
Hari itu saya, atasan saya alias suami, dan teman-teman rombongan mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini, Iran. hari itu juga kami akan langsung tancap gas menuju desa bersejarah Abyaneh,
sebuah desa bersejarah yang terletak di lereng Gunung Karkas, tepatnya di Distrik Barzrud, Kabupaten Natanz. Tapi mampir dulu di Shabhaye Natanz Traditional Restaurant. Di sini lah Pertemuan Pertama dengan Kuliner Iran yang akan saya ceritakan pada teman-teman.
Lansekap Iran itu unik. Sepanjang jalan meninggalkan bandara, tampak lanskap berupa hamparan mahakarya alam eksotis tapi luar biasa gersang. Bahkan di satu titik sebelum sampai di Natanz kami berhenti photo stop, hanya sekadar memastikan dari dekat tanah dan pepohonan yang terlihat menguning itu.
Begitu pun, sejauh mata memandang, hanya ada tanah berwarna cokelat keemasan, semak-semak kering yang sepertinya sedang berlatih kelas bertahan hidup, dan siluet pegunungan berlapis kabut tipis di kejauhan. Sepi, luas, sekaligus magis, persis seperti sedang syuting film dokumenter di planet Mars!
Meneruskan Perjalanan ke Shabhaye Natanz Traditional Restaurant

Tapi gak bisa lama-lama juga. Karena waktu terus merambat. Setelah lebih dari satu jam berlalu dengan pemandangan monokrom yang konsisten itu, rasa kagum perlahan kalah oleh realita biologis. Heningnya jalanan bekerja bak hipnotis yang membuat mata makin berat, sementara perut mulai melancarkan protes berskala nasional.
Karena kami mengusung prinsip slow travel—yang jujur saja, kadang jadi alasan paling elegan untuk sering istirahat—kami sepakat: sebelum jauh-jauh meresapi nilai sejarah di desa Abyaneh, menyelamatkan “sejarah” pencernaan sendiri adalah prioritas utama.Semua anggota rombongan tentu setuju.
Saya melirik ke layar ponsel dan melihat titik tujuan kami di peta sudah semakin dekat. Titik pemberhentian itu bernama Shabhaye Natanz Traditional Restaurant.
Kejutan Oase di Balik Gerbang Terowongan Cahaya
Hari menjelang senja saat kami akhirnya sampai di depan pintu masuk Shabhaye Natanz Traditional Restaurant. Begitu kami keluar dari mobil, sisa-sisa pemandangan gurun yang gersang tadi sudah tidak berbekas.
Cahaya keemasan dan kemegahan yang tak terduga menyambut kami, menari bersama cahaya senja yang perlahan turun. Menurut saya, karena ini pengalaman hari pertama di Iran, pintu masuk restoran ini jauh dari kesan sebuah restoran pinggir jalan. Saya pikir itu seperti pintu masuk ke dalam sebuah karavanserai kuno atau bahkan dunia dongeng Timur Tengah.
Sebuah Jembatan Cahaya di Tengah Kegelapan
Struktur gerbang kayu melengkung yang unik menaungi sebuah jembatan kayu kecil dan kokoh yang membentang. Tata cahayanya memancarkan kesan dramatis. Di kedua sisi puncak gerbang kayu, tiang-tiang logam dengan tempat obor (torchiere) menopang dua obor yang menyala dengan api sungguhan!
Pose Epic Pak Suami di Jembatan

Suami saya, yang tampaknya masih agak lelah tapi juga terkesan, saya suruh doi berdiri di tengah jembatan kayu dengan tas selempangnya. Pose ini sekadar merekam kenangan bahwa kami pernah makan di sini.
Rasanya seperti pintu masuk ini ingin berkata, “Lupakan perjalanan panjangmu, melangkah masuklah ke dalam kehangatan dan kelezatan di sini.”
Masuk ke Dalam Restoran
Saat memasuki ruangan, hal pertama yang langsung menyita perhatian saya adalah air mancur batu bertingkat. Cukup besar untuk memenuhi ruangan tengah ini. Lampu sorot warna-warni—biru, merah, kuning—menghiasi air bak arena disko di tengah taman. Suara gemericik airnya yang mengalir turun memang sukses bikin adem pikiran, white noise yang cukup menghibur badan yang kelelahan.
Desain interiornya membawa suasana luar ke dalam ruangan. Susunan batu alam tak beraturan membentuk bagian lantainya, berpadu apik dengan miniatur jembatan berpagar besi melengkung serta rimbunnya tanaman hias dan dedaunan merambat yang menghiasi setiap sudut. Atapnya yang tinggi dan semi-transparan memberi kesan luas dan lega, seolah kita sedang makan di halaman belakang rumah saudagar Persia.
Menikmati Suasana Dalam Resto

Tapi yang paling bikin saya dan suami saling tatap sambil tertawa kecil adalah area tempat makannya. Alih-alih deretan meja dan kursi standar, restoran ini menyuguhkan deretan dipan kayu lebar—atau yang biasa disebut Takht—khas Timur Tengah. Karpet tebal melapisi dipan-dipan ini, berpadu dengan bantal-bantal sandaran bermotif etnik yang tampak sangat, sangat empuk.
“Waduh,” gumam suami saya sambil menggelengkan kepala. “Ini sih godaan berat. Begitu duduk bersandar di situ, sendi-sendi kita bisa langsung masuk mode hibernasi.”
Dan dia tidak salah. Kombinasi sisa-sisa jetlag, perut kosong, suara gemericik air, dan bantal empuk di depan mata adalah “jebakan maut” yang terlalu menggoda untuk dilewatkan. Niat awal singgah untuk makan siang yang kesorean sebelum lanjut ke Abyaneh, eh kok malah jadi mikirn tidur?
Setelah berhasil melepaskan diri dari hipnotis air mancur warna-warni di area depan, kami melangkah lebih jauh ke dalam restoran. Ternyata, tempat ini cukup luas dan sepertinya pengelola merancangnya dengan beberapa “zona nyaman” yang berbeda. Kalau deretan dipan lesehan yang memancing rasa kantuk mendominasi area depan tadi, bagian yang ini terlihat sedikit lebih… rasional untuk orang yang sedang kelaparan.
Nuansa Persia yang Kental

Seperti yang Teman-teman lihat di foto, suasananya tetap kental dengan nuansa Persia yang hangat. Dinding bertekstur terakota itu dihiasi lengkungan-lengkungan bata simetris yang sangat estetik. Di tengahnya bertengger sebuah bingkai kaligrafi yang indah.
Daun-daun sirih gading dibiarkan menjuntai bebas dari langit-langit, seolah menegaskan status tempat ini sebagai oase di tengah gersangnya perjalanan darat kami. Di sudut kanan bahkan ada semacam tungku perapian dari batu alam yang membuat suasananya makin homey.
Tapi, dari semua dekorasi cantik itu, tahu tidak apa yang paling membuat mata saya langsung berbinar? Tepat di bawah bingkai kaligrafi itu berdiri sebuah samovar kuningan raksasa! Ya, teko teh tradisional khas Timur Tengah itu berdiri gagah, lengkap dengan barisan cangkir-cangkir keramik mungil di sampingnya.
Rasanya alat itu seolah melambai dan berbisik, “Sini, minum teh panas dulu biar sisa-sisa penerbangan belasan jam tadi luntur.”
Ruangan Makan Yang Dipilih
Untuk tempat makan, rombongan memilih meja dan kursi alih-alih dipan. Di area ini, tempat makannya menggunakan meja dan kursi kayu konvensional yang ditutupi taplak bermotif klasik. Saya pikir ini jauh lebih nyaman bagi kaki lansia 🙂
Sambil menunggu makanan khas Natanz disajikan, menghirup aroma teh hangat di bawah rimbunnya dedaunan ini rasanya sudah jadi semacam healing tersendiri.
Untuk saya yang baru bersentuhan dengan budaya Timur Tengah, samovar kuningan raksasa ini benar-benar tampil layaknya primadona di atas meja kayu. Dengan ukiran klasiknya dan teko keramik mungil yang bertengger manis di pucuknya, alat ini seolah memancarkan aura hospitality khas Persia yang hangat.
Ditambah lagi dengan deretan teko dan cangkir keramik bermotif geometris biru yang cantik, rasanya ingin saya bungkus satu set untuk dibawa pulang ke Serpong!
Lapar Mata
Tapi tentu saja, bagi dua pelancong yang sedang menahan lapar, fokus utama saya langsung tertuju pada piring-piring kecil di sekelilingnya. Lihat saja jajaran “amunisi” pendamping minum teh ini. Ada kurma yang legit—camilan wajib kalau sedang berada di Timur Tengah, biskuit-biskuit kecil, dan bongkahan kristal gula batu atau nabat khas Iran.
Cara minum tehnya unik lho, gula batu ini tidak diaduk, tapi dicelupkan sebentar atau digigit sambil menyeruput teh hitam yang pekat.
Bagi sendi-sendi usia emas kami yang sempat kaku karena berjam-jam duduk di pesawat, kombinasi teh panas, manisnya kurma, dan kehangatan dari sekitar tungku ini ibarat P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan) yang paling paripurna.
Sudut Yang Menggambarkan Dapur Iran Masa Lalu

Saya sempat juga memperhatikan sudut yang satu ini. Memang memancarkan aura klasik yang kuat, sampai-sampai rasanya saya sedang ditarik mundur melintasi lorong waktu, ke dapur rumah-rumah kuno Persia.
Perapian berbahan batu kali alam yang disusun menjulang ke atas ini menjadi statement piece yang anggun. Menurut guide kami yang orang asli Natanz, susunan batunya yang kokoh namun tidak beraturan adalah potret dari pedesaan otentik khas Iran di masa lalu.
Coba lihat panci hitam legam yang nangkring dengan santai di atas susunan kayu bakar di dalam rongganya itu. Entah panci itu sekadar properti dekorasi atau memang sedang dipakai untuk merebus slow-cooked stew khas Iran (seperti Dizi atau Abgoosht), yang jelas pemandangan itu sukses membuat imajinasi kuliner saya melintasi waktu.
Eksplorasi Kuliner Iran, Dari Bawang Hitam hingga Porsi Kuli Bertabur Saffron

Akhirnya, momen krusial yang paling kami tunggu-tunggu tiba juga. Setelah puas mengagumi perapian batu dan “pemanasan” dengan teh hangat, seorang mas-mas ganteng (harus diakui, hampir semua orang Iran punya visual fisik yang menawan!) mengantarkan hidangan pembuka kami, yang kehadirannya rasanya bak pahlawan kesiangan yang datang tepat waktu!
Di atas meja bertaplak motif paisley khas Persia yang cantik ini, tersaji kombinasi pembuka jalan yang sederhana tapi rasanya juara:
- Roti Lavash (Nan-e Lavash): Lembaran roti pipih dengan bercak-bercak kecokelatan yang tampak di foto ini adalah Roti Lavash. Roti tradisional Iran ini teksturnya tipis, sedikit elastis, dan dipanggang menempel di dinding oven tanah liat (yang seperti kita lihat di tungku tadi!). Aromanya? Wangi ragi berpadu dengan aroma khas panggangan kayu bakar sukses membuat kami langsung menelan ludah.
- Torshi Seer (Sir Torshi): Nah, ini dia bintang utamanya yang penampakannya di dua mangkuk kecil itu mungkin agak mengintimidasi. Bentuknya bulat, hitam legam, dan sekilas mirip benda gosong. Tapi jangan tertipu, Teman-teman! Warga lokal memfermentasi acar bawang putih utuh ini selama bertahun-tahun di dalam cuka. Semakin lama mereka memfermentasinya, bawang ini akan menghasilkan warna yang semakin gelap dan rasa yang semakin magis. Saat masuk ke mulut, teksturnya lumer seperti mentega, menyajikan perpaduan rasa manis, asam, gurih, dan yang paling penting… tidak meninggalkan bau menyengat yang bisa bikin pasangan ilfeel saat kita ajak ngobrol bersebelahan di mobil nanti!
Cara Makan Roti Lavash
Cara makannya gampang tapi sangat addictive. Tinggal sobek secarik roti Lavash, ambil sedikit Torshi Seer yang lumer itu, lalu suap! Suami saya yang awalnya menatap curiga pada si bawang hitam ini malah ujung-ujungnya ketagihan.
Sebagai hidangan pembuka, kombinasi karbohidrat hangat dari Lavash dan sengatan rasa asam-manis dari Torshi Seer ini benar-benar sukses membangunkan selera makan kami sepenuhnya. Perut usia emas kami sudah di-“kalibrasi”, dan sekarang kami siap menyambut hidangan utamanya!
Setelah pemanasan yang sukses dengan Roti Lavash dan bawang hitam tadi, inilah dia bintang utama yang sukses membuat kami berhenti mengobrol dan fokus sepenuhnya ke meja.
Chelo Kebab Koobiden

Hidangan epik yang saya pilih di adalah menu “wajib” nan legendaris di Iran, namanya Chelo Kebab Koobideh.
Mari kita bedah satu per satu “pasukan” pelenyap lapar yang ada di atas piring ini:
- Chelo (Nasi Saffron): Gumpalan awan putih ini adalah nasi basmati khas Persia yang bulirnya panjang-panjang, ringan, dan fluffy. Sang koki menaburkan nasi berwarna kuning keemasan di bagian atasnya. Warna cantik ini muncul karena mereka memasaknya dengan tambahan saffron. Nah, karena saffron ini memegang takhta sebagai rempah termahal di dunia, rasanya sangat pantas dong kalau kita-kita yang sedang berada di “usia emas” ini yang menikmatinya, setuju?
- Kebab Koobideh: Ini dia sang primadona! Sang koki membumbui dua tusuk daging giling (biasanya campuran sapi dan domba) ini dengan parutan bawang bombay dan rempah rahasia, lalu memanggangnya langsung di atas bara api. Teksturnya juicy.
- Tomat Panggang (Gojeh Farangi Kabaabi): Jangan protes dulu melihat kulitnya yang gosong eksotis! Justru di situ seninya. Bagian dalamnya lumer, manis, dan sedikit berasap, cocok sekali dihancurkan dan diaduk bersama nasi.
- Sayuran Segar & Acar: Di sisi kiri atas, ada irisan bawang bombay mentah segar, peterseli, jeruk lemon utuh untuk diperas di atas daging, dan semangkuk kecil acar kubis ungu (Torshi) yang memberikan plot twist rasa asam segar di tengah gurihnya daging.
Baca di sini semu tentang: IRAN
Merasa Seperti Sultan di Shabhaye Natanz Traditional Restaurant
Wadah Penyajian Makanan
Wadah Makanannya yang Epik Penyajiannya pun tidak main-main. Lupakan piring keramik putih polos! Seluruh hidangan ini ditata apik di atas sebuah piring oval berbahan logam.
Namun, yang membuat presentasinya naik kelas menjadi ala jamuan istana adalah alas di bawahnya. Piring oval tersebut diletakkan di atas Sini, yaitu nampan bundar raksasa berbahan tembaga dengan ukiran motif tradisional Persia yang sangat detail dan mewah.
Makan di atas nampan tembaga sebesar ini rasanya benar-benar seperti sedang menjadi tamu kehormatan saudagar jalur sutra. Suami saya saja sampai geleng-geleng kepala melihat porsinya, tapi toh tangannya sudah siap dengan sendok dan garpu. Kami yang niat awalnya slow travel, mendadak berubah jadi fast eating kalau hidangan di depan mata wujudnya seenak di Shabhaye Natanz Traditional Restaurant ini.
Nah, kalau saya tadi tergiur pesona daging panggang, atasan saya alias sang suami tercinta ternyata memilih rute yang—katanya sih—lebih “aman” untuk urusan tensi dan kolesterol di usia emas ini. Tapi begitu pesanannya datang, saya langsung tertawa. Aman apanya kalau porsinya sebesar ini dan digoreng garing sampai keemasan?!
Mahi Sorkh Shodeh

Menu pilihan suami saya ini adalah Mahi Sorkh Shodeh atau Ikan Goreng khas Persia. Sang koki membelah ikan air tawar (biasanya jenis Trout atau Ghezelala) ini lebar-lebar tepat di bagian tengahnya, membumbuinya tipis-tipis, lalu menggorengnya secara deep-fried sampai tekstur luarnya super renyah namun bagian dalamnya tetap lembut. Saat pelayan menyajikannya di atas piring logam berukir yang sama, ukurannya nyaris menutupi separuh wadah!
Sebagai pendamping, komposisinya tidak kalah ramai dari porsi Kebab saya:
- Saus Delima (Pomegranate Sauce): Coba perhatikan saset berwarna ungu di sebelah kanan itu. Ini bukan sembarang kecap, lho. Saus delima atau Rob-e Anar ini rasanya asam-manis pekat. Begitu kami mencocol potongan ikan goreng gurih ini ke dalam saus, lalu mengucurinya dengan perasan jeruk lemon… aduh, rasanya langsung pecah di mulut!
- Acar dan Sayuran Segar: Sama seperti piring saya, ada irisan bawang bombay mentah, seikat daun peterseli, acar mentimun (khiar shoor), dan tentu saja si acar kubis ungu yang warnanya mencolok banget di dalam mangkuk kotak oranye itu.
- Mentega: Di sebelah saus delima ada kemasan mentega kecil. Biasanya ini untuk diaduk ke dalam nasi panas (yang pastinya juga dia pesan terpisah).
Penutup yang Mengenyangkan
Melihat antusiasme suami menguliti daging ikan yang masih mengepul panas itu, saya cuma bisa senyum-senyum sendiri. Untuk dua orang lansia yang baru saja terbang belasan jam melintasi zona waktu, nafsu makan kami ternyata masih sangat prima, ya!
Perbedaan menu ini malah jadi ajang tukar-icip yang menyenangkan dengan sesama rombongan yang memans sudah akrab sejak dari tanah air. Sesekali garpu saya menyeberang mencomot ikan gorengnya, dan dia juga memotong sedikit koobideh saya. Perut kenyang, hati senang, dan bensin energi kami resmi penuh 100%.
Akhirnya kami Shabhaye Natanz Traditional Restaurant dengan perut kenyang. Abyaneh, bersiaplah, rombongan slow travel dari Serpong ini segera meluncur ke sana!
eviindrawanto.com
Baca juga:
