
Menjelajah way kambas lampung timur nyatanya selalu membawa cerita seru dan bermakna buat banyak wisatawan. Artikel ini merangkum pengalaman saya bersama teman-teman menikmati kearifan lokal di desa wisata Braja Harjosari, hingga momen kocak bertemu Rahmi si gajah pintar. Kita juga akan mengupas tuntas sebuah pertanyaan kritis dari netizen: mengapa kaki gajah di sabana di rantai? Yuk, kita bahas tuntas perjalanan slow travel ini sampai ke rincian harga tiket dan rutenya!
Pusat Konservasi Gajah Bersejarah di Sumatera
Kalau ngobrolin safari gajah, kalian pasti langsung kepikiran Thailand, kan? Wah, simpan dulu paspor dan ongkos pesawat kalian, Sobat JEI! Di ujung selatan Sumatera, kita punya Pusat Konservasi Gajah Way Kambas yang menawarkan pengalaman interaksi satwa yang nggak kalah pecah.
Pemerintah mendirikan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada tahun 1985. Area ini bukan sekadar tempat piknik biasa, melainkan sekolah gajah pertama di Indonesia. Fokus utamanya mencakup konservasi, pelatihan, dan perkembangbiakan satwa endemik.
- Menurut laporan World Wildlife Fund (WWF), TNWK membentang seluas 1.300 km persegi. Wilayah ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Dr. Simon Hedges, seorang ahli ekologi gajah, menyebutkan bahwa menjaga habitat asli seperti Way Kambas sangat krusial karena gajah Sumatera butuh ruang jelajah yang luar biasa luas untuk bertahan hidup mencari makan dan bereproduksi.
Menikmati Kehangatan Desa Wisata Braja Harjosari
Sebelum masuk ke kandang para raksasa lembut, kendaraan kami melipir dulu ke desa wisata Braja Harjosari. Lokasinya nempel langsung dengan kawasan hutan Way Kambas. Warga setempat sukses menyulap desa penyangga ini menjadi paket wisata alam yang asyik banget.
Kami mampir ke salah satu homestay yang asri. Pemilik rumah langsung menyuguhi jeruk Bali segar yang baru dia petik dari halaman. Kacang rebus hasil kebun warga juga ikut menemani obrolan santai kami di teras. Perut kenyang, hati pun senang!
- Praktik slow travel dan wisata pedesaan seperti ini ternyata berdampak besar. Pakar ekowisata dari The International Ecotourism Society (TIES) menegaskan bahwa pelibatan masyarakat lokal dalam desa penyangga sangat efektif menekan angka perburuan liar hingga 40%. Warga kini menjaga hutan dengan sepenuh hati karena alam telah memberi mereka sumber rezeki tambahan dari pariwisata.
Baca juga:
Disambut Padang Sabana dan Kelucuan Bayi Gajah
Kenyang ngemil, kami lanjut membelah hutan lebat lewat jalan aspal kecil. Sepanjang jalan, rombongan monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) asyik nongkrong. Mereka bahkan berani mendekati mobil dengan wajah memelas, seolah minta “pajak jalan” berupa pisang dan kacang goreng.
- Kenapa monyet di sini pintar mencari perhatian? Dr. Frans de Waal, ahli primatologi terkemuka, menjelaskan bahwa primata sangat adaptif dan cerdas. Mereka cepat belajar memanipulasi emosi atau meniru kebiasaan manusia demi mendapatkan makanan dengan mudah. Jadi, wajar kalau akting memelas mereka sangat meyakinkan! “Ayo kak, ini kacangnya..” Saya tersenyum dalam hati.
Selepas itu, tak lama, pemandangan tiba-tiba berubah drastis. Di dapan mata kami menyambut hamparan padang sabana luas membentang. Seolah mereka menyatu dengan cakrawala. Awan putih, langit biru, dan danau kecil tempat gajah mandi bikin pemandangan main epik dan cinematic banget buat difoto.
Baru masuk sebentar, turun dari mobil, seekor bayi gajah imut langsung mencegat kami. Belalainya masih bantet, persis karakter Bona di majalah anak-anak lawas. Teman-teman blogger tentu saja langsung sigap membidikkan kamera. Senang banget disambut ramah oleh penduduk asli seperti ini.
Mengapa Kaki Gajah di Sabana di Rantai?

Nah, buat Sobat JEI yang super kritis, pasti muncul satu pertanyaan mengganjal saat melihat foto saya di Instagram. Sebenarnya, mengapa kaki gajah di sabana di rantai?
Tenang dulu, jangan buru-buru emosi dan menuduh petugas melakukan animal abuse. Gajah-gajah dewasa di area terbuka ini sebagian besar masih menjalani tahap pelatihan penjinakan.
Rantai yang melingkar di kaki mereka BUKAN bentuk penyiksaan. Pihak konservasi sengaja mendesain rantai tersebut cukup panjang. Tujuannya agar gajah tetap leluasa jalan-jalan, makan rumput, dan berinteraksi dengan kawanannya di alam terbuka.
- Lagian, Dr. Susan Mikota, dokter hewan spesialis gajah, menerangkan bahwa prosedur tethering (pengikatan sementara) di alam liar sangat penting untuk manajemen keamanan. Rantai ini berfungsi sebagai pengaman agar gajah tidak nyasar keluar batas hutan, menjarah warung makan warga, atau tanpa sengaja menginjak wisatawan yang lagi asyik selfie. Kita harus ingat, mereka tetaplah hewan liar bermassa ton-tonan dengan insting alami yang kuat!
Momen Kocak Bersama Rahmi Si Gajah Pintar
Puncak acara dari menjelajah Way Kambas Lampung Timur hari itu adalah sesi meet and greet dengan Rahmi si gajah betina. Saat kami hampiri, dia asyik bermain bersama anaknya, April, dan bestie-nya yang bernama Mela.
Walau mereka kelihatan santai, kita tetap harus waspada. Pak Sukowiyono, sang pawang andalan, mewanti-wanti kami agar menjaga jarak aman. Kesenggol pantat atau tak sengaja kesundul waktu gajah mengangkat belalai, rasanya pasti bikin encok seharian, kan?
Interaksi Pak Wiyono dan Rahmi ini gemesin banget, mirip bapak sama anak gadisnya yang manja. Waktu Pak Wiyono mengangkat tangan, Rahmi ikutan mengangkat belalainya tinggi-tinggi. Tapi dasarnya si Rahmi agak iseng, dia kadang ogah-ogahan menuruti perintah duduk diam buat difoto. Untungnya, suapan sepotong pisang segar selalu sukses menaklukkan hatinya.
- Ahli biologi kognitif, Dr. Joshua Plotnik, telah lama membuktikan bahwa gajah memiliki self-awareness (kesadaran diri) dan empati yang sangat tinggi. Mereka punya volume otak yang besar sehingga mampu mengingat instruksi, membedakan wajah manusia, bahkan merespons humor. Jadi, Rahmi mungkin saja sengaja iseng untuk melihat reaksi panik kita!
Tersedia Warung Makan di Way Kambas Lampung
Lelah bermain dengan Rahmi, April dan Mela perut pun keroncongan. Saatnya makan siang. Beruntung Taman Nasional Way Kambas menyediakan warung yang menjual makanan dan minuman bagi para pengunjung. Yang lapar dan haus tak perlu harus keluar. Walau makanannya sederhana seperti indomie rebus. Ada juga nasi dan sayur mayur. Sebagai pelepas dahaga mabis panas-panasan dengan Rahmi tersedia kelapa muda.
Waktu terus beranjak. Menjelajah Way Kambas Lampung Timur ini terpaksa harus diakhiri. Masih seru sebenarnya. Namun hari menjelang sore, kami masih punya satu destinasi lagi ย yaitu Situs Purbakala Pugung Raharjo. Sekalipun masih ingin ngobrol ngalor-ngidul di kawasan Way Kambas Lampung Timurย yang teduh terpaksa segera angkat kaki. Sampai ketemu di pos berikutnya mengenai Pugung Raharjo ๐
Info Praktis: Harga Tiket Masuk Way Kambas
Sudah nggak sabar mau ke sini? Cek dulu rincian biaya tiket masuknya biar kalian bisa siapkan uang pas.
- Tiket Masuk WNI (Hari Biasa): Rp 5.000 / orang
- Tiket Masuk WNI (Akhir Pekan/Libur Nasional): Rp 7.500 / orang
- Tiket Masuk WNA: Sekitar Rp 150.000 – Rp 225.000 / orang
- Kendaraan (Mobil): Rp 10.000
- (Catatan: Harga sewaktu-waktu bisa berubah menyesuaikan kebijakan terbaru pengelola Taman Nasional).
Cara Menuju Taman Nasional Way Kambas
Buat Sobat JEI yang berangkat dari kawasan Jakarta atau area Serpong, rute perjalanannya lumayan gampang dan asyik buat road trip:
- Via Pelabuhan Merak: Naik kapal feri menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Waktu tempuh kapal reguler sekitar 2-3 jam.
- Tol Trans Sumatera: Begitu keluar Pelabuhan Bakauheni, langsung masuk tol dan berkendaralah santai lalu keluar di Gerbang Tol Gunung Sugih atau Terbanggi Besar.
- Jalur Arteri Lintas Timur: Lanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Lintas Timur Sumatera menuju arah Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. Total waktu tempuh mengemudi dari Kota Bandar Lampung ke Way Kambas memakan waktu sekitar 2 hingga 2,5 jam.
Nah, liburan akhir pekan atau hari besar besok sepertinya sudah ketahuan ya mau ke mana, Sobat JEI?
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=JTJhPqe2e5U[/embedyt]
Video Way Kambas
Baca jugaย Taman Nasional Jiuzhaigou: Sejumput Surga di Bumi
Baca jugaย ย 5 Aktivitas Seru di Taman Nasional Tunku Abdul Rahman Sabah
Baca jugaย ย Taman Negara Bako National Park Kuching
Baca jugaย ย Taman Kupu-Kupu Gita Persada
Baca jugaย ย Narmada Botanic Garden Wisata Agro Lombok
eviindrawanto.com








