Travel Blog Indonesia – Sepanjang sejarah, manusia telah menghiasi diri dengan perhiasan. Lelaki dan perempuan, dewasa maupun kanak-kanak. Perhiasan dikenakan dengan berbagai tujuan: prestise, kepercayaan, hingga tuntutan adat istiadat. Seringkali, batu-batu berharga ini dipercaya mengandung khasiat dan nilai spiritual, selain tentu saja sebagai investasi. Contoh paling mistis dan memikat adalah Batu Dzi dan Batu Pirus Tibet.
Setelah Ledakan Tren Batu Akik di Indonesa
Di tahun 2026 ini, ketika teknologi semakin maju, kerinduan manusia pada hal-hal yang bersifat raw dan alami justru semakin menjadi. Tren batu akik yang sempat “meledak” satu dekade lalu kini telah bertransformasi menjadi hobi yang lebih matang dan segmented. Para kolektor kini tidak hanya mencari keindahan fisik, tapi juga “nyawa” di balik batu tersebut.
Saya pun menggemari perhiasan dari batu. Mulai dari yang mahal sampai yang termurah. Sayangnya, kelas sosial saya belum sampai di level batu permata kelas kakap. Koleksi saya adalah batu-batu yang ramah di kantong tapi kaya cerita. Kebahagiaan saya tidak menurun hanya karena menikmati batu akik seharga 5 ribu per butir, asalkan desainnya unik.
Namun, itu bukan berarti saya tidak tertarik mengetahui cerita di balik batu-batu mahal. Perjalanan saya ke China beberapa waktu lalu memperkenalkan saya pada legenda hidup bebatuan Himalaya: Tian Zhu atau Batu Dzi.
- Baca juga : Wisata Sentra Batu Akik Lampung
Bertemu Batu Dzi: “Permata Surga” dari Himalaya
Perkenalan saya dengan pesona akik Tibet ini terjadi di daerah Songpan Xian, Provinsi Sichuan. Dalam perjalanan berkelok dari Jiuzhaigou menuju Huang Long, rombongan kami mampir ke sebuah toko perhiasan bernama Western Gemstone and Jade. Lokasinya bersebelahan dengan Kedai Teh Tibet yang aromanya semerbak.
Bagi masyarakat Tibet dan Himalaya, Batu Dzi (diucapkan Zee) adalah benda keramat. Namanya saja, Tian Zhu, berarti “Batu Surga”. Ini adalah batu mineral bermotif mata, berbentuk lonjong, silinder, atau tabular dengan lubang di tengahnya.
Dalam sejarah batu akik Tibet, Dzi dipercaya bukan dibuat oleh tangan manusia, melainkan “jatuh” dari langit. Legenda mengatakan bahwa Dzi adalah perhiasan para dewa yang dibuang ke bumi karena sedikit cacat, namun tetap memiliki kekuatan magis.
- Baca juga : Pentingnya Manik-Manik Bagi Suku Dayak
Makna Spiritual dan Motif Mata Batu Dzi
Si “Mbak” Pemandu wisata kami saat itu mengeluarkan kalung dengan liontin batu cokelat bertotol menyerupai mata. “Ini Tian Zhu,” tunjuknya. Ia percaya, dengan memakai kalung itu, ia hanya akan bertemu wisatawan dermawan yang memberinya tips besar.
Ternyata, motif mata pada Batu Dzi asli bukan sekadar hiasan. Dalam budaya Tibet yang kental dengan ajaran Buddha dan Bon, jumlah mata memiliki arti spesifik:
- Dzi Mata Satu (1 Eye): Simbol kebijaksanaan dan kejernihan pikiran. Cocok untuk mereka yang butuh fokus tinggi.
- Dzi Mata Tiga (3 Eyes): Salah satu yang paling populer, melambangkan kekayaan, kesehatan, dan umur panjang.
- Dzi Mata Sembilan (9 Eyes): Dianggap sebagai “Raja” dari semua Dzi. Ini melambangkan kewibawaan tertinggi, ide-ide brilian, dan perlindungan maksimal. Tak heran jika jenis ini paling diincar pejabat atau pengusaha.
Energi batu ini dipercaya mampu memblokir energi negatif. Ketika nasib buruk datang, Dzi akan menyerapnya dan melepaskan energi positif. Terjadi pertukaran energi: sedikit dari diri pemakai masuk ke batu, dan sedikit energi “langit” dari batu masuk ke tubuh.
- Baca juga  Chengdu-Jiuzhaigou – Meliuk di Punggung Naga
Pirus Tibet vs Pirus Persia: Mana yang Lebih Memikat?

Sebelum membahas harga yang bikin ngiler, mari bicara soal primadona lain: Batu Pirus Tibet (Tibetan Turquoise).
Di toko Western Gemstone, seorang “Engkoh” ganteng memberi kami edukasi—strategi marketing khas pariwisata China yang cerdas. Sebelum berjualan, mereka menyentuh hati pelanggan dengan budaya. Ia menunjukkan foto wanita bangsawan Tibet dengan perhiasan seberat 45 Kg di tubuhnya! Batu-batu itu menunjukkan status sosial.
Bedanya Apa dengan Pirus Persia?
Bagi Anda pemburu batu di tahun 2026, penting memahami perbedaan ini agar tidak salah beli:
- Pirus Tibet (Himalaya):
- Warna: Cenderung biru kehijauan (greenish-blue) karena pengaruh kandungan tembaga dan air tanah di pegunungan Himalaya.
- Karakter: Lebih “antik” dan spiritual. Seringkali memiliki urat jaring laba-laba (spiderweb) hitam yang tebal. Bagi orang Tibet, batu ini mewakili siklus hidup dan kematian.
- Nilai: Semakin tua dan semakin “hidup” warnanya, semakin mahal. Pirus Tibet asli ditambang di sekitar Lhasa, Ngari-Khorsum, Draya, dan Derge.
- Pirus Persia (Iran):
- Warna: Biru langit yang intens dan bersih (robin’s egg blue).
- Karakter: Dikenal karena kemulusan dan warna birunya yang solid. Jika ada serat, biasanya sangat halus.
- Nilai: Dinilai dari kebersihan warna birunya dan kekerasan batunya (Mohs 6,5 – 7,5).
Update Harga Batu Dzi dan Pirus di Tahun 2026
Nah, ini bagian yang paling sering ditanyakan. Apakah harga batu akik Tibet masih “mengigit” di tahun 2026?
Jawabannya: Sangat bervariasi.
Di pasar kolektor tahun 2026, Batu Dzi tua (Old Dzi) yang terverifikasi usianya ratusan tahun harganya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Namun, untuk pasar umum dan suvenir, Dzi modern (yang dibuat dengan teknik etsa agate baru) harganya lebih terjangkau.
- Dzi Modern (Souvenir/Fashion): Mulai dari Rp 80.000 hingga Rp 500.000. Biasanya untuk aksesoris gelang.
- Dzi “High Quality” Baru: Kisaran Rp 2.000.000 hingga Rp 15.000.000, tergantung kerumitan motif dan jenis batuan agatenya.
- Pirus Tibet Asli: Dihitung per karat atau per butir. Untuk kualitas gemstone, harganya masih stabil tinggi, bahkan naik sekitar 15-20% dibanding tahun-tahun sebelumnya karena semakin langkanya tambang di Himalaya.
Tips Membeli untuk Kolektor Pemula
Hati-hati, kawan! Banyak barang tiruan (kacang-kacangan) yang beredar.
- Cek Urat Batu: Pirus asli memiliki pori-pori dan serat yang tidak seragam. Jika terlalu mulus atau pola retaknya seragam seperti cetakan, waspadalah.
- Reputasi Penjual: Seperti pengalaman saya, toko terpercaya berani menunjukkan struktur batu di bawah mikroskop.
- Karma Batu Bekas: Orang Tibet percaya batu tua membawa karma pemilik sebelumnya. Jika Anda membeli Old Dzi, pastikan sudah “dibersihkan” energinya (purifikasi) agar Anda tidak menanggung karma buruk orang lain.
Sebuah Renungan di Toko Permata
Kembali ke cerita di toko. Si Engkoh meletakkan sebutir Dzi bermata di bawah mikroskop untuk membuktikan keaslian strukturnya. Sayang, saya tidak ikut mengantre untuk melihat karena lebih sibuk mencatat untuk bahan tulisan ini.
Pada akhirnya, meski ada diskon khusus “sahabat Indonesia”, saya tidak membeli Dzi hari itu. Harganya masih membuat dompet saya “menjerit”. Saya melipir ke bagian batu giok biasa dan membeli cincin kecil untuk Bapak.
Sekalipun tren batu akik di Indonesia mengalami pasang surut, pesonanya takkan pernah benar-benar pudar. Dari mengamati pesona batu akik Tibet ini, saya belajar bahwa batu bukan sekadar benda mati. Ia adalah penyimpan memori bumi, saksi sejarah, dan bagi sebagian orang, penjaga jiwa.
Apakah teman-teman sudah punya koleksi batu akik dari “Atap Dunia” ini?
Baca juga:
- Rumah Teh Tibet Sichuan, Aroma Manis Teh Putih
- Bogyoke Aung San Market Yangon – Yuk Belanja
- Mengapa Makanan Organik Lebih Mahal?
- Rumah untuk Membangun Keluarga
Foto-Foto Kenangan
Pesona Batu Akik Tibet Dalam Perhiasan
Baca juga:

