Saya memang sudah sering menjejakkan kaki di Solo, untuk menyaksikan geliat budaya kota Surakarta. Tetapi perjalanan kali ini terasa jauh lebih istimewa karena saya datang bersama rekan-rekan narablog untuk menghadiri ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013.
ABFI sendiri merupakan sebuah ajang silaturahmi sekaligus konferensi bertaraf internasional yang mempertemukan para blogger dari seluruh penjuru Asia Tenggara untuk saling bertukar gagasan, memperluas jejaring digital, serta mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata dalam semangat persahabatan regional jelang terwujudnya Komunitas ASEAN.
Kehadiran ratusan penggiat media sosial di kota budaya ini tentu memberikan energi baru yang membuat suasana Solo menjadi semakin hidup, inspiratif, dan penuh dengan ruang diskusi yang menarik.
Mengapa Memilih Kota Solo?
Sebelum datang saya sempat bertanya-tanya mengenai tempat berkumpul ABFI 2013 ini. Mngapa Surakarta atau yang lebih akrab disapa Kota Solo terpilih sebagai titik pertemuan bagi perhelatan ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013? Mengapa bukan Jakarta yang tentunya lebih jumawa karena ibu kota negara.
Teman saya membisikan itu karena ada misi untuk mengangkat keunikan kota lain di Indonesia. Biar cerita tidak melulu tentang ibu kota, tapi membuat kota yang penuh unsur budaya ini juga bisa ikut bersinar.
Saya membenarkan penjelasan teman saya tersebut, walaupun sejatinya saya sedikit meragukan keakuratannya. Namun, saya sama sekali tidak mempermasalahkan di mana panitia menyelenggarakan acara ini.
Bagi seorang blogger, hal terpenting adalah saya bisa mengumpulkan dan membagikan banyak konten menarik ke ranah media sosial. Saya sungguh berharap cerita teman saya tadi benar-benar membantu Kota Solo bersinar semakin cemerlang, sehingga kota budaya ini mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang berkunjung.
Solo Yang Tengah Menggeliat
Apa lagi ika ditarik dari akar sejarah dan kondisi geografisnya, kota ini memang sudah ditakdirkan sebagai pusat konektivitas. Secara alamiah, Solo terbentang di pertemuan lima sungai besar. Mereka adalah Sungai Batangan, Nglawiya (Laweyan), Wingko, Pepe, dan Brajaāyang kesemuanya bermuara ke Sungai Bengawan.
Sejak ratusan tahun silam, aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa ini telah menjadi urat nadi penghubung denyut ekonomi dan transportasi antara Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Letak yang sangat strategis ini pulalah yang dahulu meyakinkan Sultan Pakubuwana II untuk memindahkan istananya kemari setelah Kartasura hancur akibat Geger Pacinan.
Kini, layaknya lima sungai besar yang mengalir menjadi satu kekuatan di muara Bengawan, Solo meneruskan warisan sejarahnya sebagai “muara” yang sempurna untuk menyatukan gagasan, budaya, dan persahabatan para blogger dari seluruh Asia Tenggara dalam bingkai ABFI.
Ketersediaan sumber daya alam yang memadai tentu akan memakmurkan sebuah negeri. Kita pastinya sangat bersyukur apabila alam memberikan kekayaan yang berlimpah.
Namun, layaknya filosofi hidup yang mengajarkan bahwa kita tidak selalu mendapatkan semua keinginan, sebuah negeri tanpa kekayaan alam pun tidak harus menjalani kehidupan dalam kemiskinan. Penduduk setempat selalu bisa mengalihkan fokus mereka untuk menggali potensi lain, seperti memajukan budaya melalui ragam kreativitas yang mereka rencanakan dengan matang.
Kota Solo juga tak memiliki sumber daya alam ini. Maka Pemkot memacu pertumbuhan ekonomi mereka lewat perdagangan. Dengan mencetak sektar 43 pasar tradisional, merevitalisasi pasar lama serta memberdayakan sektor Usaha Kecil Menengah.
Hal itu saya ketahui saat mendengar pemaparan Pak Rudyatmo, Walikota Solo, saat menghadiri Welcome Diner di Loji Gandrung pada ASEAN Blogger Festival (ABFI) 2013 Mei lalu.
Menikmati Aroma Kuno dalam Kota Budaya
Tapi Solo bukan sekedar kota perdagangan. Geliat budaya kota Surakarta yang otentik akan terasa saat kita mulai menjajak kaki di bekas pecahan Kerajaan Mataram ini. Pusat kota berhias lampu-lampu antik. Gedung-gedung bertulis aksara Jawa. Saat lampu kota merubah kelam jadi gemerlap aroma kuno yang menebar dari abad ke-17 terasa melingkar di udara!
Kita akan merasakan pesona Solo yang jauh lebih mendalam ketika menjelajahi kota ini dari atas becak. Karena itu, mintalah tukang becak mengantar kita menelusuri berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah. Kita sungguh tidak boleh melewatkan dua destinasi utama, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.
Sobat JEI juga bisa mengunjungi Museum Radya Pustaka, lalu menyempatkan diri beribadah atau sekadar berjalan melintasi Masjid Raya. Bagi kita yang terbiasa menghadapi kesibukan ibu kota yang serba cepat, deretan arsitektur kuno Solo seakan mengajak kita melangkahkan kaki kembali ke masa lalu. Melalui suasana tersebut, kita bisa menyelami selera otentik para bangsawan Jawa Kuno beserta seluruh keturunannya.
Makan Malam Tapi Tidak Masuk Loji Gandrung
Welcome dinner untuk para peserta ABFI 2013 di pendopo belakang Loji Gandrung. Gedung bersejarah yang kini berfungsi sebagai rumah dinas Wali Kota.
Bangunan bersejarah ini menyaksikan langsung peristiwa penaklukan Jepang atas Belanda di masa lalu. Selain itu, Loji Gandrung juga turut menghiasi lembaran awal sejarah bangsa Indonesia ketika Jenderal Gatot Subroto menggunakannya sebagai tempat berunding dengan tentara NICA.
Sobat JEI, awalnya saya merasa sangat senang karena membayangkan akan menyusuri bagian dalam Loji Gandrung. Saya sudah merencanakan pasti bisa memotret banyak sudut menarik di sana (hahaha…). Eh, rupanya panitia seolah mengetahui isi kepala para blogger. Saat memandu rombongan menuju tempat perjamuan di pendopo belakang, panitia justru mengarahkan kami untuk berjalan melewati halaman samping.
Tentu saja saya merasa kecewa! Padahal, saya ingin sekali menyaksikan betapa lapangnya ruangan tempat para meneer Belanda dan bangsawan Jawa berdansa-dansi pada masa lalu. Saya juga sangat penasaran dan ingin melihat langsung kamar-kamar berloteng tinggi di dalam bangunan bersejarah tersebut. Selain itu, saya sungguh ingin membayangkan kehidupan Agustinus Dezentje, pengusaha kaya Belanda, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun merajut kisah bersama istri bangsawan Jawanya di bawah atap berhiaskan lampu gantung kristal.
Tapi saya jarang berlama memelihara kekecewaan. Melihat seluruh blogger ASEAN sudah berkumpul kagatelan otak saya langsung saja sirna. Lebih tertarik menikmati Tarian Golek Sukoreno dengan koreo lembut tapi tangguh dari para putri Solo.
Gadis-gadisĀ yang bergerak gemulai namun tegas itu saya simbolisasi sebagaiĀ geliat budaya Kota Surakarta dalam menyambut para tamu yang hendak berkunjung ke rumah. Ramah, luwes namun ada aturan yang harus dihormati.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
