
Jargon-jargon pergaulan dari masa ke masa bagaikan bumbu penyedap dalam mangkuk percakapan kita sehari-hari. Terkadang membuat rapat relasi sosial, tapi gak sedikit pula salah sasaran.
Halo, Sobat JEI! Pernahkah lidahmu kelu, kesulitan menemukan kata baku untuk mewakili isi hati yang sedang campur aduk? Dalam tulisan ini adalah ringkasan evolusi bahasa gaul yang sudah saya lewati (gak perlu sebut umur lah :)) . Mulai dari sandi prokem jadul, fenomena “sesuatu banget”, hingga tren FOMO masa kini.
Nah mari kita cari tahu mengapa istilah-istilah ajaib terus lahir dan merasuki bibir kita secara pribadi dan masyarakat secara umum. Yuk mari ikuti saya dengan membaca sampai ke bawah.
Jargon-Jargon Pergaulan dari Masa ke Masa dan Makna Rahasianya
Jargon sejatinya melambangkan istilah khusus pada suatu komunitas. Istilah ini tumbuh subur mengakar di dalamnya. Orang luar sering kali mengerutkan kening saat tak sengaja mendengarnya. Seperti saya mendengar atau membaca “Bucin” pertama kali, perlu bertanya di internet baru tahu jawabannya.
Jargon-jargon yang kita gunakan saat ini lahir dari bahasa slang. Menurut berbagai riset sosiolinguistik, bahasa slang memiliki fungsi ganda yang sangat keren. Ia bekerja sebagai kartu identitas kelompok, sekaligus membangun tembok pembatas bagi mereka yang berada di luar sirkel.
Jadi maklum ya, saya yang remaja di jaman Ali Topan (baby boomer) , gak ngerti apa itu YGY, bahasa gaulnya Gen Z.
Jadi teman-teman maklum kan ya jika bahasa membuktikan dirinya sebagai alat pemersatu yang sangat sakti. Sifatnya cair, dinamis, dan terus berevolusi merespons denyut nadi peradaban manusia.
Dekade 80-an hingga 2000-an: Embrio Jargon Pergaulan dari Masa ke Masa
Mari kita putar jarum jam sedikit ke belakang. Boleh di bilang ke era masa-masa “galau” saya alias masa remaja.
Dekade 80-an hingga 90-an menorehkan sejarah sebagai masa keemasan “Bahasa Prokem”. Anak nongkrong jalanan Jakarta (okem) menyisipkan partikel ‘ok’ pada kata dasar. Kata ‘Bapak’, misalnya, menjelma menjadi ‘Bokap’. Jadi kalau ada yang manggil ‘Nyokap’ saya pun tahu kemana panggilan itu di alamatkan.
Memasuki era 2000-an, televisi dan kemunculan internet awal mengubah arah permainan bahasa. Dari milis-milis yang di gagas Yahoogroups, saya mulai bersentuhan dengan istilah Lebay untuk menilai reaksi yang terlalu berlebihan. Ada pula Alay bagi gaya yang dianggap norak, Jayus untuk candaan hambar yang gagal lucu, hingga Kuper bagi mereka yang kurang pergaulan.
Jargon era ini ibarat puisi jalanan. Saya perlu membiasakan diri untuk mengerti sepenuhnya. Yang jelas, kata-katanya terucap itu santai dan sukses merekam semangat kebebasan anak muda pada zamannya.
Demam Singkatan pada Jargon-Jargon Pergaulan Era 2010-an
Saya sudah mulai berumah tangga dan punya anak di era 2010-an. Jadi saya adalah salah satu saksi dari ledakan masif media sosial seperti Facebook, Twitter (X kalau sekarang) dan Line. Jargon seketika bergeser wujud menjadi singkatan-singkatan ringkas agar jari lebih cepat mengetik.
Selain itu Twitter yang punya keterbatasan tulisan. Begitu pesan singkat SMS juga sangat terbatas karakternya. Demi berhemat orang menyingkat segalanya, sampai pusing kepala saya yang mencoba memahaminya.
Sobat JEI pasti sangat akrab dengan kata Mager (malas gerak) saat tubuh memberontak menolak beranjak dari kasur. Lalu, perasaan Gabut menyerang ketika kebingungan melanda tanpa satupun kegiatan bermakna.
Di ranah percintaan, lahir spesies Bucin (budak cinta) yang rela mengorbankan logika demi pasangan. Dunia maya juga melahirkan aksi Pansos (panjat sosial) dari oknum yang haus popularitas instan.
“Sesuatu Banget” dalam Lintasan Jargon-Jargon Pergaulan dari Masa ke Masa
Saya juga ingat, di tengah gempuran singkatan tersebut, penyanyi Syahrini meledakkan satu frasa ikonik: “sesuatu banget deh!”. Frasa ini nyaris setiap detik melintas di linimasa jejaring sosial saya hingga obrolan luring dan offline.
Kajian psikologi komunikasi membedah fenomena viral semacam ini sebagai bentuk resonansi emosi massal. Syahrini mungkin tengah mencecap pengalaman batin yang teramat unik, sehingga ia gagal menemukan padanan kata baku yang pas untuk memuaskan wartawan. Frasa ini meledak karena simpel, sedikit jenaka, dan sangat serbaguna merespons berbagai kejadian.
Hal serupa terjadi pada kata Galau. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sering kali kehabisan kata saat benci dan rindu melebur lekat. Anak muda akhirnya menetaskan kata galau dan Baper (bawa perasaan) untuk mendeskripsikan benang kusut di dalam hati mereka.
Baca juga:
Jargon-Jargon Pergaulan di Era Gen Z
Memasuki gerbang tahun 2020-an, perpaduan kultur internet global dan platform seperti TikTok kembali menetaskan kosa kata baru. Generasi Z mengambil alih kemudi bahasa. Nah saya merasa amat ketinggalan di sini. Untung internet buka 24 jam, sehingga saya bisa langsung bertanya jika mentok ke bahasa planet.
Kalau bersilancar sekarang, saya pasti diterpa kecemasan FOMO (takut tertinggal tren). Saya harus menjerit TBL (takut banget loh) saat merespons kejutan dunia maya. Tak lupa menyematkan YGY (ya gaes ya) di akhir kalimat sebagai penegas rasa, biar cucu saya lebih mengerti hahahaha…
Bahkan pilihan gaya hidup dan selera musik kini terangkum dalam istilah Skena. Sementara itu, karakter manusia dalam menjalin hubungan ditelanjangi lewat radar Red Flag (tanda bahaya) dan Green Flag (tanda aman).
Merayakan Kemerdekaan Perasaan Lewat Bahasa Gaul
Yah begitu lah menariknya bahasa pergaulan yang hidup di tengah relasi sosial kita. Pernahkah kamu mojok menangis tersedu-sedu, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak sendirian? Padahal kamu belum pantas mendapat gelar gila? Saya pernah punya pengalaman absurd itu, ketika baru patah hati tapi dapat hadiah menarik dari ibu. Nah perasaan penuh warna ini paling cocok menyandang predikat “sesuatu banget deh”, ya kan?
Karena ya teman-teman, menjawab “aku tak tahu apa yang kurasakan” kurang elegan, malah terdengar menyedihkan, bukan? Emang sih kita bisa menilai perilaku sosial manusia secara hitam putih, baik atau buruk. Tapi perasaan? Tak semudah itu. Ranah perasaan selalu memegang aturannya sendiri, yang tidak bisa dijelaskan secara hitam-putih.
Bagusnya kita punya bahasa slang, bahasa pergaulan seperti di atas. Dari sana kita lihta Tuhan menganugerahkan padang kemerdekaan tanpa batas di dalam hati kita. Bayangkan betapa mencekiknya hidup jika kita harus menundukkan perasaan pada bahasa dalam kamus Bahasa Indonesia.
Jadi, jika selama letupan jiwa itu tak melukai orang lain, biarkan ia mekar menjadi rahasia manismu. Jargon-jargon pergaulan datang untuk memerdekakan lidah kita dari sumbatan yang tak bisa dijelaskan.
eviindrawanto.com
