
Rekomendasi wisata Malang dari driver ojol salah satu keajaiban saat kami traveling di Malang. Siapa sangka dari ngobrol iseng, akhirnya melakukan perjalanan yang membawa kami ke sebuah mahakarya lanskap di kota sejuk. Tulisan ini merangkum petualangan asyik kami; mulai dari meliuk-liuk di Kawasan Payung, terpukau hamparan bunga ala Taman Eden, menjelajah spot foto ala Eropa dan Korea, hingga menggigil syahdu saat kabut Pujon turun menyapa. Siapkan kopi hangatmu teman-teman, dan mari kita mulai ceritanya!
Menelusuri Kelokan Eksotis Menuju Pujon
Iya, cerita perjalanan ini bermula setelah kami puas berkeliling di Batu Secret Zoo. Saat itu kami pesan ojol untuk kembali ke hotel. Seperti biasa, suami saya punya kebiasaan ngobrol ngalur-ngidul dengan para driver, termasuk siang itu.
Bapak ojol yang mengantar saya kebetulan senang bicara pula dan bercerita dengan mata berbinar. Ia memberikan rekomendasi wisata Malang ini yang katanya sedang viral di kawasan Pujon. Malamnya, saya langsung melakukan riset kecil-kecilan. Mulai dari Google Guides, Foto-foto di Instagram, dan Titok. Sepertinya tempatnya asik, utamanya banyak bunga. Maklum meski tidak suka berkebun, saya senang banget kalau bertemu bunga, membuat hatiku ikut berbunga. Alhamdulillah, Pak Suami juga setuju menghabiskan satu hari lagi di Batu untuk pergi ke kawasan barat Kota Batu ini.
Yuk Berangkat!

Keesokan harinya, kami kembali menyewa jasa bapak ojol yang sama. Ia sangat lincah menyisir jalan pegunungan. Keluar dari Kota Batu, kami memasuki Kawasan Payung. Alah mak syahdunya menyisiri jalan berkelok, naik dan turun. Jalur ini memang menempel pada pinggang Pegunungan Kawi. Kelokan dan tanjakannya sangat tajam! Sementara di bawah kelihatan jurang dan kota di kejauhan. Exited, tapi tangan saya otomatis mencengkeram hand-grip mobil, biar tidak terlempar di jok belakang.
Di utara jalan, Gunung Banyak berdiri gagah. Sebagai fakta menarik, gunung setinggi 1.326 mdpl ini memiliki termal angin yang sangat stabil. Pantas saja para atlet paralayang menjadikan tempat ini sebagai lokasi lepas landas favorit.
Sambil menyetir, bapak sopir juga mengoceh tentang Pantai Balekambang dan Sendang Biru. Sayang sekali, waktu kami sangat terbatas di Malang. Semoga lain kali bisa kembali untk eksplorasi tempat wisata Malang eksotik lainnya.
Sambutan Megah Taman Eden di Ketinggian

Begitu tiba di lokasi, desain area luarnya langsung membuat saya takjub. Pengelola membangun destinasi wisata buatan ini dengan tingkat pemikiran yang cukup dalam. Singkatnya, gak ecek-ecek lah!
Gerbang utama berdiri kokoh menyambut siapapun yang ingin bergembira di sana. Desainnya mengadopsi arsitektur klasik Eropa dengan lengkungan simetris yang megah. Tepat di atasnya, papan nama hijau bertuliskan “FLORAWISATA SANTERRA DE LAPONTE” terpampang jelas. Pot-pot bunga mekar menghiasi sisi kiri dan kanan tangga.
Saya menarik napas panjang. Pengelola benar-benar menyulap lahan dataran tinggi ini menjadi mahakarya lanskap yang hidup. Sensasi magis langsung menyergap saat kaki saya melangkah masuk ke lobi. Rasanya seperti menembus portal menuju Taman Eden.
Mata saya langsung menangkap ribuan bunga Begonia dan Petunia yang menggantung manja. Warna-warni bunga Celosia menari ditiup angin. Riset botani menyebutkan, bunga Celosia atau jengger ayam ini memang mekar sempurna di daerah tropis dataran tinggi yang sejuk. Wangi semerbak bunga berpadu dengan oksigen pegunungan. Paru-paru saya langsung merayakan kemerdekaan dari polusi kota!
Surga Konten untuk Pasukan Ibu-Ibu

Begitu di dalam, mata langsung menangkap tatanan taman yang rapi, bunga-bunga yang sedang mekar, dan bangunan-bangunan ikonik yang tentunya untuk latar belakang foto ciamik. Semangat jiwa ibu-ibu saya langsung menyala terang. Saya langsung kasih hp ke fotografer setia, mantan pacar, dan lelaki yang sudah menikahi saya puluhan tahun.
Santerra De Laponte memang memahami betul naluri wisatawan modern. Bagi pasukan ibu-ibu arisan pengabdi konten, tempat ini seperti surga. Bisa menjanjikan lautan likes di media sosial. Bangunan bergaya Belanda dengan warna-warni ngejreng dan Korea yang hangat berdiri harmonis di tengah taman bunga. Bayangan saya, terutama teman-teman arisan saya, bakalan cepat penuh memori hp-nya di sini.
Karena Sobat JEI tidak akan pernah kehabisan angle foto di sini. Siapkan saja OOTD yang menarik, biar gak bosan. Kalau perlu bawa baju ganti heheheh.
- Baca di sini tentang : Edensor Hills Villa dan Resort, Rasa Eropa di Sentul
Nah, agar memori ponsel tidak sia-sia, saya sudah merangkum spot wajib yang harus kalian abadikan:
The Flower Welcome & Little Korea

Lobi utama sengaja pengelola desain untuk membetot perhatian pengunjung sejak detik pertama. Karena baru pertama, cukup lama juga saya menghabiskan waktu di sini. Mengagumi tiap jenis dan kelopak bunga yang menyapa mata.
Setelah puas di sana, langsung meluncur ke Little Korea. Pecinta drakor pasti kegirangan! Bangunan di sini meniru arsitektur Hanok asli Korea dengan struktur kayu dan atap melengkung. Tulisan Hangeul menghiasi setiap sudut. Kalian bahkan bisa menyewa Hanbok agar gaya street photography ala Seoul makin paripurna.
- Baca juga tentang : Menyapa Musim Gugur di Ponsonby Central, Hari Pertama di Aukland
Eropa Klasik & Rainbow Slide
Area Belanda memancarkan warna-warni yang sangat ceria. Kincir angin raksasa berdiri gagah menantang angin pegunungan. Deretan bangunannya mengingatkan saya pada kota Colmar di Prancis yang terkenal dengan arsitektur renaisans. Di sini namanya juga copy-an ya, warnanya lebih ngejreng. Tapi di foto hasilnya bagus banget.
Bergeser sedikit, wahana Rainbow Slide membelah bukit. Seluncuran warna-warni ini menggunakan material interlocking khusus yang meluncur cepat. Kontras warnanya sangat Instagramable!
Jembatan Kaca & Kamera 360

Terowongan Bunga menghadirkan jalur pejalan kaki berlapis rangka besi. Tanaman rambat merajut atap alami yang cantik. Cahaya matahari yang menerobos celah daun menciptakan siluet foto potret yang magis.
Terus jangan lupa mampir juga ke bagian jembatan kaca. Yang tidak takut ketinggian bisa juga mencoba berfoto di atas badan jembatan yang transparan. Pemandangan ke bawah dan kebun-kebun sayur di kejauhan cukup menguji nyali juga. Jangan lupa lepas sendal atau sepatunya sebelum naik ya, biar badan jembatan tidak tergores. Kalau sudah tergores, bahaya untuk pengunjung lain soalnya, bisa runtuh sewaktu-waktu.
Setelah itu, Sobat JEI wajib mencoba Photobooth 360 Video Spinner. Kamera berputar mengelilingi kita di atas panggung kecil. Pencahayaan alami dataran tinggi membuat hasil videonya terlihat sinematik ala iklan televisi. Saya juga mencoba di sini dengan tambahan sedikit biaya. Setelah selesai, file-nya langsung bisa ditransfer ke hp kita.
- Baca juga : Pengalaman Menginap di Hotel Aria Gajayana Malang: Nyaman, Strategis, dan Bikin Anak Betah Ngemall
Syahdunya Kabut Pujon Menutup Hari

Cuaca pegunungan memang gemar bermain tebak-tebakan. Sedang asyik tertawa sambil bergaya depan kamera suami, awan abu-abu pekat mendadak turun dari puncak gunung. Hujan orografis khas dataran tinggi pun membasahi kawasan Santerra. Suhu anjlok drastis. Udara dingin khas Pujon langsung menusuk tulang pipi.
Saya dan suami langsung menepi. Tenang saja, Sobat JEI, di Florawisata Santerra De Laponte terdapat Mountain Resto, kita bisa berlari ke sana. Menu mereka menawarkan beragam makanan berat, makanan ringan sampai soft drink dan kopi. Seru juga ngopi di sini dengan pemandangan pegunungan yang asri sambil menunggu hujan reda.
Kalau sudah begini, saya jagi marger. Sambil menikmati pisang goreng, kabut putih pun perlahan turun. Merayap perlahan menelan taman bunga dan bangunan cantik di sekitarnya. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi sangat syahdu, misterius, dan puitis. Untung saja saya patuh pada pedoman wisata pegunungan. Payung dan jaket windbreaker tebal sudah siap di dalam tas. Jaket ini benar-benar menyelamatkan saya dari serangan hipotermia ringan!
Hujan akhirnya mereda, meninggalkan rintik tipis dan aroma tanah basah (petrichor) yang menenangkan jiwa. Sisa air hujan yang menempel di kelopak Begonia justru membuat bunga itu terlihat seperti menangis bahagia. Kunjungan yang berawal dari rekomendasi wisata Malang dari driver ojol ini benar-benar mengukir memori indah. Perpaduan lanskap rapi, fasilitas mumpuni, dan kejutan kabut syahdu membuat saya berjanji untuk kembali lagi suatu hari nanti.
eviindrawanto.com
