. Jumlahnya memang tak seberapa tapi sakitnya masih berasa sampai sekarang.

Perusahaan itu entah salah urus atau keserakahan, sesama pemilik bertempur di pengadilan.  Sebetulnya gak masalah sih mereka berantem sampai berdarah. Hanya saja perkelahian itu membuat mereka melupakan kewajiban kepada kami.

Saya sepertinya masuk jenis manusia pendendam. Sampai detik ini  faktur tagihan pada mereka tetap saya simpan. Walau sudah lewat lima tahun faktur itu saya letakan dalam satu folder khusus bersama faktur2 tak tertagih lainnya. Saya lakukan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa hubungan baik bagi sebagian orang tidak berguna kalau sudah melibatkan uang.

Tertipu dalam bisnis biasanya berawal dari orang yang kita kenal.

Sekalipun sudah melakukan prinsip kehati-hatian mustahil seratus persen melindungi diri dari efek buruk  perangai orang lain. Sebab merupakan sifat alami kita cenderung kurang waspada terhadap teman, saudara, kenalan baik, atau kenalan lama. Dasar pemikirannya masa sih mereka mau makan kita?

Tapi para pemerkosa anak-anak juga orang terdekat mereka, bukan? Sebuah kenyataan bahwa sebagian orang tidak perduli pada hubungan baik selama maksud mereka kesampaian. Dan mereka yang menjalankan bisnis tanpa etika akan makan kenalan sendiri, langgana sendiri atau temannya sendiri.

Jadi kalau tak mau tertipu dalam bisnis prinsip kehati-hatian harus dipegang teguh. Tak masalah teman atau saudara, selama terkait dengan bisnis, peluang saling merugikan terbuka lebar. Berhati-hati lah!

2. Wan Prestasi

Merasa tertipu dalam bisnis yang satu lagi beda kasusnya. Ini lewat pemesanan kemasan. Mereka mensyaratkan bayar lebih dahulu sebelum pengiriman.

Pengiriman awal-awal lancar. Barang yang kami terima sesuai jumlah uang yang dibayar. Belakangan minta bayarnya tetap tapi pengiriman seret. Alasannya macam-macam. Dari mulai kebanjiran sampai supplai bahan tidak lancar. Tapi karena di desak terus dikirim juga walau di cicil. Dan itu masih di toleransi karena mereka melunasi hutang barang kepada kami.

Belakangan sebelum barangnya lunas sudah minta pembayaran lagi. Alasannya agar pengiriman berikut lancar. Karena butuh dan sudah kenal lama ya sudah kami transfer uang yang mereka minta. Tapi kali ini kami apes, pembayaran terkakhir kami lenyap begitu saja. Ditelepon gak diangkat. Begitu diangkat malah minta transfer uang  lagi. Ngajakin berantem kan? Malah terakhir alamatnya pindah tak deketahui.

Begitu lah dua contoh dan cara tertipu dalam bisnis. Tak disangka-sangka. Awalnya selalu melalui hubungan baik. Berbagai masalah yang datang dari kedua belah pihak diakhiri kerugian dari satu pihak.

Semoga teman-teman yang berbisnis tak pernah mengalami kejadian seperti kami. Amin.

@eviindrawanto

36 thoughts on “Tertipu Dalam Bisnis

  1. saya jadi teringat kasus yang menimpa teman saya. dia dan keluarga mengekspor kerajinan kayu dari Jepara ke LN. Ya awalnya sih si bule baik banget. Transfer di muka, lalu barang dikirim. Itu terjadi beberapa kali. Setelah hubungan terjalin baik dan saling percaya, mereka pun minta kirim barang dulu. Eh ternyata eh ternyata, barang sekian kontainer ga dibayar. Sungguh malang nasibnya. Ya sudah diikhlaskan.

    1. kasus seperti ini menimpa beberapa tetangga saya yang berdagang telur. Awalnya pengiriman satu truk telur ke jakarta lancar jaya, begitu juga dengan 10 pengiriman berikutnya. Nah pada akhirnya, si pemasok minta tambahan sekian truk, parahnya yang dibayar tidak semuanya yang pada akhirnya jadi gunung es yang merugikan pihak pengirim sampai-sampai usahanya kolap

  2. saya juga sepertinya tipe pendendam Mbak. Semoga duit kita yang ditilep orang diganti dg rezeki lain yg lebih banyak Mbak 🙂

  3. begitulah, justru orang-orang terdekat dan saling kenalah penipuan itu sering terjadi. Kita yang memberikan kemudahan menjadi tidak enak ketika hendak menagih yang pada akhirnya menjadi macet. Kondisi seperti inilah yang membuat kita pelaku usaha mesti tegas

  4. Saya juga pernah mengalami mbak..
    walau gak sampai puluhan juta.. malah dengan orang yang masih saudara jauh…
    Memang benar.. kalo sudah masalah uang, tidak mengenal siapa….

    Tapi inilah bisnis.. tetap semangat.. keuntungan yang lain akan tiba ^_^

    1. Habis gimana lagi ya Mbak Delia..Gara-gara ditipu masa iya bisnis harus berhenti.Asal gak bikin bangkrut saja seharusnya penipuan tak menghentikan semangat untuk terus berjuang ya..:)

  5. Saya sepakat dengan artikel ini. Bahwa kalau tidak ingin tertipu, ya ga usah bisnis … Saya seringkali kena tipu (SCAM) sebuah bisnis online .. memang membuat jengkel dll .. tapi, saya ikhlas saja.. saya menjadikannya sebagai pembelajaran … 🙂

  6. ada benernya yg nomer 2. Tapi biasanya memang menjaring teman bisnis dari yg dikenal berujung fatal jika tidak diiringi penjelasan yg baik. (pengalaman sih, sistemnya baik, MLM, kena temen ndiri, katanya bukan MLM, pas ikut ternyata MLM). Semoga jadi pelajaran deh.

    1. Berhati-hati terhadap teman sendiri, kesannya buruk dalam masyarakat kita, Mas. Kok ya sama teman sendiri bisa begitu. Jadinya ada perasaan gak enak kalau sama teman sendiri harus berhati-hati. Namun rusaknya persahabatan sering juga karena “rasa gak enak” seperti ini

  7. Bila menjaga kepercayaan terabaikan jadi pintu penipuan dalam bisnis nih Uni. Sharing Uni Evi pastinya sangat berharga bagi pebisnis. Tarimo kasi Uni

    1. Yang gagal menjaga kepercayaan biasanya tak tahu, Mbak Prih, bahwa dengan berbuat curang sebetulnya menutup pintu rejeki sendiri 🙂

  8. Bola bekel yang dihempas paling keras adalah yang paling tinggi pantulannya. Abis dari nyungsep kalo kita istiqomah Insya Allah akan sukses, maju, lancar jaya. Aamiin.

  9. Saya bisa merasakan betapa sakit dan dendamnya jika kita tertipu dalam bisnis …
    modal bisa hilang …
    dan saya berfikir cukup lama … ternyata walaupun orangnya sudah kita kenal … tapi itu tidak menjamin adanya wan prestasi … atau tidak berbuat nakal nantinya

    salam saya Bu

  10. Bagian pahit dari perusahaan ya Mbak Evi. Saya juga setuju, nama besar dari partner bisnis kita belum berarti jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan dalam berbisnis. Pembayaran yang mulai lambat, sudah pasti patut dicurigai. Permintaan yang mendadak tinggi belum tentu indikasi yang baik-malah mungkin berdampak terjadinya “overloading” yang belum tentu terserap oleh konsumen dengan baik, juga perlu diwaspadai. Saya sering penasaran jika melihat laporan pejualan mendadadak tinggi di sebuah area / supermarket tertentu. Ada apa sih? mau diapain itu stock? bener ada konsumen yang beli? Untuk meminimalisir kerugian mungkin kita perlu memantau supply dengan lebih ketat lagi serta berteman dengan pemasok lain yg bukan kompetitor – barangkali mengalami indikasi yang sama, sehingga bisa diantisipasi di depan dengan cara yang baik.
    Semoga cepat recover lagi dan lebih sukses dengan partner bisnis yang lain ya Mbak Evi..

    1. Wah..terima kasih atas insight-nya Mbak Dani. Pada perusahaan besar saja ada juga tipu-tipu ya, walau bentuknya berbeda. Iya minta barang terus tapi duitnya tak disetor sering pula kejadian di perusahaanku, Mbak..Untungnya karena skala kecil lebih mudah mendeteksinya. Tapi tetap saja total lost terjadi di pihak kami 🙂

  11. terimakasih banyak artikelnya menambah pengetahuan saya, kalo kita ngga hati-hati dalam bisnis memang bisa tertipu

  12. hi bu evi, salam kenall.. iya.. bisnis papa juga begitu.. kebetulan berkelut di dunia garment.. pernah kejasama juga dngn salah satu dep-store besar di indonesia.. tapi pembayarannya memakan waktu yg luamaa sekali..
    pernah juga di ‘kerjain’ sama anak angkat kakek aku, karena sudah dia anggap keluarga. jadi yah cukup di percayakan bnyk hal. eh malah kena tipu.. tapi yah puji Tuhan, selalu ada berkat yg lain.

    1. Hallo Jen, terima kasih ya sdh mampir. Salam kenal kwmbali.
      Kata orang mah, bisnis kalau gak tertipu belum sahih bisnisnya hahahaha..iya banyak benar liku-likunya sehingga para Entrepreneur dituntut tangguh ganda. Untung lah Tuhan tidak tidur. Dibalik semua kisah ada rewards yang menunggu 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?