Awal Mengenal Diri Sendiri Lewat Test Kepribadian
Siapa yang bisa menyangka, mengenal diri sendiri lewat test kepribadian membuahkan hasil yang mengejutkan? Setidaknya saya pernah mengalaminya.

Padahal, untuk seseorang yang sudah mencapai usia emas, ketidaktahuan tentang diri sendiri terdengar menggelikan, bukan? Bahkan, rasanya ingin teriak seperti gen Z, “Ke laut saja deh lu!”. Sudah tua kok ya gak kenal diri sendiri juga?
Tapi memang begitu lah. Ilmu psikologi selalu menyimpan kejutan, terutama saat diterapkan pada diri sendiri. Ini semua berawal dari iseng-iseng berselancar mencari kuis kepribadian gratis di internet. Tak disangkat saya menemukan jabaran spektrum kepribadian sendiri yang membuat saya lama tercenung.
Ternyata, hasil tes ini menyadarkan bahwa saya belum sepenuhnya paham siapa diri saya.
Halo, Sobat JEI! Rupanya ilmu psikologi menjelaskan fenomena keterkejutan saya ini melalui konsep Johari Window. Bawa setiap manusia selalu memiliki Blind Spot alias area buta kepribadian sediri, dan hanya akan tampak lewat alat ukur yang objektif.
Hasil kuis tersebut membongkar beberapa fakta lucu tentang keseharian saya
- Pertama, kemampuan mengingat saya ternyata amat buruk.
- Kedua, saya suka bermimpi. Tetapi, saya kerap menganggap mimpi itu tidak penting untuk saya raih.
- Selanjutnya, yang paling menohok, saya menyukai mukjizat. Sayangnya, saya selalu membiarkan rasionalitas mensabotase mukjizat tersebut.
Memang benar, hidup di dunia bertekanan tinggi terasa hampa tanpa kehadiran keajaiban. Apalagi, saya sebenarnya mengantongi banyak jejak mukjizat kecil di sepanjang koridor kehidupan.
Lantas, mengapa saya sulit mempercayai mukjizat besar? Misalnya, berharap bank memberi hadiah undian rumah mewah. Secara otomatis, otak saya langsung berbisik sinis, “Jangan mimpi deh!”.
Akibatnya, si otak merusak hasil kerjanya sendiri. Padahal, setiap mukjizat selalu berawal dari sebuah keyakinan utuh.
Pakar psikologi menjelaskan pola pertahanan ini sebagai Defensive Pessimism. Rupanya, saya sengaja menurunkan ekspektasi serendah mungkin untuk melindungi hati dari perihnya kegagalan.
Sabotase Alam Bawah Sadar dan Trauma Masa Lalu.
Setelah itu, saya menemukan artikel menarik lain tentang mengapa otak gemar melakukan sabotase.
Ternyata, kebiasaan bermimpi besar tapi takut mengakuinya berakar kuat dari masa lalu. Hal ini terjadi karena otak pernah merekam sebuah jejak trauma.
Misalnya, sebuah kekecewaan mendalam yang diam-diam otak simpan di dalam alam bawah sadar. Sewaktu-waktu, sistem memori memanggil kembali pengalaman kelam itu. Tujuannya tentu saja untuk melindungi diri kita dari luka yang sama.
Sayangnya, perlindungan berlebihan ini justru memenjarakan nyali kita. Rupanya, ketakutan akan rasa kecewalah yang membungkam saya.
Ya, saya jadi tak berani menanti mukjizat besar. What a coward! Menurut riset neurosains modern, area Amigdala di otak kita berfungsi sebagai alarm ancaman emosional. Jadi, ketika harapan besar muncul, amigdala seketika membunyikan sirene bahaya berdasarkan data trauma masa lalu.
Peran Otak Kiri, Antara Logika dan Martabak Telor
Kemungkinan lainnya, sabotase ini terjadi karena saya masuk ke dalam kelompok vertebrata dominan otak kiri. Secara saintifik, otak manusia mengalami evolusi yang sangat menakjubkan selama 4,5 juta tahun. Walaupun beratnya hanya 2% dari total beban tubuh, organ ini sungguh rakus mengonsumsi 20% suplai oksigen kita.
Sejatinya, otak kiri memang lebih jago dalam urusan analisa ketimbang kerja imajinasi bebas. Dengan kata lain, saya lebih pintar mengurung fakta di dalam kepala daripada merangkainya menjadi ide gila.
Contoh sederhananya begini. Kalau saya melihat seekor bebek berenang di kolam, otak saya langsung bekerja taktis. Seketika, bebek itu berubah wujud menjadi bebek panggang, gulai bebek cabe hijau, atau telur bebek pelengkap martabak spesial.
Sebaliknya, teman-teman berotak kanan akan menerbangkan bebek itu ke berbagai konsep absurd. Bahkan, mereka bisa menghubungkan seekor bebek dengan gedung pencakar langit. Mengapa tidak? Pemilik gedung raksasa itu mungkin merintis karir kekayaannya dari berjualan telur bebek asin.
Faktanya, teori lateralisasi otak dari pemenang Nobel, Roger Sperry, membuktikan bahwa otak kiri memang memproses informasi secara logis dan linear, menolak segala bentuk kejutan tak masuk akal.
Memberdayakan Diri Sendiri Mulai Dari Sini
Pada akhirnya, siapa di antara Sobat JEI yang berminat beternak bebek demi membeli gedung pencakar langit? Silakan saja mencobanya!
Bagi saya, mengenal diri sendiri lewat test kepribadian berhasil membuka pintu kesadaran yang sangat segar. Meskipun otak kiri saya dominan dan kerap menolak keajaiban tak logis, saya enggan menyerah pada ketakutan.
Kini, saya memahami cara kerja pikiran rasional saya sendiri. Kesimpulannya, langkah terbaik sekarang adalah bergegas memberdayakan diri sendiri. Mari kita rawat mimpi-mimpi kecil kita dengan tekun. Sembari itu, kita bisa sesekali menantang si amigdala untuk mempercayai mukjizat yang jauh lebih besar.
Mengenal diri sendiri lewat test kepribadian ternyata banyak juga gunanya. Bukankah hidup terlalu garing jika kita terus-menerus merasionalisasi sebuah harapan?
@eviindrawanto2026
Baca juga:
