
Cara mengatasi writer’s block sering kali menjadi mantra gaib yang paling dicari oleh para pengukir kata, termasuk saya sendiri. Sobat JEI, pernahkah merasa ide menguap begitu saja ke angkasa saat jari baru menyentuh tuts keyboard? Dalam jurnal kali ini, kita akan membongkar misteri kemacetan ide yang sering membuat frustrasi ini. Kita akan menelusuri bersama mengapa otak mendadak gelap gulita, apa saja akar psikologis di baliknya, dan tentunya mencari cara agar bisa terus menulis dengan riang gembira. Mari kita selami seni berdamai dengan kebuntuan ini.
Ribuan Kata Terbit, Nyali Tetap Sering Pelik
Saya sudah menenun aksara di blog sejak tahun 2007 silam. Selain jurnal Evi Indrawanto ini, saya merawat nyawa dua blog lain: Arenga Indonesia dan Gula Aren Organik. Dari ketiga ladang maya tersebut, sudah mekar sekitar lebih dari 2000 tulisan. Saya juga kerap menebar aksara di beberapa portal lain.
Secara logika, jam terbang ini seharusnya membuat proses merangkai kata semudah menyeduh teh manis hangat. Jika saya kumpulkan semua tulisan itu dalam format “apa adanya”, niscaya ia akan menjelma menjadi buku bantal yang super tebal.
Namun, apakah lantas menulis untuk “ngempanin” blog ini menjadi urusan remeh temeh? Ternyata tidak, saudara-saudara! Menjaga denyut nadi blog agar tetap up to date menuntut keringat, waktu, dan sesekali rintihan kesakitan. Bahkan Jurnal Evi Indrawanto ini pernah saya biarkan dirayapi sarang laba-laba hampir 2 tahun, saking gak tahu harus menulis apa?
Tapi rasa bersalah saya meninggalkan blog tak kunjung padam. Lantas saya mencari tahu apa saja penyebab dari writer’s blog ini. Saya ingin kembali menulis. Apa lagi sekarang saya sudah masuk kategori lansia, saya membutuhkan sebuah hobi yang bisa membantu saya mengisi hari-hari dengan tetap produkstif. Saya juga ingin melindungi otak ini agar tidak terlalu cepat terkena demensia.
Nah, menurut penelitian psikologi kognitif, menulis ternyata menguras kalori dan energi mental yang luar biasa besar. Otak kita melakukan akrobat tingkat tinggi: meramu ide logis, menyusun tata bahasa, dan memoles gaya bahasa secara bersamaan. Wajar saja jika sistem kita sesekali mengalami overheating.
Namun overheating itu terlalu lama untuk blog ini, masa iya sampai dua tahun? Jadi saya bulatkan tekat lagi untuk kembali ke blog, mengakrabi hobi yang sudah bertahun-tahun saya lakoni. Bodo amat jika sekarang sudah tidak ada orang yang membaca blog. Apa lagi sekarang menulis jauh lebih mudah karena kita bisa minta bantuan ide pada AI.
Terjebak Gelap Gulita di Depan Layar
Sobat JEI, saya sejujurnya sangat iri pada teman-teman blogger yang masih bertahan dengan blog mereka di tengah kepungan Instagram, Tiktok, Threads, Youtube dan Facebook. Apa lagi mereka sanggup melahirkan 500 kata lebih setiap hari. Tulisan juga mereka mengalir lincah bagai mata air pegunungan dan selalu segar setiap hari. Keren luar biasa, bukan? Saya ingin seperti itu sampai jari tangan saya sudah tidak mencet keyboards komputer.
Bagi saya pribadi, jalan-jalan dan menulis adalah hobi yang sudah mendarah daging. Ditambah dinamika bisnis harian, gudang bahan konten saya sebenarnya berlimpah ruah. Saya bahkan pernah mengantongi proyek buku bersama Om Nh dan almarhum Pakde Cholik. Mestinya menulis blog pribadi jauh lebih mudah karena hampir tanpa syarat.
Sayangnya, tumpukan materi yang saya punya itu sering kali rontok saat berhadapan dengan makhluk bernama mood. Semalam punya ide, besok pagi langsung menguap.
- Baca di sini tentang : Rebranding Blog: Mengapa Saya Mengubah “Travel Blog Indonesia” Menjadi “Jurnal Evi Indrawanto”
Hewan bernama mood ini sungguh labil. Suka-suka dia mau terbang tinggi atau tiarap di tanah. Begitu saya memaksa diri duduk menatap monitor, langkah saya sering mati mendadak. Saya hanya bengong, pegang dagu, gagal paham mengapa pikiran tiba-tiba menjadi segelap malam tanpa bintang.
Psikolog menyebut fenomena menatap layar kosong tanpa daya ini sebagai blank page syndrome. Alih-alih memaksa otak kanan berdansa, pelarian termanis saya biasanya berselancar tanpa arah di internet. Buka sosmed, nonton vieo pendek. Ide tulisan pun makin terbang menjauh ke langit lapis ketujuh.
Cara Mengatasi Writer’s Block Dengan Mengurai Benang Kusut Kemacetan Ide

Dunia kepenulisan mengenal fenomena gelap gulita ini dengan sangat akrab, writer’s block. Penulis tiba-tiba kehilangan kesaktiannya menghasilkan ide orisinal. Sang imajinasi seolah berkemas dan pergi liburan tanpa pamit terlebih dahulu.
Menurut Wikipedia, banyak faktor pemicu kebuntuan menulis yang parah ini. Penulis mungkin tercekik oleh tekanan kehidupan, masalah kesehatan fisik, depresi, kandasnya hubungan asmara, hingga tekanan finansial. Tekanan untuk terus berkarya juga bisa menjadi bumerang, terutama jika kita terpaksa menulis di luar habitat asli kita.
Bahkan, bayang-bayang kesuksesan masa lalu bisa menjadi hantu yang mengintimidasi karya selanjutnya. Elizabeth Gilbert, penulis buku laris Eat, Pray, Love, punya pandangan puitis nan melegakan soal ini. Ia menyarankan kita memandang diri sebagai “pemilik” genius, bukan “sosok” yang genius itu sendiri. Menurutnya, pola pikir ini sangat ampuh melepas beban berat di pundak para kreator.
Untuk kasus saya saat ini, entah angin mana yang sedang menerpa. Saya tidak sedang patah hati, sakit parah, atau pusing memikirkan dompet (yah, yang terakhir ini relatif tentu saja). Namun, jika kemalasan yang datang menyerang yang saya salahkan sebagai mood, itu memang musuh abadi yang terus saya tebas setiap hari.
- Baca di sini tentang : Blog Dalam Perjalanan Hidup Saya
Resep Rahasia agar Bisa Terus Berkarya
Sobat JEI pasti mulai bertanya, lantas adakah cara mengatasi writer’s block yang manjur? Tentu saja ada. Menerbitkan curhatan panjang tentang kebuntuan menulis ini sebenarnya adalah salah satu siasat saya agar bisa updete blog hari ini. Menjadikan kebuntuan itu sendiri sebagai sebuah konten adalah jalan ninja agar jurnal ini tetap bernapas.
Namun secara keilmuan, ada beberapa trik cara agar bisa terus menulis yang sangat layak kita praktikkan saat layar mulai terasa mengintimidasi.
Yuk mari kita baca satu-perstu:
1. Praktikkan Freewriting Tanpa Henti
Atur alarm ponsel selama 15 hingga 25 menit. Menulislah tanpa henti dan tanpa melihat ke belakang. Jangan pedulikan salah ketik, struktur kalimat yang sumbang, atau logika yang melompat. Tumpahkan saja isi kepala layaknya keran bocor.
Menurut banyak orang yang sudah mempraktekan, teknik freewriting ini terbukti ampuh mematikan sensor kritis di otak kiri kita. Sensor kritis inilah yang sering menjadi biang kerok matinya kreativitas sebelum berkembang.
2. Beranjak dan Ganti Suasana Baru
Gak usah diperpanjang, tinggalkan layar yang menyiksa batin itu sejenak. Berdiri dan berjalan-jalanlah ke halaman depan, hirup udara segar, olah raga ringan, atau seduh kopi di dapur. Tapi usahakan jangan scroll-scroll HP. Kalau begini otak kita akan semakin lelah.
Pakar neurosains menemukan bahwa aktivitas fisik ringan dan perpindahan spasial dapat memicu otak melepaskan hormon endorfin dan dopamin. Perubahan suasana lingkungan sekecil apa pun mampu mereset ulang sirkuit saraf dan kembali memantik percikan kreativitas yang sempat padam.
Nah, bagaimana dengan pengalaman Sobat JEI sekalian? Apakah layar putih kosong sering menghantui hari-hari kalian di depan laptop? Kira-kira apa penyebab utamanya dan bagaimana ramuan rahasia kalian cara mengatasi writer’s block alias kemacetan ide ini? Mari berbagi cerita di kolom komentar!
@eviindrawanto
Baca juga:
