Cara keluar dari derita kemacetan kadang terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami raksasa. Halo, Sobat JEI! Pernahkah kalian terjebak berjam-jam di jalanan ibukota hanya untuk memandangi bemper mobil depan? Iya ini adalah keluh kesah harian kita sebagai pelaju. Dalam pos ini saya akan membawa teman-teman ke rutinitas macet yang menguji iman, membahas ilusi kenyamanan kendaraan pribadi, hingga mengulik secercah harapan warga Jabodetabek terhadap Jakarta. Jika kita mendambakan sistem transportasi sekelas kota-kota maju dunia, itu manusiawi, bukan?

Menghadapi Realita, Harapan Warga Jabodetabek Terhadap Jakarta di Tengah Kemacetan
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Hujan belum berhenti. Mobil yang saya tumpangi hanya bisa merayap. Maju sejengkal demi sejengkal. Ratusan motor dan mobil dari berbagai merek saling berhimpitan bak sarden kalengan. Kadang saya terhenyak sendiri. Puluhan tahun bernapas di kota ini, nyatanya saya masih saja heran melihat kelakuan ajaib beberapa pengguna jalan.
Ruang sudah padat merayap. Jarak antar kendaraan setipis harapan balikan sama mantan. Eh, masih saja ada yang menekan klakson keras-keras. Ada juga yang menyodok dari samping kiri untuk mendahului. Fiuh!
“Emangnya cuma dia yang ingin cepat memeluk kasur? Konyol betul,” batin saya masygul. Saat-saat seperti ini, saya sungguh merindukan rumah.
Data TomTom Traffic Index tahun 2023 menyebutkan warga Jakarta menghabiskan rata-rata 117 jam ekstra setahun di jalan murni karena macet. Angka ini jelas menggerus kewarasan, bukan? Wajar jika harapan saya atau seluruh warga Jabodetabek terhadap Jakarta semakin memuncak agar segera keluar dari derita ini.
Pasti teman-teman setuju deh dengan harapan saya. Bahwa kita menuntut solusi nyata, bukan sekadar pemanis bibir di musim kampanye.
- Baca di sini tentang : Cerita Perjalanan Candi Plaosan Klaten: Romansa Batu dan Fakta Unik Restorasi Candi Kembar
Macet dalam Lorong Waktu, Sulitnya Mencari Cara Keluar dari Derita Kemacetan
Semua orang tahu, kemacetan adalah menu wajib sehari-hari, tak hanya di Jakarta tapi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Terutama di Jakarta, mulai dari warga lokal hingga para pelaju dari kota satelit rutin menyantap derita ini tanpa ampun tiap hari. Kesemrawutan ini seolah menjadi orkestra sumbang yang wajar terdengar.
Temen-teman pasti sudah tahu lah ya, bahwa kota di mulut teluk Jakarta ini sudah kadung terkenal di mata dunia dengan dua derita abadi: macet dan banjir.
Menghibur Diri di Tengah Kemacetan Jakarta
Karena tidak ada celah untuk kabur, saya memilih menghibur diri. Saya belajar merenung di tengah kepungan mesin bermotor sambil melongok keluar jendela kaca. Membayangkan satu per satu sosok di balik kemudi atau wajah di balik helm tertutup.
Gelap. Ekspresi mereka tak terbaca. Namun, saya yakin mereka semua adalah makhluk sosial dengan romantika hidup masing-masing seperti saya. Pertanyaan pun mengalir deras. Adakah mereka merindukan rumah seperti saya? Apakah mereka sedang merutuki tumpukan tugas kantor? Bagaimana rasanya menelan asap dan klakson ini setiap hari?
Sementara itu, studi psikologi tata kota mencatat, kemacetan persisten memicu commuter burnout atau kelelahan emosional akut. Ratusan pertanyaan ini membuat saya makin penasaran bagaimana tata kota atau bahkan pemerintah pusat mencari cara keluar dari derita kemacetan yang mengungkung kita bersama.
- Baca di sini tentang : Jargon-Jargon Pergaulan dari Masa ke Masa: Evolusi Bahasa dari Prokem, “Sesuatu Banget”, hingga FOMO
Ilusi Kenyamanan Kendaraan Pribadi
Mari kita jujur, Sobat JEI. Sebagian besar dari kita memilih kendaraan pribadi demi ilusi kenyamanan. Malas rasanya berjalan kaki di trotoar yang kerap diserobot motor. Apa lagi berdesakan di dalam bus atau mencium aneka aroma yang bikin pusing. Kita ingin merasa aman. Kita malas waswas menjaga tas dari tangan-tangan jahil.
Kendaraan pribadi menawarkan kebebasan magis. Kita bebas menentukan kapan pergi dan kapan pulang. Namun, mari kita lihat ironinya. Ketika jutaan warga kota memiliki pikiran persis seperti itu di waktu bersamaan, apa hasilnya? Jalanan berubah wujud menjadi area parkir raksasa!
Fenomena ini dalam teori transportasi disebut induced demand. Semakin kita mencari kenyamanan individu di jalan raya, semakin cepat kenyamanan itu menguap terbakar panasnya aspal. Lantas, kalau ujung-ujungnya stres menahan pegal berjam-jam, di mana letak nyamannya?
- Baca di sini tentang : Menikmati Live On Board di Festival Bahari Raja Ampat
Chengdu sebagai Cermin, Cara Keluar dari Derita Kemacetan lewat Transportasi Umum
Lagi pula, sepanjang kondisi angkutan umum kita masih seadanya seperti sekarang, penduduk akan terus menjejali jalan raya. Tanpa opsi yang lebih rasional, kita akan terus memeluk ketidaknyamanan ini dengan pasrah.
Saya menyimpan asa yang besar. Semoga para pengambil keputusan negeri ini segera menghapus derita panjang ini. Saya memimpikan Jakarta bisa meniru kota Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, Tiongkok. Beberapa waktu lalu saya melihat langsung pesona kota tersebut. Chengdu sukses menata kotanya. Jalanannya lebar, bersih, dan berpayung pepohonan rindang. Sistem transportasi umumnya terintegrasi amat rapi. Jaringan metro bawah tanah dan armada bus listriknya membuat warga tak perlu pusing memikirkan cicilan mobil pribadi.
Membangun ekosistem seperti Chengdu adalah cara keluar dari derita kemacetan yang paling logis. Tentu saja, infrastruktur fisik harus berlari beriringan dengan perbaikan mental para pengguna jalan. Budaya antre, sabar, dan empati adalah kunci utama.
Mewujudkan harapan warga Jabodetabek terhadap Jakarta yang ramah manusia bukanlah kemustahilan ya, teman-teman? Insya Allah, kita akan sampai pada titik itu. Tapi saya sungguh tidak tahu harus menunggu berapa generasi lagi. Yang jelas bukan di masa saya hidup sekarang
@eviindrawanto
