Cerita perjalanan Candi Plaosan Klaten saat saya traveling ke Yogyakarta dan diajak mampir ke tetangganya. Sungguh mengasikan menyelami napas Mataram Kuno bersama teman-teman. Saya jadi banyak belajar tentang pesona arsitektur Hindu-Buddha, jadi tahu jejak cinta Rakai Pikatan, hingga fakta unik restorasi candi kembar yang menuntut kesabaran tingkat dewa.

Memutuskan Ikut Tour ke Yogyakarta
Ketika diajak tour ke Yogyakarta oleh teman-teman, sebetulnya saya sedikit enggan. Yah, sebenarnya sudah berkali-kali datang ke sana, semacam saturasi lah untuk pengalaman saya. Tapi kemudian ada yang mengusik, pertanyaan dari teman lain, “kalau ke Candi Plaosan, sudah belum?”
Duh itu seperti langsung mencet tombol ke sadaran saya. Memang sih sudah sering banget ke kota Gudeg ini, namun belum semua destinasi wisata saya datangi. Sekalipun Plaosan itu letaknya di Klaten, namun bertetangga dekat dengan Jogja, rupaya mereka merancang tempat ini juga saat membuat itinerary. Akhirnya, “baik lah, mari kita berangkat”, Kata saya.
Fakta Unik Restorasi Candi Kembar, Bermain Puzzle Batu Andesit Raksasa

Singkat cerita, turun dari Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakara, dengan sebuah mobil travel yang nyaman, kami ber-8, langsung diangkut menuju ke Klaten.
Langit Klaten sudah menunjukan arah sore ketika mobil berhenti di tepi jalan, tepat di sisi Barat kompleks candi. Dari sini saja lanskap masa lalu membentang tanpa basa-basi. Ada sentuhan manis, sekuntum kamboja merah muda mekar di pelataran menyapa. Bunga itu seolah menjadi tuan rumah yang menuntun langkah pertama kami memasuki lorong waktu abad ke-9 ini.
Saya melangkah dari aspal ke tanah berkerikil. Tour leader kami membayar tiket, anggota rombongan langsung menyebar, seakan tidak sabar untuk melihat detai-detail peninggalan arsitek kuno itu lebih dekat. Tumpukan batu andesit mematung kokoh sebagai pembatas pelataran.
Di balik reruntuhan itu lah tersimpan fakta unik restorasi candi kembar ini yang bikin takjub. Sekilas ribuan batu berserakan itu seolah puing biasa. Tidak ferguso! Mereka adalah kepingan puzzle raksasa yang sabar menunggu untuk disatukan kembali jadi candi-candi yang akan memenuhi komplek ini.
Saya melanjutkan langkah, melewati area restorasi yang bertopang perancah bambu. Merasa takjub pada diri sendiri karena sudah memutuskan ikut piknik kembali ke Yogyakarta. Di tengah lamunan, muncul sorang bapak berpakaian biasa tapi mengenakan blangkon. Entah beliau guide resmi tempat ini atau menunjuk diri sendiri sebagai pencerita, saya sangat bersyukur atas kemunculannya.
Karena dari beliau lah saya tahu bahwa Komplek Candi Plaosan ini adalah hasil kerja seniman ahli, melakukan restorasi dengan mempraktikkan metode anastilosis dari serakan batu-batu kuno bekas candi lama, disusun kembali mengikuti bentuk aslinya.
Menurut Ahli Tentang Metode Anastilosis
Sebagai informasi, aturan global anastilosis mengharuskan pemugaran memakai minimal 75 hingga 80 persen batu asli bangunan. Oleh karena itu, para ahli tak bisa asal merangkai batu baru dan bikin candi. Mereka harus mencari pasangan dari ribuan serakan batu kemudian diberi nomor satu per satu, baru dirangkai.
Saya manggut-manggut mendengarkan dengan khidmat penjelasan bapak pemandu. Kebayang deh gimana sulitnya. Mungkin seperti menyusun balok Lego level ekstrem hanya dari petunjuk cerita masa lalu. Bertambah kagum memandangi batu-batu yang sudah sukses berdiri kembali. Itu jelas adalah monumen dedikasi manusia yang menolak kepunahan sejarah.
Mengusut Harmoni Hindu-Buddha di Pelataran Candi Plaosan

Melewati labirin batu restorasi, kami tiba di pelataran utama. Candi Plaosan Lor berdiri mengangkasa memamerkan aura masa lalunya. Bangunan ini sukses menjahit harmoni Hindu dan Buddha dalam satu pelukan batu yang presisinya bikin geleng-geleng kepala. Begitu cantik. Membuat haru. Gak salah ya jika saya minta difoto oleh Pak suami di depannya. Merentangkan tangan ke udara, merayakan langit cerah sore itu sebagai ungkapan kebahagiaan yang membuncah di dada.
Di belakang saya, dua bangunan candi induk kembar berdiri angkuh membelah cakrawala. Keduanya memamerkan atap bertingkat dengan mahkota deretan stupa dan ratna.
Menurut catatan arkeologi, tata ruang Candi Plaosan memang sangat unik. Bahkan, prasasti menyebutkan ratusan candi perwara (pendamping) yang mengelilinginya merupakan sumbangan para petinggi daerah bawahan kerajaan Mataram Kuno.
Ini salah satu bukti bahwa tradisi gotong royong di Nusantara sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Sumbangan dari para pejabat bawahan kerajaan untuk pembangunan candi ini menegaskan ini. Dua candi perwara berbaris rapi mengapit candi induk, seperti pengawal abadi yang mengamankan jantung spiritual kompleks ini.
Menembus Jantung Vihara Mataram Kuno
Pesona arsitektur ini tak berhenti di pelataran luar. Pemandu mengajak kami menembus ambang pintu bilik utama candi induk. Cahaya temaram, udara sejuk dan magis, membuat saya sedikit merinding. Pahatan kepala Kala di atas bingkai pintu menatap tajam, seolah petugas imigrarsi yang mencurigai isi ransel saya :).
Riset mendalam menunjukkan bilik utama ini dulunya berfungsi sebagai vihara bertingkat. Arkeolog menemukan bekas takikan penyangga lantai kayu pada dinding bagian dalam. Dan arsitek moderen mewujudkan persis seperti model kunonya.
- Baca di sini tentang : Riverside Market Christchurch – Drama Kuliner di Luar Negeri
Di relung temaram itu, saya bertemu dengan arca Bodhisattva seperti Avalokitesvara dan Manjusri. Mereka duduk anggun untuk cahaya seredup itu. Sayangnya, padmasana (dudukan teratai) di tengah bilik kosong melompong. Para ahli menduga kuat arca Buddha utama berbahan perunggu telah lama raib atau melebur akibat ulah penjarah masa lalu. Yah tentu saja, perjalanan waktu tidak bisa melindungi harta karun dari keserakahan umat manusia. Sekalipun itu adalah tempat ibadah.
Sobat JEI pernah membaca tentang kisah cinta level ratu dan raja? Drakor sih banyak bercerita di era Goryeo sampai Joseon mereka. Di kehidupan nyata, dan kejadiannya juga sudah berlangsung ratusan tahun, Nusantara juga punya arsip untuk itu.
Selain kisah asmara, ruangan sakral ini menjadi rahim sebuah kisah toleransi yang Bhineka Tunggal Ika saja sukar menandinginya. Bayangkan saja, Rakai Pikatan yang memeluk Hindu membangun candi bercorak Buddha untuk istrinya, Ratu Pramodhawardhani. Ini lah bukti bucin tingkat tinggi versi peradaban klasik Nusantara!
- Baca di sini tentang : Shabhaye Natanz Traditional Restaurant -Pertemuan Pertama dengan Kuliner Iran
Merangkum Cerita Perjalanan Candi Plaosan Klaten di Sudut Gapura

Meninggalkan kesejukan bilik, mentari sore kembali memeluk hangat rombongan kami. Untuk mengabadikan kisah manis di sini, kami berfoto sejenak di undakan batu candi induk, bertemankan sepasang makara penjaga tangga.
Usai foto-foto, insting blogger harus sedikit diasah, saya melangkah sedikit menjauh mencari sudut sepi untuk merenung. Nah bertemu lah saya dengan sudut itu, tempat saya juga melepas lelah menunggu teman-teman yang terus mencari sudut-sudut untuk berfoto.
Dari sana saya melihat kontras rimbun daun pot kemerahan berpadu apik dengan susunan batu andesit purba di belakangnya. Pandangan saya tertuju pada struktur Stupa batu raksasa berbentuk genta itu. Ini lah stupa perwara yang cukup besar sebagai salah satu penanda agama Buddha di tempat ini.
Kemudian saya melipir agak keluar. Tadi sebelum masuk saya lupa merekam tempat ini, paduraksa. Gapura beratap ini berdiri kokoh memisahkan pelataran luar dan dalam tempat kami foto-foto tadi.
Duduk di undakan gapura yang masih menyimpan hangat matahari, sekali lagi saya meresapi mahakarya luar biasa dari nenek moyang kita.
Yah semoga dengan berbagi cerita perjalanan Candi Plaosan Klaten bersama teman-teman lansia saya, teman-teman yang kebetulan membaca posting ini semoga terinspirasi. Menjelajahi keagungan masa lalu butuh ritme seperti usia saya dan tentu saja pikiran terbuka.
Matahari yang merayap turun, warna jingganya yang epik, mengunci rapat memori indah saya ini. Sampai jumpa di catatan penjelajahan selanjutnya, Sobat JEI! Tangan saya mungkin sedikit pegal memegang kamera kala itu, tapi hati ini selalu siap melahap petualangan sejarah berikutnya. Tunggu ya 🙂
eviindrawanto.com
Baca juga:
