Jaga kesehatan sejak dini bukan sekadar jargon usang, melainkan tiket emas kita untuk terus memeluk indahnya semesta. Bayangkan saja, rambut sudah seputih kapas, keriput menghias wajah, tapi kaki masih lincah mendaki pegunungan salju di Tibet! Tentu Sobat JEI tak ingin masa tua hanya dihabiskan duduk manis di kursi goyang sambil meringis menahan encok, bukan? Yuk mari kita bahas cara agar bisa traveling sampai tua.
Memasuki usia matang (usia lansia tepatnya), alarm tubuh kita sering kali berbunyi lebih kencang. Teman dan kerabat mulai berguguran melawan asam urat, pengentalan darah, hipertensi, hingga badai penyakit degeneratif lainnya. Bukti medis dari World Health Organization (WHO) pun menegaskan, penuaan seluler memang meningkatkan risiko penyakit kronis secara drastis.
Namun teman-teman, kita punya kuasa penuh untuk melawan takdir bermuram durja itu. Saya bukan ahli tapi berbagi pengalaman tentang cara agar bisa traveling sampai tua dengan fisik prima. Mulai dari pentingnya merawat kekuatan lutut, siasat memilih makanan sejati, hingga menata kewarasan pikiran.
Saya sangat percaya bahwa jauh lebih baik kita merawat tubuh sekarang (sejak dini), daripada gigit jari dan menyesal saat tiket pesawat promo sedang bertebaran!
Candu Gembol Ransel dan Alasan Menjaga Kesehatan Sejak Dini

Bagi para pehobi piknik seperti saya, menjejakkan kaki pertama kali di tanah asing memancarkan energi magis. Menyelami budaya penduduk lokal, menyesap kuliner baru, dan menghirup udara berbeda sukses menciptakan ledakan bahagia di dada saya.
Riset psikologi dari Cornell University menemukan fakta yang sangat menarik. Antisipasi dan pengalaman bepergian rupanya menyuntikkan hormon kebahagiaan yang jauh lebih awet ke dalam otak ketimbang sekadar membeli barang mewah. Pantas saja, saya merasakan dunia traveling lebih menjelma menjadi candu manis yang sangat sulit disembuhkan.
Sobat JEI pasti setuju, terkurung di rumah sebulan saja rasanya bikin mood terjun bebas ke dasar bumi. Makan nasi serasa menelan duri, minum air bagai menenggak sekam! Hiperbola memang, tapi begitulah rasanya kerinduan seorang pejalan.
Agar siklus kebahagiaan ini tidak terputus, kita wajib memutar otak. Percuma saja saldo rekening tebal dan umur panjang jika tubuh ringkih sakit-sakitan. Oleh karena itu, kita harus menemukan dan mempraktikkan cara agar bisa traveling sampai tua dengan badan bugar.
Merangkak di Perahu, Bukti Fisik Adalah Modal Utama
Saya masih mengingat betul petualangan seru bersama Tim Horee saat membelah perairan Kalimantan Selatan. Demi memuaskan mata mengamati pesona Sungai Martapura dari ujung haluan, kami harus merangkak perlahan dalam perahu. Atap perahu saat itu hanya setinggi pinggang!
Momen itu membuat saya sangat mensyukuri karunia sepasang lutut yang masih mau diajak kompromi.
Dulu, sendi lutut ini sempat terluka akibat saya terlalu bersemangat melakukan aerobic high impact. Beruntung, perawatan ahli di RS Gatot Subroto dan kedisiplinan mengonsumsi Glucosamine menyelamatkan saya.
Studi dalam Journal of Orthopaedic Surgery and Research mencatat bahwa Glucosamine ampuh memelihara tulang rawan dan efektif memperlambat laju osteoartritis. Hasilnya sangat sepadan! Lutut ini masih sanggup menaklukkan ribuan anak tangga menuju Golden Summit di China. Kaki ini masih lincah trekking syahdu membelah kabut Gunung Tanggamus, dan Gunung Api Purba Nglanggeran.
Sambil beringsut di lantai perahu itu, saya berbisik pada Mbak Donna. Saya memotivasinya agar rutin minum glucosamine juga. Semua ini demi satu tujuan: jaga kesehatan sejak dini agar kelak kita tetap bisa menari-nari di atas bumi meski angka usia terus bertambah.
Cara Agar Bisa Traveling Sampai Tua Melalui Nutrisi

Menjaga mesin tubuh tetap awet muda selalu bermula dari meja makan. Di rumah, saya menyeleksi asupan karbohidrat dengan sangat saksama. Nasi putih selalu saya campur dengan beras merah dan hitam agar tetap pulen meluncur di tenggorokan.
Jurnal gizi modern menyebutkan beras berpigmen ini menyimpan antosianin, sebuah antioksidan kuat penangkal radikal bebas si pembawa penyakit. Saya juga mendedikasikan dapur hanya untuk sayur (yang kalau bisa) organik. Saya tidak perna memasak penuh cinta tanpa taburan MSG.
Lalu, bagaimana saat sedang asyik pelesiran? Tentu saja jelajah kuliner tetap jalan terus! Kuncinya hanya terletak pada negosiasi porsi dan kecerdasan memilah menu.
Saya rela meninggalkan kuah kental bersantan dari soto, ketupat, atau sayur lodeh. Saat memesan gado-gado, saya selalu meminta bumbunya diracik encer agar tidak terlalu pekat mengikat sayuran.
Saya juga lebih memihak pada lauk daging utuh atau ikan ketimbang aneka jeroan. Makanan yang tampil sesuai wujud aslinya dari alam selalu jadi primadona saya. Tegukan air kelapa segar jauh lebih menggoda lidah daripada nata de coco olahan pabrik. Teh pahit hangat selalu menempati urutan pertama, kecuali ada tambahan Arenga palm sugar organik, itu kekecualian :).
Sederhana, namun ini adalah cara agar bisa traveling sampai tua yang paling nikmat dan minim siksaan.
Olahraga Rumahan dan Menjaga Kewarasan Hati
Walau nama saya masih tercatat rapi sebagai anggota klub olahraga, jujur saja kemalasan ber-aerobik kadang melanda kencang. Kalau mood sedang tiarap, saya lekas banting setir mencari alternatif. Berenang santai atau sekadar jalan-jalan hore mengelilingi kompleks perumahan menjadi pilihan pengganti.
Harvard Medical School bahkan merilis laporan bahwa jalan kaki ringan yang rutin sangat efektif menurunkan risiko penyakit jantung dan menjaga kelenturan sendi.
Selain itu, saya sengaja memilih hidup mandiri tanpa asisten rumah tangga. Menyapu, mengepel, dan menyetrika gunungan baju otomatis menjelma menjadi sesi angkat beban gratis! Agar pikiran tidak jenuh saat menyetrika, saya menaburkan kebahagiaan dengan streaming drama Korea atau drama China terbaru.
Pada akhirnya, puncak dari komitmen jaga kesehatan sejak dini adalah kepiawaian kita menata kewarasan hati. Kita harus terus belajar menundukkan ego. Belajar berlapang dada menerima kenyataan bahwa tak semua rencana semesta berjalan sesuai kemauan kita.
Menyadari bahwa Yang Di Atas jauh lebih paham apa yang terbaik untuk kita, keluarga, hingga seisi dunia. Berserah diri merupakan peredam stres paling mujarab. Kedamaian batin inilah yang kelak memancarkan energi positif, menjaga tameng imun tubuh, dan memastikan ransel kita selalu siap menemani langkah menjelajah dunia hingga ujung usia.
Bagaimana denganmu temans?
Baca juga:
