Menikmati makan siang di Pasargad Tourist Restaurant adalah sebuah misi wajib saat perut mulai mendendangkan orkestra keroncongan di tengah gersangnya tanah Persia.

Hari itu, angin Persia meniupkan debu sejarah tepat di hari ke-11 dari total 13 hari eksplorasi saya di Iran. Sebelumnya sudah banyak pesona eksotis yang sudah saya saksikan langsung. Meskipun rasanya baru sekadar mengelupas kulit tipis dari negerinya para Syah ini, tapi memori ponsel saya sudah hampir penuh. Bahagia tak terkira karena akhirnya kaki ini sukses menjejak di bumi peradaban kuno Persia. Dulu hanya kenal lewat dongeng pengantar tidur 1001 Malam.
Sarapan pagi tadi saya hanya sempat minum kopi, nyamil sepotong roti, dan sedikit telur orak-arik. Entah kenapa tadi pagi selera makan tidak begitu hadir, mungkin mulai bosan dengan menu sarapan standar hotel ala Timur Tenga. Jadi menjelang salat lohor, dan kembali melakukan perjalanan darat yang panjang, energi sarapan itu sudah menguap entah ke mana.
Menikmati Makan Siang di Pasargad Tourist Restaurant Dengan Menu Meriah

Tujuan perjalanan kami hari itu sungguh epik. Kami akan menyambangi situs megah peninggalan Kekaisaran Akhemeniyah. Tentu saja, sebelum kita berdiri kagum dengan mulut menganga di hadapan Makam Koresh yang Agung (Cyrus the Great) di Pasargadae, rombongan butuh amunisi untuk meneruskan eksplorasi.
Oleh sebab itu, kendaraan kami yang disopiri orang Iran yang santun, menepi perlahan di kawasan Jalan Pasargad (Pasargad Rd). Jalur utama ini memang memegang status sebagai rute wajib para peziarah peradaban Persia.
Tujuan makan siang hari itu adalah sebuah rumah makan yang mengusung konsep prasmanan atau buffet. Pilihan guide ini sungguh cerdas untuk turis. Pasalnya, menu di sini merangkum mahakarya kuliner lokal yang koki ramu khusus agar ramah di lidah pendatang.
Meja Prasmanan Pendamping
Begitu melewati pintu masuk resto khas dekorasi persia yang hangat, menengok ke arah meja pramasmanan, rasanya seperti menemukan fatamorgana gurun yang menjelma jadi kenyataan. AC ruangan dingin. Semua makanan yang terhidang terlihat segar dengan warna-warna tropis. Ini lah sebuah oase sungguhan bagi yang haus ditambah perut yang kelaparan!
Di sebuah sudut juga tersedia meja prasmanan yang terpisah dari meja utama. Terlihat seperangkat alat minum teh, di tata cukup apik, dekat jendela dengan pemandangan taman hijau di belakangnya.
Nah pusat semesta meja itu adalah sebuah samovar emas klasik yang sedang mengepulkan uap panas. Di sekelilingnya tersusun rapi perlengkapan minum berupa tumpukan cangkir putih, beserta bahan pelengkap seperti gula batu, krimer, kopi instan, dan gula pasir.
Untuk melengkapi sajian santai tersebut, tersedia pula puluhan kantong teh celup serta wadah berisi tumpukan buah kurma sebagai kudapan pendamping.
Kesegaran Pembuka Sebelum Menikmati Makan Siang di Pasargad Tourist Restaurant
Sekarang mari saya ajak Sobat JEI mengintip langsung deretan hidangan prasmanan utamanya. Untungnya, staf restoran baru saja membuka penutup makanan. Jadi, wujud makanannya masih sangat fotogenik untuk saya potret demi keperluan blog ini. Rasa lapar yang meronta saya paksa duduk manis sebentar. Warna-warni cantik dari meja salad terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja.
Ada tumpukan buah semangka merah yang terpotong tebal-tebal. Di negara Iran, buah ini ibarat mata air kehidupan setelah turis menghadapi terik cuaca daratan kering.
Bergeser sedikit ke sebelahnya, berjejer aneka sayuran segar. Sobat JEI bisa meracik wortel serut, selada renyah, hingga Salad Shirazi. Sebagai informasi, salad ini merupakan ikon kuliner kota Shiraz yang berdekatan dengan Pasargadae. Salad ini berisi paduan mentimun, tomat, bawang bombay, berbalut air perasan anggur muda (verjuice) dan taburan mint kering yang sangat menyegarkan.
Saya juga tidak lupa mengambil mast (yoghurt khas Persia) dan torshi (acar sayuran lokal) yang menurut saya sangat sehat bagi badan lansia ini.
Menu Utama Saat Menikmati Makan Siang di Pasargad Tourist Restaurant: Kebab!

Setelah perut melakukan pemanasan ringan, kita bergeser pelan ke barisan wadah besi penghangat (chafing dish). Harum daging bakar langsung menari-nari menggoda penciuman. Di sanalah mahkota kuliner Iran, Kabab Koobideh, terbaring anggun.
Kebab daging domba dan sapi cincang ini sangat empuk. Koki biasanya mencampurkan bawang bombay parut ke dalam adonan daging untuk menciptakan tekstur selembut itu.
Lebih lanjut, hidangan daging ini wajib berjodoh dengan Gojeh Farangi Kababi alias tomat panggang. Tomat-tomat utuh ini tampil dengan kulit sedikit gosong eksotis akibat jilatan api pembakaran.
Ketika garpu saya menekan daging tomatnya, sari buah manis yang bercampur aroma asap langsung tumpah ruah memenuhi piring. Orang Iran biasanya akan langsung memasukan nasi hangat dan langsung diaduk untuk menciptakan nasi yang lembut dengan sedikit aroma tomat berjejak asam.
- Baca di sini tentang: Nasir Al Mulk Mosque: Pesona Masjid Pink di Shiraz Iran yang Memukau Dunia
Sensasi Kuah Rempah di Pasargad Tourist Restaurant untuk Pecinta Kuliner
Orang Iran memegang teguh tradisi slow-cooked atau memasak secara perlahan. Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka menghasilkan stew atau hidangan berkuah kental (Khoresh) yang memiliki profil rasa sangat mendalam.
Di meja prasmanan ini, pilihannya melimpah ruah. Ghormeh Sabzi tampil memukau dengan kuah hijau gelapnya yang khas. Kuah ini memadukan peterseli, ketumbar, kucai, kacang merah, daging, serta limoo amani. Limoo amani adalah jeruk nipis kering Persia yang memberikan tendangan rasa asam unik penyeimbang gurihnya daging.
Selain itu, mata saya menangkap keberadaan Khoresh Gheimeh. Kuah merah tomatnya sangat pekat, menampung potongan daging dan kacang polong kuning (split peas). Bagi vegetarian atau penyuka sayur, ada Kashk-e Bademjan. Sajian ini berupa terong lumat gurih yang koki campur dengan kashk (sejenis whey fermentasi Persia yang creamy).
Terdapat pula perkedel kentang ala Persia yang renyah di luar namun lembut di dalam. Sajian mereka benar-benar membuat saya lapar mata.
- Baca di sini tentang : Masjid Shah Cheragh, Masjid Syiah di Iran Cantik dan Megah
Nasi Persia Sebagai Puncak Kenikmatan Menikmati Makan Siang di Pasargad Tourist Restaurant
Pada akhirnya, semua pasukan lauk pauk lezat tadi berbaris rapi menuju satu muara piring: Nasi! Di sudut meja penghujung, menggunung Chelo atau nasi putih berbulir panjang nan melimpah. Orang Iran sangat ahli menanak nasi hingga pulen, ringan, dan tiap bulirnya terpisah sempurna. Menariknya lagi, koki selalu menyiramkan air saffron murni di atas tumpukan nasi tersebut.
Rempah termahal di dunia ini tidak hanya menyuntikkan warna kuning emas yang mewah. Saffron juga menyumbangkan aroma harum flora yang sangat khas ke dalam hidangan.
Sebagai produsen saffron terbesar sejagat, Iran memang tak pernah pelit menggunakan rempah ini. Di manapun saya menikmati nasi, pasti akan selalu ada saffron di atasnya.
Pengalaman menikmati makan siang di Pasargad Tourist Restaurant lewat konsep prasmanan ini benar-benar semacam jalan pintas. Kita bisa mencicipi ensiklopedia rasa masakan Persia dalam satu piring penuh. Kombinasi rasa daging yang gurih, tomat yang juicy, kuah khoresh pekat, dan kesegaran semangka benar-benar ajaib.
Piring saya akhirnya bersih tak bersisa. Perut terasa kenyang, hati riang, dan tak lama kembali melanjutkan perjalanan mata saya jadi berat oleh kantuk.
Yang jelas, pengalaman menikmati makan siang di Pasargad Tourist Restaurant sukses memulihkan tenaga kami seratus persen. Sekarang, kaki dan jiwa sudah siap kembali melangkah maju.
Kami akan melanjutkan perjalanan darat singkat menuju kompleks arkeologi. Semangat menyala lagi untuk menyapa keagungan makam sang penakluk dunia, Cyrus Agung! Bagaimana Sobat JEI, siap menemani saya menelusuri megahnya reruntuhan kerajaan kuno di artikel berikutnya?
@eviindrawanto2026
Baca juga:
