
Piknik di sekitar gedung sate ternyata menyimpan pesona senja yang magis bagi saya dan “mantan pacar” alias suami. Halo Sobat JEI, selamat datang kembali di jurnal perjalanan ini! Artikel kali ini merangkum kisah manis seusai kami menyelesaikan urusan bisnis di Bandung. Kita akan menjelajahi kemegahan sejarah Gouvernements Bedrijven, menyusuri rimbunnya Taman Lansia, hingga menyesap segar Yoghurt Cisangkuy yang legendaris. Mari kita mulai perjalanan singkat namun berkesan ini bersama-sama.
Piknik di Sekitar Gedung Sate: Mengais Sisa Paris van Java
Selesai urusan bisnis, saya langsung mengajak suami meluncur ke ikon kota Bandung. Dia tentu saja heran. Buat apa ke sana? Kami sudah puluhan kali lewat depan bangunan megah ini. Saya hanya nyengir kuda.
Biar dia tetap mau mengantar, saya merajuk manis. Dulu saya memang hanya menganggap bangunan ini sebagai penanda kota. Sekarang, saya ingin menyerap nilai sejarahnya. Pemerintah Hindia Belanda membangun gedung ini pada tahun 1920 dengan nama Gouvernements Bedrijven (GB) di bawah rancangan arsitek J. Gerber. Tujuan terselubung saya tentu saja mencari stok foto untuk konten blog ini, sekaligus ngidam berat Yoghurt Cisangkuy.
Malam hampir jatuh saat kami sampai di lokasi. Hujan lebat baru saja reda. Sisa rinai gerimis membuat jalan dan pepohonan tampak kuyup. Bekas Wilhelmina Boulevard yang kini bernama Jalan Diponegoro ini terasa sangat teduh. Namun, saya harus mengakui bahwa Bandung sudah berubah. Senja merah tanpa angin ini tidak terasa dingin sama sekali. Tanpa udara menggigit, kota ini perlahan kehilangan aura Paris van Java-nya.
Gerbang Bersejarah yang Sudah Tutup
Saya bergegas keluar dari mobil dan mendekati pagar besi. Bangunan utama tampak basah dan sedikit romantis. Semburat cahaya senja memantul indah dari belakang menara. Warna keemasannya berpadu dengan kepakan sayap beberapa ekor gagak hitam yang melintas lincah. Sungguh puitis!
Saya melangkah ke arah pintu gerbang dan menyapa ramah Pak Satpam. Obrolan singkat kami membuahkan informasi penting. Museum Gedung Sate ternyata tutup pada jam 4 sore. Museum pintar ini padahal memiliki instalasi teknologi canggih yang menceritakan sejarah pembangunan kota. Sayang sekali kami datang terlambat.
Pak Satpam tersenyum melihat saya sibuk mematut-matut sudut bangunan dengan kamera poket. Beliau berbaik hati memberi petunjuk ampuh. Kalau saya berjalan sedikit dari gerbang dan belok kanan, surga jajanan sudah menanti. Suami saya malah asyik mengobrol hal lain dengan sang petugas. Setelah puas menjepret, saya memberi isyarat kepada suami. Kami segera beranjak menyusuri aspal basah menuju Jalan Cisangkuy.
Menyusuri Jalan Cisangkuy dan Rimbunnya Taman Lansia
Jalan Cisangkuy pada sore yang gerimis tetap menggeliat ramai. Kios, kafe, dan resto berderet rapi mengundang selera. Di sebelah kanan jalan, Taman Lansia membentang dengan rimbun. Pada hari-hari libur, taman ini menawarkan atraksi naik kuda keliling bagi anak-anak yang riang gembira.
Saya kadang heran kenapa pemerintah menamainya Taman Usia Lanjut. Mungkin ini bentuk dedikasi warga Bandung untuk memanjakan para manula mereka. Fakta menariknya, pemerintah kota sebenarnya merancang taman ini sebagai danau retensi untuk mencegah banjir. Pepohonan mahoni tua di sana berfungsi ganda sebagai peneduh estetik sekaligus penyerap air yang tangguh.
Sepanjang jalan rindang ini, pengunjung benar-benar bisa memanjakan lidah. Resto Resep Eyang memancarkan pendar lampu kuning yang cantik dari luar. Kita juga bisa menemukan kedai surabi hangat dan deretan mobil penjual Keripik Mak Icih. Tentu saja tujuan utama saya sudah menanti di depan mata: kedai Yoghurt Cisangkuy.
Menyesap Yoghurt Cisangkuy dan Berburu Foto di Cilaki

Piknik di sekitar Gedung Sate rasanya hambar jika tidak mampir menikmati Yoghurt Cisangkuy. Kedai susu asam ini ternyata sudah memanjakan warga Bandung sejak tahun 1976. Bangunannya sangat bersahaja. Sepetak ruangan dengan meja dan bangku kayu menempel manis pada sebuah bangunan tua.
Pengalaman ini membuat saya makin takjub pada kehebatan strategi pemasaran dari mulut ke mulut. Mereka tidak butuh promosi mewah. Mereka hanya butuh mempertahankan rasa otentik dan rekomendasi tulus dari teman atau ulasan blog. Kekuatan cerita inilah yang sukses menarik langkah setiap pelancong untuk singgah menyesap kesegaran susu asam mereka.
Selesai bernostalgia di kedai Cisangkuy, kami berjalan belok kanan masuk ke Jalan Cilaki. Kejutan manis kembali menanti. Saya bersua dengan bangunan Kantor Pos yang megah. Bangunan bergaya Art Deco karya arsitek J. Berger dan Leenhouwers ini selesai berdiri pada tahun 1931 dan kini berfungsi sebagai Museum Pos Indonesia.
Dari Jalan Diponegoro, pesona gedung tua ini memang tersembunyi. Walau gerimis kembali turun, saya nekat keluar dari mobil. Saya memanjakan mata dan kembali memainkan kamera poket dengan riang. Perjalanan sore ini benar-benar berakhir dengan sepotong kenangan manis.
Baca juga:
Biaya dan Cara Menuju ke Sana
Tertarik meniru rute jalan-jalan santai ini? Berikut panduan singkat yang bisa kamu ikuti:
- Cara Menuju Lokasi: Jika kamu membawa kendaraan dari luar kota, pilih pintu keluar Gerbang Tol Pasteur. Terus saja melaju lurus melintasi jembatan layang Pasupati. Kamu harus turun di kawasan Gasibu, lalu putar balik sedikit untuk masuk ke Jalan Diponegoro. Kamu bisa memarkir kendaraan dengan aman di pinggir taman atau langsung menuju Jalan Cisangkuy.
- Biaya: Jelajah kawasan bersejarah ini pada dasarnya gratis. Kamu hanya perlu menyiapkan uang parkir sekitar Rp 5.000. Harga segelas Yoghurt Cisangkuy berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Jika kamu berniat masuk ke Museum Gedung Sate di waktu siang, siapkan biaya tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang.
eviindrawanto.com
