
Kenangan bersama Little House on the Prairie selalu berhasil membawa saya melintasi lorong waktu, kembali ke masa ketika kebahagiaan terasa begitu sederhana. Lebih dari sekadar tontonan lawas, mahakarya ini membuktikan dirinya sebagai buku bagus untuk remaja yang sukses membentuk cara pandang saya terhadap dunia.
Pada artikel ini, Sobat JEI akan saya ajak menyusuri kembali serunya drama mati lampu saat menonton TVRI, perjuangan menyisihkan uang jajan demi buku di Kwitang, hingga pesona karakter Charles Ingalls yang memikat hati. Yuk ikut bersama saya merayakan nostalgia bersama keluarga Ingalls yang bersahaja, namun kaya akan makna kehidupan.
Drama TVRI dan Doa Tolak Mati Lampu
Saya ingat betul masa-masa menjadi penonton setia serial keluarga ini di TVRI. Zaman dulu, listrik punya jadwal sendiri untuk menyala dan padam. Di lingkungan kami, gang sempit di Kramat Sention, listrik justru lebih sering padam ketimbang menyala. Alhasil, setiap minggu saya harus komat-kamit memanjatkan doa, memohon dengan harap-harap cemas agar PLN berbaik hati tidak memadamkan listrik di hari Minggu.
Dari kecil, tampaknya saya cukup taktis. Demi bisa duduk tenang di depan televisi tanpa gangguan, saya rela melakukan manuver politis. Saya turun tangan membantu ibu membereskan pekerjaan rumah yang biasanya haram saya sentuh, seperti ngepel lantal dan mencuci piring.
Alasan saya sederhana. Ibu kadang suka “balas dendam” dengan ngomel panjang lebar tepat saat saya sedang asyik menikmati hidup. Kan gak asik, ketika imajinasi saya asik berkelana terus ada yang berisik dari belakang 🙂
Sebagai stasiun televisi tunggal di Indonesia pada era 80-an, TVRI memang memonopoli hiburan semua orang. Penayangan Little House on the Prairie yang sukses besar secara global sejak 1974 ini dan demamnya turut melanda Indonesia.
- Baca di sini tentang : Lomba Perahu di Danau Sentarum: Atraksi Budaya Kapuas Hulu yang Pantang Dilewatkan!
Namun, serial adaptasi buku Laura Ingalls Wilder ini juga membuat perasaan saya campur aduk. Saya mencintai sekaligus membenci TVRI. Bayangkan saja, untuk film berdurasi 60 menit, jeda iklan yang juga menyita 60 menit sungguh terasa menguji kesabaran!
Ingat betul, pas seru-serunya eh iklan menyelinap sekian menit. Dulu mana ada remote untuk skip, yang ada kita dipaksa nonton pariwara tak berkesudahan. Saat itu otak kecil saya belum sanggup menganalisa, bahwa saya bisa nonton drama bagus itu secara gratis di TVRI, ya berkat para pengiklan itu.
Puasa Jajan Demi Buku Bagus untuk Remaja
Beruntung sekali, antusiasme menonton serial ini bertepatan dengan langkah Toko Buku Gunung Agung di Kwitang. Mereka menerbitkan seri lengkap terjemahan buku legendaris ini. Toko buku yang berdiri sejak 1953 ini memang menjadi surga dan pusat literasi bergengsi di Jakarta pada masanya. (Sayang ya sekarang sudah almarhum 🙁 )
Kehadiran buku-buku tersebut memberi saya alasan kuat untuk menahan selera. Saya rela tidak jajan di sekolah. Saya dan beberapa teman yang sama-sama tersihir oleh pesona keluarga Ingalls membuat pakta kesepakatan. Kami rela berpuasa naik becak dan memilih berjalan kaki ke sekolah demi menghemat uang.
Hasil dari mengencangkan ikat pinggang dan betis itu kami kumpulkan. Setiap hari Sabtu, kami menyetor tabungan tersebut ke kasir TB Gunung Agung. Kami menyiasatinya dengan membeli judul yang berbeda agar bisa saling bertukar bacaan. Trik jitu ini membuat saya berhasil melahap hampir seluruh judul dari seri kenangan bersama Little House on the Prairie ini.
Petualangan Membaca yang Memperluas Cakrawala
Sebenarnya, petualangan literasi saya tidak bermula dari Laura Ingalls. Sebelumnya, saya sudah lebih dulu melanglang buana bersama Karl May dan pahlawan Indian Winnetou. Saya juga asyik memecahkan misteri bersama Lima Sekawan karya Enid Blyton. Belum lagi serunya cerita silat dari Ganes TH, Gan KL, hingga Kho Ping Hoo.
Alhamdulillah ternyata ini kebiasaan bagus bagi remaja yang pelamun seperti saya. Studi modern tentang biblioterapi mengonfirmasi bahwa membaca fiksi memang ampuh meningkatkan empati. Buku-buku bergenre sasra ringan tersebut, terbukti mampu membantu remaja menavigasi gejolak emosi dengan menyediakan ruang aman untuk bereksplorasi.
Pesona Charles Ingalls, Sosok Ayah Idaman
Mengapa hati saya paling tertambat pada seri Little House hingga detik ini? Jawabannya mungkin karena saya diam-diam jatuh cinta pada karakter Charles Ingalls, ayah Laura. Sosok “Pa” yang diperankan secara ikonik oleh Michael Landon dalam versi televisinya ini merepresentasikan semangat perintis Amerika yang tangguh.
Charles Ingalls adalah paket lengkap. Ia jago bermain biola, berwajah tampan, pekerja keras, dan sangat jujur. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga, memiliki selera humor tinggi, dan berhati lembut. Kadar integritasnya luar biasa, hampir menyamai dewa.
- Baca di sini tentang : Rekomendasi Wisata Malang dari Driver Ojol – Menemukan Taman Eden di Santerra De Laponte
Satu episode yang paling membekas adalah saat Charles menolak bantuan keuangan dari Edward, sahabat karib keluarganya. Charles bersikeras menolak karena merasa belum mengeluarkan keringat untuk uang tersebut. Padahal, saat itu ia sedang hancur lebur karena panen gandumnya gagal total diserang hama belalang.
Dari literatur kita belajar fakta sejarahnya. Ternyata Wabah Belalang Rocky Mountain pada rentang 1874-1877 memang nyata dan pernah menghancurkan wilayah Midwest Amerika. Keteguhan prinsip Charles di tengah badai krisis inilah yang membuat karakternya begitu hidup dan inspiratif.
Sastra Sebagai Penyelamat Masa Pubertas
Hari demi hari, isi kepala saya rasanya “rusak” secara indah oleh Laura Ingalls. Imajinasi saya sering terbang tinggi melewati batas realita. Sama seperti Laura, saya mulai meracik nilai-nilai personal untuk mendefinisikan dunia. Tidak peduli sekeras apa pun orang lain memaksakan kebenaran versi mereka, saya memiliki fondasi pendapat sendiri.
Orang tua dan sekolah tentu memegang peranan krusial yang mengantarkan saya pada titik kehidupan saat ini. Namun pada akhirnya, buku-buku lezat inilah yang mendobrak pikiran saya keluar dari batasan egosentris.
Dari sini saya belajar bahwa menemukan buku bagus untuk remaja terbukti mampu menyelamatkan masa-masa pubertas saya yang menggelisahkan. Terkadang menakutkan dan juga melelahkan.
Setelah tuntas dengan Little House, daya jelajah pikiran saya semakin melesat. Saya menemukan sekeping surga di dalam lembaran-lembaran kertas. Saya bertemu Paulo Coelho, NH Dini, Pramoedya Ananta Tour dan banyak lainnya.
Buku memang tidak menyulap saya menjadi orang suci dalam sekejap mata. Atau membuat saya jadi pintar. Namun, menjelajahi tempat-tempat asing lewat aksara ampuh menjadi penawar rindu, sekaligus menyembuhkan beberapa luka yang tak kasat mata. Mungkin buku juga yang membuat saya saat ini ingin jadi petualang lansia.
eviindrawanto.com
Baca di sini tentang:
