Setiap bulan puasa tiba, kenangan Ramadan di kampung halaman akan selalu menarik saya kembali ke Simpang Banto, sebuah persimpangan jalan, di pedalaman Sumatera Barat sana. Ini sungguh ajaib.
Setiap kali pulang, mata saya pasti tertuju pada kubah Surau Ruhama Ambacang di Magek sebelum belok kanan ke Pinang Balirik. Pemandangan ini bak lukisan alam. Sawah menghijau membingkai surau. Pohon pisang dan kelapa berdiri tegak. Bukit Barisan gagah memagari latar belakang. Seng berwarna perak membungkus kubah itu. Matahari sore sering memantulkan cahaya berkilau dari sana. Bahkan, jika beruntung, kita bisa melihat kawanan burung pipit terbang melingkar menari di udara.
Secara historis, surau di Minangkabau bukan sekadar tempat ibadah. Surau berfungsi sebagai pusat peradaban, tempat anak laki-laki belajar mengaji, silat, dan tata krama. Oleh karena itu, melihat surau selalu membangkitkan memori kolektif anak-anak Minangkabau tentang akar budaya mereka.
Transformasi Surau dan Kenangan Ramadan di Kampung Halaman
Kenangan yang saya tulis di sini berasal dari surau lama. Sayangnya bangunan surau lama kini sudah tidak ada. Warga sudah menggantinya dengan Masjid dengan bangunan bertingkat dua yang modern.
Namun, panorama kubah Masjid Ruhama Ambacang itu tetap menjadi mesin waktu personal saya. Kubah itu akan selalu melempar saya kembali ke masa lalu. Di sana saya bisa mengingat kembali peristiwa-peristiwa indah masa kanak-kanak.
Saya juga bisa mengenang orang-orang yang membentuk masa kecil saya. Biai (nenek), adalah sosok dominan dalam kenangan itu. Selanjutnya, sosok Inyiak Kalo, guru mengaji kami, turut melintas. Beliau memiliki tatapan mata tajam. Pelototan Inyiak Kalo sering membuat nyali saya ciut sampai ke jantung. Selain itu, wajah teman-teman sebaya pengukir tawa turut meramaikan memori ini.
Wangi Mukena Nenek dan Ramuan Bunga Rampai
Ramadan memang bulan paling istimewa. Oleh karena itu, nenek selalu melakukan persiapan khusus. Nenek sengaja meninggalkan mukena hariannya di rumah saat berangkat shalat tarawih ke Surau Ruhama. Mukena harian itu sudah penuh bintik hitam akibat jejak kelembapan dan waktu.
Sebagai gantinya, nenek mengeluarkan mukena simpanan dari lemari. Beliau menggulung mukena putih bersih dan sehelai sarung ke dalam sajadah. Menariknya, nenek selalu menyelipkan bunga rampai di dalamnya. Bunga rampai ini merupakan campuran aneka bunga harum seperti kelopak mawar, melati dan irisan daun pandan segar.
Saya selalu mengingat kenangan ini tiap kali mencium aroma bunga rampai di mana saja. Mungkin karena sains menyebut fenomena ini sebagai Proustian memory. Aroma memiliki jalur memori langsung ke pusat emosi di otak. Wajar jika wangi pandan, mawar dan melati dari bunga rampai langsung memicu nostalgia masa kecil secara instan.
Mengantuk Saat Tarawih, Kenangan Ramadan di Kampung Halaman Paling Syahdu
Harus saya akui, saya tidak terlalu berbakat menjadi anak yang religius. Tarawih dua puluh tiga rakaat dengan bacaan ayat panjang sering membuat konsentrasi saya buyar. Mata saya menekuri sajadah. Terlinga saya mendengarkan bacaan ayat dari imam shalat. Tapi pikiran saya malah asyik melayang melintasi gunung, sawah, dan wajah orang-orang kampung.
Akhirnya, rasa bosan itu mendatangkan kantuk luar biasa. Jika sudah begini, saya memilih menyerah. Saya diam-diam menyusup ke shaf nenek. Saya langsung merebahkan diri di samping beliau, di batas baris sajadah nenek dan ibu-ibu di sampingnya.
Di sinilah keajaiban terjadi. Di antara rasa kantuk yang berat dan bayang-bayang barisan mukena putih berkibar, saya seolah memasuki dimensi lain.
Aroma bunga rampai dari mukena nenek menguar lembut memenuhi udara surau. Wewangian itu tercium lebih kuat setiap kali mukena nenek terkibas saat beliau rukuk atau sujud. Kalau diingat sekarang, sungguh, momen ini terasa sangat magis. Walaupun dulu terasa biasa saja. Yang jelas saya tertidur pulas diiringi dengung doa dan aroma wangi bunga rampai samar-samar. Walaupun ada gunung meletus saat itu, saya jamin saya tidak akan terbangun dari tidur nyenyak tersebut.
Tragedi Kacang Sangrai dan Cinta Monyet Masa Kecil
Membahas masa lalu kurang lengkap tanpa mengingat camilan khas. Di kampung kami, bulan puasa identik dengan kacang goreng atau kacang tanah sangrai beserta cangkangnya. Penjual biasanya menjajakan makanan ini berkeliling kampung saat waktu ngabuburit tiba.
Namun, kita juga sangat mudah menemukan penjual kacang ini di pelataran surau. Seorang anak laki-laki sebaya saya biasanya menggelar dagangannya sebelum tarawih mulai.
Tradisi menyangrai kacang menggunakan pasir panas merupakan kearifan lokal masyarakat agraris. Teknik ini menyebarkan panas secara merata tanpa menggunakan minyak. Hasilnya, kacang matang sempurna dan jauh lebih sehat.
Sayangnya, dunia kanak-kanak tidak melulu seindah dongeng. Terutama, jika urusannya sudah menyangkut ledek-ledekan anak laki-laki dan perempuan. Teman-teman sering menjadikan isu pacaran sebagai bahan lelucon jelek yang tidak berkesudahan. Padahal, kami sama sekali belum paham konsep asmara sesungguhnya.
Nah, ahli psikologi perkembangan menyebut fase ini sebagai tahap latency, di mana anak-anak mulai menyadari perbedaan gender namun mengekspresikannya lewat ejekan.
Kenangan Ramadan di Kampung Halaman yang Selalu Bikin Rindu

Di kelas mengaji Inyiak Kalo, ada seorang anak laki-laki bernama Iim. Iim memiliki kulit putih, rambut lurus, hidung mancung, dan postur tubuh tinggi cungkring. Entah dari mana mulainya, teman-teman selalu menuduh saya berpacaran dengan Iim. Ejekan ini sangat mengganggu pikiran banget kala itu.
Akhirnya, gara-gara ejekan itu pertemanan biasa kami hancur berantakan. Sebelumnya, saya merasa santai saja saat membeli kacang goreng dagangan Iim.
Namun, suatu malam menjelang tarawih, sorakan teman-teman membuat saya menanggung malu luar biasa. Gara -gara itu saya tidak pernah lagi membeli kacang goreng dari Iim. Dan pemuda cungkring itu pun selalu menghindari saya, boro-boro mau menawarkan kacang goreng seperti yang sudah-sudah.
Akhir Cerita Sang Penjual Kacang
Jejak rasa malu itu ternyata bertahan sangat lama. Bahkan sampai sekarang, perasaan tidak enak itu masih tersisa setiap kali saya melewati depan rumahnya. Padahal, rumah Iim kini sudah kosong melompong. Bangunannya sudah rusak dimakan usia. Sementara itu, tidak ada satupun warga yang tahu ke mana perginya sang penjual kacang sangrai tersebut.
Memang lucu rasanya mengingat kenangan ramadan di kampung halaman yang satu ini. Tapi saya selalu berdoa, di manapun teman-teman masa kecil saat ini berada, semoga mereka selalu diberkati oleh Allah dan hidup sehat serta sejahtera. Amin.
@eviindrawanto2026
Baca juga:
