Dreamcatcher

Dreamcather
Dreamcather

Teman pernah gak sih dapat oleh-oleh dan akhirnya  jadi bahan diskusi seru dengan keluarga? Saya kemarin mengalaminya 🙂

Ini lagi-lagi mengenai benda budaya. Namanya Dreamcatcher. Pernah dengar atau membaca tentangnya? Kalau nonton filmnya pasti pernah ya. Film yang berangkat dari novel Stephen Hawking ini pernah terkenal di tanah air. Tapi yang saya maksud dreamcatcher disini adalah benda seperti gantungan kunci diatas. Terbuat dari logam bulat berlilit benang merah, ada rajutan menyerupai sarang laba-laba di tengahnya. Kemudian Di bawah digantungi  biji-bijian dan bulu burung.

Ini oleh-oleh dari teman anak saya yang pulang dari Amerika. Awalnya tak kira cuma sovenir biasa, semacam gantungan kunci atau diletakan di mobil. Tak punya makna simbolisme apapun.  Tapi setelah dijelaskan oleh yang bersangkutan dan dicari tambahan informasi di internet baru tahu kalau ada cerita panjang di belakang bentuknya yang unik.

Untuk keterangan lebih lengkap saya copas  dari Wiki

Menurut Wiki

While dreamcatchers originated in the Ojibwa Nation, during the Pan-Indian Movement of the 1960s and 1970s they were adopted by Native Americans of a number of different nations. Some consider the dream catcher a symbol of unity among the various Indian Nations, and a general symbol of identification with Native American or First Nations cultures. However, other Native Americans have come to see dream catchers as over-commercialized.[3] Non-Indians have also used the dreamcatcher for their own purposes.

American ethnographer Frances Densmore writes in her book Chippewa Customs (1929, republished 1979, pg. 113):

Even infants were provided with protective charms. Examples of these are the “spiderwebs” hung on the hoop of a cradle board. These articles consisted of wooden hoops about 3½ inches in diameter filled with an imitation of a spider’s web made of fine yarn, usually dyed red. In old times this netting was made of nettle fiber. Two spider webs were usually hung on the hoop, and it was said that they “caught any harm that might be in the air as a spider’s web catches and holds whatever comes in contact with it.”

Traditionally, the Ojibwa construct dreamcatchers by tying sinew strands in a web around a small round or tear-shaped frame of willow (in a way roughly similar to their method for making snowshoe webbing). The resulting “dream-catcher”, hung above the bed, is used as a charm to protect sleeping children from nightmares. As dreamcatchers are made of willow and sinew, they are not meant to last forever but are intended to dry out and collapse as the child enters the age of wonderment.

The Ojibwa believe that a dreamcatcher changes a person’s dreams. According to Konrad J. Kaweczynski, “Only good dreams would be allowed to filter through… Bad dreams would stay in the net, disappearing with the light of day.” Good dreams would pass through and slide down the feathers to the sleeper.

Another version from the same article was, “Nightmares pass through the holes and out of the window. The good dreams are trapped in the web, and then slide down the feathers to the sleeping person.”

These conflicting explanations about how a dreamcatcher works may be proof of its antiquity. People keep a symbol because it is traditional, but interpret its meaning in many different ways.

Ringkasnya :

Ddreamcatcher oleh orang Indian digantung diatas tempat tidur anak-anak guna mengusir kedatangan mimpi buruk. Sebab mimpi buruk tersebut terperangkap dalam jaring laba-laba, sementara mimpi baik di loloskan lewat biji dan bulu-bulu lembut dibawahnya.

Jadi Produk massal.

Dari informasi di tempat lain, dreamcatcher yang merupakan benda suci dan dihormati dalam kebudayaan Indian sekarang diproduksi masal sebagai benda sovenir. Ada beberapa situs yang memuat tulisan keberatan dari suku Indian dalam hal komersialisasi dreamcather ini. Apa lagi tata cara, bentuk dan materi bahannya sudah amat jauh meninggalkan ciri aslinya.

Tapi rupanya gerak ekonomi kapitalis tak melihat urgensinya terhadap keberatan tersebut. Dreamcatcher tetap diproduksi sebagai benda seni yang diperjual belikan sebagai tanda mata dengan bebas.

Saya membayangkan suatu saat benda-benda budaya Indonesia akan mengalami hal serupa. Kalau di data suku-suku di tanah air punya banyak benda-benda yang juga berfungsi sebagai jimat. Sebut keris dari Jawa dan Mandau dari Kalimantan, misalnya. Seperti mata uang yang selalu memiliki dua sisi, pasti ada baik dan buruk jika hal itu terjadi. Sisi baiknya Indonesia semakin di kenal dunia sementara buruknya, benda-benda tersebut akan bernasib seperti Dreamcather: Kehilangan identitas.

Punya cerita tentang dreamcatcher kawans?

 

— Evi

43 thoughts on “Dreamcatcher

  1. aku baru liat bendanya di sini, uni..

    klo jimat minang ada tuh, “tangka palasik”
    yg dipenitiin di baju bayi,
    kayaknya gak bakal dikomersilkan seperti itu..
    xixi.. 😛

    klo benda pusaka macam keris, nah itu pasti diburu ya un..

    1. May, yg tangka palasik itu kayaknya aku pakai jg dulu. Tp dikalungin pakai benang. Isinya dasun kan yg sdh dibacakan doa oleh dukun. Iya kayaknya ini gak bakal dikomersilin, bentuknya jelek begitu hehe..

    1. Fotonya kelewat dekat sih Mas Ari, jd kesannya dreamcather besar begitu. Gak tahu Mas apakah dipasang orang jg dipintu

  2. Saya baru dengar dan baru tau…
    Mungkin saya termasuk kurang pengalaman tentang benda itu…
    Tapi kalau menjumpai benda2 “keramat” yang tiba2 jadi cendera mata sich sering.
    Yang parah lagi adalah ketika ada bentuk yang termasuk nggak senonoh tapi dijadikan gantungan kunci…

    1. Kalo melihat lingkaran2nya malah teringat mainan yang kalau kena angin bunyi klinting2…
      Terbuatnya dari pipa aluminium, kadang ada ikan yg dari kayu dan warnanya pink dan ijo…

    2. Kasusnya itu pasti sprt dreamcather ini P Mars, keramat bagi suku Indian, profan bagi orang diluar suku tsb. Jadi yg dilihat cuma keunikannya, artnta yg bisa di jual. Benda2 bentuk gak senonoh jd ganyungan kunci pasti jg gitu. Bagi mereka biasa saja. Mungkin sprt melihat lingga-yoni jaman dulu

  3. itu fotonya diambil dari jarak dekat ya Bu? benda aslinya sebsar apa? abis di fotonya kelihatan besar sekali 😀

    1. Iya miss dr jarak terlalu dekat sehingga fotonya kehilangan perspektif. Panjangnya kalau dr ujung gantingan sampai ujung bulu ayam sekitar 25 cm lah. Diameter lingkaran plg atas sekitar 10 cm. Terlalu besar sih sebetulya utk dijadikan gantungan di mobil

  4. iya yah, padahal di nusantara ini juga gak kalah banyak benda2 unik yg mempunyai nilai sejarah tinggi dan cerita di baliknya, tapi saya yakin benda2 disini juga diminati oleh banyak orang lho, sayangnya kita kurang paham ja kali ya 😀

  5. Uni, trimakasih tuk sharing dream catcher nya, simbolisasi suku Indian sangat kuat ya, jadi ingat serial Winnetou. Btw ada c yang terlupa di judulkah Uni? Salam

  6. Lagi-lagi baru baca tentang dreamcatcher dari posting ini, mbak…uni sekali, benda magis seperti ini kayaknya hampir seluruh daerah Indonesia punya deh selain keris dan mandau yang mbak Evi sebutkan disini itu tadi…
    Hanya memang saking banyaknya suku-suku yang ada, benda-benda budaya itu hampir tidak diketahui keberadaannya selain oleh masyarakat dimana benda budaya tersebut berada.
    Dreamcather?
    Penangkap mimpi bukan ya arti harfiahnya?
    😉

    1. Iya Mb Irma, kita memiliki banyak sekali benda budaya. Tapi kalau dipikir2 mending dikomersilin ketimbang diam2 punah ya.

  7. Baru lihat dreamcather ini disini,
    Kalau gelang dari benang warna warni yang dipasangkan di tangan atau ditangan bayi, namanya ? menarik juga untuk gaya anak ABG sekarang tuh 🙂
    kalau anak saya lagi gandrung sama game Indiana Jones

  8. sebelum baca postnya saya kira photo dreamchater di atas adalah mainan.. eh taunya jimat.. dulu di tempat asal saya kalau anak kecil rewel suka di kasih kalung dari benag warna hitam dan di kasih potongan bambu kuning kecil 1 centian.. entahlah sekarang cara seperti itu masih di pake atau tidak..

    1. Jimat yg sdh berubah jd mainan Kang Yayan. Selain peniti, kayaknya jimat anak2 sdh gak dipakai lg ya. Di kampung saya kayaknya jimat jg sdh hilang. Yang unik bukan faktor agama yg menghilangkannya tapi midernisasi. Perkembangan logika membuat benda2 klenik jd tampak aneh

  9. Di masyarakat dayak ada juga barang-barang tertentu yang digantung pada tempat tidur anak/bayi untuk mengusir mimpi buruk, selain itu ada kalung “upak-upak” yang ikat dari benang.

  10. kirain mainan anak bayi kayak yang diputer puter itu – hehehe idenya bagus ya supaya menangkal mimpi buruk dan meloloskan mimpi baik adan beneran ada #pasti seneng banget mimpi 😀

  11. mbaaaa…
    aku pernah nonton di salah satu dorama jepang…
    judulnya beautiful life, dimainkan oleh cintaku si Takuya Kimura…
    Alat ini juga berfungsi sebagai semacam jimat untuk meraih cita cita gitu lho mba…
    mungkin maksudnya ‘menangkap impian’ sesuai namanya kali ya mba…

    *untung nonton drama ituh deh :)*

    1. Keren pasti filmnya ya Bi. Jadi di Jepang di pakai untuk nangkapin mimpi indah..Masuk akal. Pati menambah kekuatan semangat dalam meraih cita-cita tuh Bi 🙂

    1. Hehehe..Iya Mbak Mechta. Kalaupun ada isinya, kita pasti serem lah naruh dekat tempat tidur..Gimana kalau yg di loloskan mimpi buruk gara-gara jaringnya rusak, bisa repot dunk 🙂

  12. Pertama kali liat fotonya, langsung ngerasa ini pasti asalnya dari suku indian, soalnya di sana kan suka banget pake bulu-bulu burung gitu 😀

    Bentuknya bagus ya mbak, cocok buat pajangan 🙂

    1. Ya baru ingat, bulu2 kan selalu digunakan di kepala mereka ya JEng..Emang lumayan untuk pemanis interior 🙂

  13. kebanyakan benda seni budaya dinegeri kita selain masuk museum, malah seringnya jadi koleksi pribadi orang2 berpunya ya Vi ……… 😛

    dan, diam2 ,maka hilanglah dr peredaran ……..
    dan, hampir dr kita semua tak mengenalinya lagi, bahkan merasa asing ….
    salam

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?