Keliling pulau Kunti Ciletuh, geosite yang terlarang dimasuki sekarang, mungkin terdengar seperti tantangan uji nyali ya, teman-teman? Tapi bukan begitu maksud saya, setidaknya ini bukan wisata horor mistis! Perjalanan saya ke salah satu objek Ciletuh di tahun 2022 dilalui lewat jalur laut.
Dalam pos kali ini, saya akan ajak teman-teman menyusuri warisan bumi, labirin bagan ikan, mengagumi batuan dasar samudera berusia jutaan tahun, hingga mengintip misteri Gua Kunti dengan trekking lebih dahulu.

Memulai Keliling Pulau Kunti Ciletuh, Geosite yang Terlarang Dimasuki
Jadi, perjalanan ke Pulau Kunti ini tidak direncanakan sama sekali. Setelah puas menikmati berbagai curug Geopark Ciletuh, guide kami bertanya apakah mau destinasi bonus? Ia menyarankan tambahan ke pulau kecil berbatu ini. Tentu saja tawaran itu saya sambar seketika. Penawarannya sendiri sudah menarik. Saya belum pernah ke Pulau Kunti. Jadi, let’s go!
Walaupun ada yang muda, sebagian besar rombongan saya sudah lansia. Jadi si bapak guide sudah tahu, perjalanan gak boleh grasa-grusu, santai saja. Kesantaian itu pulalah yang membuat rombongan itu sampai agak siang di Dermaga Pantai Palangpang di Ciwaru. Perjalanan wisatawan ke Pulau Kunti memang selalu dimulai dari sana.
Kami menaiki perahu motor tradisional atau sekoci menurut Akamsi. Atapnya hanya terpal hijau sederhana. Tidak ada dinding. Jadi kalau tiba-tiba hujan berangin pasti semua akan kebasahan. Namun momen duduk santai sembari menghirup wangi samudera sambil memandangi pecahan ombak di badan perahu bikin perasaan tenang. Seolah beban hidup ikut melayang dibawa angin laut.
Berdasarkan literatur geologi, perairan dangkal Ciletuh yang kami lewati itu merupakan sisa cekungan purba. Para ahli geologi menyebutnya sebagai Formasi Ciletuh. Kawasan ini terbentuk dari endapan sedimen laut dalam sejak puluhan juta tahun lalu.
Mungkin itu sebab mengapa siang itu airnya kelihatan begitu tenang. Kalau melihat ke bawah sesekali mata kita juga akan bertemu dengan ikan yang sedang berkerumum. Untuk pengaman, semua penumpang tetap mengenakan jaket pelampung.
Harmoni Pesisir Ciletuh, Labirin Bagan Ikan
Dengan celotehan anggota keluarga, bercanda dan sambil ledek-ledekan, perahu kami terus melaju perlahan membelah Teluk Ciletuh. Makin ke tengah laut tampak semakin tenang. Kamipun disuguhi pemandangan ikonik masyarakat pesisir. Deretan bagan ikan tradisional berdiri tegak dengan latar belakang tebing-tebing purba.
Di beberapa bagan terlihat nelayan sedang membersihkan tangkapan mereka. Bahkan ada yang melambai yang tentu saja langsung kami balas dengan antusias. Mengamati para nelayan dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat seperti itu membuat ritme perjalanan terasa semakin seru.
Riset kelautan mencatat, perairan Teluk Ciletuh sangat kaya akan plankton akibat proses upwelling (naiknya massa air laut). Fenomena alam ini membuat ikan senang banget berkerumun. Tak heran jika banyak sekali bagan bambu sebagai pendukung vital roda ekonomi warga lokal.
Sampai di “Benteng” Hijau Pulau Kunti

Setelah berlayar santai sekitar 20 menit, daratan hijau akhirnya kelihatan. Garis pantainya memadukan hamparan pasir dan batu karang dengan gradasi warna hijau. Ingat ya, setelah Januria 2024 saat keliling pulau Kunti Ciletuh, geosite yang terlarang dimasuki ini, kita memiliki aturan main yang tegas. Wisatawan hanya boleh mengagumi lanskap ini dari atas kapal.
Saya memahami keputusan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menutup daratan pulau sejak 2024. Pulau Kunti sejatinya adalah zona inti Cagar Alam Cibanteng. Hutan tropis pesisirnya menjadi rumah perlindungan bagi satwa endemik. Macan tutul jawa, lutung budeng, dan penyu hijau sering singgah di sini. Jadi, tahan diri untuk tidak melompat dari perahu ya, teman-teman!
Trekking di Pulau Kunti Ciletuh di Tahun 2022
Sekarang kawasan geosite Pulau Kunti terlarang untuk dimasuki. Namun sebelum tahun 2024, pulau ini salah satu kawasan yang ramai dikunjungi. Wisatawan tak sekadar menikmati keindahan, banyak juga diantara mereka yang berkemah di sini.
Saya dan beberapa anggota rombongan memutuskan tak sekadar bermain di pantai. Rasa ingin tahu memuncak. Apa lagi Gua Kunti sudah terlihat saat dalam perahu. Itu memantapkan niat saya. Lagi pula saya sangat penasaran dengan fenomena asal nama, mengapa Pulau ini bernama Kunti. Apakah benaran ada suara cekikan di sana?
Bunyi Kuntilanak di Pulau Kunti
Bagian kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi ini, dinamai Kunti bukan karena adanya penampakan pocong dengan balutan kain putih dan kalau berjalan melompat-lompat itu. Namanya jadi sedikit seram karena fenomena alam unik berupa suara-suara aneh yang keluar dari deretan gua di sana.
Konon, ketika ombak laut menghantam dinding gua karang dan celah bebatuan lava yang berongga, udara yang terjebak di dalamnya tertekan keluar dan menghasilkan suara tawa melengking yang menyerupai tawa kuntilanak.
Hal itu lah yang mendasari pemberian nama yang sedikit seram oleh masyarakat setempat. Dan itu pula lah yang jadi salah satu daya tarik pantai berbatu dan berpasir hitam ini. Kita juga tahu bahwa nuansa misteri dan ditakuti selalu memancing rasa ingin tahu masyarakat kita. Sebuah berkah sekaligus keajaiban geologis dari bentang alam pesisir Ciletuh, bukan?
- Baca di sini tentang : Cerita Perjalanan Candi Plaosan Klaten: Romansa Batu dan Fakta Unik Restorasi Candi Kembar
Pesona Batuan Purba di Geosite yang Sekarang Terlarang Dimasuki

Kala itu, untuk menikmati panorama Pulau Kunti, kita bisa trekking dari pantai menuju Gua Kunti. Ini semacam trekking di Pulau Perawan, gak ada fasilitas jalur yang bisa dipijak oleh lansia. Namun kebulatan tekat membuat saya rela menyisir jalan setapak, penuh semak belukar, bebatuan dan jalan turun-naik.
Setapak demi setapak yang melelahkan. Yang jelas keunikan utama kawasan pesisir ini terletak pada sisa-sisa geologinya. Batuan di pesisir Kunti bukan sekadar kerikil pantai biasa. Mereka adalah batuan mélange atau batuan campur aduk. Kerak samudera dan kerak benua saling bertumbukan akibat aktivitas lempeng tektonik sekitar 65 juta tahun silam.
Nah, kalau sudah begitu masa saya yang sudah lansia ini tidak tertarik menjelajah? Lagi pula tidak tahu kapan lagi bisa memijak kawasan ini. Merasa beruntung banget tahun 2022 saya ke sana. Kalau sekarang ya pasti sudah tidak bisa.
Gimana perasaannya yang mengikuti rasa ingin tahu?
Seribu satu. Yang jelas berada sedekat ini dengan material kerak bumi terdalam memberi dimensi spiritual tersendiri. Rasanya diri ini sungguh kecil di hadapan umur bumi yang teramat renta. Ombak memecah karang hitam, yang terasa aman, saya terjang. Sensasinya dingin, menyegarkan, dan sukses membuat kami tertawa lepas.
Alam memang selalu punya cara memanjakan panca indera kita.
- Baca juga di sini tentang : Jargon-Jargon Pergaulan dari Masa ke Masa: Evolusi Bahasa dari Prokem, “Sesuatu Banget”, hingga FOMO
Gua Kunti, Mahakarya Abrasi Geosite Ciletuh

Setelah kurang lebih 30 menit naik turun jalan setapak, turun ke laut, melangkahi bebatuan hitam, akhirnya trekking itu berpuncak di depan mulut Gua Kunti. Gua laut yang gelap ini menganga di dasar tebing hitam masif. Proses abrasi ombak selama ribuan tahun membentuk cekungan ini secara alami. Kontras kegelapan gua, birunya air laut, dan vegetasi hijau menciptakan panorama yang sangat dramatis.
Tapi saya tidak mendengar suara apapun saat itu. Hanya bisikin angin atau entah suara apa bergemerisik halus di dalam gua yang gelap dan tampak tidak berujung di dalam sana. Jujur saja saya tidak berani memasukinya.
Di mulut gua tampak sisa-sisa bara kayu, mungkin ditinggalkan oleh mereka yang membuat api unggun saat berkemah di sana. Serakan bekas botol minuman dan plastik mie instan, membuat saya beryukur hari ini bahwa kini pulau ini sudah tertutup.
Jadi ya teman-teman suara ombak yang menghantam rongga gua dan menghasilkan gema unik tidak selalu terjadi. Jika saat itu saya mendengar tawa cekikikan nyaring, pastinya saya sudah pingsan di sana.
Yang jelas, fakta ilmiah itu sudah melahirkan nama ‘Kunti’. Bukan karena sosok gaib berbaju putih pelompat pohon!
Penutup, Menjaga Warisan Alam Ciletuh
Dokumentasi visual dan text yang saya ceritakan di atas adalah rekaman memori sebelum penutupan daratan pada tahun 2024. Kini, keliling pulau Kunti Ciletuh sudah tidak memungkinkan, karena sekarang geosite yang terlarang dimasuki. Namun ia mengajarkan kita satu kebijaksanaan penting. Keindahan sejati menuntut tanggung jawab yang besar dari manusia.
Kita harus rela mundur selangkah demi menjaga kelestarian ekosistem purba yang tak terbarukan ini. Walau kini batas pandang kita terhalang oleh lambung perahu, pesan Pulau Kunti tetap menggema kuat. Belajarlah untuk melambat, resapi setiap detik perjalanan, dan hargai nafas alam yang masih tersisa.
eviindrawanto.com
Baca juga:
