Mengenali fungsi otak kanan dan kiri kita ternyata sepenting membaca kompas saat tersesat di rimba. Halo Sobat JEI! Baru-baru ini, Adit membelikan sebuah buku menarik karya konsultan bisnis legendaris, Al Ries dan putrinya Laura, berjudul War in the Boardroom.

Tentu saja, saya langsung terpaku pada bab Prakata. Apalagi, bagian ini membahas rivalitas abadi antara belahan kanan dan kiri kepala kita. Konon, pembaca yang baik selalu meresapi Prakata sebagai pijakan melangkah ke bab selanjutnya.
Selanjutnya, rasa penasaran mendorong saya mengikuti kuis sederhana di situs Ries. Surprise, surprise! Hasilnya menobatkan saya sebagai makhluk dominan kanan. Padahal, beberapa tahun silam, tes serupa secara tegas menyatakan saya beraliran kiri.
Ataukah sirkuit saraf kita ikut menari mengubah haluan seiring usia lansia? Ataukah saya sengaja memilih jawaban romantis ketimbang menyodorkan fakta sesungguhnya?
Secara sains, fenomena ini bersinggungan dengan neuroplastisitas, yakni kemampuan ajaib otak untuk merangkai ulang koneksi sarafnya seiring pengalaman baru. What is a fact anyway? Mari kita buktikan dominasi ini bersama-sama.
Mengenali Fungsi Otak Kanan dan Kiri Lewat Gaya Komunikasi
Bila penganut aliran kiri memuja kata-kata verbal, maka pecinta aliran kanan lebih asyik menari bersama gambar visual. Pemahaman ini rasanya sangat pas bersarang di kehidupan saya. Orang-orang terdekat pasti tahu persis bagaimana gaya bicara saya yang sering acak-acakan.
Akibatnya, kalimat saya sering berderai tanpa arah yang pasti. Sebenarnya, otak saya sedang sibuk mencari koneksi agar bisa meluncurkan kalimat selancar aliran air sungai. Bayangkan saja, si jago bicara mungkin hanya butuh sekian detik untuk merapal kalimat kilat: “Kambing berlari terbirit-birit di tengah pasar lalu ditangkap tukang pedati.”
Sebaliknya, saya butuh jeda lebih lama. Sebab, saya wajib memutar film pendek berisi potongan gambar mental di kepala terlebih dahulu sebelum menceritakannya. Menariknya, penelitian neurosains modern mengonfirmasi hal ini. Area Broca dan Wernicke sebagai pusat bahasa umumnya bersemayam di belahan kiri, sedangkan belahan kanan justru memegang kendali atas imajinasi spasial dan visual.
Gambaran Besar vs Detail Rumit
Lebih lanjut, masyarakat dominan kiri membangun peradaban mereka dari seni analisis fakta yang sangat rumit. Basis data komputer adalah mahakarya gemilang dari cara kerja kognitif semacam itu.
Namun, jujur saja, saya bisa mendadak stroke jika harus bekerja dalam struktur sekaku itu. Tentu saja, saya menolak keras jika ada yang menyuruh menelusuri detail angka satu per satu. Oleh karena itu, saya lebih suka memandang segala bentuk administrasi lewat teropong manajemen yang lebih luas. Dunia ini terasa jauh lebih puitis ketika kita melihat gambaran besarnya.
Walaupun begitu, gaya berpikir luas ini sering mengundang badai. Terutama, ketika manajemen menuntut pencatatan rapi, job description yang presisi, serta ekuilibrium input-output skala organisasi.
Kengganan mengeksplorasi tetek-bengek administrasi sering memicu ketegangan di ruang kerja kami. Apalagi saat usaha belum mampu merekrut staf khusus. Akhirnya, saya hanya manggut-manggut saat diomeli, lalu kembali bekerja dengan gaya santai saya sendiri. Saya tidak pernah menuntut orang lain memahami “kelebihan” ini. Nobody is perfect, you know… hehehe.
Fungsi Otak Kanan Kita dalam Membangun Empati Bisnis
Konon, belahan kiri beroperasi dengan mesin logika, sedangkan belahan kanan berselancar santai dengan gelombang perasaan.
Pernyataan ini jelas ada benarnya. Kami sering berinteraksi dengan para petani aren di pedesaan yang menanam sumber manis kita. Umumnya, mereka kurang mempedulikan kompetisi organisasi bisnis. Bagi mereka, tradisi merebus nira yang sudah berjalan ratusan tahun adalah kebenaran mutlak. Oleh sebab itu, intervensi sering dianggap sebagai angin lalu. Kalau kita tidak suka kualitasnya, ya sudah, silakan cari perajin lain.
Jika teman-teman hanya bekerja dengan satu orang, sikap kaku ini mungkin tak mengundang pusing. Namun, lain ceritanya bila jumlah mereka mencapai ratusan. Di sinilah logika kiri kehilangan tajinya.
Sebaliknya, kita memerlukan empati mendalam untuk memahami alam bawah sadar yang mengakar tujuh turunan.
Secara keilmuan, psikologi membenarkan bahwa kecerdasan emosional dan kemampuan membaca isyarat non-verbal dikendalikan oleh sisi kanan otak. Membawa perubahan pada komunitas tradisional menuntut seni pembedahan halus tanpa memicu huru-hara.
Merangkul Perubahan Tanpa Huru-Hara
Menghadapi para perajin aren menuntut saya untuk optimal dalam mengenali fungsi otak kanan dan kiri kita. Saya lantas menyingkirkan grafik excel dan beralih menggambar masa depan secara visual kepada mereka.
Saya perlahan menanamkan visualisasi kesejahteraan jika mereka turut menyelaraskan ritme bersama kami. Hasilnya, gelombang perubahan mulai tercipta. Memang belum semuanya berubah 100%. Namun, saya sangat percaya kebiasaan baik ini akan menular laksana virus kebaikan kepada teman-teman mereka.
Baca juga:
Menyeimbangkan Dominasi Menuju Harmoni Kehidupan
Pada akhirnya, skenario terbaik adalah memiliki simfoni kerja otak yang seimbang. Belahan kiri dan kanan idealnya saling bergandengan tangan, menari, dan menunjang satu sama lain.
Ketika kanan melambung tinggi memeluk fantasi, kiri dengan sigap menariknya ke bumi realita. Begitu pula saat kanan berlari kencang menatap masa depan, kiri mengingatkan pijakan masa lalu agar langkah kita tetap bijaksana.
Al Ries mungkin tepat saat mengatakan nyaris tidak ada manusia yang memaksimalkan kedua belahannya secara utuh. Namun, anatomi tubuh mencatat adanya corpus callosum, yakni jembatan saraf kokoh yang senantiasa menghubungkan dua dunia tersebut.
Artinya, mengenali fungsi otak kanan dan kiri kita bukan bertujuan untuk saling mengalahkan. Melainkan, biarkan logika dan empati bekerja bahu-membahu merawat keberlangsungan hidup yang serba dinamis ini. Dominasi boleh saja ada, tapi harmoni tetaplah tujuan utamanya.
