Kagum Pada Suku Dayak Meratus

eviindrawanto.com – Kagum pada Suku Dayak Meratus “Ayo teman-teman, kita sudah ditunggu Pak Kapau” Indra Pradya memanggil dari sebuah warung. Disampingnya berdiri Pak Kapau, wakil kepala adat Suku Dayak Meratus tingkat Kabupaten. Kami pun bergegas meninggalkan lokasi foto-foto narsis di atas jembatan Amandit dan minta maaf telah membuatnya menunggu. Maklum baru tiba, rencana menginap pun hanya 1 malam, sayang bila waktu tak dimanfaatkan seefisien mungkin menikmati tiap jengkal alam Loksado yang cantik. Acara hari itu memang super padat. Selama perjalanan dari Kandangan saja kami sudah mampir ke beberapa tempat. Seperti mengunjungi beberapa sisa peninggalan sejarah kabupaten Hulu Sungai Selatan. Begitu sampai langsung akan mengunjungi Pak Ayal atau Pak Damang, atasan Pak Kapau dalam struktur adat di Desa Loklahung dengan Balai Adat Malaris yang terkenal itu . Setelah itu baru menjajal bamboo rafting, atraksi wisata paling eksotis se Kalimantan Selatan. Sungguh hari yang melelahkan namun juga sempurna menggembirakan bagi Tim Horee Advantoure.kagum pada suku dayak meratusJembatan lama dan baru untuk menyeberang ke Desa Loklahung

Dari warung menuju Loklahung kami perlu jalan kaki sedikit lagi. Namun Indra memutuskan bawa mobil saja yang butuh waktu  5 menit menyusuri jalan sempit beraspal untuk berhenti di depan 2 buah jembatan gantung. Jembatan lama bersisian dengan jembatan baru. Saat itu jembatan baru belum bisa digunakan. Jadi menyeberang lah kami dengan merambat sambil berpegangan pada besi berkarat dan meliuk ke permukaan sungai karena pondasinya mulai rebah. Sejenak saya menatap Gedung sekolah SD di seberang. Kagum saya pada anak-anak di sana yang tiap hari melintasi jembatan ini. Lalu melangkah perlahan melewati pijakan kayu yang beberapa diantaranya tidak lagi berada dalam rel. Di bawah air amandit yang jernih mengalir dengan tenang.

Ditemani Pak Kapau kami menapak jalan tanah yang dipadatkan oleh kerikil. Di sebelah kiri mengalir sungai Amandit. Di sebelah kanan terlihat ladang-ladang di lereng bukit. Selain padi yang ditanam dengan ditujal (membuat lubang dengan tombak) terlihat pula kacang tanah, ketimun, jagung, tomat dan terung ungu. Dan penghasilan utama mereka adalah karet, kayu manis, kemiri atau  keminting. Bebatuan, ranting dan pohon terbakar sisa pembersihan ladang masih di sana. Sisa pembakaran munkin akan membuat tanah tambah subur. Untuk saya  jadi komposisi unik  landscape pertanian yang sudah dipraktekan Masyarakat Dayak Meratus sejak beratus tahun. Angin menerbangkan aroma kayu manis dari halaman rumah penduduk.

jalan menuju desa loklahungJalan yang membawa masuk ke Desa Loklahung

Balai Adat Malaris

Di tengah tumit yang mulai sakit karena salah pakai sepatu saya bersyukur Pak Kapau membawa kami  berhenti sejenak di halaman Balai Adat Malaris. Tempat para tetua berunding maupun penyelanggaraan tiap upacara dan ritual Masyarakat Malaris. Siang itu halaman rumah panggung, berdinding anyaman bambu, dan bentuk segi empat dimanfaatkan itu penduduk menjemur padi dan kayu manis. Kulit kayu manisnya tebal dari jenis kayu manis Sinto. Sejenak bercengkerama dengan ibu-ibu yang sedang menganyam maupun sedang mengasuh anak menimbulkan kesan bahwa kami ini turis banget. Terutama saya yang  minta difoto mengenakan Lanjung, keranjang anyaman yang digunakan masyarakat Dayak Meratus mengangkut barang dengan dicantelkan di kepala.

Balai Adat Malaris ini dijalankan oleh seorang Demang (Damang) bersama para Penghulu Adat dengan membawahi 45 KK.

balai adat malarisBalai Adat Malaris dengan lingkungannya yang asri

wanita dayak meratus menganyam lanjungIbu penganyam Lanjung

Wejangan Pak Damang – Ayal Kosal

Kami amat bersyukur di fasilitasi oleh Dinas Pariwisata Hulu Sungai Selatan untuk bertemu dengan tokoh adat ini. Jadi tahu  bahwa sebutan Damang bukan datang dari dalam adat melainkan dari pemerintah. Jabatan diperbarui tiap 5 tahun sekali oleh para Penghulu Adat. Dengan mengajukan dua orang calon, minimal pendidikan SD dan bisa baca tulis. Dua (2 ) calon ini yakni  1 dari  adat dan 1 lagi dari warga, akan dipilih oleh Penghulu Ada. Tugas yang terpilih adalah memelihara wilayah upacara. Mereka juga menjembatani antara warga dengan pemerintah dan wisatawan. Jadi kalau teman-teman bermaksud berwisata ke dalam perkampungan Suku Dayak Meratus sebaiknya melapor terlebih dahulu. Jangan selonong boy kalau tak ingin kena denda atau sangsi yang meliputi pemberian parang atau duit. Di bawah tulisan ini nanti ada nomor ponsel Pak Kapau, kontak yang bisa teman-teman hubungi bila berniat datang ke Loklahung. Tapi kalau sudah terlanjur sampai cari saja Pos. Dari sini laporan akan diteruskan ke Bapadah, badan yang berhak mengeluarkan izin

Selingkuh dan menggang isitri orang termasuk pelanggaran adat berat. Penyelesaiannya terkadang tidak cukup dalam wilayah adat jadi harus di bawa ke pemerintah Cq. Polisi.

kagum pada suku dayak meratus

Mengagumi seni anyam Dayak Meratus ditemani Pak Kapau

bersama pak demang suku dayak meratus

Foto bersama Pak Ayal

Suara Hati Pak Ayal

Bila teman-teman menyangka bahwa seorang kepala desa terpencil tidak memiliki pengetahuan atau punya pemikiran sempit cobalah ngobrol dengan Pak Ayal. Mendengar Pak Demang yang pernah jadi tim sukses Pak Jokowi namun ditinggalkan begitu saja selesai pilpress, kita seperti menerima petuah dari seorang dosen yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Bagaimana dia mengatakan bahwa tayangan-tayang hiburan di televisi sama sekali tidak mendidik membuat saya tambah kagum pada Dayak Meratus ini. Jatuh hati tepatnya. “Televisi atau media massa selayaknya mendidik bangsa ini seperti layaknya orang tua mendidik anak sendiri. Jangan hanya berpikir soal keuntungan. Memang Anda mau kaya tapi anak-anak rusak moralnya?”

Dalam hal memajukan pariwisata di Loksado, Pak Ayal  berharap pemerintah dan masyarakat adat bekerja saling mendukung. Tujuan pemerintah mengembangkan pariwisata daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selayaknya mereka diberi porsi pemikiran sebelum menetapkan beberapa kebijakan. Dalam bincang-bincang ini saya kembali mendengar hal yang sudah bertahun-tahun dikritisi masyarakat adat di seluruh Indonesia, mengenai pengalihan fungsi hutan adat menjadi hutan negara. Saya tidak mendalami isu ini namun dari suara Pak Ayal saya menangkap kepedihan yang dalam.

Hari semakin siang. Setelah satu jam lebih kami pun mohon pamit. Diakhir perbincangan kembali Pak Ayal menekankan bahwa pengembangan wisata boleh-boleh saja asal jangan  masyarakat merasa dirugikan. Keberadaan mereka diakuii melalui pelibatan kebijaksanaan yang berpihak pada keuntungan kedua belah pihak yakni pemerintah dan masyarakat adat.

Begitu lah sedikit pengalaman mengenal suku yang dulunya cuma saya baca lewat buku ini. Kagum pada suku Dayak Meratus akhirnya berujung pertemuan dengan mereka

Kontak Pak Damang Ayal melalui Pak Kapau

Telepon : 0853 8922 8173

@eviindrawanto
The only thing you need for a travel is curiosity.

40 thoughts on “Kagum Pada Suku Dayak Meratus

  1. Makanya ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.
    Saya sdh dua kali ke propinsi ini tapi blm sampai mengenal saudara2 kita ini dari dekat

    1. Betul banget Pakded, tak kenal maka tak sayang. Insya Allah yg ketiga bisa sampai ke Loksado. Ada kontak Pak Kapau di atas Pakded 🙂

    1. Iya Mbak Muna. Untung lah sdh ada jembatan baru. Gak kebayang kalau Amandit banjir dan menghantam jembatan ini 🙂

  2. Saya pernah lihat suku dayak asli di Jakarta. Masjid kantor saya pernah kedatangan seorang tokoh suku dayak, entah dayak apa saya lupa, namanya Carrol, karena bapaknya mantan ilmuan dari jerman yang menetap di sana. Ternyata di rimba sana sering didatangi peneliti mancanegara, sehingga warga di sana terbiasa dengan bahasa asing. Dan hal yang membuat saya takjub, beliau bisa bicara dalam 14 bahasa. Wow!

    1. Bstul banget Mas, imej orang dayak yg tertinggal pelan2 mulai sirna. Banyak kok yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas seperi Pak Ayal

  3. Tentunya kita akan dapat banyak tahu tentang keunikan dari suku dayak meratus ini dari dekat ya Mba, apalagi bila dijabarkan satu persatu akan menjadi sebauh wawasan yang luar biasa sepertinya Mba. Jadi kepengin ke sana suatu hari nanti. Nunggu sponsor kayanya Mba. 😀

    1. Ayo cari sponsor Pak Indra..Banyak banget yang bisa di gali di Kalimantan Selatan. Tak hanya budaya, sejarah, alam, juga orang-orangnya 🙂

  4. setiap kali membaca daerah pedalaman/Desa, hati selalu teriris pedih dan nelongso, apalagi suku dayak meratus dengan gambar-gambarnya, apapun tentu butuh dukungan disegala lininya dan oleh seluruh anak negeri ini.
    sayangnya, para petinggi negeri ini pasti ngga pernah baca artikel blog jadinya mereka yang berwenang nyantey saja.

    tapi lumayanlah minimal dengan sajian artikel ini saya jadi paham betapa negeri ini khususnyasuku dayak meratus dan suku suku lainnya mendapatkan doa dari saya:
    Salam sehat dan ceria selalu

    1. Akhir Desember lalu Mbak Anaz..Iya saya cuma dengar selintingan-selintingan saja dari isu hutan adat ini..Pasti bikin perih hati kalau di dalami 🙁

  5. Mbak Evi, untuk kerajinan tangannya sendiri mereka pemasarannya ke mana? Trus ini perjalanan kapan ya, Mbak? Seneng banget bacanya serasa ikut ke sana. mengenai hutan, hiks 🙁

    1. Pemasaran kerajinan tangan ini ada yang di bawa langsung ke Kandangan, Mbak Anaz. Dari sana di bawa ke Banjarmasih baru di seber ke berbagai tempat di Indonesia. Pemasarnya mereka lakukan sendri. Ada juga sih yang datang lansung ke sana untuk membeli..Mbak Anaz bisa kontak Pak Kapau dengan nomor di atas kalau tertarik 🙂

  6. Penduduk asli ini makin lama makin terdesak karena terutama pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Pejabat yang berwenang kadang cuma memikirkan untug sesaat, tidak memikirkan kelestarian lingkungan, penduduk asli dan sumbangsih untuk mempertahankan keragaman hayati yang tidak ternilai itu.

    Pengalaman saya ditengah hutan di kecamatan Marau kabupaten Ketapang Kalbar, membuktikan betapa semena-menanya perlakuan terhadap hutan perawan yang menjadi sawah ladang suku asli. Dalam kurun 3 tahun 20,000 hektar hutan asli berubah jadi kebun sawit. Miris.

  7. Mengenal dari dekat kebudayaan masyarakat, mendekatkan hati ada keterhubungan pola pikir, itu yang saya nikmati dari postingan khas Uni Evi ini. Terima kasih Uni, berharap suatu saat bisa jalan barengan. Salam

    1. Betul banget Mbak Prih, mendengarkan dari dekat..Kalimat-kalimat Pak Ayal berisi semua kebijakan universal. Entah tentang alam, budaya, maupun kehidupan sosial..Ketika kita saling menghargai semesta akan menciptakan ruang harmoni yang cocok bagi tempat tinggal semua orang 🙂

  8. Mbak, senang sekali ya bisa jalan-jalan ke sana. Berapa jauh jarak ke Balai Adat Malaris ini dari penginapan Alya atau Meratus Resort? Bisakah dengan jalan kaki saja? Saya sedang membuat rencana perjalanan ke sana. Mohon infonya. Terima kasih sebelumnya.

    1. Waktu itukita naik mobil, Mbak Tanti. Tapi tidak lama, sekitar 5-10 menit. Artinya dari Alya (lebih dekat lagi kalau dari Meratus resort) menuju jembatan yang akan membawa kita ke Desa Loklahung bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi paling baik tentu naik motor, bisa sekalian menyeberang terus ke rumah0nya Bapak Demang 🙂

      1. Ohya Mbak Tanti, di akhir tulisan saya ada kontak Pak Kapau, wakilnya Pak Ayal, beliau akan senang terima kontak dari mereka yang akan berkunjung ke Loklahung 🙂

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?