Pernahkah Sobat JEI merasakan sejuknya perkebunan kopi sambil menikmati hidangan lezat? Saya menemukannya saat Menikmati makan siang di Kampoeng Kopi Banaran yang terletak di Jl. Raya Bawen – Solo KM 1,5, Gentong, Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Rombongan kami tiba di tempat ini dalam perjalanan dari Ambarawa menuju Yogyakarta, pada suatu siang yang cerah.

Menikmati Makan Siang di Kampoeng Kopi Banaran yang Asri
Sebenarnya ini adalah kunjungan ke-2. Kunjungan pertama 2016, seperti tertulis di Google Reviews saya, hahaha sudah lama sekali ya. Memang sudah saatnya mampir kembali, selain menciptakan memori baru, juga ingin tahu kondisi terkini dari Kampoeng Kopi Banaran ini.
Begitu Bus yang saya tumpangi memasuki kawasan, ada sedikit debar aneh di dada. Memori bahagia saat si sulung internship di Semarang turut mempengaruhi perasaan saya siang itu. Tapi dari sekilas pandang lewat jendela bus, sepertinya ada sedikit perbedaan. Saat saya konfirmasi ke suami apa perbedaannya, menurutnya ada sedikit perbedaan pada fasadnya. Juga sudah tidak ada papan nama “Kampoeng Kopi Banaran Cafe and Resto” di bagian muka resto yang dulu dominan warna hijau.
Tapi apa yang tetap pada kesan pertama begitu saya menginjakkan kaki di sini? Pemandangan yang memanjakan mata dengan warna hijau dan pepohonan kopi. Gerbang besar dengan tanda oranye khas yang berkarat masih sama.
Kawasan agrowisata yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX ini membentang luas sekitar 400 hektar di kawasan Bawen. Kalau masuk lebih ke dalam lagi, kita akan bertemu dengan beberapa resto dan cafe lagi, juga tempat penginapan.
Sebuah sangkar burung raksasa dari kawat putih tampak cantik bertengger di kejauhan. Sinar matahari siang tak lagi terasa menyengat kulit. Cahayanya justru malu-malu menyusup di antara rimbunnya daun pohon-pohon raksasa.
Bahkan, beberapa pendopo kecil dan ayunan putih dari kejauhan sempat menggoda saya untuk mencoba dan bikin foto-foto estetik. Tapi suami mengingatkan bahwa makan siang di sini kami ikut rombongan, gak bisa sesuka hati mengambil waktu. Apa lagi perjalanan masih harus diteruskan ke Jogja. Ya sudah, dengan patuh saya mengurungkan niat tersebut.
Teduhnya Menikmati Makan Siang di Kampoeng Kopi Banaran

Kami akhirnya tiba di titik peristirahatan utama. Rombongan berjalan melewati sebuah bangunan megah berdinding bata merah. Pintu kayu jati berukir khas Jawa terbuka sangat lebar menyambut kami. Di baliknya, sebuah koridor dengan sofa-sofa empuk tampak mengundang untuk diduduki.
Di dalam ruangan bergaya khas Jawa itu ternyata sudah banyak pelanggan juga yang mengisi meja. Tapi rombongan saya lebih suka berjalan terus keluar dari ruang utama dan menuju taman di belakang bangunan. Di sini pemandangan luas kembali menghibur mata dan hati.
Kami lebih suka suasana yang menyatu dengan alam. Kami memilih sebuah pendopo atau joglo besar di tepi taman. Arsitektur Joglo ini sangat kental merepresentasikan filosofi Jawa tentang keterbukaan dan harmoni bersama alam. Atap genteng tanah liat dan penyangga tiang kayu jati membuat suasana terasa sangat homey.
Anggrek-anggrek ungu menggantung cantik menghiasi tiang bangunan. Selanjutnya, taman kecil yang mengelilingi pendopo ini mengunci pesona alam dengan sangat sempurna.
Setelah selesai dari toilet, saya mengikuti teman-teman berjalan menyusuri jalan setapak yang sangat rapi menuju pendopo tersebut. Tak lupa menikmati pesona bunga krisan dan aneka tanaman hias berbaris bak prajurit menyapa dengan ceria.
Keakraban dalam Balutan Alam

Rombongan memang tidak salah pilih tempat duduk. Suasana pendopo ini memancarkan aura ramah seperti di kampung nenek. Pemandangan kebun yang rimbun, meja panjang dan kursi yang siap diduduki, lumayan menambah meriah obrolan menjelang menikmati makan siang di Kampoeng Kopi Banaran ini.
Di gazebo lain juga tampak pengunjung asyik menikmati waktu mereka, mungkin sambil makan juga asik melempar canda satu sama lain seperti kami. Yang jelas, semuanya membaur dalam frekuensi menikmati suasana kebun yang hijau.
Ohya, secara psikologis, berada di ruang terbuka hijau seperti ini memang terbukti ampuh menurunkan hormon stres atau kortisol lho!
Jadi kami terus saling melempar jokes receh, duduk sangat rileks di bangku kayu yang solid, dan mengamati buku menu yang disodorkan petugas.
Pesona Kebun Kopi Robusta

Jika dari tempat parkir pertama, teman-teman meneruskan langkah lebih ke dalam di taman belakang itu, suasana berubah menjadi makin teduh. Udara sejuk perlahan membelai wajah. Kalian bisa melintasi deretan pohon kopi yang daunnya sangat lebat. Nuansa perkebunan yang aktif berproduksi sangat terasa mendominasi tempat ini.
Sebagai informasi tambahan, kebun Banaran ini sangat terkenal dengan kopi jenis Robusta yang tumbuh subur di elevasi 480 hingga 600 meter di atas permukaan laut.
Saya bahkan melihat beberapa batang pohon diikat dengan tali khusus. Pemandangan ini membuktikan area ini bukan sekadar taman buatan semata. Ini adalah lahan perkebunan kopi sungguhan yang terus berproduksi.
Oleh karena itu, menghirup udara di sini benar-benar memberikan jeda paripurna. Paru-paru rasanya seperti baru saja di-restart ulang dari pekatnya udara AC di dalam bus tadi.
Pilihan Menu Nusantara yang Menggugah Selera
Buku menu yang disodorkan kepada saya ternyata menawarkan pilihan yang sangat beragam. Rata-rata didominasi oleh masakan khas Nusantara; mulai dari aneka nasi goreng, soto, olahan ikan, ayam bakar, hingga berbagai camilan tradisional.
Tentu saja, karena ini di area perkebunan, aneka racikan kopi dari Perkebunan Kopi Banaran jadi bintang utamanya.
Pilihan Saya: Ayam Madu Khas Banaran

Dari sekian banyak godaan di buku menu, pilihan saya akhirnya jatuh pada Ayam Madu khas Banaran.
Begitu pesanan datang, tampilannya lumayan juga! Sepotong ayam berukuran lumayan besar disajikan cantik di atas alas daun pisang segar. Bumbu madunya tampak pekat, gelap, dan mengkilap membalut seluruh permukaan ayam, menjanjikan rasa manis dan gurih yang meresap.
Sebagai sentuhan akhir, taburan irisan bawang bombay mentah dan potongan cabai merah besar diletakkan di atasnya, memberikan kontras warna yang cantik.
Di sisi piring, tak lupa disematkan lalapan segar berupa irisan tipis kol, serutan wortel, potongan mentimun tebal, dan selada hijau yang renyah. Porsi yang sangat pas untuk dinikmati perlahan dengan sedikit nasi.
Pilihan Suami: Rawon dan Es Beras Kencur
Sementara itu, suami saya memilih hidangan berkuah yang kaya rempah, yaitu seporsi Rawon. Pesanannya datang dalam mangkuk keramik putih bertuliskan logo oranye “Banaran”. Kuah rawonnya terlihat sangat hitam legit khas kluwek yang pekat, dengan taburan kecambah (tauge pendek) segar yang melimpah menutupi permukaannya.
Di piring kecil terpisah, tampak pendamping wajibnya: kerupuk udang yang renyah dan sesendok sambal.
Untuk melegakan dahaga, suami saya memilih minuman tradisional berupa segelas es beras kencur. Warnanya cokelat muda yang keruh khas perasan jamu, disajikan dingin dengan tumpukan es batu yang menyegarkan.
Tadinya saya agak skeptis melihat perpaduan minuman dan kuah rawon yang gurih hangat ini. Beras kencur itu kan masuk jejamuan ya, minuman herbal. Tapi karena ada tambahan kesegaran berpadu es beras kencur, ya gak aneh banget lah rasanya.
Penutup
Menikmati makan siang di Kampoeng Kopi Banaran ini, untuk saya jelas bukan sekadar urusan mengisi. Ada nostalgia di dalamnya. Ditambah lagi, pengalaman ini semacam mencoba menyesap kearifan lokal dari sebuah perkebunan kopi yang sudah berdiri sejak era kolonial Belanda, dan jadi Kawasan Agrowisata sejak tahun 2002. Kalau teman-teman lewat di Bawen, bisa juga mampir ke sini. Istirahat sejenak, menikmati hidadangan nusantara diantara rimbunnya pepohonan kopi robusta.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
