Memahami Sifat Dasar Kemanusiaan Kita

Akhir-akhir ini saya semakin sering pelupa. Sangat mengganggu sekaligus menggelisahkan. Maka Adit menyarankan agar kembali membaca buku-buku agak serius untuk melatih syaraf di otak. Yah memang sudah lama saya tak membaca buku yang disebut “serius” oleh Adit. Makin kesini makin pusing berhadapan dengan pemikiran yang kompleks soalnya. Maka lebih suka baca majalah atau artikel2 pendek saja di internet.

Karena tak mau otak  saya terjun bebas ke jurang kepikunan terpaksa mengikuti nasihat si sulung, mencari di rak kira-kira buku apa yang memenuhi syarat serius. Kebetulan disana ada beberapa buku Dale Carnegie dan kebetulan pula sudah bulukan semua. Jadi saya anggap saja itu buku serius 🙂

Tapi alasan asli memilih Dale Carnegie adalah bukunya berisi artikel-artikel pendek. Namun liputannya menyangkut berbagai hal dan dibahas agak dalam. Sudah begitu banyak aspek psikologinya, subjek yang saya suka sejak lama. Jadi sekalian deh mempertautkan  benang merah buku-buku Carnegie dengan tema blog ini yakni Transformasi diri.

Membujuk Pembeli 🙂

Dalam salah satu artikel Carnegie membahas soal penjualan. Menurutnya seorang sales yang baik harus punya ilmu dasar tentang karakter manusia. Manusia itu adalah makhluk ternarsis di jagat raya. Mereka hanya tertarik pada diri sendiri, tidak tertarik kepada anda maupun orang lain. Jadi bila bermaksud meraih sukses tertentu dalam hidup seperti penjualan, prinsip tersebut harus dipegang erat-erat. Sukses tidaknya misi kita  tergantung pada seberapa pandai kita menyadari menyelami sifat-sifat tersebut.

Jadi ini tentang memahami orang lain? Baik lah!

Menjual merupakan ujung tombak sebuah usaha. Dan pekerjaan sejati para wirausahawan adalah menjual nilai tambah untuk mencari keuntungan ekonomi.

Dan ngomong soal keuntungan, orang akan bersikap skeptis bila itu cuma berpihak pada kita. Contoh paling dekat ya saya, skeptic sejati terhadap sistem Multi Level Marketing (MLM). Tidak percaya kalau ada yang mengatakan bahwa saya bisa kaya tanpa bekejar ( pasive income) jika masuk ke dalam sistem mereka. Dia tak mengatakan bahwa saya baru kaya setelah dia  duluan.

Tapi lupakan MLM. Tak bisa dipungkiri banyak juga yang sukses  di bisnis itu. Maksud Carnegie adalah sikap skeptis orang lain atas kepentingan kita bisa dibalik dengan merubah bahasa. Jika teman bertanya “ Sirup gula aren itu enak gak sih?“ Saya boleh menjawab sampai berbusa bahwa Sirup gula aren itu enak. Kalau dimasukan ke dalam air kelapa terus ditambah jahe rasanya asyik gak ketulungan. Belum lagi khasiat yang dikandungnya. Bayangngin deh gula aren, air kelapa dan jahe…Gimanaaa gitu..

Terus kalian akan manggut-manggut. Namun dari jauh tak ada yang akan menyalahkan jika ada yang nnyeletuk :“ Namanya juga pedagang lah yoow!“

Nah, menurut Carnegie sikap skeptis seperti itu bisa dihilangkan jika saya menghadirkan Indrawanti, pelanggan setia sirup gula aren aren. “ Setiap bulan saya mendrop 1 kardus gula aren cair ke rumahnya.Dia memesannya bukan saja gula aren cair ini amat praktis digunakan tapi masih bisa digunakan oleh ibunya yang mengidap diabetes.  Disamping dia juga sering membeli untuk diberikan sebagai oleh-oleh kepada kerabatnya.

Maksudnya Carnegie  bicaralah lewat orang ketiga. Jangan jawab langsung pertanyaan pelanggan tapi kaitkan pada kisah sukses orang lain. Serahkan pekerjaan mengenalkan gura aren cair kepada kerabat, tetangga, teman atau pelanggan. Tapi tentu saja tetap mengacu kepada fakta2 dan data-data. Kita tidak mau dicap sebagai pengusaha pendusta, bukan?

Begitu lah teman. Jika dari satu sisi kita bisa skeptis tapi di sisi lain akan ada cara untuk menepisnya. Jadi ada yang mau jadi juru bicara saya soal gula aren?  #kidding

Salam,

32 thoughts on “Memahami Sifat Dasar Kemanusiaan Kita

    1. Konon begitu lah Kang Yaan..Promosi dari mulut ke mulut ini ternyata lebih ampuh ketimbang datang dari mulut penjualanya hehehe…

  1. setuju dengan tipsnya nih…. betul sekali.. referral memang menjadi hal yang penting.. jadi mau coba gula arennya nih….

    1. Betul Bro..referral merupakan tools marketing yang sangat adiluhung..Gula aren mah ada dimana-mana Bro..silahkan dicoba yang mana saja 🙂

  2. Makasih Mba Evi tipsnya… 😀
    Bener banget kalo manusia adalah makhluk ternarsis di muka bumi ini.
    Pelanggan ga akan mau denger kalo yang diomongin adalah tentang penjual. Mereka maunya yang dimongin adalah tentang mereka. 😀

  3. Dale Carnegie adalah yg bukunya difavoritkan bapa sampai hari ini … sudah berapa puluh tahun tuh 😀

    saya juga mau tuh mbak beli sirup gula aren, apalagi di depan ada penjual buah kelapa, tinggal beli dan tambahkansirup sendiri lebih aman ketimbang pakai gula mereka ‘kan. tapiii … blom kesampaian aja sampai sekarang 🙁

    1. Dale ini kayaknya emang bacaan generasi tua deh Mbak Niq..Gaya bahasanya juga tahun kuda gigit besi kayaknya..Tapi filosfi yg dia jabarkan masih moderen sampai sekarang..

      Gula aren cair ini ada kok di farmers market kelapa gading Mbak Niq..Cuma pihak toko emang rada kurang cepat menanggapi kekurangan stock kayaknya..:)

  4. ups … lupa sama isi postingan
    iya tuh mbak, paling efektif itu iklan mulut ke mulut 😀
    udah gratis, dijamin gak boong pula 😀

  5. hwadeuh.. mba
    jadi inget buku2 tebel yang selama ini nangkring di sisi meja
    belum disentuh ..

    enak kayaknya minuman yg dideskripsikan 🙂

  6. bener bangettt hehehe sini sini aku jadi orang ketiga :mrgreen: *maunya!* tapi emang iyaloh, kalo yang ngomong customer kita entah kenapa orang lain lebih percaya ketimbang saat kita sendiri yang ngomong 🙄

  7. Saleum
    emang bisa mbak kalau sering membaca buku “serius” dapat membuat gak pikun lagi? sepertinya aku kesulitan dgn bacaan yang serius sebab sering menyebabkan kantuk dan sesak nafas. hehehe… maksudnya tidak bisa menjangkau arti yang terlalu formal. palingan juga wiro sableng yang jadi favorit.

    1. Saleum,

      Belum ada penelitian sih Mas..Tapi setidaknya membaca buku serius otak kan dipaksa mikir..Kalau dia mikir kan olah raga dia didalam 🙂

  8. Saya jubir-jubir juga kok kadang-kadang he he. karena saya memang penggemar Gula Aren. Sayangnya yang gula semutnya sering kosong di Supermarket.

  9. hehehe wani piro?

    Dale Carniege? Hmmm pernah baca tuh dan pernah kepincut juga, tapi kemudian gak kepincut lagi karena nemu lagi sebuah prinsip yang lebih kompleks dari prinsip Dale Carniege. Apaan tuh? rahasia lah yaw…hehe

  10. Sebagai pedagang, apa yang Bu Evi paparkan memang benar adanya. Begitulah kita bersikap pada pelanggan. Apalagi sekarang pelanggan/konsumen semakin pintar dalam banyak hal, maka kita juga harus mengikuti perubahan yang terjadi.

  11. mengenal kemanusiaan kita itu sangat penting ya mbak evi
    sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kita . gak mau pikun ya membaca dan berpikir. mau jualan yang laris manis ya kasil sempel yang baik biar mereka yang ngomong. h eh he saatnya pelanggan yang ngomong bukan pedagang yang ngomong

  12. hampir setiap orang kayaknya pernah baca buku2 Dale Carnegie ini ya Vi
    karena bahasanya juga enak, dan banyak “simpanan isi” di tiap tulisan

    benar juga , kita biasanya lebih percaya pd sebuah testimoni dr orang lain, ketimbang dr penjualnya langsung 🙂

    eh ya , Vi…ngomong2 si gula semut ini juga ternyata salah satu unsur dr jamuan herbal obat kanker bunda lho 🙂

    selalu sukses dan sehat ya Vi
    salam

    1. Iya Bunda Carnegie memang sudah menginspirasi orang di seluruh dunia..
      Ngomong2 tentang gula semut, aku pernah kirim email pada Bunda untuk minta alamat lengkapnya. Tapi Bunda belum jawab tuh hehehe…

  13. Setelah mengetahui sifat dasar manusia, kita baru sadar ya, saya juga also. Dan memang bejitulah seharusnya jadi penjuwal, bisa dibilang kita ini kayak pelawak yang harus pinter menggaet pengunjung 😆

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?