Manusia Sedang Membuat Dirinya Mirip Kecebong

Tombol yang memungkinkan nasabah suatu bank melakukan self-service

Saya membayangkan, dalam perjalanan evolusi berapa ribu tahun kedepan, ujud fisik umat manusia mengalami perubahan. Kepala dan jari membesar tapi kaki semakin pendek. Lucu gak sih transformasi seperti itu? Pasti lucu lah jika wajah cantik dan ganteng namun bertubuh mirip kecebong. Penyebabnya karena kita semakin banyak menggunakan otak  dan jari-jari untuk memencet tombol.

Sekarang saja teknologi yang dikendalikan tombol elektronik sudah  merasuk dalam kehidupan sehari-hari yang meminimalkan penggunaan kaki. Alih-alih naik tangga pada gedung bertingkat kita lebih suka masuk lift dan mencet tombol. Coba deh bayangkan apa saja yang dapat dikerjakan oleh  komputer maupun  ponsel cerdas? Yap benar!  Melalui tombol ke dua benda ini sekarang kita bisa memperpendek jarak, menyingkat waktu, mencerdaskan otak dan bahkan  memenuhi kebutuhan emosi. Melalui tombol sekarang banyak lho orang jatuh cinta dan tak sedikit juga yang sakit hati.

Koratnya manusia menyukai cara-cara mudah . Nah ketika banyak hal menyenangkan didapat melalui tombol, bukankah kita cenderung akan lebih banyak menggunakannya?

Bagi saya adalah penderitaan pergi ke suatu tempat yang sama berulang-ulang seperti ke bank. Tapi yang namanya bisnis mana mungkin tak membutuhkan service bank?  Maka kehadiran internet dan mobile bangking adalah berkah. Begitu pula jika sedang tak punya staf rumah tangga, jari saya semakin terlatih memencet tombol mesin cuci, rice cooker dan microwave. Sayang saja seterikaan masih manual. Saya memimpikan seterikaan menggunakan tombol yang bisa bekerja sendiri.

Apakah dirimu juga ambil bagian dalam merubah bentuk fisik anak cucu kita nanti jadi mirip cebong, temans?

Salam,

— Evi

 

34 thoughts on “Manusia Sedang Membuat Dirinya Mirip Kecebong

  1. Hahaha…tulisannya bagus mbak 😀

    Iya ya, jaman yang serba mudah membuat jari jemari dan kepala bekerja jauh lebih banyak dibanding kaki 😀

    Aku juga keknya turut bagian dalam hal itu, mbak… Cuma kalo untuk urusan perbankan, percaya ato gak, aku gak pake fasilitas mobile banking lho mbak. Kalo mo transfer apa2 masih harus jalan ke ATM 😀

    1. Iya Jeng, sekarang jari bekerja lebih keras dari kaki hahahah..
      Dan sesampai di ATM-pun yang kembali bekerja kan jemari kan Jeng..

  2. buru buru ngacung …. 😛
    aku termasuk bagian pertombolan seperti yg Evi tulis … hehehe… 🙂
    tapi, masih dlm batas yg wajar kok Vi ….suwer wer wer deh…. 😀
    krn aku blm memakai mobile banking juga sih….
    masih seneng ke atm sambil malalak …..hahaha 😀 😀
    salam

    1. Welcome aboard Bunda, sebagai generasi peletak dasar-dasar perubahan gen anak cucu kita. Dari alam lain nanti kita menonton mereka, berkarya lewat tombol2. Mungkin nanti berperang juga tak menggunakan bedil lagi Bun, tapi cukup pakai remote control..

  3. mengerikan sekali Bu Evi kalau sampai bermutasi seperti itu bentuk manusia >,<

    Tapi ya bener juga sih sekarang segala hal jadi memudahkan manusia, saya juga menunggununggu setrikaan yang cuma tingal pencet, ngga usah kita yang jalanin *males kalo udah soal setrikaan*

    Tapi sampai sekarang aku ngga pake mobile banking lho Bu Ev, lebih pilih jalan sendiri ke ATM, toh udh banyak ini ATM deket pula lokasinya sama rumah dan tempat kerja 😀

    1. Mengerikannya karena ditelah dari sudut pandang masa kini Miss Titi. Kalau kita sdh terlibat di dalam pasti enggak lah..
      Iya, kapan yah seterikaan yg bisa beroperasi sendiri bisa ditemukan. Atau mungkin itu tak akan pernah terjadi, karena teknologi menemukan benang anti kusut hehehe…

  4. Saya sering omong2 dengan murid saya Mbak, bahwa sekian tahun kedepan murid dan guru nggak harus ketemu di kelas tapi untuk transver ilmu cukup lewat konter kayak beli pulsa.
    Anak2 tinggal mendatangi konter lalu bilang: “Mas, beli Matematika SMA semester 3”
    Lalu penjualnya nanya: “Yang gesek apa elektrik”
    Demikian juga warung makan, bangunannya nggak perlu luas. Cukup kios kecil dan almari kaca kecil.
    Pada saat itu makanan yg kita konsumsi bukan lagi bentuk fisik tapi elektrik.
    Begitu ke konter, kita bilang ama penjaganya: “Nasi Goreng Ayam”
    lalu penjualnya tanya: “Gesek apa elektrik Mas?”

    1. Hahaha..Ide Pak Mars tentang beli ilmu lewat konter menarik nih..Aku jadi ingat. Sekarang saja kan kayaknya sdh dimulai diperguruan tinggi dengan mengambil paket-paket mata pelajaran tertentu? Cuma pembayaran masih terhaluskan lewat sebutan SPP. Herannya pembayaran gesek dan elektrik sekarang sdh berlaku tuh Pak 🙂

  5. Jaman semakin berkembang Bu, semakin canggih pula perkembangan teknologi yang ada, bisa² manusia ini bisa gak bergerak, hanya dengan satu tombol semua pekerjaan terselesaikan,,tapi alhamdulillah saya hidup di desa yang semuanya masih serba manual Bu,,

    Salam kenal Bu Evi…

    1. Begitulah Kang Sofyan, karena teknologi diciptakan memang untuk meringankan beban kita, maka dia berfungsi sebagai peringan pekerjaan kita. Masalahnya perkembangan biologis kita tak mengikuti perkembangan pikiran. Tubuh kita masih bekerja di pola purba, membutuhkan gerakan agar tetap berfungsi dengan baik. Kayaknya issu ini yang perlu juga diatasi oleh para innovator 🙂

  6. Tapi sebenarnya lebih kurang berjalan itu meningkatkan resiko stress dan penyakit lainnya lho, apalagi makanan dan air sudah langka sehat. Mungkin malah yang kurang jalan itu yang punah nantinya… 😀

    1. Semoga gak kejadianlah jaman seperti itu Mas Iwan..Serem membayangkannya..Sdh tubuh bulat eh bumi dan airnya memusuhi pula. Gak enak deh pasti jaman kayak gitu 🙂

  7. Ya, benar juga Uni…
    Nanti sisa kepalanya doang, mungkin sama jari-jari buat mencet tombol… Hahaha…

    1. Hehehe..lucu kali Falz, kalau kepala sirip mirip kaki ngegelinding kian kemari. Dan mereka menyebut diri sebagai makhluk beradab yang paling tinggi kastanya dalam alam semesta 🙂

  8. Uniiii…kalo udh nemu setrika bertombol kabar2i ya, pakaian belum diseterika di rumah sudah segunuuuung hihihihi

  9. whuaaaaa…
    seperti mba Evi sedang menyindir aku inih…

    aku sempat terbuai oleh key bca ini lho mba…
    tadinya dikasih tanggung jawab sama abah buat transfer2 cicilan rumah, credit card, asuransi dsb,…tapi kenapa ujung ujungnya jadi kecanduan beli dvd online ya mba…

    seru banget…cuman klik..klik doang…tiduran…eh besokannya dvd nya langsung dateng…

    dan sekarang key bca nya sudah disita abah…hihihi…

    1. Hehehe..Plok2 untuk si Abah..Dengan begitu dia memperlambat anak cucu kita jadi cebong Bi…
      Ngomong2, keypad itu emang membuat kita jadi konsumtif..Lah sekarang apa saja dijual online, gampang banget belanji2nya dengan keypad ditangan…

  10. uff…jadi ngebayangin gimana penampakan manusia-mkecebong itu mbak…*buru2 menguatkan hati utk rutin jalan kaki lagi biar ga jadi kecebong…* haha…

    1. Tapi kalau dari sudut pandang orang yg hidup sejaman dengan cebong ini, pasti biasa-biasa aja lah. Lah tiap hari lihatnya cebong, disekeliling cebong dan dirinya sendiri cebong. Mungkin kita yang aneh kalau lewat mesin waktu kita sampai dijaman mereka 🙂

  11. puluhan tahun mendatang modernisasi pasti terjadi lagi semakin baik dari masa ke masanya, soal pencet memencet tombol memang lebih praktis sekarang transaksi rekening tanpa harus antri di bank. hehe.

    1. Pati Mas Hanif. Karena saya gak akan menyaksikan nanti, maka sekarang menghayalkannya saja..Dan saya amat yakin, masyarakat kita pasti akan semakin banyak mencet tombol. Atau mungkin juga gak perlu dipencet karena teknologi sentuh saja sekarang juga sdh ada 🙂

  12. hehehehe … ah saya mah ambil positif aja deh …. naek gunung mah tetep jalan sob … :p
    itu di paragraf ketiga maksud dari Koratnya apa ya … ??? 😀

    1. Naik gunung itu membantu menyelamatkan anak cucu umat manusia agar tak jadi cebong sob hehehe..
      Mengenai kodrat yg saya tulis, ambil gampangnya saja deh, di baca : Kecenderungan hehehe…

  13. Menurut kaum evoluionis, kita memang berasal juga dari kecebong, tepatnya: Pikaia graciens. Kalau teori evolusi benar, seharusnya kita akan berevolusi lagi ke bentuk kecebong … 😀 sesuai dengan kebiasaan dan pola hidup kita yg memang seperti itu.

  14. tenang, saya termasuk yang agak lama membuat generasi menjadi kecebong,
    soale masih suka antri, masih suka naik sepeda kemana-mana, masih sebagian kecil aja yang pencet-pencet 🙂

    1. Alhamdulillah..Pertahanakan prestasi itu ya Mbak Salma..Jangan rusak gen kita dengan bermalas-malasan melalui tombol 🙂

  15. Melalui tombol sekarang banyak lho orang jatuh cinta dan tak sedikit juga yang sakit hati.

    Saya suka sekali kalimat ini Bu Evi …

    mudah-mudahan kita tidak diperbudak oleh “tombol” ya Bu

    salam saya Bu

    1. Apapun teknologi yg kita gunakan tujuannya adalah utk memperbaiki mutu kehidupan. Kalaulah sampai diperbudak olehnya, hendaknya kita ingat bahwa bukan dengan tujuan tsb teknologi diciptakan. Tks atas insigtnya Om Nh 🙂

  16. Tolong kabari saya kalau di toko sdh dijual remote control atau tombol elektronik yg sekali pencet semua urusan bisnis beres… hehehe… *ngimpi.com*
    Anyway… have a wonderful weekend.

    1. Kalau nemu tombol itu, pasti saya kabar Mas Bams…Wah, semua orang bakalan cepat kaya dunk ya..terus entar siapa dunk nanti yg dagang dan turun ke sawah..Hehehe..kayaknya teknologi beginian lebih aman disimpan saja kalau ditemukan..

Terima kasih sudah berkunjung. Apa kesan teman setelah membaca pos di atas?