Harmoni budaya di atas tebing Loji ini adalah salah satu pengalaman unik saat saya memutuskan untuk menikmati paroma dari tempat ibadah. Keputusan yang seolah membuat saya merasa berdiri di perbatasan dua dunia. Pernahkah Sobat JEI juga membayangkan sebuah titik tempat bumi berbisik langsung pada samudra dan langit? Itulah getaran yang saya rasakan ketika mulai memandang semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi ini dari ketinggian.

Sejujurnya, lokasi ini bukan sekadar destinasi wisata biasa bagi para pencari ketenangan. Ini adalah tempat ibadah. Oleh karena itu, mari kita tinggalkan sejenak panduan wisata yang kaku dan membosankan. Di sini Kita akan menyusuri ratusan anak tangga kuil yang merekat erat di tebing karang pesisir Loji.
Untuk datang ke wihara ini saya semata ingin melihat panoramanya indah dari ketinggian. Teman-teman bisa merangkai sekalian dengan perjalanan ke Ciletuh, seperti yang saya lakukan bersama keluarga.
Harmoni Budaya di Atas Tebing Loji, Sambutan Hangat Para Penjaga Emas
Siang itu, dalam perjalanan menuju arah pulang setelah eksplorasi Ciletuh, seperti sudah disepakati, mobil kami berhenti di tepi jalan, tepat di kaki bukit yang rimbun. Saya yang masih setengah mengantuk agak enggan memandang keluar. Matahari sedang garang-garangnya, rumput ilalang di tebing sepertinya bisa bikin kulit gatal.
Tapi akhirnya Keluar juga dari dari ruang ber-AC. Udara pesisir Sukabumi menyergap dengan sedikit sengit. Aroma tanah dan daun kering yang diangkat oleh udara panas menguar yang membuat saya ingat pedesaan.
Tapi tidak pakai lama juga di sana karena guide kami langsung tancap gas. Setelah nanjak beberapa meter, kami disambut ratusan anak tangga dengan sepasang patung naga berkepala empat yang berlapis emas di kiri-kanan. Naga-naga berkepala banyak ini menganga ke arah langit tropis, tidak takut kepanasan seperti saya.
Berkenalan dan Sang Naga Berkepala Banyak
Tempat kepala naga ini bertengger, selain menjadi gerbang, mereka juga mewakili harmoni budaya di atas tebing Loji yang akan saya ceritakan di bawah. Badan mereka yang entah berapa panjangnya, mengapit ratusan anak tangga dari yang lurus sampai berkelok-kelok dengan indah.
Saya sedikit termangu di depan gapura estetik yang pastinya fotonya cakep banget untuk konten media sosial. Karena Jumlah anak tangganya dan ketinggiannya langsung menantang nyali saya yang sebesar nyamuk ini.
Tapi saya pernah membaca tentang simbol dari tangga tersebut. Ini adalah filosofi dari ajaran Buddha yang penihbkhidmat. Bagi siapa saja yang bermaksud mencapai pencerahan dan pemandangan indah, kalian harus bersedia membayar harga dengan napas ngos-ngosan dan keringat. Baik lah!
Berapa lamapun saya nego dengan diri sendiri atau ragu, ratusan anak tangga curam itu tetap menanti dengan setia. Tak bergeming. Terserah mau terus atau balik badan ke mobil. Tapi, ya sudah lah, kakak ipar saya dan suaminya sudah naik mendahului. Dengan sedikit rasa malu, mari kita coba saja, pikir saya.
Agar tidak merasa lelah duluan, saya buat afirmasi dalam hati: setiap undakan akan membawa saya lebih dekat untuk memandang semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi yang terkenal ini.
Memandang Semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi Melalui Punggung Naga

Saat kaki mulai goyah menapaki undakan batu, kamu, saya dan rombongan saya tidak akan merasa sendirian. naga hijau raksasa yang meliuk-liuk di sepanjang tembok, bisa dijadikan pegangan yang kokoh. Naga ini seolah meminjamkan punggungnya agar kita bisa mendaki dengan lebih mantap.
Di sisi lain, dinding berwarna biru dengan motif ombak terus mengingatkan kita pada laut. Selain itu, rindangnya rumpun bambu yang melengkung membentuk kanopi alami di di beberapa ruas jalan, cukup membuat cuaca lebih adem.
Setelah mencapai beberapa puluh anak tangga, napas membuat saya berhenti sejenak. Mulut dan hidung berusaha menghirup oksigen dengan rakus lalu melepaskannya pelan-pelan. Suara gesekan daun bambu yang ditiup angin laut terdengar seperti simfoni alam. Bunyinya seolah metronom alami yang bisa membantu mengatur ritme napas kita yang tersengal-sengal.
Setiap kali berhenti untuk menyeka peluh atau mengambil nafas, sejatinya kita sedang belajar tentang kesabaran sejati. Ingatlah bahwa kesabaran adalah bentuk doa yang paling agung di tempat ini. Singkatnya, pendakian ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya memandang semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi.
Walau sudah lansia, selalu diganggu oleh pernapasan yang pendek-pendek, tetap saja saya beruntung bisa datang ke tempat ini. Saat itu juga berjanji dalam hati agar olah raga lebih rutin nanti.
Harmoni Budaya di Atas Tebing Loji, Alkimia Spiritual Mama Airin

Sambil mengatur napas di dekat pendopo Thailand, saya berhenti lagi. Dan mari kita menengok sejarah tempat ini yang dimulai tahun 2000.
Saya sempat, atau mungkin Sobat JEI juga heran melihat kok ada arsitektur Thai yang kental di pesisir Jawa Barat. Memang pembangunan vihara ini bermula dari visi spiritual seorang warga Thailand bernama Anothai Kamonwathin. Beliau, yang akrab dipanggil Mama Airin, mendapat petunjuk untuk membangun tempat ibadah di sini.
Hasilnya seperti yang kita lihat sekarang, sebuah asimilasi budaya dari tempat ibadah. Di sini, kepercayaan Buddha Theravada Thailand bersatu dengan penghormatan kepada Dewi Kwan Im. Bahkan, aura mistis penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul, juga mendapatkan tempat yang terhormat.
Perpaduan unik ini lah yang menciptakan harmoni budaya di atas tebing Loji yang membuat orang berduyun-duyun datang ke sini. Tidak hanya untuk beribadah juga sebagai tempat wisata. Kalau teman-teman masuk lebih ke dalam, atmosfer toleran sangat kental yang akan menyejukkan batin bagi siapa pun yang berkunjung. Penganut Budha, agama lain, atau sekadar berwisata.
- Baca di sini tentang : Realita di Balik Foto Estetik Pantai Gigi Hiu, Wisata Adrenalin Pesisir Laut Lampung
Kedamaian Ritual Saat Memandang Semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi

Setelah menaklukkan lebih dari 400 anak tangga, saya akhirnya tiba di pelataran puncak. Rasa lelah di kaki seketika luruh bersama kekaguman.
Di pelataran ini, asap dupa atau hio mengepul dari hiolo perunggu raksasa yang artistik. Wangi dupa tersebut membawa doa-doa para peziarah membubung tinggi ke angkasa biru. Selain itu, berdirilah patung burung emas Kinnara yang tampak berkilau diterpa cahaya matahari.
Ada juga genta besar berwarna gelap yang menyimpan getaran spiritual yang sangat kuat. Jika genta itu ditabuh, suaranya akan menyatu dengan riuhnya suara deburan ombak di bawah dari laut Ciletuh.
Arsitektur atap dengan ujung melengkung membingkai langit dengan komposisi yang sangat sempurna. Pengalaman ini benar-benar memperkaya jiwa kita saat mencoba memandang semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi. Oleh karena itu, setiap sudut di puncak ini menawarkan kedamaian yang sangat mendalam.
- Baca di sini tentang : Keliling Pulau Kunti Ciletuh, Geosite yang Terlarang Dimasuki
Menyatu dengan Harmoni Budaya di Atas Tebing Loji
Inilah alasan utama mengapa perjuangan mendaki ratusan anak tangga tadi terasa sangat sepadan. Dari pelataran tertinggi, batas antara bangunan manusia dan alam semesta seolah-olah menghilang. Vihara ini memang dirancang khusus agar menghadap langsung ke Samudra Hindia yang tanpa batas.
Sobat JEI, cobalah berdiri di dekat pagar pembatas dan hirup aroma garam yang segar. Walau saat itu sedang panas terika, tapi saya membuang pandang jauh ke tengah laut yang seolah tak bertepi. Sesekali terlihat kendaraan melintas di jalan raya. Lalu saya juga melihat seorang pemancing dengan anaknya sedang berusaha mengais rezeki dari laun yang maha luas itu.
- Baca di sini tentang : Menemukan Makna ‘Awet Muda’ di Tuk Bimalukar, Mata Air Jernih di Ujung Serayu
Sambil melamun, saya terus mengarahkan pandangan lurus ke cakrawala tempat langit dan laut berpelukan dengan mesra. Tidak ada penghalang, hanya ada gradasi biru yang memanjakan mata dan menenangkan pikiran.
Nah pada titik ini, boleh lah kita tafakur sejenak. Untuk kembali menyadari betapa kecilnya diri ini di hadapan Sang Pencipta.
Bagi saya perjalanan ini sukses menggabungkan olah fisik, kekayaan sejarah, dan terapi jiwa dalam keringat dab tarikan napas Senin-Kamis.
Jadi, kapan Sobat JEI akan menikmati langsung harmoni budaya di atas tebing Loji? Segeralah agendakan waktu untuk memandang semesta dari Vihara Nam Hai Sukabumi dan temukan kedamaianmu sendiri.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
