Wanita-Wanita yang Terpinggirkan

Ketika peringatan untuk mengenang jasa-jasa Ibu Kartini berlangsung semarak, perlu diingat  bahwa masih banyak wanita yang dipinggirkan nasib di negara tercinta ini.  Seperti yang saya temukan di Brebes beberapa saat lalu. Beberapa orang ibu, mungkin disebut pengemis, berjalan tertatih dari toko ke toko di bawah terik matahari yang membakar. Kulit mereka keriput, hitam dan tampak getas, menyodorkan tangan kepada  wisatawan yg sedang belanja bawang dan telur asin untuk oleh-oleh.

Termangu

Saat dia menengadahkan tangan itu ada yang memberi dan ada pula yang cuek saja. Setelah beberapa saat dia berhenti dan menatap orang-orang yang sedang belanja dengan  termangu. Entah apa yang di pikirkannya. Mungkinkah berhap bahwa dia salah seorang dari mereka?

Walau tak di beri ibu ini kekeuh tak mau beranjak dari tempatnya

Kalau ibu ini lain lagi. Dan tampaknya mengemis juga butuh mental tahan banting. Walau di tolak, dicuekin dan dianggap tak ada, ibu ini tak bergeming. Terus saja bersender pada tiang listriksambil menyodorkan tangan di depan sebuah toko.

Akhirnya pergi juga

Tapi akhirnya seseorang keluar dari dalam toko dan memberi ibu ini dua keping uang logam. Mungkin mangkal di sana berpotensi mengganggu kenyamanan pelanggan toko tersebut jadi disuruh pergi dengan memberinyanya uang.

Setelah itu saya menyimpan camera dan kembali ke mobil dengan perasaan marah. Entah marah pada siapa. Mungkin pada diri sendiri yang tak bisa berbuat lebih banyak untuk sesama. Tapi kalau saja bisa nonjok muka-muka begajulan tukang rampok duit rakyat, rasanya pasti jauh lebih menyenangkan.

Apa yang engkau rasakan kalau engkau bertemu  mereka temans?

PS : Masih tentang hari Kartini 🙂

Jadi blogger tapi gak mau ikutan kuis, bagaikan naik taksi tapi gak mau pake argo. Belum jadi blogger gaul kalo belum ikutan ‘Kuis Slogan Gaul Kartini Modern’ di Blog Bibi Titi Teliti.

–Evi

 

 

61 thoughts on “Wanita-Wanita yang Terpinggirkan

  1. Tentu saja nasib mereka ini bikin kita trenyuh dan sekaligus menyadarkan saya untuk lebih banyak bersyukur. Di samping terasa ironis, bahwa di negara yang terkenal subur makmur kaya potensi alam ini, jumlah kaum marjinal masih terlalu banyak. Mungkin karena para elit pembuat keputusan itu banyak “membuat kebijakan yang tidak bijak”.

    1. Tongkat kayu bisa jd tanaman saja ternyata gagal mensejahterakan semua orang ya Mas Danis
      Harus ada cara agar kita semus dapat akses thd kekayaan tsb. Kalau secara individu tak bs melakukannya, mestinya ada kekuatan lain yg dpt melakukannya. Misalnya pemerintah

  2. aku mengerti marah yang uni rasakan,
    gemes karena kita juga tidak bisa berbuat banyak
    gemes krn kita pun mengemis pd pemerintah agar menepati janjinya
    untuk mengurusi fakir miskin bukannya melindungi koruptor.

    1. Marah itu datang dr perasaan tak berdaya yaMay..Lah kok kita perlu mengemis pd mereka ya..padahal pemerintah terbentuk krn ada rakyaat. Mungkin sebutannya perlu di ganti agar mereka lbh tahu diri, bukan pemerintah, tp pembantu rakyat

  3. Pengemis, gambaran dari setumpuk masalah di negeri ini. Mereka ada, sejatinya karena pengemis-pengemis berdasi, yang mengemis milyaran nilai proyek dengan mencari muka pada penguasa, kemudian si penguasa pun akan mengemis dari sisa usaha proyek …

    1. Akhirnya yg terlindas adalah pengemis yg tak tahu caranya gimana mendapatkan proyek bernilai milyaran itu ya Mas Noer..Pengemis dimanapun pasti ada..Tapi jumlah di negara kita kelewat banyak Mas..Mestinya yg naik ke kekuasaan adalah anak2 pengemis, jadi mereka tahu gimana pahitnya hidup meminta-minta…Lebih peka pada derita orang lain…

  4. dulu, saya sering gusar karena mereka kok mau enaknya saja…mengandalkan rizki dari ketrampilannya menengadahkan tangan.. astaghfirullah…sekarang saya tak berani lagi menghakimi mereka (meski hanya dalam hati) karena saya bahkan tak tahu seberapa besar perjuangan yg telah mereka lakukan untuk sekedar tetap hidup… saya bahkan tak berani menjamin apa saya akan mengambil pilihan berbeda jika saya ada di posisi mereka 🙁

    1. Diantara mereka memang ada yg mau enaknya saja kok Mbak Mechta..Tapi sebagian lagi emang ada yg terjepit oleh situasi, sehingga tak melihat cara lain selain meminta-minta.Seperti dirimu, aku juga sebal melihat ibu-ibu sehat, gendong anak-anak, menengadahkan tangan di lampu merah. Kalau yg ini aku curiga, mereka bagian dari pesengkokolan organisasi penggemis yg terstruktur. Sdh begitu yg bikin gondok adalah anak-anak yg mereka gendong kebanyakan sedang tidur. Mencurigakan banget, anak2 tsb pasti dikasih obat tidur biar gak gampang diatur…

    1. Iya Mbak Lid..Mungkin mereka gak punya anak kalau pun punya mungkin anak2 tsb terlalu sibuk dengan “kekurangan” mereka sendiri sehingga tak memperhatikan orang tua..

  5. Jadi kapan kita tonjok mereka mba???

    pulangnya kita cegat aja ya mbaaa 🙂
    bambu runcing udah aku siapin mba…hihihi…

    1. Segera kalau sdh dapat mukanya kita tonjok..Bambu runcing, aduh nonjok aje deh Bi. Sate dari daging mereka pasti gak enak..hahaha

  6. Mungkin sebenarnya penulis artikel tidak perlu marah karena sebenarnya dengan dimuatnya artikel ini berarti sudah melakukan sesuatu. Inilah realita yang tidak bisa ditutupi di negeri yang makmur ini, dan perlu lebih dari sekedar prihatin dari pemimpin-pemimpin. Salam kenal 🙂

    1. Menulis saja seperti melihat gunung di kejauhan Mas, indah saja tanpa tahu detailnya 🙂 Thanks ya sdh mampir. Salam kenal kembali

  7. memang kalau lihat para pengemis yang sudah tua atau maaf cacat suka iba dan marah . marah pada mereka yang membiarkan ini terjadi, mereka sibuk dengan urusan golonganya dan mengerogoti uang negara pula sebagai dananya.. sungguh keterlaluan..

    jadi ingat lirik lagu kang iwan “buat apa ada pemerintahan kalau hidup terus terusan susah”

    1. Iya Kang, ketika yg muda meminta2 kita marah karena merasa mereka tak patut melakukannya. Ketika yg tua renta meminta-minta, kita iba lalu kemudian marah kepada situasi. Sementara mereka melata meminta receh-receh, pemimpin cuma sibuk ngurusin kekuasaan. Mandul banget deh mereka!

  8. “Fakir miskin dan anak terlantar diperlihara oleh negara” udah tinggal jadi kenang2an dalam UUD ya mbak…

    Nasib yang sama juga dialami oleh “bumi, air dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat..”. Nyatanya, kekayaan alam kita banyak dikuasai oleh negara asing, sampai2 bnyk masyarakat kita yang harus jadi pengemis di negara sendiri…

    1. Jeng, terenyuh aku membaca komenmu. Benar banget. Apa yg ada diundang-undang tak turun ke bumi Indonesia jadi kenyataan. 80 persen kekayaan negara cuma memakmurkan 20 % rakyatnya. Hukum pareto terbalik di negara galau ini 🙂

    1. Persoalan hampir sebagian besar orang itu Pak Mars..Tapi jangan kuatir dengan mendidik siswa seperti yg Pak Mars lakukan, mudah2an jumlah pengemis makin ciut di masa datang. Karena anak-anak itu punya cara mengujudkan mimpi untuk merubah nasib ekonomi bangsa. #halah saya ngomongnya kok koran banget ya hehehe…

  9. Hai mbak…ketemu lagi heee…fotonya ngak usah diragukan lagi, begitu juga dengan isinya, jika melihat hal itu, saya pasti lemas tak berdaya mbak..ngasinya liat-liat, takut ada kelompok tertentu yang memanfaatkan kesempatan, kalau diserbu beramai-ramai, bisa habis mbak..sehat selalu mbak yach…maaf baru bisa kunjung nich

    1. Selamat kembali dr hiatusnya Bli. Kalau di Jakarta menurut orang emang ada kelompok pengemis yg terorganisasi. Gak tau yg di Brebes ini Bli

  10. para pemegang amanah mengelola negara ini sepertinya gak pernah bertemu wanita seperti yang dalam photo diatas, secara mereka kalau jalan selalu penuh dengan pengawalan, pemandangan kiri kanan sudah terpoles,

  11. lakukan apa yg anda sanggup.., cz tdk mgkn km bisa menonjok wajah2 para koruptor..,mgkn yg bisa dilakukan adalah dengan menyedekahkan uang kpd pengemis td.., gk ada kata terlambat cz msh bnyk pengemis lain ko’ 🙂

  12. Miris melihat para ibu ini….
    Mengandalkan pemerintah seperti jauh panggang dari api.
    Ketika merasa belum mampu berbuat, saya hanya berharap, kehidupan mereka di masa tuanya ini menjadi lebih baik…

    1. Kemiskinan adalah bagian dr penyakit sosial, Mb Lia. Utk memberantasnya perlu program terstruktur dan berkesinambungan. Jika pemerintahan skrg bagian dr penyakit sosial jg, memang susah berharap memberantas kemiskinan ini 🙂

  13. Ini di Brebes ya, Mbak? Rasanya mungkin lain ya kalau di luar kota. Tapi kalau di Jakarta, saya kok agak kebal ya. Terutama yang tiap hari datang ke rumah, dengan badan gagah dan kekar, sambil mengayunkan kecrekan. #curcol

    1. Betul di Brebes Mbak Nunik. Yah kalau di datangi tiap hari, terutama yg masih mudah dan kelihat segar bugar, bisa dimaklumi kok Mbak, kita jadi eneq melihatnya 🙂

  14. miris ya kalau melihat seperti itu

    skrg ini kesenjangan di negeri qta amat sangat lebar
    disaat ada sebagian orang untuk makan hari ini pun hrs bekerja keras terlebih dahulu
    tapi banyak pula sebagian orang yg setiap weekend berlibur dan menghambur-hamburkan uang….
    hiks…sungguh ironis

    maaf ya mbak terkadang aq kalau melihat potret seperti itu suka terbawa perasaan

  15. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Evi…

    Masya Allah… sungguh memiris hati menyaksikan kenyataan hidup bagi golongan terpinggir ini. Saya jadi sayu mengenangkan kesusahan hidup mereka.

    Tanggungjawab pemerintah untuk membantu meringankan beban golongan ini agar tidak terpinggir dalam menikmati kekayaan di negara sendiri.

    Sangat bersyukur dengan apa yang diperolehi dari kurnia Allah dan berharap bisa membantu mereka yang susah hidupnya. Aamiin.

    Salam mesra buat mbak Evi. 😀

  16. bergetar hati ini melihatnya., 🙂 jadi inget orang tuaku waktu kecil., mereka mengarungi lautan dengan sebuah tongkang kecil sambil menggendong aku.,

  17. gak ngerti mau bilang apa ttg kemiskinan yg selalu membuat hati jadi mengharu biru
    apalagi melihat ibu2 yg sudah tua begini
    dimana selayaknya mereka dirumah bercanda riang dgn cucu ,
    kenyataannya mereka harus mengemis dijalan …hiks 😥

    miris, gemes, sedih campur aduk,
    krn gak tau harus bagaimana……….gak tau apa yg bisa diperbuat oleh diri sendiri utk mereka …. 🙁
    salam

  18. sangat menyentuh nih… foto fotonya bagus… kalau di singapore mereka di jadikan priority untuk mendapatkan kerjaan, tapi hanya kerjaan yang sifatnya bersih bersih.

  19. Kalo saya suka marah sama anaknya Bu. Kog tega2nya Ibunya yang tua renta disuruh ngemis?? Kan kasian… mestinya umur segitu Ibunya sudah hidup senang tenang sambil nimang cucu 🙂

  20. Apapun alasannya, mengemis itu tidak disukai. Rasululloh Saw kan juga melarang meminta-minta.

    Salam hangat dari Surabaya

  21. Jika orang Islam bisa istiqomah membayar zakat dan gemar bersedekah Insya Allah tak akan ada pengemis lagi. Lha wong pembagian sembako gratis, pembagian daging Qurban gratis saja ada yang memanfaatkan untuk menjualnya je.

    Salam hangat dari Surabaya

  22. Jujur, saya sangat trenyuh jika melihat wanita-wanita keriput kurus yang harus mengemis, mgkin itu jalan satu2nya bagi mereka utk mendapatkan rejeki, dimana mereka tak bisa lagi mengandalkan tenaga utk bekerja. Tetapi saya lebih terkesan dan berempati jika melihat para wanita keriput itu bekerja tanpa meminta-minta.
    Persoalan pengemis tidk hanya persoalan pemerintah, tp selayaknya masyarakat seperti kita ikut berperan utk mengurangi keberadaan mereka dg memberi solusi, tidak hanya menyalahkan pemerintah.

  23. Miris & terenyuh…sudah pasti, yang diperlukan adalah orang yang berani memperhatikan mereka secara nyata, tidak hanya ngomong doang seperti saya ini 🙂

  24. Miris, mungkin itu adalah kata yang bisa mewakili perasaan saya saat melihat foto ini, mbak.
    Di saat wanita Indonesia sedang giat-giatnya menyuarakan emansipasi, ada kaum kita sendiri yang lupa kita rangkul buat menikmati arti kemerdekaan. Saya tidak akan menyalahkan siapapun, karena alasan hakiki kenapa mereka mengemis hanya mereka sendiri yang tahu. Tapi sepanjang kita bisa membantu, mari kita bantu tanpa berpikir terlalu panjang apakah alasan mereka mengemis itu A atau B…

    Mbak Eviiii, saya datang 😀

  25. menyaksikan kenyataan ini, betapa tidak amanahnya negeri ini
    menyaksikan kenyataan ini, mari kita bergerak untuk senang berbagi

  26. Eh, Brebes? Kampung saya ituuuh..

    Saya, sih, sekarang gak kasihan lihat pengemis. Biasanya masih sehat gitu, kok. Saya malah trenyuh kalo lihat ibu2 atau simbah2 yang panas2an keliling kampung buat jualan. Kadang mikir, simbah yang jualan itu anaknya kemana? Kok, ya, udah tua tetep dibiarin kerja..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?