Cantik itu Relatif

eviindrawanto.com ~ Kata orang cantik itu relatif, depen on the eyes of beholder. Apakah ungkapan itu cocok juga deterapkan menilai lansekap suatu tempat, saya kira, juga tergantung pada sang penilai. Yang jelas kita menghuni bumi yang chaos tapi beraturan. Kita melihat bumi yang compang-camping namun banyak keindahan. Ibarat mengaduk beragam sayur di atas cobek gado-gado, bumi adalah tempat kita bertemu berbagai kepahitan juga kemanisan. Pikiran ini muncul  tatkala saya menempuh perajalan  dari Makassar-Bulukumba beberapa waktu lalu. Kemarau panjang membuat sawah kerontang dan sungai menurun drastis debit airnya. Rumput dan jerami yang  meranggas pastinya berita pahit bagi pertanian. Namun dari balik mobil ber-ac yang melaju pelan, dari balik lensa, saya hanya menangkap keindahan.

cantik itu relatif
Main Bola di Sawah

Relativitas cantik juga terlihat pada empat bocah yang sedang bermian bola di sawah kering. Kibasan debu pada kaki telanjang dan sengatan matahari sore tidak mengurangi kegembiraan mereka bermain. Satu kipper dan tiga penyerang lebih dari cukup untuk menyamai hebohnya main bola di Istora Senayan. Kerbau merumput acuh di belakang membuat saya keasyikan menonton permainan tim kecil ini.

perjalanan makassar-bulukumba

merumput bersama

Melihat dari sudut pandang kekeringan ini apakah kawan setuju bahwa cantik itu relatif?

@eviindrawanto

37 thoughts on “Cantik itu Relatif

  1. Setuju Mba. Itu cantik2 kok tempatnya.
    Kalau saya sih lbh gini: orang lain lihatnya cantik, diri sendiri (karena kebiasaan) lihatnya gak cantik. 😀

  2. Itu seperti di Afrika! Dan lebih aman soalnya tidak ada macan tutul atau singa atau macan kumbang mengejar.
    Pohon meranggas. Emasnya tanah dan jingga matahari. Hewan ternak yang asyik masyuk menyantap rumput, di dekatnya gemericik air sungai sombong dengan kekeringan sekitarnya. Beberapa menit kemudian anak-anak yang selesai bermain bola riang ceceburan di sungai itu.

    Mak, betapa negeriku dibuat dari harta karun!

    Keren foto-foto dan pemandangannya!

    1. Iya hijau selalu refrensi kita kalau memandang sawah ya Ko, sekalipun warna itu hanya siklus awal dari tanaman padi. Habis itu mereka akan menguning, baik buah maupun jeraminya 🙂

  3. Lhooo kayanya nulis agak panjang… ko ngga ada ya..?? hehe

    Ulang aaah..
    Foto2nya cantiik…kejelian mata yang mampu melihat kecantikan yang seringkali terlewat banyak orang..

  4. He3 benar juga, yg jelas bidikan uni kreeen.
    Teringat tulisan saya tentang danau kaolin, antar keindahan dan pengrusaka n alam 🙁

    1. Ketika alam sudah jadi bentuknya yang sekarang, berkompromi lah dengan kreativitas. Agar yang yang rusak tetap punya nilai tambah ya Pakded 🙂

  5. Walo lebih seger liat sawah yang ijo dengan latar langit biru, tapi pemandangan di foto2 mbak evi ini memang terlihat cantik juga 🙂

  6. Emang sih rerumputan hijau bisa memperindah pemandangan. Tapi dengan tangan trampil dalam mengambil gambar, ternyata rerumputan sawah kering bisa disulap menjadi pemandangan yg cantik dan eksotik.. kak evi jago foto juga ya.

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?