Tulisan saya mengenai menemukan makna ‘awet muda’ di Tuk Bimalukar ini berawal dari keadaan. Pernahkah Sobat JEI merasa lelah dengan ritme perjalanan yang serba terburu-buru? Biasanya, saya tuh kalau traveling hanya berpindah dari satu titik ke titik lain demi mencentang daftar kunjungan dan mengumpulkan foto-foto. Namun, berhubung blog ini sudah berevolusi menjadi jurnalnya pejalan lansia, saya mau tak mau harus mengubah aturan main juga.

Oleh karena itu, pada perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng kali ini, saya mengajak Sobat JEI merangkul ritme slow travel saja. Singkatnya, perjalanan ala maraton mengejar itinerary sudah tidak ramah bagi ritme napas saya. Untungnya, pesona alam Dieng selalu memanjakan pengunjung dengan ritme apa pun yang kita pilih. Untuk bagian ini tak perlu terlalu banyak dipikirkan.
Nah pesona sejarah yang penuh cerita Tuk Bimalukar langsung terasa saat driver dari rombongan memarkir kendaraan di tepi jalan raya utama.
Untuk informasi teman-teman, Situs Tuk Bimalukar ini berada tepat di pinggir Jalan Raya Dieng (tepatnya di kawasan Kalilembu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo).
Jalur ini adalah jalan aspal utama yang pasti dilewati oleh siapa saja yang berkendara menanjak dari arah Wonosobo menuju ke pusat Dataran Tinggi Dieng. Posisinya yang persis di tepi jalur utama ini memang sangat strategis, Sobat JEI. Jadi, saat kendaraan mulai memasuki kawasan atas Dieng sebelum gapura selamat datang, cukup perhatikan bahu jalan dan plang penunjuk arah situs bersejarah ini akan langsung menyambut kedatangan kita.
Tantangan Anak Tangga dan Dengkul yang Menjerit
Sebenarnya, keraguan lumayan besar sempat menyelinap nakal di kepala saya. Mengingat situs kuno ini terletak di bawah bahu jalan raya, kita harus menuruni anak tangga batu yang lumayan curam. Di sisi lain, dengkul saya masih nyut-nyutan usai trekking panjang di Gunung Api Purba Nglanggeran sehari sebelumnya.
Apalagi, dari kejauhan tempat ini tampak seperti kolam biasa-biasa saja. Namun, untungnya teman-teman seperjalanan saya bergegas turun lebih dulu. Akibatnya, saya terpaksa menekan ego dan mengabaikan pegal linu di persendian lutut. Kalau saya menyerah, saya pasti menyesal seumur hidup karena melewatkan struktur purba dari abad ke-8 ini.
Begitu kaki menginjak pelataran bawah, keputusan saya ikutan turun sangat tepat. Di depan sekarang tersaji sebuah oase spiritual yang mungkin usianya sudah ribuan tahun. Menariknya, oase peninggalan masa lalu ini tidak bersembunyi di pelosok hutan yang sulit terjangkau, melainkan setia menanti di pinggir aspal modern. Keren kan?
Jejak Mataram Kuno dan Menemukan Makna ‘Awet Muda’ di Tuk Bimalukar

Berdiri tepat di bibir situs ini, udara sejuk pegunungan langsung membelai wajah. Entah hawa dingin itu murni kiriman angin gunung atau memantul dari air bening yang melimpah dari tampungan pancuran. Yang pasti, hal pertama yang memikat indra pendengaran adalah suara gemercik air yang mengalir tiada henti.
Aliran air jernih ini keluar memancar dari dua buah pancuran batu berukir yang bernama jaladwara. Samar-samar juga ada aroma wangi bunga. Sebagai tambahan wawasan, jaladwara merupakan desain saluran air langka yang menjadi ciri khas arsitektur candi-candi era Mataram Kuno.
Air sedingin es yang jatuh menimpa bak penampungan berbata kuno berlumut itu seolah berubah fungsi menjadi lorong waktu. Akibatnya, siapa pun yang menatap lama pusaran airnya akan langsung tertarik mundur ke kehidupan ribuan tahun silam.
Titik Nol Sungai Serayu yang Menghidupi Peradaban Jawa

Nah menurut kajian geologis, mata air jernih di depan saya itu adalah anugerah langsung dari retakan aktivitas vulkanik purba Dieng. Lebih jauh lagi, para ahli hidrologi meyakini kolam ini sebagai hulu atau titik nol dari aliran Sungai Serayu.
Waa menyadari ini rasanya ingin ikut mencuci muka seperti yang dilakukan pengunjung lain sesaat mereka tiba. Tapi saya pikir lagi, gak usah terburu-buru, masih ada waktu. Alih-alih saya duduk di sebuah dingklik yang kebetulan ada di sana, menikmati jatuhan air dari pancuran sambil melamun.
Serayu, adalah sungai raksasa yang membelah Jawa Tengah. Dia lah yang dengan setia setia menghidupi peradaban panjang masyarakat agraris di sekitarnya hingga hari ini.
Sementara itu, kalau berkaca dari cermin sejarah dan arkeologi, peneliti memastikan situs ini sudah berdenyut kencang sejak era Kerajaan Mataram Kuno. Tepatnya sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi silam. Pada masa kejayaan Hindu masa lampau, sebelum para peziarah mendaki naik menuju kompleks candi pemujaan di pusat Dieng, mereka wajib berhenti di sini. Di mata air keramat inilah, para pendeta membersihkan kotoran raga sekaligus menyucikan jiwa dari energi duniawi.
Coba itu? Alangkah ruginya kan saya jika tadi bermalas-malasan di mobil, menangisi denyutan dengkul.
Filosofi dan Menemukan Makna ‘Awet Muda’ di Tuk Bimalukar
Tentu saja, ada selubung legenda kental yang membungkus tempat sederhana ini dengan sangat rapi. Nama “Bimalukar” sendiri meminjam inspirasi dari epos pewayangan legendaris Nusantara, Pandawa Lima.
Konon ceritanya, Bima sang ksatria Pandawa yang gagah berani pernah bertapa dan melukar (melepaskan) pakaiannya untuk mandi di sini.
Berawal dari cerita turun-temurun itulah, mengalir sebuah kepercayaan kuno yang masih masyarakat rawat dengan apik hingga kini. Mitosnya, siapa pun yang membasuh wajah di mata air ini akan langsung menerima berkah pesona awet muda.
Saat tiba giliran saya menangkupkan kedua belah tangan dan membasuh wajah dengan air esnya, kesegaran instan langsung menjalar ke pori-pori. Berharap awet muda? Bisa jadi! Namun, setelah meresapi detik-detik kesegaran aliran air yang membasuh kulit saya, dengan kesadaran penuh, saya berhasil merumuskan tuah magis ini ke dalam sudut pandang yang lebih membumi.
Singkatnya, otak moderen saya agak kurang percaya dengan tuah air yang membuat awet muda, sekalipun otak primitif masih berharap pada keajaiban tuah tersebut.
Bunga Hydrangea dan Menemukan Makna ‘Awet Muda’ di Tuk Bimalukar

Kesegaran yang hakiki rupanya tidak sekadar proses fisikal membasuh debu di wajah lelah saya di Situs Tuk Bimalukar ini. Sebelum meninggalkan tempat itu saya mencari toilet. Eh siapa nyana justru menemukan kebun bunga di belakang Situs Tuk Bimalukar.
Lebih logis jika saya mempercayai, bahwa jiwa manusia memang menolak tua secara alami. Walau secara alami hal itu juga tidak mungkin. Tapi jika membiarkan jiwa kita terbuka, seperti punya keberanian merangkul perjalanan seperti slow travel ini, membiarkan mata melihat hanya hal-hal yang menyenangkan, awet muda pasti datang dari sana. Karena kita akan terbebas dari stress, pemicu berbagai penyakit fisik dan mental.
Momen saat saya sudi melambatkan langkah, mengagumi lekuk pahatan purba dan membayangkan ceritanya, saya pikir itulah penawar usia yang sesungguhnya. Selain itu, rasa ingin tahu yang terus menyala terang juga ampuh merawat jiwa agar senantiasa bersemangat.
Setelah puas merenung, saya kembali menapaki jalan setapak berbatu dengan langkah yang jauh lebih ringan. Sebagai salam perpisahan yang manis, alam Dieng menyuguhkan taman kecil yang asri penuh hamparan bunga pancawarna (hydrangea).
Berdiri di antara rimbunnya dedaunan berbalut jaket denim hangat, saya tersenyum lepas ke arah lensa kamera. Pada akhirnya, proses menemukan makna ‘awet muda’ di Tuk Bimalukar bukan sekadar ritual cuci muka yang mistis. Tempat ini menjadi pengingat puitis bahwa terkadang kita hanya butuh berhenti sejenak demi mengagumi keajaiban dunia.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
