Menikmati iskender kebab di Yüce Hünkar untuk makan siang sepertinya menjadi syarat wajib saat kita menjejakkan kaki di Bursa. Kesimpulan ini saya tarik, sesaat sampai di sana, ada tiga rombongan turis lain yang masuk bareng rombongan saya.

Rombongan saya sampai di sini untuk makan siang. Itu setelah capek eksplorasi, memanjakan mata, mendengarkan cerita sejarah dan menikmati pesona arsitektur hijau kebiruan Yeşil Türbe, makam bersejarah berlapis ubin pirus. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir Sultan Ottoman kelima, Mehmed I. Kapan-kapan saya ceritakan di pos lain tentang tempat ini.
Angin bulan Oktober di Turki membawa sisa kehangatan musim gugur. Ranting-ranting pepohonan yang botak kontras dengan langit biru. Saya yang tak terbiasa dengan udara menjelang musim dingin ini membuat aktivitas ke toilet lebih sering dan cepat sekali kelaparan.
Tapi tentu sayanya tetap bahagia. Maklum ini kan perjalanan pertama ke Turki. Saya antusias banget. Sampai-sampai tempat makan siang saya pelajari sebelumnya karena ada dalam itinery. Senang banget mengetahui bahwa hari itu akhirnya tour guide kami menuntun peserta tour ke resto dengan mahakarya kuliner legendaris ini.
Seperti teman-teman ketahui, Bursa sendiri bukan sekadar kota biasa, setiap sudut menyimpan cerita sejarah. Travel blogger yang sampai ke kota ini, tidak akan pernah kehabisan bahan untuk tulisan mereka.
Kota Bursa memegang status historis sebagai ibu kota pertama Kesultanan Utsmaniyah sebelum penaklukan Konstantinopel. Setelah dua hari di kota ini, walau hanya menyisir dari jendela bus, saya merasa wajar jika setiap tour dari Indonesia di bawa ke sini. Alasannya ya itu tadi, tiap sudutnya menyimpan sejarah Islam yang dalam.
Pesona Meşhur Bursa Kebapçısı Saat Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkar
Akhirnya bus kami berhenti di tempat parkir berlantai paving block yang membawa pandang ke tempat tujuan. Dari kejauhan, sudah kelihatan restoran yang tegak berdiri sejak tahun 1961 itu.
Belakangan saya baru tahu, bahwa husus untuk area bersejarah atau wisata dengan gaya klasik Eropa atau Turki, susunan batu atau beton kecil yang rapi dan mengikuti kontur jalan tidak dibuat begitu saja. Lebih sering kali dirancang untuk meniru kesan jalan berbatu kuno atau cobblestone. Selain memberikan estetika dan vintage, jenis lantai luar ruangan ini sangat kokoh dan ramah pejalan kaki karena tidak licin saat basah.
Tidak pakai lama, akhirnya sampai juga di depan bangun Yüce Hünkâr. Atap gentingnya terbuat dari tanah liat merah kecokelatan, di sokong dinding putih bersih. Yang menarik adalah aksen kayu gelap pada pintu dan jendelanya. Bagi saya itu seperti bernuansa ala Jepang.
Di depan bangunan, sebuah pohon kokoh dengan ranting gundul yang estetik khas musim gugur berdiri diam. Ia membingkai langit biru dengan guratan awan putih di belakangnya.
Menariknya, dan beda dari Jepang, dua cerobong asap yang terbuat dari bata merah di atap seolah menebar janji kehangatan di tengah cuaca dingin. Papan nama merah menyala bertuliskan “YÜCE HÜNKÂR” menyambut seolah mengucapkan selamat datang.
Yeaay siap menikmati kebab Iskender!
Ohya, sebagai informasi tambahan dari catatan sejarah, tradisi kuliner kebab di Bursa sudah mengakar kuat sejak abad ke-19. Ketika itu İskender Efendi berinovasi memanggang daging secara vertikal agar lemaknya lumer membasahi seluruh lapisan.
Desain Interior Klasik yang Menghangatkan Hati

Begitu kami mendorong pintu kayu restoran, hawa dingin seketika minggat tanpa jejak. Penghangat ruang mereka bekerja dengan bijak. Saya bisa membuka coat agar dapat makan dengan nyaman.
Begitu duduk langsung disuguhi jus yang sudah dipesan oleh TL sebelumnya. Saya memesan dan suami memesan jus delima.
Mengedar pandang ke langit-langit restoran, ia memamerkan panel kayu cokelat tua yang berkilau di bawah cahaya cerah siang itu. Tapi lampu chandelier besi tempa bergaya abad pertengahan tetap dinyalakan. Ia memancarkan cahaya kuning cantik.
Sementara itu, lantai ubin bermotif floral geometris dalam balutan hijau sage dan kuning menyeimbangkan nuansa maskulin ruangan.
Ruangan ini mendapat limpahan cahaya alami berkat dinding kaca raksasa yang membentang. Secara arsitektural, desain Turki Utsmani memang gemar memadukan elemen alam dengan material kokoh untuk menciptakan ruang komunal yang berkelas.
Jejak Sejarah Visual Saat Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkar

Sambil menunggu pesanan, mata saya sibuk mengagumi papan informasi besar di dinding. Papan ini sepertinya memang sengaja memutar kembali waktu menyusuri dedikasi restoran ini untuk para pengunjung.
Sebuah foto lawas menampilkan seorang Usta (koki ahli) yang lihai mengiris daging döner. Ia menggunakan pisau panjang bermata tajam untuk menyayat daging dari panggangan vertikal tradisional.
Tentu saja, foto mahakarya kuliner Bursa Kebab menempati posisi paling terhormat di sana. Usta dalam hierarki budaya kuliner Turki memiliki kasta tertinggi sebagai seniman rasa. Mereka mewariskan keterampilan memotong presisi dari generasi ke generasi demi menjaga tekstur hidangan.
Pemandangan Panoramik dan Sajian Utama di Atas Meja

Akhirnya, pahlawan penumpas lapar kami tiba berbondong-bondong. Meja panjang kami mendadak berubah menjadi panggung festival kuliner musim gugur. Piring-piring berisi hidangan legendaris ini tersusun rapi menanti eksekusi.
Rombongan kami juga mendapat kawalan sup hangat, salad segar, roti pide, dan jus buah. Selain itu, kami baru menyadari betapa strategisnya posisi duduk kami. Kami menempati lantai atas yang semi-terbuka dengan dinding kaca raksasa.
Lewat kaca ini, kota Bursa memamerkan lanskap perbukitan dan atap rumah merahnya yang sangat dramatis. Bursa sering menyandang julukan “Yeşil Bursa” atau Bursa Hijau karena alamnya yang subur.
Pemandangan sekilas keluar itu sukses melipatgandakan selera makan saya.
Puncak Kelezatan Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkar
Kini saatnya mengeksekusi hidangan utama yang sudah menggoda iman. Aroma gurih mentega cair langsung menari-nari di udara saat piring menyentuh meja.
Irisan tipis daging döner menumpuk royal bagai bukit kecil di atas hamparan roti pide. Roti hangat ini sudah menyerap habis saus tomat gurih-manis yang kaya rempah.
Di tepian piring, bertengger yogurt putih bersih khas Turki yang bertekstur kental. Satu suapan ajaib langsung meluncur masuk ke mulut saya.
Roti yang lembut, daging lumer, saus tomat, dan yogurt dingin menciptakan ledakan rasa yang sangat harmonis. Rahasia utama hidangan ini sebenarnya bersembunyi pada siraman panas mentega domba dari wilayah pegunungan Uludağ yang memberikan profil rasa super nutty.
Penutup Manis dan Momen Perayaan Sejarah

Kami menutup ritual makan besar ini dengan seporsi Krem Karamel. Puding custard susu ini berdiri kokoh namun langsung lumer tanpa perlawanan di lidah.
Lapisan karamel keemasan mengalir cantik membasahi puncaknya. Rasa manis dengan sedikit sensasi pahit burnt sugar sukses mencuci langit-langit mulut saya.
Selanjutnya, kami bergeser ke jalanan berbatu di depan restoran untuk sesi pemotretan wajib. Kami memamerkan senyum paling sumringah dalam balutan mantel tebal yang modis.
Menariknya, kaca jendela restoran memamerkan stiker “100. Yıl – Türkiye Cumhuriyeti’nin Yüzüncü Yılı”. Tahun 2023 menjadi penanda satu abad berdirinya Republik Turki modern oleh Mustafa Kemal Atatürk. Nuansa sejarah ini membuat kunjungan saya rasanya lebih epik.
Walau ada sedikit aroma domba, babak kuliner makan siang di Bursa ini berakhir dengan memuaskan. Perut kenyang, sementara hati penuh dengan memori tawa. Duh, sungguh bikin rindu kalau begini.
Cita rasa otentik khas Turki ini saya yakin akan membuat saya rindu untuk kembali. Mungkin makan siangnya di lain tempat. Yang jelas pengalaman menikmati iskender kebab di Yüce Hünkar bukan sekadar urusan menuntaskan lapar sesaat. Ini adalah perjalanan mencecap sejarah panjang dan budaya Turki dalam sepiring daging yang gorih.
@eviindrawnto2026
Baca juga:
