Pernahkah terlintas di benak Sobat JEI bahwa kita harus hati-hati dengan informasi yang akan mendikte kita setiap harinya? Awalnya, saya juga sering merenung mengenai hal ini. Apa sebenarnya makna pikiran yang didikte itu? Singkatnya, ini merupakan pertanda bahwa isi kepala kita tidak sungguh-sungguh independen. Pikiran kita sering tidak orisinal. Sering kali, kita hanya menjadi pembeo manis dari narasi dunia.

Mengapa Harus Hati-Hati dengan Informasi yang Akan Mendikte Kita?
Mari kita telisik kisah lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Sejagat raya kompak memuja sosok ini sebagai wanita paling menawan. Senyum misteriusnya memegang gelar termanis sedunia. Akibatnya, orang rajin menciptakan frasa puitis seperti “cantik bak Monalisa”.
Namun, sejujurnya saya hanya melihat karya itu dari kejauhan melalui lensa media. Mata saya gagal menemukan kelebihan magis Monalisa jika kita sandingkan dengan Paris Hilton. Kecuali dadanya yang lebih berisi, keduanya sekadar enak dilihat.
Bedanya, sejarah terus melestarikan pujian untuk Monalisa. Sementara pesona Paris Hilton? Sepertinya akan segera menguap dari ingatan sejarah.
Kasus Monalisa dan Ilusi Psikologis
Mengapa dua wanita ini memiliki level legenda yang jauh berbeda? Jawaban ilmiahnya terletak pada Mere-Exposure Effect. Riset psikologi kognitif membuktikan bahwa manusia cenderung menyukai sesuatu akibat paparan stimulus yang berulang-ulang.
Selama ratusan tahun, buku, koran, hingga internet terus menjejalkan narasi keagungan senyum misterius tersebut. Akibatnya, saat kita ikut memujinya hari ini, kita sekadar melakukan pengaminan kolektif.
Jadi, kecantikan Monalisa dalam benak kita tidak lagi murni dari penilaian diri. Pikiran kita tidak independen karena kebenaran telah disuapkan dari luar.
Lady Di, Kate Moss, dan Bias Realitas
Contoh menggelitik lainnya muncul pada sosok the queen of people’s heart, Putri Diana. Publik menobatkannya sebagai perempuan luar biasa cantik. Dalam hati kecil, saya sering berkomentar jail. Jauh lebih cantik Kate Moss, atuh! Namun, jika kita menyandingkan keduanya di tengah panggung dunia, Lady Di pasti memborong lebih banyak piala pujian.
Sebabnya? Daya tarik utama Lady Di berakar dari status sosialnya sebagai anggota Kerajaan Inggris. Media massa selalu mengejar dan mengemas narasi hidupnya dengan apik.
Halo Effect dalam dunia psikologi dan bisnis menjelaskan fenomena ini dengan sempurna. Satu sifat positif yang mencolok (status bangsawan) membuat publik menilai aspek lain (fisik) secara berlebihan. Jadi, siapa berani menuduh hidungnya kurang proporsional atau senyum malunya tampak fake? Publik pasti langsung mencapnya sok cakep atau bermata picek!
Hati-Hati dengan Informasi yang Akan Mendikte Kita Menjadi Kebenaran Mutlak
Informasi repetitif ini lambat laun berubah menjadi kacamata batin kita. Melalui lensa itulah kita menerjemahkan dunia. Sayangnya, informasi yang dijejalkan secara brutal perlahan menyamar menjadi kebenaran mutlak. Semakin banyak pengikutnya, semakin absolut pula ilusi itu.
Illusory Truth Effect menjelaskan bahwa otak kita akan kesulitan membedakan fakta dan fiksi jika terus mendengar suatu klaim secara berulang. Oleh karena itu, terkadang perut saya merasa agak eneq melihat orang yang bersikukuh paling benar sendiri. Padahal, kebenaran yang mereka yakini mati-matian itu mungkin cuma hasil suapan narasi dari luar belaka.
Pada akhirnya, Sobat JEI, kita harus pandai menyaring apa pun yang masuk ke telinga dan mata. Kita wajib hati-hati dengan informasi yang akan mendikte kita. Mari bebaskan pikiran dari penjara opini publik. Jadilah independen dan berani melihat dunia dengan lensa orisinal kita sendiri. Karena sungguh, senyum merdeka kita jauh lebih menawan daripada senyum beku di atas kanvas tua.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
