Halo Sobat JEI! Mencari tahu cara menjadi pendengar aktif adalah langkah pertama menyelamatkan kewarasan kita dari obrolan yang menguras emosi. Terus terang, saya sering sebal menghadapi lawan bicara yang suka bertanya, tetapi enggan menyisihkan waktu untuk mendengar jawabannya.

Secara fisik, mereka memang tersenyum manis. Namun, bahasa tubuh mereka meneriakkan pesan yang sangat berbeda. Kadang bola mata mereka mengerling ke mana-mana. Terkadang, mereka menatap kosong karena otak mereka asyik memikirkan cicilan panci atau masalah lain.
Akibatnya, saya yang kadang punya bakat tirani ala Joseph Stalin ini, langsung melabeli mereka sebagai manusia kurang etiket.
Tentu saja, memberi label “indak basamiak” alias ‘ndableq’ itu sangat mudah. Namun, mempraktikkan seni menyimak sungguh berbeda. Oleh karena itu, di sini saya juga belajar memperdalam pemahaman dari pengalaman sehari-hari.
Beda Mendengarkan dan Menyimak Aktif
Mari kita mulai dengan membedah fakta dasarnya. Mendengar dan menyimak memiliki perbedaan kasta yang cukup jauh. Mendengar sekadar menyalurkan dan menerima gelombang suara masuk ke gendang telinga. Ibaratnya, kita hanya menangkap ketukan drum mentah.
Sebaliknya, menyimak aktif berarti kita mengolah ketukan tersebut menjadi sebuah ritme dan harmoni yang syahdu.
Secara ilmiah, proses menyimak melibatkan korteks auditori otak yang bekerja ekstra keras. Saat menyimak, Sobat JEI tidak hanya menerima pesan secara indrawi melalui telinga. Selanjutnya, otak kita juga memproses ragam aktivitas persepsi, atensi, evaluasi, interpretasi, dan akhirnya merumuskan respons.
Sayangnya, kita sering melihat contoh buruk di layar kaca. Misalnya, anggota dewan yang tertidur pulas saat sidang berlangsung. Singkatnya, mereka mengirim pesan telak kepada pemirsa bahwa mereka sekadar hadir, namun gagal menyimak komunikasi di sana.
Mengapa Cara Menjadi Pendengar Aktif Penting dalam Bisnis?
Menerapkan cara menjadi pendengar aktif bukan sekadar urusan sopan santun belaka. Bahkan, hampir semua pakar bisnis sepakat bahwa kemampuan ini adalah senjata rahasia sebuah kesuksesan.
Stephen Covey secara gamblang memasukkan keterampilan ini ke dalam tujuh kebiasaan manusia efektif. Selanjutnya, pakar manajemen Tom Peters menegaskan bahwa kunci sukses bisnis terletak pada kejelian menyimak. Selain itu, Betty Harragan juga menggarisbawahi bahwa manajer jempolan selalu mendengarkan pendapat bawahannya.
Menariknya, riset psikologi modern menunjukkan bahwa menyimak dengan empati merangsang pelepasan oksitosin. Hormon inilah yang akhirnya membangun fondasi kepercayaan yang kuat antar kolega.
Oleh karena itu, mendengarkan memegang peranan krusial dari empat pilar komunikasi utama, bersanding dengan berbicara, membaca, dan menulis. Pada akhirnya, pendengar yang tulus akan selalu berevolusi menjadi pembicara yang sangat persuasif.
Samudera Informasi yang Menyesatkan
Kita hidup di era yang berisik. Banyak orang berlomba berbicara, tetapi dunia ini sangat miskin telinga yang mau mendengar.
Biarkan saja mereka meracau. Pasalnya, dunia nyata ibarat samudera informasi yang siap menenggelamkan kita ke dalam kehampaan, terutama jika kita salah memilih subjek.
Jadi, saringlah informasi yang masuk dengan bijak. Simak hal-hal yang benar-benar penting saja. Pada hakikatnya, kemampuan memilah informasi adalah salah satu syarat mutlak menjadi individu yang sukses.
Hambatan Utama dalam Cara Menjadi Pendengar Aktif
Kadang kita gagal total menangkap informasi penting yang sudah terpampang jelas di depan hidung. Akibatnya, terjadilah kebuntuan komunikasi. Mempelajari cara menjadi pendengar aktif berarti kita wajib mengenali musuh-musuh utamanya.
Pertama, kita menghadapi rintangan fisiologis. Manusia rata-rata berbicara sekitar 150 kata per menit. Padahal, otak kita mampu berpikir cepat hingga 800 kata per menit. Celah kecepatan kognitif inilah yang sering membuat otak kita melamun (atau istilah kasarnya, IQ jongkok sesaat).
Kedua, rintangan lingkungan sering merusak fokus kita. Gangguan fisik atau bombardir pesan yang datang bertubi-tubi jelas memecah konsentrasi secara instan.
Baca juga:
Mengatasi Ego dan Asumsi Keliru
Selanjutnya, kita sering tersandung rintangan perilaku. Banyak orang terjebak dalam egosentrisme (praokupasi) dan hanya peduli pada urusan diri sendiri.
Selain itu, masyarakat sering memelihara asumsi keliru yang merusak harmoni. Banyak yang mengira bahwa kelancaran obrolan murni tanggung jawab si komunikator semata.
Padahal, komunikasi adalah tarian dua arah. Kemudian, ada pula rintangan sosio-kultural. Perbedaan budaya dan ketimpangan gender kerap memicu salah paham jika kita tidak berhati-hati.
Terakhir, tentu saja masalah klasik muncul karena kita kurang berlatih memusatkan perhatian.
Jadi Kesimpulannya? Kuasai Cara Menjadi Pendengar Aktif Hari Ini
Kesimpulannya, mempraktikkan cara menjadi pendengar aktif membutuhkan niat baja dan kesabaran seluas samudra.
Kita harus secara sadar meredam ego demi memberi ruang bagi suara orang lain. Dengan demikian, kita tak hanya menyelamatkan diri dari miskomunikasi, tetapi juga merawat ikatan sosial yang sehat.
Mari kita asah telinga dan hati kita mulai detik ini. Selamat menyimak dan berlatih menjadi pendengar yang paripurna, Sobat JEI!
