Mengenal makanan sulawesi ternyata bisa kita lakukan tanpa harus terbang melintasi lautan, Sobat JEI. Cukup dengan menelusuri cerita dari festival kuliner serpong ini, kita sudah bisa merasakan deburan ombak Pantai Losari lewat sepiring hidangan.
Pada tulisan kali ini, kita akan merangkum petualangan menjelajahi eksotisme kuliner “Nyamanna’ … Pe Sadap…” yang sangat menggugah selera. Kita akan membahas kemegahan rumah Tongkonan, keriaan antrean makanan lokal, hingga bagaimana sebuah festival sukses merawat identitas budaya bangsa.
Cerita dari Festival Kuliner Serpong yang Selalu Dinanti
Sobat JEI, Summarecon Mal Serpong memang punya taktik jitu merayakan keragaman Nusantara. Sejak 2011, mereka rutin menghadirkan etalase rasa daerah. Saya sempat menitipkan jejak pada keriaan Beauty of Bali, mengecap rindu di Minang nan Rancak (2012), hingga mampir di Jawa sing Ngangeni (2013).
Nah, saat baliho raksasa bertema Sulawesi berkibar di jalan tol terpantau di mata saya, radar wisata kuliner saya langsung menyala.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mbak Haya mengirimi saya undangan Blogger Preview. Maka, pada sore yang merona, wisata lidah ini resmi dimulai.
Baru tiba di gerbang, replika rumah adat Tongkonan berdiri gagah menyambut. Lengkap dengan ornamen kepala kerbau alias kabongo yang secara adat melambangkan strata dan kemakmuran keluarga.
Rasanya sungguh dramatis, seperti tiba-tiba terlempar ke tengah pesta adat Rambu Solo, padahal nyata-nyatanya saya masih berdiri di tengah hiruk-pikuk Serpong.
Mengapa Mengenal Makanan Sulawesi Begitu Penting?

Indonesia ini teramat luas, kawan. Cara paling ampuh untuk memeluk perbedaan budaya adalah lewat lambung. Mobilitas dan urbanisasi membawa jutaan perantau ke tempat baru. Mereka mungkin lincah beradaptasi dengan ritme ibu kota, tapi urusan lidah jelas beda cerita.
Orang Manado yang lidahnya terkalibrasi dengan sensasi asam segar lemon cui dan pedasnya rica-rica, pasti butuh waktu panjang untuk akrab dengan manisnya gudeg Yogyakarta.
Memasak resep warisan leluhur adalah penawar rindu paling manjur. Kawasan Tangerang sendiri kini mekar bagai cendawan di musim hujan. Perumahan dan pusat bisnis menyulap kota ini menjadi melting pot raksasa tempat berbagai suku berkumpul.
Menghadirkan panggung masakan daerah di tengah masyarakat multikultural merupakan diplomasi gastronomi lokal yang luar biasa cerdas. Setiap tahun, acara ini berhasil menarik keramaian, memanjakan lidah, sekaligus mengobati rasa rindu para pendatang akan sajian Nusantara yang sangat beragam.
Kapal Pinisi dan Kemudahan Bertransaksi
Sambil asyik mengunyah, mata pengunjung dihibur oleh kemegahan panggung utama berbentuk Kapal Pinisi. Tahukah Sobat JEI, tradisi pembuatan kapal Pinisi dari Bulukumba ini sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia? Berdiri berlatar mahakarya maritim ini membuat suasana makan terasa makin magis.
Urusan jajan pun sangat modern. Kita wajib memakai kartu transaksi khusus. Kita tinggal mengisi saldo, menempelkan kartu di kasir, dan pesanan siap diracik. Jika saldo masih tersisa, uang kita bisa kembali utuh. Sistem ini sangat praktis memotong rantai antrean agar tidak tumpah ruah menutupi wajan panas bapak penjual.
Berburu Tenun Bugis dan Makanan Khas
Langkah kaki saya berlabuh ke area suvenir. Berbagai produk UKM Nusantara tampil memikat hati. Ada camilan ringan hingga selembar kain tenun sutra Bugis dari Sengkang yang legendaris. Sutra ini terkenal dengan warnanya yang berani dan motif geometris yang di masa lampau menyimbolkan status sosial. Saya akhirnya membungkus kain bernuansa oranye dan merah muda seharga 50 ribuan. Lumayan cantik untuk saya sulap menjadi rok santai.
Meski niat awal ingin mengenal makanan sulawesi, perut ini rupanya tetap terbuka pada kerinduan lain. Buktinya, Sate Padang Mak Syukur dan Martabak Medan tetap kokoh berdiri menggoda iman. Fokus utama malam itu tentu tertuju pada deretan es palu butung dan coto yang antreannya mengular manis. Saya dan Mbak Lidya Fitrian bahkan harus mundur teratur dari beberapa stan karena antreannya kelewat epik. Jelas, kita butuh napas panjang untuk berburu kuliner di akhir pekan!
Merawat Identitas Bangsa Lewat Sejumput Rasa
Perut sudah mendendangkan lagu kenyang, canda tawa bersama kawan blogger sudah tunai, dan rindu kampung halaman sedikit terbasuh. Menjelang pukul sembilan malam, kami perlahan beranjak pamit. Setiap langkah keluar gerbang meninggalkan cerita dari festival kuliner serpong yang membekas di hati.
Setiap dari kita nyatanya bisa berkontribusi menjaga napas budaya bangsa. Tak peduli besar atau kecil wujudnya. Pihak mal menyediakan panggung megah, para pedagang menjaga otentisitas resep leluhur, sementara kita membagikan energi positif ini lewat tulisan. Semuanya berpadu manis dan menghangatkan jiwa, senikmat seruputan kuah pallubasa di tengah angin malam.
Foto-foto dari Festival Kuliner Serpong Tema Sulawesi



@eviindrawanto
