Menghabiskan sore berwarna di Pasar Baru Bandungan, sebuah pasar tradisional yang apik adalah keputusan rombongan saya untuk melihat dari dekat hasil pertanian dari kawasan Ungaran yang sejuk itu.

Halo Sobat JEI! Apakah kamu pernah sampai ke suatu tempat lalu disambut aroma bunga sedap malam? Ini lah pengalaman saya setelah puas eksplorasi wisata Eling Bening di kawasan Rawa Pening, Ambarawa, lalu merapat ke sini.
Ceritanya pada long weeken kemarin beberapa orang tetangga memutuskan untuk piknik ke Jawa Tengah. Tujuan kami adalah Semarang dan Yogyakarta. Setelah panitia sibuk aduk rencana destinasi, pada subuh di hari yang telah ditentukan, berangkat lah kami dengan sebuah bus wisata sebanyak 26 orang.
Untuk perjalanan wisata kali ini cukup menyenangkan. Bus lega dengan area kaki yang cukup lapang. Karena yang berangkat hanya 26 orang, dua baris bangku di belakang dicopot dan di atur ulang. Sungguh layak untuk perjalanan yang cukup ambisius selama 3 hari dua malam jalaur Semarang – Yogyakarta, terutama untuk lansia seperti saya. Kaki lebih bebas bergerak dan lutut tidak kaku.
Makan Siang di Eling Bening
Mungkin karena long weekend perjalanan kami agak tersendat. Apa lagi beberapa ruas tol Trans Jawa juga ada perbaikan. Beruntungnya perjalanan Tangerang-Jawa Tengah, entah dengan Bus atau Kereta Api, kita selalu disuguhi pemandangan indah.
Terutama setelah melewati Cikampek, lewat kaca bus yang lebar dan bersih, mata akan dihibur oleh petak-petak sawah dan pegunungan di belakangnya. Kita akan melihat pergantian warna dari lumpur kelabu sawah yang mau ditanami, hijau saat padi mulai remaja, dan kuning ketika padi siap disabit. Di tengah itu pula jadi sedikit paham, burung-burung kuntul dengan warna seputih salju itu paling banyak terlihat di sawah yang sedang digarap atau di lunyah. Mungkin di sana banyak ikan atau kodok, pikir saya.
Karena pas di toilet stop pertama aku beli kopi hitam, selama perjalanan itu mata enggan mengantuk, jadi saya manfaatkan mengamati alam dan kehidupan yang dilewati. Jadi paham juga, di sekitaran Jawa Tengah saja banyak sawah yang masih luas dengan beberapa orang sekaligus mengerjakannya. Mengapa kita masih impor beras ya?
Jadi sekitar pukul 2 siang baru lah kami merapat di Eling Bening untuk makan siang.
Menuju Destinasi Selanjutnya

Setelah puas eksplorasi dan foto-foto, matahari mulai turun, dan panitia mulai memanggil agar kami segera kembali ke bus.
Pada hari pertama, kami akan menginap di Semarang. Namun sebelum sampai ke hotel, Sobat JEI, ada satu destinasi lagi yang wajib kami singgahi, yakni pusat keramaian Pasar Bunga Bandungan atau Pasar Bandungan Baru. Panitia menyebutkan bahwa mereka akan melihat situasi waktu terlebih dahulu. Kalau hari belum terlalu sore, setelah menjelajahi pasar bunga, kami bisa meneruskan perjalanan ke pasar tradisionalnya. Toh, kedua lokasi tersebut saling berdekatan
Terus terang saya mulai merasa lelah. Tapi kunjungan ke pasar tradisional adalah dalah satu paket wisata yang mampu mengusir semua kelelahan tersebut. Pokoknya keseruannya beda banget bila punya kesempatan melihat dari dekat isi pasar suatu daerah, seperti perjalanan saya di NTT.
Mungkin karena sebagian besar anggota rombongan adalah ibu-ibu, Walaupun matahari mulai turun, antusiasme justru meroket tajam sesaat sebelum sampai di Pasar Bandungan. Mengapa tidak? Pasar tradisional selain menyimpan terapi visual, juga adalah tempat kita belajar mengenai makanan masyarakat sekitar. Dan untuk ibu-ibu itu adalah surga belanja aneka produk segar, baik sebagai oleh-oleh atau dinikmati selama perjalanan.
Menyambut Sore Berwarna di Pasar Bandungan Lewat Terminal Bunga Bandungan
Menurut saya dari Rawa Pening, perjalanan menuju pasar ini cukup sembraut. Atau kah karena jalannya tidak terlalu lebar tapi bus kami yang cikup bongsor, lalu lintas tersendat beberapa kali. Meskipun jalannya beraspal cukup mulus namun didominasi oleh rute menanjak dan berkelok khas pegunungan. Namun teman saya mengatakan rute dari Ambarawa ini relatif lebih ramah dilewati ketimbang berangkat dari Semarang.
Tapi ya sudah lah. Saya kan sedang menyisir kaki pegunungan Ungaran, ngapain pula pakai acara mengeluh. Kalau jalan-jalan tuh ya, dibawa happy saja karena pada akhirnya semua bisa dinikmati.
Untung lah penderitaan dari kemacaten jalan berakhirnya juga. Begitu bus masuk ke Terminal, yang jadi bagian dari Area Pasar Bunga (Pusat Florikultura) saya bernapas lega. Tempat ini memang jadi titik pertama yang menyambut pengunjung saat baru tiba atau turun dari kendaraan. Lapak-lapak bunga potong dan tanaman hias mendominasi kawasan ini.
Warna-Warna Ceria
Dan pelangi bumi pun mulai menyergap mata. Saya sampai terharu membandangi deretan tenda-tenda yang memayungi aktivitas jual beli dunia bunga. Seperti sedang berada di sebuah festival musim semi yang penuh dengan warna-warna cerah.
Selain pot-pot besar, ada ember-ember merah memamerkan bunga tabur, berdampingan dengan hydrangea panca warna serta tangkai sedap malam.
Ohya teman-teman, Pasar Bunga Bandungan memang tersohor sebagai pemasok florikultura terbesar di Jawa Tengah. Berterima kasih kita pada tanah vulkanik Gunung Ungaran yang sangat subur. Oleh karena itu, bunga di sini tumbuh jauh lebih segar.
Untuk saya, tempat ini semacam bonus perjalanan. Tidak suka berkebun tapi paling senang melihat bunga.
Maka secara perlahan kaki ini pun langsung mulai menyusuri celah kios-kios bunga. Terhibur banget mengamti kaktus mungil hingga kastuba merah muda saling berebut perhatian. Untungnya perjalanan kami masih lama, hampir tidak mungkin membawa bunga-bunga segar itu ke Serpong. Mati duluan mereka. Jadi dompet selamat sentosa.
- Baca di sini tentang : Menikmati Makan Siang di Pasargad Tourist Restaurant, Oase Persia Penakluk Lapar Sebelum Menuju Makam Cyrus Agung
Menyusuri Gang Kecil Menuju Jantung Kehidupan Lokal

Tapi, Sobat JEI, kami sebenarnya mengincar pasar tradisionalnya. Kami sekadar mampir di Pasar Bunga Bandungan untuk membekukan kenangan tentang keindahan visual bunga-bunga yang tumbuh subur di Lereng Ungaran. Kami menetapkan Pasar Baru Bandungan sebagai destinasi utama kami.
Karena banyak yang sepuh, kepala rombongan berniat mencarter angkot dari terminal bunga ke pasar tradisionalnya. Tapi setelah nego tetap tidak terjadi kesepakatan harga, teman-teman menyarankan jalan kaki saja. Apa lagi di lihat lewat Google maps, jaraknya tidak terlalu jauh.
Jadi gitu deh. Alih-alih naik angkot atau ojek, teman-tema memutuskan jalan kaki . Apa lagi salah seorang bapak ojol di sana membisikan bahwa lokasinya dekat banget, 10 menit juga sampai. Kami di arahkan untuk berjalan ke belakang pasar bunga ini.
Wah berterima kasih juga pada kebaikan hati bapak itu. Di belakang padar kami menemukan gang aspal sempit yang langsung menuju Pasar Bandungan Baru.
Untuk saya, keputusan ini nyatanya berbuah pengalaman sangat manis. Senang banget jadi punya kesempatan mengintip keseharian warga lokal dengan kesibukan mereka masing-masing.
Kami menyusuri jalan yang turun naik, melihat ojek motor dengan pengemudi berseragam vest kuning berlalu lalang mengiringi langkah. Saya sungguh menikmati pengalaman menghirup aroma pedesaan seperti ini, sebuah momen kecil tapi punya arti.
Melewati rumah-rumah penduduk, sambil lalu mengintip isi warung mereka, mendapati bengkel motor dan halaman-halaman yang banyak pot bunga. Rasanya sungguh dekat. Pada satu titik saya juga melihat masjid beratap tumpang ala masjid kuno Demak.
Pesona Kelimpahan Hasil Bumi saat Sore Berwarna di Pasar Bandungan

Di ujung gang yang konturnya naik turun itu, pemandangan langsung memuntahkan kami ke pintu masuk Pasar Bandungan Baru. Aroma manis buah tropis seketika menyergap hidung. Lapak-lapak pedagang memamerkan jeruk mandarin, mangga, pepaya, hingga kelengkeng segar bertangkai.
Ketinggian Bandungan yang berada di angka rata-rata 1.000 meter di atas permukaan laut membuat kawasan ini menjelma menjadi surga hortikultura.
Lepas dari pelataran muka, kami terus menyisir lorong-lorong. Para pedagang menyapa dengan bahasa Jawa yang mengalun merdu di telinga. Saat itu saya menyadari satu hal penting, bahwa pasar bukan sekadar tempat orang bertransaksi. Lebih dari itu, pasar menghidupkan denyut nadi interaksi sosial masyarakat Jawa yang guyub. Bahkan, warga setempat menebarkan senyum sapa yang memancarkan kehangatan melebihi udara sore itu
Saya mengikuti saja ketika teman-teman menyeberangi jembatan penghubung yang cukup estetik. Dari atas pembatas, hiruk-pikuk lantai bawah terlihat layaknya tarian kehidupan yang ritmis.
Bendera merah putih kecil ikut menari riang di langit-langit pasar. Di depan “Kios Bu Marniti”, transaksi pisang segar dan kerupuk terjadi dengan sangat hangat.
- Baca di sini tentang :Eksotisme Gunungkidul: Pasar Argosari Wonosari, Bukan Sekadar Pasar Tapi Surga Kuliner Tersembunyi
Runtuhnya Pertahanan di Depan Kesemek dan Alpukat Jumbo

Semakin melangkah ke dalam, mata dibuat semakin lapar. Karung umbi-umbian menggantung pasrah menanti pembeli sangat menarik. Namun, primadona sejati akhirnya menampakkan diri. Tumpukan buah kesemek berbedak putih berjajar sangat rapi.
Tahukah kan teman-teman? Bedak putih pada kesemek ini bukanlah jamur. Melainkan zat kapur sisa proses pemeraman alami untuk menghilangkan rasa sepat. Warnanya yang pucat berpadu manis dengan gunungan anggur merah di sebelahnya.
Pada akhirnya, pertahanan kami jebol total di “Kios Sayur & Buah Bu Muya”. Alpukat mentega super jumbo sukses berpindah ke kantong belanja. Teman saya bahagia banget menggenggam alpukat segede gaban itu sambil berkata bahwa itu untuk cucunya. Rasanya dia seperti pahlawan pulang dari medan perang dengan membawa piala!
- Baca di sini tentang : Pasar Inpres Larantuka
Menghangatkan Sore Berwarna di Pasar Bandungan Bersama Bakso Brengos

Udara malam mulai mencubit kulit pelan-pelan. Perut pun menyisakan ruang untuk kembali diisi. Lagi pula Pasar Bandungan Baru ini terkenal juga sebagai salah satu tempat wisata kuliner. Maka gak elok kalau dilewatkan. Oleh karena itu, kami segera melipir ke area “Kuliner Pasar Baru Bandungan”.
Pandangan kami langsung terkunci rapat pada kedai Bakso Brengos. Asap kaldu mengepul genit dari panci besar milik bapak berkaus hijau.
Jujur saja, mencium aroma dari asapnya, air liur saya langsung “ngecer”. Sepertinya tubuh saya memberi isyarat tertentu. Karena menurut penelitian gastronomi, kuah kaldu sapi pekat cukup efektif mengembalikan tenaga yang sudah terkuras sejak subuh tadi.
Tak menunggu lama, mangkuk pesanan kami tiba menyapa. Kuah bening panas, bakso daging kenyal, taburan seledri, dan bawang goreng keemasan bersatu padu. Menyeruput kaldu hangat di tengah pelukan kabut tipis sungguh mendefinisikan surga duniawi.
Walau bulatan basonya kecil-kecil tapi cukup efektif menghibur lidah. Mengembalikan tenaga pada kaki yang lelah berkeliling!
Godaan Jajanan Tradisional dan Rindu yang Pasti Tertinggal

Perut kenyang rupanya tak berarti godaan pasar berakhir. Seorang pedagang ramah berhijab merah sudah menanti dengan tumpukan Singkong Keju khas Bandungan. Singkong keju daerah ini terkenal sangat empuk dan merekah sempurna. Rahasianya terletak pada penggunaan singkong varietas unggulan yang tumbuh subur di lereng gunung Ungaran.
Tak jauh dari situ, jajanan grubi atau carang mas ikut melambai minta dibeli. Jajanan dari parutan ubi berbalut gula merah ini selalu menjanjikan kerenyahan hakiki sebagai teman ngopi. Sebelum benar-benar beranjak, kami menatap lautan alpukat mentega di pelataran luar untuk terakhir kalinya.
Langit perlahan berubah menjadi biru pekat. Lampu-lampu mulai menyorot aktivitas pedagang kaki lima yang tak pernah kenal lelah mendulang rezeki. Suasana pasar di bawah siraman cahaya lampu ini terasa hidup. Kami akhirnya pulang menenteng kantong belanjaan yang penuh sesak.
Tentu saja, saya turut membawa pulang memori manis untuk ditayangkan di blog ini. Sungguh, sebuah pengalaman bermakna karena sore itu ikutan meresapi aroma lokal dari sore berwarna di pasar bandungan.
Baca juga:
