
Sebagai seseorang dengan lidah yang bisa diajak kompromi, akhirnya drama kuliner di luar negeri saya alami juga. Habis gimana lagi? Setelah dua minggu berturut-turut di Selandia Baru dicekoki fish and chips, meat pie khas Kiwi, dan aneka keju lumer, lidah Nusantara ini akhirnya mengibarkan bendera putih! Perut saya menuntut rempah, cabai, dan sepiring nasi hangat. Sobat JEI, pengalaman dalam post kali ini semacam pencarian jati diri lidah saya secara singkat. Mulai dari menikmati seni mural jalanan, menelusuri lorong komersial nan estetik, hingga akhirnya bahagia. Karena apa? Karena sukses cari makan Asia di Selandia Baru dan berlabuh memuaskan selera di Riverside Market Christchurch.
Jeda Estetik Menuju Riverside Market Christchurch
Kunjungan ke Riverside Market Christchurch ini lahir dari keluhan kecil saya pada sibungsu. Sudah bosan makanan lokal, kalau bisa yuk cari makanan Indonesia. Permintaan yang rada absurd tapi ditanggapi dengan serius oleh bapak muda itu.
Sebelum misi cari makan Asia di Selandia Baru ini dimulai, saya masih menyempatkan diri lihat-lihat barang-barang bagus di mall yang tak jauh dari sana. Seperti biasa, harganya terlalu mahal untuk dompet saya. Puas menikmati visualnya saja, akhirnya saya ajak rombongan melipilir saja ke luar, lebih baik menunaikan hajat utama yang sudah disepakati tadi, cari makan.
Keluar dan dari pelataran kawasan Cashel Street, bangunan pasar kuliner khas Crhischurch sudah di depan mata. Penandanya sebuah mural raksasa yang mencolok mata. Tembok bata bergambar fasad bangunan klasik itu memamerkan tulisan retro “Riverside Station Terminal”.
Ada juga kampanye sejarah bertuliskan “The White Ribbon”. Mural itu untuk merayakan momentum penting tahun 1893 saat Selandia Baru menjadi negara pertama di dunia yang memberikan hak pilih kepada perempuan, dipelopori oleh tokoh Kate Sheppard.
Pemandangan sekilas ini seolah jendela mesin waktu yang sejenak membawa saya melirik ke dalam sejarah NZ. Meski matahari bersinar, udara awal musim gugur yang sejuk membuat napas saya terasa segar. Sambil menunggu suami yang ke toilet, saya terus menyesap kepingan sejarah kota lewat mural itu dengan mengarahkan Google Camera kepadanya untuk mendapatkan informasi lainnya.
Menyusuri Lorong Sebelum Cari Makan Asia di Selandia Baru
Setelah puas merekam jejak visual bersejarah, kami melangkah menyeberangi jalan. Hanya beberapa jengkal, suasana langsung berubah drastis. Lorong semi-terbuka (laneway) dengan susunan jalan berbatu (cobblestone) melingkar menyambut kami riang. Rasanya persis seperti masuk ke sebuah bazar.
Bendera segitiga warna-warni membentang manis berlatar langit biru yang cerah. Di kiri-kanan, deretan kedai beraksen bata ekspos dan plang kayu bertuliskan “COFFEE” seolah memanggil ngajakin duduk.
Kawasan yang dibangun pasca-gempa bumi 2011 ini memang sengaja didesain lincah untuk menghidupkan kembali denyut nadi pusat kota. Banyak pengunjung duduk santai menikmati area outdoor yang tak jauh dari aliran Sungai Avon. Untuk saya, lorong ini sebenarnya tempat sempurna untuk memperlambat langkah. Menikmati secangkir kopi sambil mengamati orang lewat atau sekadar planga-plongo.
Namun, rombongan saya tidak punya waktu untuk itu. Apalagi perut yang keroncongan, aroma masakan di udara, waktu yang mepet malah mempercepat laju kaki agar cepat masuk ke dalamnya.
- Baca di sini tentang : Menyapa Musim Gugur di Ponsonby Central, Hari Pertama di Aukland
Pesona Inklusif Riverside Market Christchurch
Fasad pasar ini menampilkan perpaduan manis antara arsitektur industrial dan sentuhan klasik. Ada satu detail mungil yang langsung mengukir senyum di wajah saya. Tepat di atas pintu kaca otomatis, menggantung spanduk pelangi bertuliskan “RIVERPRIDE MARKET”.
Dekorasi ini sengaja dipasang untuk menyemarakkan Christchurch Pride yang rutin digelar setiap bulan Maret (kami di sini juga bulan Maret). Saya pikir, pesan itu menunjukkan betapa inklusif dan terbukanya kota ini bagi siapa saja.
Begitu pintu otomatis bergeser, wushhh… embusan udara AC langsung mengantarkan harmoni aroma rempah dan kopi panggang. Pendar cahaya kekuningan menyambut dengan riang. Lantai ubin vintage, instalasi bunga kering rustic di langit-langit, dan lautan manusia menciptakan nuansa kehidupan lokal.
Pasar ini beroperasi tujuh hari seminggu ini. Kalau hari biasa saja begitu ramai, benaran klaimnya sebagai jantung kuliner kota yang berdetak kencang.
Akhir Drama Kuliner di Luar Negeri – Masakan Tetangga Pun Jadi!

Di tengah lautan puluhan kedai, mata saya menajam bak radar. Saya memindai setiap sudut demi secercah harapan bertuliskan “Warung Padang”. Sayangnya, pencarian masakan ibu pertiwi berujung nihil. Akhirnya memang ketemu sih, tapi setelah kami kenyang.
Untuk pencarian awal saya berhentidi depan kedai neon merah “Thai Bites” dan sebuah stan masakan Malaysia.
Tapi saya memilih Malaysia. Karena papan menunya menggoda dengan brutal: Spicy Laksa Noodles, dan sate!
Yah begitu lah tampaknya. Imigran Asia Tenggara banyak membawa kekayaan otentik dapur mereka ke kancah kuliner Selandia Baru. Tak heran sajian mereka langsung lekat di mata saya.
Pepatah lama tak pernah salah. Tak ada masakan Indonesia, masakan negara tetangga pun mari kita sikat! Demi meredam rindu dendam di ubun-ubun, rasa persaudaraan serumpun langsung bergejolak kuat, membawa saya ke depan kasir.
Misi Penyelamatan Lidah di Mezzanine Riverside Market Christchurch

Tantangan selanjutnya tentu saja mencari tempat duduk. Mendapat meja kosong di lantai bawah saat jam makan siang rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kami segera mengevakuasi diri ke lantai atas dekat area Riverside Kitchen.
Bagi kaki lansia, menapaki tangga kayu industrial ini butuh keseimbangan ekstra. Membawa nampan berisi laksa penuh kuah bukan tugas ringan. Beruntungnya, atasan sekaligus teman perjalanan 24 jam saya sigap mengambil alih tugas mulia tersebut.
Sesampainya di area mezzanine, rasa lelah sirna seketika. Saya langsung mengeksekusi seporsi Pad Thai gurih manis. Suami memilih jalur medhok dengan semangkuk Laksa bersantan pedas. Sekali sruput, rindu rumah langsung terbayar lunas! Niat awal makan santai sambil berpose estetik seketika ambyar tergoda wangi rempah.
Menikmati Momen Penutup di Riverside Market Christchurch

Setelah perut kenyang, saya mengambil jeda di tepi pagar mezzanine. Pemandangan bird’s-eye view dari lantai atas ini sungguh menawan. Lampu-lampu gantung dari anyaman rotan raksasa memancarkan rona kehangatan.
Cahayanya menyinari lebih dari 30 stan makanan lokal di bawahnya, termasuk kedai roti artisan ‘Bellbird’ yang estetik. Mengamati arus pengunjung yang mengantre pesanan atau tertawa lepas bersama memberi kepuasan batin tersendiri.
Semuanya bergerak dinamis dalam ritme kota yang hidup namun tetap rileks. Menemukan seporsi rasa rumah sekaligus mengamati keseharian warga lokal benar-benar menyempurnakan pengalaman hari itu. Sekarang, mari kita turun perlahan. Masih banyak pesona indah Selandia Baru yang menanti untuk kita jelajahi!
eviindrawanto.com
Baca juga:
