
Cerita kenangan semasa SMP kali ini akan membawa Sobat JEI bernostalgia ke masa remaja yang penuh warna dan tawa. Mohon maklum ya, karena saya mulai memasuki usia emas, wajar bila sesekali saya ingin merajut kembali memori lama dengan sedikit gaya puitis dan canda nyinyir yang menghangatkan hati. Di era 80-an, masa remaja itu nyaris tidak bisa lepas dari satu fenomena luar biasa yang merajai panggung, yaitu demam Swara Mahardika.
Mengapa Demam Swara Mahardika Begitu Mengguncang Era 80-an?
Sekitar tahun 80-an, sebuah grup kesenian bernama Swara Mahardika lahir dan langsung menjadi buah bibir masyarakat. Grup yang digagas oleh maestro Guruh Soekarnoputra pada tahun 1977 ini benar-benar membalik cara berkesenian di Indonesia. Hampir setiap hari, aksi memukau mereka menghiasi halaman koran, layar televisi, hingga saluran radio kesayangan kita.
Daya tarik utama mereka adalah perpaduan berani antara akar budaya Jawa dan Bali dengan setelan panggung modern. Oleh karena itu, sentuhan pop dan teater berpadu apik menciptakan visual yang magis. Tentu saja, pertunjukan seni yang dulu sering dianggap hanya cocok untuk orang tua, tiba-tiba berubah menjadi tontonan megah ala Hollywood. Akibatnya, anak muda masa itu langsung menggandrungi gaya mereka tanpa ampun.
Cerita Kenangan Semasa SMP, Menjadi Bagian dari Gelombang Seni di Sekolah
Maka, demam Swara Mahardika itu pun menyusup cepat bak hembusan angin ke dalam dinding-dinding sekolah menengah pertama. Salah satunya tentu saja menyambangi SMPN 2, yang berlokasi di Jalan Mardani Raya, Percetakan Negara, Jakarta Pusat.
Seperti sekolah-sekolah lain pada masa itu, gairah berkesenian remaja terwujud jelas melalui kegiatan vokal grup, drama, dan tari.
Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler ini menjadi wadah paling umum dan paling mudah untuk diikuti oleh siapa saja. Kompetisi antar sekolah juga merajalela layaknya ajang pencarian bakat. Oleh karena itu, bisa dimaklumi kalau saya, yang sebenarnya tidak punya bakat seni menonjol, malah terdampar asyik di pusaran nada dan gerak ini.
Menghafal Lagu Daerah Bak Membaca Tanpa Makna
Selanjutnya, lagu-lagu daerah selalu menjadi maskot andalan dari setiap penampilan vokal grup. Tersebutlah judul-judul epik seperti Rasa Sayange, Bubuy Bulan, Ampar-ampar Pisang, hingga Manuk Dadali karya Sambas Mangundikarta.
Semua tembang warisan budaya itu otomatis menjadi hafalan wajib kedua bagi kami setelah teks luhur Pancasila.
Anehnya, walaupun saya sangat hafal liriknya di luar kepala, saya nyaris tidak pernah berusaha mencari tahu arti sebenarnya dalam bahasa Indonesia.
Persis seperti kelakuan lucu saat memperlakukan buku tebal bahasa asing. Bibir saya lancar mengeja lantang, tapi pikiran melayang entah ke mana karena tak paham isinya. Namun, semangat menyanyi bersama teman-teman tetap membara gembira di dada.
Baca juga:
Demam Swara Mahardika Membawaku Jadi ‘Sakura Dalam Pelukan’
Walaupun sadar tak punya bakat berkesenian yang mumpuni, suatu hari keajaiban kecil datang menyapa lembut. Entah bagaimana ceritanya, saya malah terpilih menjadi artis utama untuk sebuah pementasan bergengsi di sekolah.
Rencananya, saya harus menari lincah untuk lagu “Sakura Dalam Pelukan” yang dipopulerkan oleh musisi jenius Fariz RM.
Lagu pop berbalut synth-bass modern yang dirilis pada tahun 1980 ini memang sedang meledak dahsyat di pasaran musik tanah air. Sejujurnya, saya sendiri sangat bingung mengapa teman-teman menunjuk saya sebagai si Sakura nan jelita. Akan tetapi, satu hal yang pasti, persiapan menuju hari pentas itu sungguh luar biasa heboh dan menguras energi.
Tragedi Bunga Anggrek Malam Hari di Cikini
Untuk urusan kostum, selendang sutra dan kain songket elegan tinggal meminjam koleksi kebanggaan ibu di lemari. Jadi, urusan pakaian sama sekali tidak menjadi masalah berarti. Sayangnya, saya melupakan satu detail krusial, yaitu bunga segar untuk mahkota rambut sang penari. Tentu saja, masa lalu ini tak akan lengkap tanpa menyinggung sedikit tabiat malas yang bersarang di diri saya.
Padahal, saya sangat sadar bahwa kawasan Kramat Sentiong yang padat penduduk bukanlah tempat ideal untuk berburu bunga potong. Namun, saya tetap saja bersantai ria. Saya sangat yakin bahwa keajaiban akan datang dan mahkota bunga itu tiba-tiba jatuh ke pelukan saya.
Sayangnya, hingga malam menjelang pertunjukan, malaikat penolong tak kunjung melemparkan bunga wangi yang saya butuhkan.
Cerita Kenangan Semasa SMP yang Tak Terlupakan Bersama Sahabat
Akibatnya, pada malam buta itu, saya harus memelas merayu menumpang becak membelah sepinya ibu kota. Saya meminta tolong sahabat karib saya, Iis, untuk menemani meluncur ke Pasar Kembang Cikini yang legendaris demi mencari setangkai bunga anggrek segar.
Iis, teman sebangku setia yang fotonya selalu ada di sebelah kanan saya, dengan sabar ikut membantu merangkai sang mahkota bunga.
Sampai detik ini, saya tak ingat persis apakah Iis pernah menggerutu pelan karena kemalasan saya malam itu. Sebaliknya, hal yang paling melekat tajam dalam ingatan adalah dia mendapat teguran keras dari orang tuanya karena pulang terlalu larut.
Itulah sepenggal cerita kenangan semasa SMP dan juga imbas manis dari demam Swara Mahardika yang selalu sukses membuat saya tersenyum sendiri hingga hari ini.
@eviindrawanto
